Saturday, September 8, 2018

Live Up To Your Name Ep 14 Part 3

Sebelumnya...


Yeon Kyung tiba di RS dan Jae Ha langsung menghampirinya.

Yeon Kyung memberitahu Jae Ha kalau Im sedang dalam perjalanan untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.

"Kalau kita tidak menghentikannya, dia tidak akan bisa menjadi dokter lagi. Dia tidak akan bisa hidup kalau begitu. Tolong aku, kumohon." pinta Yeon Kyung.


Im dan Direktur Ma sudah tiba di depan sebuah kediaman mewah.

Direktur Ma menatap Im sambil mengingat permintaan Presdir Min.

"Hentikan adikku sampai pertemuan pemegang saham selesai. Kalau aku mendapatkan saham adikku, aku pasti akan menyokong bisnismu."


Direktur Ma tersenyum licik.

Mereka lantas masuk.


Si pasien, adiknya Presdir Min, terbaring lemas di tempat tidur.

Istrinya meminta Im menyembuhkan suaminya sebelum rapat pemegang saham dimulai.

Im pun langsung memeriksa adiknya Presdir Min.

"Dia termenung. Denyut nadinya tenggelam dan pelan." ucap Im dalam hati.

Im lantas menganalisa wajahnya.

"Wajahnya pucat, bibirnya berwarna putih, udara dingin keluar dari hidung dan mulutnya. Dan kuku jarinya pucat. Kulit perutnya tipis dan lemah. Penyakit hati." ucap Im.

Im pun khawatir, kalau adiknya Presdir Min akan jatuh pingsan kalau dia memberikan akupuntur.

Tapi itulah yang diinginkan Presdir Min dan Direktur Ma.


Di rumah, Kakek Choi terus mengawasi buku biografi Im. Beberapa tulisan di buku biografi Im mulai mengabur.

Tiba-tiba, kakek merasakan sakit lagi di dadanya.

Yeon Kyung juga cemas. Ia tak henti berdoa agar Im tidak melakukannya.


Saat hendak menusukkan jarumnya ke tubuh adik Presdir Min, tangan Im tiba-tiba saja bergetar.

Tentu saja, adik ipar Presdir Min panic.

Mendengar teriakan adik ipar Presdir Min, Direktur Ma masuk dan menanyakan apa yang terjadi.

Ia melihat tangan Im yang bergetar saat memegang jarum.


Im lalu berlari keluar. Ia menatap heran tangannya yang tak henti bergetar.

Lantas, ia mencoba mengambil jarum akupunturnya tapi tangannya terus bergetar hingga ia tidak sanggup memegang wadah jarumnya.

Im pun terduduk lemas.


Ia teringat kata-kata Heo Jun kalau seorang dokter harus menjadi satu dengan jarumnya.

"Jarum akan tahu kalau kau memiliki niat tidak baik. Kalau kau sukses menyembuhkan penyakit Yang Mulia kali ini, aku akan menunjukmu ke posisi apapun yang kau inginkan. Kau akan kehilangan gelar rendahanmu dan Yang Mulia mungkin akan memintamu berada disampingnya." ucap Heo Jun.


Im pun mengerti kenapa saat itu tangannya bergetar saat ia berusaha mengobati sakit kepala Raja.


Yeon Kyung terus menunggu kepulangan Im. Ia mondar mandir di depan klinik kakeknya.

Tak lama, Im pulang dan Yeon Kyung langsung memeluknya.


Di dalam, Im pun menceritakan tentang Yeon Yi pada Yeon Kyung.

"Aku mendengar jarum ini menangis. Kudengar, anak itu meninggal setelah aku masuk ke istana. Pasti saat itulah, jarum-jarum ini menangis. Tapi hari ini, jarum-jarum ini pasti marah. Karena seorang dokter yang bodoh akan melawan keinginan mereka."

"Jarum-jarum itu baik dan berpikiran kuat. Aku harus berterima kasih pada mereka karena sudah melindungimu. Kalau kau merawat raja pada hari itu, hidupmu akan berubah. Kalau kau menyakiti pasien tadi, kau tidak akan bahagia. Aku juga harus berterima kasih pada mereka, karena mengizinkanku masuk dalam takdirmu." jawab Yeon Kyung.

Mereka pun saling berpegangan tangam.

Im penasaran, kenapa jarum itu masih di tangannya. Ia ingin tahu apa yang menunggunya di akhir takdir aneh mereka.


Tuan Park minum-minum di warung tenda. Tak lama kemudian, Jae Ha datang.

"Aku rasa kau dibayar untuk minumanmu." ucap Jae Ha.

Tuan Park pun kaget.


Kakek Choi menjenguk Tuan Kim. Ia marah karena Tuan Kim sudah menyakiti diri sendiri.

"Apa yang akan kau lakukan jika kau meninggal sebelum sempat melihat wajah anakmu? Anakmu kehilangan rumah dan pekerjaannya untuk membayar hutang-hutangmu. Kau pikir dia akan senang melihatmu meninggal karena nya?"

Kakek lantas memberikan bubur yang dibawanya.

"Meskipun uangnya tidak banyak, tapi dia bisa beristirahat." ucap kakek.

Tuan Kim pun menangis dan merasa bersalah pada kakek.


Di ruangannya, Direktur Ma meminta diberikan kesempatan sekali lagi pada Presdir Min.

Tapi Jae Ha tiba-tiba datang dan memperdengarkan rekaman pengakuan Tuan Park.

Jae Ha juga menunjukkan foto-foto Direktur Ma dan Im di depan sebuah rumah mewah.

Jae Ha pun meminta kakeknya berhenti melakukan hal buruk.


Im bertanya, apa kejadian 20 tahun lalu berhubungan dengan Heo Jun.

Kakek mengangguk.

"Bohong kalau aku bilang aku tidak membencinya, meskipun sedikit saja. Itu bukannya dia terlalu tua untuk membunuh seseorang. Aku rasa itu bukan masalah besar, memperburuk kesehatan seseorang sebentar. Aku tersudut karena dirinya. Aku tidak mengerti kenapa dia mengabaikan aku untuk tetap pada pendiriannya. Tapi sekarang aku memikirkannya dengan cara berbeda. Kalau dulu dia melakukannya demi kebaikanku aku akan merasa bersalah seumur hidupku. Berkat dia aku bisa hidup sebagai seorang dokter hingga sekarang." ucap kakek.

Kakek lantas menasihati Im.

"Apapun yang dikatakan orang, penampilanmu tidaklah penting. Kau hanya harus menetapkan hatimu sebagai dokter. Dengan begitu, kau bisa merasa bangga sebagai dokter dan merawat pasienmu dalam hidupmu. Jadi, jangan pernah berpikir melakukan hal bodoh demi aku. Kenapa aku harus mengulang kata-kataku!"

Kakek marah, aiiing. Dasar bodoh!

Kakek beranjak pergi.


Im teringat kata-kata Heo Jun, bahwa pemikiran Im yang bengkok tentang dunia lah yang menghalangi jalan Im sebagai dokter.


Keesokan harinya, di kantor polisi, segerombolan nenek demo minta Kakek Choi dibebaskan.

Im dan Kakek Choi yang juga ada di sana, terharu melihatnya.

Para nenek menjelaskan, kalau Kakek Choi adalah dokter yang baik dan sudah menyembuhkan mereka.

Para polisi pun kewalahan.


Kantor polisi semakin heboh ketika Bong Sik tiba-tiba datang berkeliaran di kantor polisi.

Im pun tertawa melihatnya.


Tak hanya para nenek, tapi para gelandangan yang dirawat Kakek Choi juga datang untuk membebaskan kakek.


Tuan Kim dan Tuan Park juga ke kantor polisi untuk membuat penyataan kalau kakek tidak bersalah.

Masalah pun selesai.


Malam pun tiba. Im bercerita pada Yeon Kyung, tentang penyesalannya tidak bisa menyelamatkan seorang anak kecil.

"Siapa anak itu?" tanya Yeon Kyung.

"Namanya Yeon Yi. Aku tidak tahu banyak soalnya." jawab Im.

"Aku bertemu anak itu. Waktu kita ke Joseon saat itu, aku melihatnya di rumah Heo Jun." ucap Yeon Kyung.


Flashback...

Yeon Kyung ingat saat di rumah Heo Jun, Yeon Yi bilang ada dokter yang tengah ia tunggu dan dokter itu berjanji akan menyelamatkannya.

Flashback end...


Sontak Im kaget tahu Yeon Yi masih hidup.


Im langsung memutuskan kembali ke Joseon demi menepati janjinya untuk menyelamatkan Yeon Yi.

Kakek Choi cemas, ia takut Im tidak akan bisa kembali lagi.

Im pun berjanji bahwa dia akan kembali.


Im lantas menatap Yeon Kyung yang tampak tidak rela dia kembali ke Joseon.


Di Joseon, Heo Jun sedang merawat Yeon Yi.


Im sudah bersiap kembali ke Joseon.

Di belakang Im, wadah jarum Im bersinar.


Yeon Kyung menunggu Im di halaman dengan wajah sedih.


Tak lama kemudian, Im menghampirinya. Yeon Kyung ingin ikut dengan Im. Tapi Im yang tak ingin Yeon Kyung terluka lagi, melarang Yeon Kyung ikut dengannya.

"Aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi." janji Yeon Kyung.

"Biasanya kau mengeluh jika aku membawamu ke sana." ucap Im.

"Itu dulu." jawab Yeon Kyung.

"Kau wanita yang tidak bisa kuprediksi. Aku tidak tahu lagi masalah apa yang akan kau timbulkan tapi tunggulah disini dengan baik." ucap Im.

"Kenapa kau tidak meninggalkanku saja?" tanya Yeon Kyung.

"Aku berpikir begitu." jawab Im. Keduanya lantas tertawa.


Im lalu berjanji akan segera kembali setelah menyelamatkan Yeon Yi.

"Hitunglah sampai 200. Aku akan kembali sebelum kau selesai menghitung." ucap Im.

Im juga meminta Yeon Kyung menjaga kakek selama ia pergi.


Im pun beranjak pergi. Yeon Kyung yang masih tak rela Im kembali ke Joseon, mengejar Im. Ia memegang tangan Im.

"Selamatkan anak itu." ucap Im.

Im lantas memeluk Yeon Kyung.

"Aku akan segera kembali." ucap Im.

"Kalau begitu, kembalilah." jawab Yeon Kyung.


Kakek Choi yang melihat mereka dari depan pintu, juga ikut prihatin. Ia berkata, bahwa Im tidak bisa datang dan pergi sesuka hatinya.


Dan sekarang, Yeon Kyung sudah berdiri sendirian di halaman.


Im sudah berada di Joseon. Ia heran melihat daerahnya yang sepi dan mencekam.

Im terus berjalan. Saat melihat tentara jepang melintas, ia langsung bersembunyi.

Im pun teringat kata-kata Sayaga bahwa tentara jepang akan mencapai Hanyang dalam waktu dua minggu.


Im pun hendak pergi, tapi tiba-tiba dia merasakan jantungnya sakit.


Yeon Kyung mengajak kakeknya makan malam. Ia masuk ke kamar kakeknya dan terkejut melihat kakeknya tergeletak di lantai.

Yeon Kyung langsung membawa kakeknya ke RS dengan ambulance.

Di ambulance, ia menelpon Min Jae dan meminta Min Jae menyiapkan ruang operasi.


Im berusaha ke rumah Heo Jun karena Yeon Kyung bilang Yeon Yi ada di sana.

Tapi sesampainya disana, ia terkejut melihat para pelayan Heo Jun yang sudah tewas bersimbah darah.

Sementara Yeon Kyung masih di perjalanan menuju RS. Ia menatap cemas kakeknya.


Bersambung........

No comments:

Post a Comment