Thursday, January 10, 2019

The Promise Ep 22 Part 1

Sebelumnya...


Tuan Jang terkejut, ia tidak percaya wanita yang duduk di depannya kini adalah Na Yeon.

"Benar, aku putri Lee Yoon Ae. Lee Na Yeon." aku Na Yeon dengan matanya yang seketika berkaca-kaca.

"Bagaimana mungkin hidup kita saling terkait seperti ini? Aku tidak percaya kau pacarnya Tae Joon."


Na Yeon lantas berlutut, meminta bantuan Tuan Jang. Na Yeon berkata, Se Jin memiliki semuanya dan bisa hidup tanpa Tae Joon tapi tidak dengannya. Na Yeon mengatakan, Tae Joon adalah keluarganya dan hidupnya selama 20 tahun.

Na Yeon : Kami tidak pernah berpisah walau sekali. Bahkan meski kami terpisah, kami akan kembali bersama. Dia adalah napasku. Kami tertawa dan menangis bersama. Kami hidup bersama.

Tuan Jang berdiri, lalu jongkok di depan Na Yeon dan menyuruh Na Yeon berdiri.

Na Yeon : Tolong aku. Jika kau membantuku, aku berjanji Tae Joon akan keluar dari perusahaanmu. Jangan biarkan pernikahan itu terjadi.

Sayangnya, Tuan Jang menolak. Tuan Jang beralasan, ia di posisi yang sama seperti Na Yeon, ingin yang terbaik untuk putrinya.


Sementara Se Jin yang menunggu Na Yeon di kafe mulai kesal karena Na Yeon tak kunjung datang.


Tuan Jang : Akan kuberikan kau uang. Jangan buang-buang energimu untuk sesuatu yang tidak bisa kau menangkan. Kau pasti akan kalah.

Tuan Jang beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti saat Na Yeon mengatakan, akan menemui Se Jin. Na Yeon memberitahu Tuan Jang, bahwa Se Jin sedang menunggunya.

Tuan Jang langsung menatap tajam Na Yeon.

"Jika kau membuat Se Jin menderita, aku tidak akan memaafkanmu."


Se Jin kesal membaca SMS Na Yeon yang mengaku tidak bisa datang.


Tak lama kemudian, Tuan Jang menghubunginya menyuruhnya untuk segera datang ke kantor.


Sambil menuju mobilnya, Se Jin menghubungi Tae Joon dan menanyakan tentang ayahnya yang menyuruhnya ke kantor. Tae Joon mencemaskan Se Jin sepertinya karena Se Jin mengatakan dirinya akan menyetir dengan hati-hati.

Mobil Se Jin mulai melaju dan Na Yeon muncul di belakangnya.


Se Gwang dan Geum Bong bertemu di sebuah kafe. Geum Bong senang dihadiahi tas mahal oleh Se Gwang. Tak hanya tas mahal, Se Gwang juga memberikan Geum Bong sebuah kalung.

Sontak, Geum Bong makin senang apalagi ketika Se Gwang memakaikan kalung itu di lehernya, kebahagiaannya makin bertambah.

Tak lama berselang, Geum Bong menyesal karena tidak memberikan Se Gwang apa-apa.

Se Gwang : Kau hanya perlu terlihat cantik.


Mal Sook mendatangi Man Jung lagi. Ia ke rumah atap dan menggedor pintu sambil berteriak memanggil Man Jung, tapi Man Jung tak kunjung keluar.

Mal Sook tambah geram.

Mal Sook : Teruslah bersembunyi jadi aku bisa menikmati tugasku mencarimu. Ayo main petak umpet seperti di masa lalu.

Mal Sook lalu membanting barang-barang Man Jung yang ada di depan pintu.


Tak bisa menemukan Man Jung, Mal Sook pun pergi. Dibawah, ia bertemu Se Gwang.


Seseorang menghubungi Se Gwang. Se Gwang berkata, ia akan membayar hutangnya.

Se Gwang : Aku hanya perlu menggali satu inci lagi dan aku akan menggali emas dalam waktu singkat. Akan kudapatkan jumlah besar dalam waktu singkat.

Se Gwang kemudian marah, apa kau gila? Ini pekerjaanku! Jika kau membuat masalah, kau tidak akan pernah mendapatkan uang dariku! Aku akan segera membayarmu!

Se Gwang menutup teleponnya.

"Hanya 2000 dollar, berhentilah mengeluh!"

Se Gwang lantas melihat-lihat ke lingkungan rumah atap.


Man Jung ternyata sembunyi di sauna. Ia sedang bermain kartu dengan pengunjung lain.

Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan Mal Sook yang mendadak nongol. Man Jung pun langsung sembunyi sebelum Mal Sook melihatnya.


Mal Sook masuk ke sebuah ruangan dari mencari Man Jung. Ia menarik handuk yang menutupi kepala seseorang karena berpikir orang itu Man Jung tapi salah orang.


Mal Sook kemudian mendekati wanita yang sedang bersantai di kursi pemijat. Ia menyingkap handuk yang menutupi kepala wanita itu dan terkejut mendapati wanita bermasker hitam dibalik handuk. Man Jung pun langsung meminta maaf dan pergi tanpa menyadari wanita itu adalah Man Jung.


Man Jung mengomel setelah Mal Sook pergi dan ia makin kesal saat mengecek ponselnya, tidak ada kabar dari Tae Joon.


Na Yeon ke kelas Sae Byeol dan melihat Sae Byeol sedang menari dengan teman-temannya.

Sae Byeol yang asyik menari, kemudian melihat Na Yeon.

Sae Byeol tersenyum.

Na Yeon yang tadinya menatap Sae Byeol dengan sorot mata sedih, langsung tersenyum pada Sae Byeol.


Se Jin senang saat ayahnya menyuruh Tae Joon pindah ke rumah mereka. Tak hanya itu, sang ayah juga menginginkan ibu Tae Joon pindah ke apartemen yang sekarang ditempati Tae Joon. Se Jin yang senang langsung memeluk ayahnya.

"Berhenti bersikap manja, kau akan menjadi ibu sebentar lagi." ucap Tuan Jang.

Tae Joon menolak. menolak dengan tegas.

Tuan Jang dan Se Jin menanyakan alasan Tae Joon menolak.

Tae Joon beralasan, ia tidak enak dengan Yoo Kyung.

"Aku cukup bersyukur dia merestui pernikahanku dan Se Jin, jadi aku tidak mau mengganggunya dengan masalah ini."


"Jangan berpikir berlebihan. Lakukan saja kataku." ucap Tuan Jang.

Tae Joon tetap menolak.

Tuan Jang langsung diam dengan wajah marah.


Man Jung sudah berada di lobby Baekdo. Ia takjub melihat besarnya Grup Baekdo dan tidak menyangka dirinya akan menjadi besan Baekdo.


Di ruangan Tae Joon, Se Jin penasaran kenapa ayahnya tiba-tiba menyuruh Tae Joon pindah ke rumah mereka.

Tae Joon : Ayahmu kan sudah bilang, karena ibuku.

Se Jin : Ini tidak seperti dirinya.

Tae Joon : Aku harus pergi. Aku ada rapat.

Se Jin : Aku harusnya bertemu wanita itu.

Menyadari, wanita yang dimaksud Se Jin adalah Na Yeon, Tae Joon langsung panic.

Tae Joon : Kenapa kau melakukannya? Dia mengajakmu bertemu? Dia menelponmu?


Se Jin mengaku iya.

Tae Joon pun melarang Se Jin bertemu dengannya Se Jin penasaran alasannya. Tae Joon berkata, Se Jin akan terluka jika bertemu dengannya.

Tae Joon : Kumohon, biarkan aku menyelesaikan masalah ini.

Se Jin mengerti. Tae Joon lalu menyuruh Se Jin pergi.

Setelah Se Jin pergi, Tae Joon melemparkan dokumen yang sedang ia pegang. Ia kesal karena mengira Na Yeon lah yang mengajak Se Jin bertemu.


Staf keamanan melarang Man Jung masuk. Man Jung marah dan memaksa bertemu anaknya yang bekerja di Baekdo.

Staf keamanan : Ajumma, katakan saja di departemen mana anakmu bekerja.

Dipanggil ajumma, Man Jung makin kesal.

Staff keamanan kemudian mengusir Man Jung. Ia mendorong Man Jung dan memaksa Man Jung pergi.

Kesal tubuhnya dipegang-pegang, Man Jung pun mengancam akan melaporkan staf keamanan atas tuduhan pelecehan seksual.


Se Jin yang baru turun ke lobby, menatap Man Jung dengan tatapan jengkel.

Staf keamanan menyebut Man Jung penipu. Man Jung tambah kesal dipanggil penipu.

Se Jin mendekati mereka. Staf keamanan menjelaskan, bahwa Man Jung mengaku punya anak yang bekerja di sana tapi tidak bisa menunjukkan di departemen mana anaknya bekerja.

Se Jin : Ajummoni, jangan seperti ini. Jika ingin bertemu anakmu, kau harus menelponnya.

Man Jung : Kau pikir aku tidak tahu? Itu karena dia tidak menjawabnya. Lagipula, kau ini siapa berani ikut campur?

Se Jin : Jika kau terus seperti ini, kau akan menyusahkan semua orang dan membuat mereka tidak nyaman. Karena itu telepon anakmu dan kembalilah nanti.

Man Jung : Aku tidak ingin mengatakan ini karena tidak mau dianggap membual, aku akan menjadi besan pemilik perusahaan ini. Anakku akan menikah dengan cucu pemilik perusahaan ini. Kang Tae Joon! Kau tidak tahu Kang Tae Joon!

Mendengar itu, Se Jin sontak kaget.


Se Jin membawa Man Jung ke apartemen Tae Joon. Se Jin tertawa melihat reaksi Man Jung saat koki menghidangkan steak ke hadapan mereka. Man Jung berkata, biasanya ia hanya menonton hal seperti ini di TV. Se Jin berkata, alasannya membawa Man Jung ke apartemen Tae Joon agar Man Jung bisa melihat seperti apa kehidupan Tae Joon sekarang.

Se Jin : Eommoni, kau ingin wine?

Man Jung : Wine? Itu alkohol juga?

Se Jin : Rasanya akan lebih nikmat jika dimakan dengan steak.

Man Jung : Tuangkan untukku. Makanan akan lebih nikmat jika kau menikmati alkohol juga.

Se Jin pun langsung menuangkan wine ke gelas Man Jung.


Se Jin : Aku tidak menyangka ibu Tae Joon masih muda dan cantik.

Man Jung : Sesange, kenapa kau begitu sopan?

Se Jin : Aku mengatakannya bukan karena aku ingin terlihat sopan. Aku minta maaf. Aku harusnya yang datang berkunjung duluan, tapi aku belum sempat. Aku bersyukur kita pada akhirnya bertemu.

Man Jung : Aku hampir gila karena penasaran denganmu. Kenapa kau begitu cantik? Kau pintar, sopan dan berkelas. Tae Joon seperti mendapat durian runtuh.

Se Jin : Kau sudah dengar dari Tae Joon? Kami akan menikah bulan depan.

Man Jung sontak kaget tapi di depan Se Jin, ia berpura-pura sudah tahu itu dari Tae Joon.

Se Jin : Karena kita akan menjadi keluarga, jadi biarkan aku tahu apa pekerjaanmu.

Man Jung : Menjadi keluarga? Kalian benar-benar akan menikah?

Se Jin : Geuromyeo.


Man Jung mengajak Se Jin makan. Saat hendak makan, Se Jin tiba-tiba mual.

Se Jin pun langsung lari ke kamar mandi. Man Jung menyusul Se Jin. Man Jung curiga Se Jin hamil. Se Jin minta maaf karena ia hamil sebelum menikah. Man Jung memeluk Se Jin. Ia senang dengan kehamilan Se Jin.

Se Jin awalnya senang dipeluk, tapi saat mencium bau Man Jung, ia ingin muntah lantaran Man Jung terlalu banyak memakai parfum.


Young Sook masuk ke kamar Pimpinan Park dan menemukannya sedang melamun di tempat tidur.

Young Sook sedih dan teringat kata-kata dokter bahwa Pimpinan Park ingin menghabiskan sisa hidup dengan keluarga.

Pimpinan Park melihat Young Sook.

"Apa kau senang bisa bebas sementara suamimu yang sakit terbaring di kasur?"

"Lantas haruskah aku berbaring di sana juga denganmu sampai bosan?"

"Kenapa kau bosan?"


Pimpinan Park lalu menyuruh Young Sook berbaring disampingnya tapi Young Sook menolak.

Young Sook lantas duduk di depan Pimpinan Park dan mengajaknya pulang.

Young Sook : Aku berpikir, kau sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Jujur saja, aku muak berada di rumah sakit.

Pimpinan Park : Mereka mengatakan, kau akan menderita jika pergi meninggalkan rumah. Kenapa aku harus disini? Aku punya rumah yang bagus. Cepat urus prosedurnya. Ketika sampai di rumah, masakkan aku sepanci besar sup pedas.

Young Sook : Aku akan masak untukmu. Ayo makan bertiga dengan Hwi Kyung.

Young Sook yang tangisnya sudah mau pecah, akhirnya berlari keluar dengan alasan lupa membawa buah-buahan.


Setelah Young Sook pergi, tangis Pimpinan Park pecah.

Diluar, Young Sook menangis. Selang beberapa menit, Young Sook menghubungi Hwi Kyung.


Hwi Kyung senang mendengar kabar ayahnya akan keluar dari rumah sakit hari itu.

Young Sook : Ayahmu benar-benar ingin pulang.

Hwi Kyung : Kita akan hidup bertiga lagi. Aku akan ke rumah sakit setelah selesai bekerja.


Usai bicara dengan sang ibu, Do Hee menghubunginya.

Do Hee : Kau menunggu teleponku?

Hwi Kyung : Apa yang kau inginkan?

Bersambung ke part 2...........

No comments:

Post a Comment