Friday, October 12, 2018

Ruby Ring Ep 79 Part 2

Sebelumnya...

Satu lagi kedok Roo Na terbongkar gaes...


Gyeong Min terkejut mendengar cerita Yeonho soal Roo Na.

"Jadi maksudmu kau tidak punya dendam pada Na In Soo, tapi kau mengasarinya, menjebaknya dengan kasus penyuapan, merampok di rumahnya atas perintah Roo Bi?" tanya Gyeong Min.

Yeonho mengiyakan, tapi Gyeong Min tidak percaya.

"Percaya atau tidak, itulah yang terjadi." ucap Yeonho.

Yeonho juga bilang, bahwa Roo Na tidak membayarnya setelah apa yang ia lakukan untuk Roo Na.

Eun Ji pun ikut membenarkan pernyataan Yeonho.

"Dia benar-benar berubah. Dulu, dia sahabat yang baik dan murid teladan tapi sekarang, bicaranya cepat sekali dan dia juga suka minum. Dia dan Roo Na seperti bertukar tubuh sejak kecelakaan itu." ucap Eun Ji.

"Jadi apa yang kau ambil dari apartemen Na In Soo atas perintah istriku?"

"Bisakah kau membuat penawaran? Apa yang kumiliki benar-benar luar biasa. Itu bisa menghancurkanmu, JM Group dan istrimu. Kalau kau membayarku, aku akan dengan senang hati memberikannya padamu." jawab Yeonho.


Roo Bi memberitahu In Soo bahwa Roo Na menolak program itu.

"Mungkin dia tidak mau berbagi kamera denganku. Dia itu selebriti." ucap Roo Bi.

"Kapan permusuhan kalian akan berakhir?" tanya In Soo.

Mendengar itu, Roo Bi marah.

"Kau ingin kami baikan? Kau bahagia melihat cara hidup kami sekarang? Jangan katakan itu lagi. Kau juga bersalah dalam hal ini."

"Iya aku tahu aku salah dan aku sakit melihat kalian seperti ini."

"Jadi aku harus menyembuhkan rasa sakitmu? Kau egois sekali."


"Bukan begitu."

"Aku tahu kau ingin membuat penjelasan, tapi bukankah kau sendiri yang bilang tidak ada penjelasan untuk yang kau lakukan. Setiap hari, aku selalu dan selalu merasa diriku menyedihkan."

"Kapan kau mau mengakhiri semua ini? Kau ingin mengambil semuanya kembali dari Roo Na? Wajah dan namamu atau Bae Gyeong Min?"

Roo Bi terdiam.


"Na PD-nim!" panggil Se Ra. Tapi In Soo tidak mendengar, sehingga Se Ra memanggilnya sekali lagi dan barulah In Soo menoleh.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Se Ra.

"Aku minta maaf." jawab In Soo. In Soo lantas bertanya kenapa Se Ra memanggilnya.

Se Ra pun kebingungan mencari alasan.

"Kau suka Wittgenstein?" tanyanya.

"Wittgenstein?"

"Jangan bilang kau tidak tahu."


"Aku tahu, dia ahli bahasa. Tapi ada apa dengan dia?"

"Aku berpikir untuk meminjamimu salah satu bukunya." jawab Se Ra.


"Aku lebih suka Bertrand Rusell. To Fear Love is To Fear Life. Jika kau terlalu takut untuk mencintai, maka kau terlalu takut untuk hidup. Tes nya selesai." ucap In Soo.

"Tes?"

"Kau terlihat seperti ingin menguji kepintaranku." jawab In Soo. In Soo lalu pamit.

Se Ra pergi sambil merutuki kebodohannya tadi.


Ia baru berhenti mengomeli dirinya saat melihat Gyeong Min yang tengah melamun.

"Gyeong Min-ah, sedang apa? Kau mencemaskan ibu mertuamu?"

"Ketika kau mempercayai seseorang untuk berapa lama, sampai kapan kau bisa mempercayai orang itu, Noona?"


Jin Hee meminta Roo Na menjadi model iklan untuk produk terbaru mereka, Healing Sense.

Menurutnya, dibanding menyewa selebriti, lebih baik Roo Na saja yang menjadi modelnya.

Roo Na pun merasa itu bukan ide yang buruk.

"Baiklah. Kita akan buat proposalnya dan melihat bagaimana itu berjalan." ucap Jin Hee.


Se Ra mendesak Gyeong Min cerita apa masalahnya.

"Kau tidak bisa membohongiku. Semua tertulis di wajahmu. Apa karena istrimu? Gyeong Min-ah, aku memang belum menikah jadi aku tidak bisa memberimu nasihat pernikahan tapi dari sedikit yang ku tahu, pondasi pernikahan adalah kepercayaan." ucap Se Ra.


Tak lama kemudian, Roo Na datang dan menyerahkan proposal dari tim nya.

Roo Na bercerita, kalau tim nya ingin ia menjadi model produk terbaru mereka.

Roo Na lalu meminta pendapat Se Ra.

"Itu bukan ide yang buruk. Tapi bagaimana dengan program TVmu?"

"Aku menolaknya. Menurutku, citra perusahaan lebih penting dari karirku di TV." jawab Roo Na.


Gilja ke restoran. Sontak, Chorim, Soyoung dan Dongpal kaget melihatnya.

Gilja lalu berkata, bahwa dirinya baik-baik saja.

"Kau sudah menyiapkan reservasinya?" tanya Gilja pada Dongpal.

Lalu ia menyuruh mereka semua bekerja untuk reservasi pelanggan mereka besok.


Gyeong Min yang baru pulang langsung ditanyai nenek soal kondisi Gilja.

Gyeong Min memberitahu nenek kalau ibu mertuanya sudah keluar dari rumah sakit dan hanya kelelahan karena terlalu memaksakan diri.

"Seharusnya dia boleh memasakan dirinya di usia seperti itu." jawab nenek.

"Eommoni, kau juga harus berhati-hati." ucap Tuan Bae.

Nenek lalu menunjukkan syal rajutannya pada Gyeong Min. Ia meminta pendapat Gyeong Min.

Nenek mengaku, syal itu ia rajut untuk Gyeong Min, cucu kesayangannya.


"Dimana Roo Bi?" tanya Tuan Bae.

Gyeong Min pun berkata, bahwa Roo Na masih bekerja. Ia juga memberitahu ayahnya bahwa Roo Na menolak acara program baru di TV.

Nenek lega mendengarnya.

Setelah itu, Gyeong Min memberitahu ayahnya bahwa tim marketing memilih Roo Na menjadi model untuk produk baru mereka.

"Bagaimana dengan Roo Na? Aku rasa, Roo Na lebih baik dari Roo Bi." ucap Tuan Bae.

"Itu bukan ide yang buruk, Abeoji." jawab Gyeong Min, lalu pamit ke kamar.

*Oow, Tuan Bae milih Roo Bi jadi modelnya. Kalau Roo Na tahu, ngamuk ni dia..


Sesampainya di kamar, Gyeong Min langsung melihat syal dari Roo Bi dan teringat masa lalunya.

Flashback...


"Kau memberiku tali agar aku tidak kabur?" tanya Gyeong Min.

Roo Bi yang sedang melilitkan syal itu ke leher Gyeong Min pun mengangguk. 

"Tentu saja, kau milikku." jawab Roo Bi.

Mereka lalu tertawa, kemudian berpelukan. 

Flashback end...


Kemudian, Gyeong Min ingat saat Roo Na membuang syal itu ke tempat sampah.

Saat itu, Roo Na berkata, syal itu sangat kuno jadi ia membuangnya.


Gyeong Min lalu memikirkan kata-kata Eun Ji tadi tentang Roo Bi yang benar-benar berubah.

Terakhir, ia ingat kata-kata Yeonho yang mengaku memiliki sesuatu yang bisa menghancurkannya, perusahaannya dan istrinya.

Ia pun bingung haruskah dirinya mempercayai kata-kata Yeonho.

"Roo Bi mungkin berubah tapi dia tidak seburuk itu." ucap Gyeong Min.

Bersambung ke part 3........

No comments:

Post a Comment