Sunday, September 2, 2018

Ruby Ring Ep 66 Part 1

Sebelumnya...

Roo Bi-Gyeong Min

Akhirnya guys, akhirnya... di episode kali ini kehamilan palsu Roo Na terbongkar.


Soyoung yang lagi maskeran sambil nonton TV, tertawa. Ia lalu mencopot maskernya dan berkata, akan menonton yang sedih-sedih kalau maskeran lagi.

"Tertawa memberi kerutan pada wajahku." ucapnya.
 
Chorim yang juga ikut maskeran dan menonton TV, tidak tertawa sedikit pun. Soyoung pun heran.

"Tidak ada yang lebih lucu lagi?" tanya Chorim


Soyoung pun langsung mematikan TV.

"Kau masih belum putus, uri eonni." ucap Soyoung.

Tak lama berselang, Roo Bi pulang. Gilja langsung keluar dari kamarnya.


Roo Bi langsung masuk ke kamarnya dengan wajah lesu. Gilja heran melihatnya.

"Kurasa dia habis minum." ucap Chorim sambil membuka maskernya.

"Apa dia ribut dengan Na PD? Semua orang uring-uringan belakangan ini. Itu membuatku uring-uringan juga." jawab Soyoung.


Gilja membawakan air madu untuk Roo Bi. Tapi ia mendapati Roo Bi yang sudah tidur.

"Akan lebih bagus jika dia berhenti bekerja, menikah dengan In Soo dan hidup bahagia setelahnya." ucap Gilja.

Gilja lantas berjalan ke pintu, tapi langkahnya terhenti saat mendengar desahan Roo Bi.

Ia menoleh dan terkejut mendengar Roo Bi yang memanggil-manggil Gyeong Min.

Roo Bi bahkan menangis di dalam tidurnya.


Roo Na dan Gyeong Min pulang. Mereka mendapati nenek yang tertidur di sofa.

Gyeong Min langsung membangunkan neneknya.

"Kenapa nenek tidak tidur di kamar?" tanya Roo Na.

"Aku menunggu Geumdong ku yang berharga. Aku ingin memastikan Geumdong pulang ke rumah dengan selamat. Aku juga ingin mengucapkan selamat malam padanya." jawab nenek.

Nenek pun bergegas menyapa Geumdong. Melihat itu, Roo Na langsung merasa tidak nyaman.

Nenek juga menyuruh Roo Na berhati-hati agar Geumdong tidak menderita.

Roo Na menyuruh nenek tidur di kamar. Setelah itu, ia beranjak ke atas bersama Gyeong Min.


Bersamaan dengan itu, Geum Hee keluar dari kamar sambil menguap lebar.

Melihat itu, nenek memarahi Geum Hee.

"Kau hampir merobek mulutmu." ucap nenek.

"Selama aku hidup, aku tidak pernah mendengar mulut seseorang robek karena menguap." jawab Geum Hee.

Nenek tidak membalas ucapan Geum Hee dan menyuruh Geum Hee mengambilkan air minum untuknya.


Di kamar mandi, Roo Na bertanya-tanya berapa lama lagi ia bisa menutupi 'kehamilannya'.

"Haruskah aku mengatakannya. Tapi jika aku jujur, aku selesai. Aku sudah melangkah sejauh ini." ucapnya.


Kemudian terdengar suara Gyeong Min yang bertanya apakah dia sudah selesai di kamar mandi.

"Belum! Wae?" sahut Roo Na.

"Aku ingin membacakan cerita untuk Geumdong kita." jawab Gyeong Min.

Mendengar itu, Roo Na makin tertekan. Lalu, ia membenarkan posisi bantalan perutnya sebelum keluar dari kamar mandi.


Di kamarnya, nenek memikirkan sikap aneh Roo Na yang tidak mau perutnya disentuh.

"Dia menjadi lebih dari sensitif. Perutnya juga terlihat aneh." ucap nenek heran.

Tak lama kemudian, terdengar suara Geum Hee dan nenek langsung menyuruhnya masuk.

"Apa ada yang anda pikirkan sehingga anda tidak bisa tidur?" tanya Geum Hee sambil meletakkan teko di meja.


"Auto, kau bilang kau tidak pernah punya anak kan?" tanya nenek.

"Benar. Mantan suamiku mengatakan aku terlalu jelek." jawab Geum Hee.

"Kau menikah tapi tidak punya kesempatan memiliki anak. Hidupmu adalah tragedi." ucap nenek.

"Belakangan ini, wanita memiliki anak di usia 40-50. Jika aku merawat diriku, aku setidaknya bisa memiliki 3 anak." jawab Geum Hee.

"Jangan tertipu lagi!" ucap nenek.

Geum Hee tertawa malu mendengar ucapan nenek.

"Kudengar kau bisa memprediksi jenis kelamin bayi lewat bentuk perut ibunya. Jika perut ibunya naik, berarti laki-laki dan jika perutnya turun berarti perempuan." ucap nenek.

"Mereka bisa melakukannya lewat USG. Tapi mereka tidak bisa melakukannya sampai bayinya tumbuh sedikit." jawab Geum Hee.

"Benarkah?" tanya nenek.


Saat sarapan, Gilja bertanya pada Roo Bi, apakah Roo Bi ada masalah di kantor kemarin.

"Tentu saja tidak." jawab Roo Bi.


"Roo Na-ya, apa kau sudah kembali ke dirimu yang lama. Kau minum dan terus minum." ucap Chorim.

"Aku hanya minum sedikit." jawab Roo Bi sembari tertawa.

"Jangan bohong padaku." ucap Chorim yang juga tertawa.


"Sesuatu yang menjengkelkan terjadi di tempat kerja? Apakah Gyeong Min menegurmu untuk sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan?" tanya Gilja lagi.

"Tentu saja tidak. Gyeong Min sedang sibuk mempersiapkan dirinya sebagai ayah." jawab Roo Bi.


Roo Bi lalu tersenyum.

Gilja terus menatap Roo Bi.

"Lalu kenapa? Apa mungkin kau.... tapi tidak mungkin. Itu sangat gila." ucap Gilja dalam hati.


Nenek tak berhenti menatap Roo Na.

Tak lama kemudian, nenek menanyakan jadwal check up Roo Na.

"Hari ini, tapi aku ada jadwal meeting." jawab Gyeong Min.


"Jadwal kalian selalu berbenturan." ucap Nyonya Park cemas.

"Tidak apa-apa. Banyak wanita yang pergi periksa kandungan sendirian." jawab Roo Na.


"Ulke, kau sangat keren. Temanku sangat marah ketika suaminya tidak bisa mengantarnya periksa kandungan." ucap Se Ra.

"Suamiku Wakil Presdir JM. Aku harus memahaminya." jawab Roo Na.


"Istri dari seorang pebisnis harus bersabar dan penuh pengertian. Tapi jika Gyeong Min tidak bisa ikut denganmu, haruskah aku pergi menemanimu?" tanya nenek.

"Aku sudah janjian dengan ibuku." jawab Roo Na.

Nenek lalu mengajak Nyonya Park berbelanja ke mal. Nenek bilang, ingin membeli sesuatu.


Jihyeok berlari membawakan obat untuk Daepung. Daepung mengaku tidak percaya, di usianya yang sudah senja, ia malah bekerja sebagai kuli bangunan.

"Tapi paman, apakah ayahku benar-benar sudah keluar dari restoran itu?" tanya Jihyeok.


Chorim melintas dan ia berkaca-kaca melihat Dongpal yang bekerja sebagai kuli.


Di restoran, Gilja tak bisa berhenti memikirkan Roo Bi. Ia teringat ketika Roo Bi histeris dan mengaku sudah ingat semuanya.


Lalu ia ingat saat Roo Bi mengigau memanggil nama Gyeong Min semalam.

"Mungkinkah dia benar-benar iri dengan kehamilan kakaknya?" tanya Gilja dalam hati.


Tak lama berselang, Chorim pulang dan menyuruh Soyoung mengambilkannya segelas air hangat.

Chorim minum dan teringat saat melihat Dongpal bekerja sebagai kuli tadi.

"Kenapa harus jadi kuli? Kenapa dia tidak bekerja di restoran ayam lain?" gumamnya.

"Kuli? Siapa yang kau maksud?" tanya Gilja.

"Tidak ada apa-apa, eonni." jawab Chorim.


Di kantor, Roo Na yang sedang bersama tim nya, dihubungi nenek. Roo Na mengatakan soal hadiah dengan wajah sumringah. Ia juga bilang akan segera pulang.


Selesai bicara dengan nenek, Jin Hee langsung bertanya soal hadiah itu.

"Entahlah. Hari ini nenek pergi berbelanja ke departemen store." jawab Roo Na.

"Aku iri padamu. Semua mertuamu sangat baik padamu. Wanita lain punya mimpi buruk dengan mertuanya." ucap Hyeryeon.

"Mau seperti apapun situasi kalian, jika kalian hamil, semua orang akan jatuh cinta pada kalian." jawab Jin Hee.


Roo Na pun langsung menatap Roo Bi dengan wajah tidak nyaman.


Di kamar mandi, kedua kakak adik itu berdebat lagi. Roo Bi mengaku, melihat Roo Na yang menjadikan kehamilan sebagai senjata sangat melukai harga dirinya. Ia juga berkata, penasaran sampai kapan Roo Na bisa membohongi semua orang.

"Jaga mulutmu!"

"Pastikan aku tidak menjadi kerusakan tambahan. Seperti yang kau lihat, ketidaktahuan yang disengaja sebenarnya adalah kejahatan." ucap Roo Bi.

"Sebagai sesama wanita, hanya itukah yang bisa kau katakan? Urus saja urusanmu sendiri." jawab Roo Na, lalu beranjak pergi.


Keluar dari toilet, Roo Bi melihat Roo Na lagi sama Gyeong Min yang tengah membahas sesuatu. Roo Na juga melihat Roo Bi tapi ia pura-pura tidak tahu.

Sontak, Roo Bi kesal melihatnya.

Roo Na lantas mengajak Gyeong Min pergi.


Setelah mereka pergi, Roo Bi dihubungi Seokho. Seokho memberitahu Roo Bi kalau seseorang dari UBS reporter ingin bicara dengan Roo Bi.

"Aku?" tanya Roo Bi.

"Aku memberikan nomormu jadi mereka akan segera menghubungimu. Chukkaeyo, Roo Na-ssi." jawab Seokho.


Tak lama kemudian, Roo Bi pun dihubungi UBS reporter.


In Soo memberikan ucapan selamat pada Roo Bi.


Setelah itu, rekan In Soo sesama produser menghampiri In Soo. In Soo berkata, Roo Na akan diwawancarai karena produk gagasannya sukses besar.

Rekannya lalu penasaran, apakah Roo Bi akan seperti Roo Na.

"Never. Aku mengenalnya dengan baik. Dia tidak bisa tampil di TV." ucap In Soo.

"Kudengar dulu dia seorang reporter. Kudengar dia juga menggoda seorang produser agar mendapatkan acara di Seoul."

"Produsernya adalah aku dan kami akan segera menikah."

"Benarkah?"

"Rumor menjadi lebih liar ketika sudah menyebar."

"Aku minta maaf."

"Jika kau ingin hidup lebih baik, jaga bicaramu."


Roo Na dan Gyeong Min yang baru pulang ke rumah, langsung disuruh makan oleh Nyonya Park. Roo Na berkata, kalau dirinya ingin ganti baju dulu.

Nyonya Park lalu berjalan ke ruang makan bersama Gyeong Min.

"Dimana Roo Bi?" tanya nenek.

"Dia sedang berganti pakaian." jawab Nyonya Park.

"Kalau begitu ini kesempatan yang bagus untuk memberinya hadiah itu." ucap nenek, lalu beranjak pergi.


"Hadiah apa?" tanya Gyeong Min pada ibunya.

"Kau tidak tahu seberapa lama nya nenekmu memilihkan hadiah itu untuknya." jawab Nyonya Park.


Nenek masuk ke kamar Roo Na saat Roo Na lagi di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Roo Na terkejut melihat nenek. Tapi ia langsung tersenyum saat nenek bilang ingin memberikan hadiah.

Namun begitu melihat hadiahnya, senyumnya langsung hilang. Nenek memberinya baju hamil.

Nenek lalu menyuruh Roo Na mencoba baju hamil itu. Awalnya Roo Na menolak dan mengajak nenek makan dulu. Tapi nenek bersikeras ingin melihat Roo Na memakai baju hamil itu. Roo Na pun tidak punya pilihan lain lagi.


Di kamar mandi, Roo Na kesal nenek memberinya baju hamil.


Se Ra pulang dan ia heran tidak melihat neneknya di ruang makan.

"Nenekmu di kamar Gyeong Min. Ia memberikan baju yang tadi dibelinya untuk Roo Bi." jawab Nyonya Park.

"Ibu tidak bisa menunggu sampai makan malam selesai." ucap Tuan Bae.

"Aku akan naik untuk ganti baju dulu." jawab Se Ra.

Nenek tersenyum melihat barang-barangnya Geumdong. Tak lama kemudian, ia sadar kalau Roo Na akan butuh bantuan untuk mengancingkan bagian belakang baju yang dibelinya tadi.


Nenek masuk ke kamar mandi tepat saat Roo Na sedang memakai baju hamilnya.

Sontak, Roo Na kaget dan langsung jongkok untuk menyembunyikan kehamilan palsunya.


Roo Na lalu meminta nenek mengancingkan bajunya. Tapi saat nenek belum selesai mengancingkan bajunya, ia langsung menjauh.

"Tali apa itu di punggungmu?" tanya nenek.

Roo Na pun berbohong. Ia mengaku, itu sabuk bersalin dan sangat populer di kalangan ibu hamil.

Untuk mengalihkan perhatian nenek, Roo Na menanyakan penampilannya yang memakai baju ibu hamil.

Tapi nenek tetap memandangnya dengan tatapan curiga.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment