Sunday, September 2, 2018

Ruby Ring Ep 67 Part 1

Sebelumnya...


Nenek menatap tajam Roo Na yang berlutut padanya. Tak lama kemudian, nenek melempari Roo Na dengan bantal.

Roo Na pun minta maaf pada seluruh keluarga.


"Dari semua kata, hanya itu yang bisa kau katakan setelah menipu mertuamu? Kau sudah keguguran tapi kau meminum kaldu ikan kapan pun. Kau berbohong, berbaring di tempat tidur saat suamimu memasakkan sesuatu untukmu dan memanjakanmu. Kau membeli semua perlengkapan bayi. Tapi apa yang kau katakan? Jal motaeseo?" ucap nenek.

Nenek lalu berteriak, "AKU BAHKAN TIDAK SANGGUP MELIHATMU!"

"Eommoni, tenanglah. Kau harus berhati-hati." ucap Nyonya Park menenangkan sang ibu.


 "Keguguranmu memang menyedihkan, tapi kami akan mendukungmu jika kau berkata jujur karena kau keluarga." ucap Tuan Bae.

"Aku tidak bisa membuat diriku mengatakan yang sejujurnya. Aku tidak ingin membuatmu sedih. Apakah sesulit itu bagi kalian untuk mengerti?" jawab Roo Na.


"Kami mungkin sedih tapi memalsukan kehamilanmu, itu jauh lebih buruk. Aku sangat marah dan tidak bisa memaafkanmu. Mari kita perjelas. Sekarang, waktunya kau menepati janjimu. Kau berjanji akan meninggalkan rumah jika membuat masalah lagi." ucap Tuan Bae.

Sontak Roo Na terkejut.


"Kau gila! Kau kehilangan bayimu tapi kau sama sekali tidak meneteskan air matamu dan tanpa ragu bersandiwara. Pergi sekarang! Pergi!" ucap nenek.

Roo Na kaget. Tak mau diusir, ia pun berusaha menjelaskan alasannya berbohong tapi Tuan Bae yang terlanjur kecewa, tidak mau mendengarnya dan menyuruhnya pergi.

Roo Na pun langsung meminta bantuan Nyonya Park, tapi Nyonya Park juga menyuruhnya pergi.


Di depan kamar nenek, Gyeong Min bicara dengan Roo Na.

"Sebaiknya kau kembali ke rumah ibumu." ucap Gyeong Min.

Roo Na terkejut, "Gyeong Min-ssi!"

"Aku rasa kita tidak perlu bicara lagi." ucap Gyeong Min, lalu beranjak pergi.


Roo Na yang kini tengah menyetir, tidak terima disalahkan semua orang.


Emosi, Roo Na pun menepikan mobilnya.

"Mianhae, mianhae, aga. Aku tidak mampu melindungimu." ucapnya.

Gilja yang sudah mau tidur, mendengar suara pintu dibuka. Ia pikir itu, Roo Bi.


Tapi kemudian terdengar suara Chorim.

"Roo Bi-ya, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu begitu pucat? Eonni! Eonni!"

Gilja pun langsung keluar.

"Kau ketahuan?" tanya Roo Bi.

Roo Na pun langsung menatap Roo Bi dengan tatapan kesal.

Sementara Gilja dan Chorim kaget dengan pertanyaan Roo Bi.

Roo Na yang kesal pun langsung ke ke kamarnya.


"Ketahuan apa?" tanya Gilja.

"Dia keguguran dua bulan yang lalu." jawab Roo Bi.

Sontak Gilja dan Chorim kaget.

"Dia ketahuan memalsukan kehamilannya." ucap Roo Bi.

Chorim kaget, Mwo??


Gilja pun langsung memarahi Roo Na. Roo Na membela dirinya. Ia berkata, terpaksa berbohong untuk melindungi dirinya agar tidak diusir dari rumah itu.

"Roo Bi-ya, kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Chorim.

"Pergi! Tinggalkan aku sendiri! Pergi!" teriak Roo Na.


Gilja, Chorim dan Soyoung duduk diluar. Mereka bisa mendengar tangisan Roo Na.

"Ini mematahkan hatiku. Kenapa dia seperti ini? Kenapa?" ucap Gilja.

Gilja lantas ingin masuk ke kamarnya. Tapi Chorim melarang dan meminta Gilja membiarkan Roo Na sendiri dulu.


Roo Bi sendiri mendengar tangisan Roo Na dari kamarnya.

"Akhirnya semua ini terjadi. Tidak bisakah kau melihat bahwa hal ini akan terjadi, Jeong Roo Na?" ucapnya.


Tak lama kemudian, sang ibu masuk dan mengajaknya bicara.

"Roo Na-ya, kau tahu kakakmu keguguran? Bagaimana ceritanya?"

"Dia pendarahan saat kami makan siang bersama." jawab Roo Bi.

Gilja pun kaget. Ia lalu memarahi Roo Bi karena tidak memberitahunya.

"Ibu tahu dia kan? Dia bukanlah Roo Bi yang dulu lagi. Aku sudah meminta dia jujur. Aku bahkan berniat memberitahu Gyeong Min. Tapi dia memohon padaku agar aku tidak mengatakannya. Dia menyuruhku untuk mengurus urusanku sendiri. Dia bilang dia yang akan mengatakannya." jawab Roo Bi.

"Kurasa mertuanya sangat marah dan mengusirnya. Bagaimana kalau dia benar-benar diusir?" tanya Gilja.

"Semuanya sudah terlambat. Kita hanya bisa menunggu. Aku akan mencoba bicara pada Gyeong Min besok." jawab Roo Bi.


Gyeong Min mengamuk di kamarnya. Ia menghancurkan semua barang-barang yang ada di kamarnya.


Nenek terbangun dari tidurnya dan melihat Nyonya Park yang tertidur di sofa.

Lantas, nenek mengambil kacamatanya dan mengambil ponselnya, lalu menghubungi Geum Hee.

Nenek menelpon hanya untuk menanyakan Gyeong Min.

Geum Hee pun berkata, kalau ia mendengar suara Gyeong Min mengamuk dan memecahkan seluruh barang yang ada di kamar.

Nenek lantas menyuruh Geum Hee mengecek Gyeong Min.


Geum Hee pun masuk ke kamar Gyeong Min dan ia terkejut melihat kacaunya kamar Gyeong Min.

Geum Hee lantas kembali menghubungi nenek dan memberitahu apa yang terjadi.

Nenek mengerti dan menutup teleponnya.


Nenek lalu memberitahu Nyonya Park kalau Gyeong Min tidak ada di rumah setelah menghancurkan barang-barang di kamar.

"Gyeongsuk, kau ingat kan bagaimana aku menentang perceraian mereka? Tapi ini sudah tidak bisa dibiarkan. Aku tidak bisa tidur dan memikirkan ini sepanjang malam. Aku rasa aku tidak bisa memaafkan wanita itu." ucap nenek.


Gyeong Min tidur di kantor ketika ponselnya berbunyi. Telepon dari Nyonya Park, tapi Gyeong Min tidak mendengarnya.


Di ruang makan, Gilja stress memikirkan Roo Na. Tak lama kemudian, Chorim dan Soyoung datang. Soyoung bertanya, apakah Roo Na bisa kembali ke rumah Gyeong Min.

"Tentu saja. Gyeong Min akan datang dan menjemputnya." jawab Gilja.


Tepat saat itu bel berbunyi. Mengira yang datang Gyeong Min, mereka pun langsung berlari keluar.

Tapi yang datang adalah Sopir Kim. Sopir Kim mengaku, ia disuruh nenek untuk mengantarkan barang-barang Roo Na. Sontak mereka semua kaget.

Setelah menurunkan barang-barang Roo Na, Sopir Kim pergi tanpa membawa Roo Na.


Gilja langsung lemas. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putrinya benar-benar diusir. Chorim pun langsung memapah Gilja ke dalam dan menyuruh Soyoung membawa koper Roo Na ke dalam.


Tak lama berselang, Roo Bi keluar. Ia berlalu begitu saja dan berjalan menuju mobilnya.

Tapi Roo Na membuat langkahnya terhenti. Ia pun berbalik menatap Roo Na.

"Apa penderitaanku membuatmu senang?" tanya Roo Na.

"Kau tidak bisa melihat kalau semua ini akan terjadi? Kau seharusnya jujur sejak awal. Kau berbohong, mengatakan semua ini ide Gyeong Min. Aku tidak pernah percaya. Gyeong Min tidak akan pernah melakukannya." jawab Roo Bi.

"Tutup mulutmu!" sentak Roo Na.

"Kenapa kau memarahiku? Memangnya salahku apa?" tanya Roo Bi.

"Kau bahagia aku diusir. Kenapa kau tidak mengatakannya pada semua orang sejak awal!" ucap Roo Na.

"Kenapa harus aku? Jelas-jelas ini salahmu dan kau ingin menyeretku jatuh bersamamu juga? Terima kasih. Aku bukan orang bodoh." jawab Roo Bi.


Roo Na makin emosi mendengarnya. Ia berniat menampar Roo Bi dan Roo Bi langsung menghentikannya.

"Untuk kecelakaan itu, kau menukar jiwamu! Hanya itu yang bisa kau lakukan, menipu suami dan keluargamu! Ingatlah pernikahanmu! Kau tahu dengan baik, bagaimana sulitnya kau menikah dengannya. Tapi kau begitu ceroboh sehingga membuat pernikahanmu hancur. Itulah kenapa aku berpikir kau orang bodoh." ucap Roo Bi.

Roo Na syok mendengarnya.

"Jika kau peduli pada ibu dan bibi, kau tidak akan melakukan ini. Jika kau benar-benar mencintai Gyeong Min, kau tidak akan membohonginya seperti ini!" ucap Roo Bi lagi.


Roo Bi kemudian beranjak pergi, tapi ia balik lagi hanya untuk mengatakan bahwa Roo Na tidak pantas mendapatkan cinta Gyeong Min.

Roo Bi beranjak pergi.


Roo Na syok dengan kata-kata Roo Bi. Ia yakin Roo Na sudah menunggu hari diusirnya tiba.

Tapi tak lama kemudian, ia curiga ingatan Roo Bi sudah kembali.

Namun ia berusaha menyangkalnya. Ia berkata, tidak mungkin ingatan Roo Bi kembali.

Bersambung ke part 2.................

No comments:

Post a Comment