Wednesday, March 13, 2019

Babel Ep 11 Part 2

Sebelumnya...


Hari sudah pagi. Woo Hyuk ternyata tidur di kantornya dengan berkas-berkasnya yang masih terbuka.

Tak lama kemudian, Jaksa Kepala masuk ruangannya dan ia langsung terbangun.

Jaksa Kepala terkejut mengetahui Woo Hyuk tidur di kantor.

Woo Hyuk : Kapan datang?

Jaksa Kepala : Sudah kuduga kau akan berhasil. Kau sama gigihnya denganku.

Woo Hyuk : Masih dalam penyelidikan.

Jaksa Kepala : Nanti saja. Ayo. Saatnya berfoto.

Woo Hyuk, foto?

Jaksa Kepala : Aku mengundang reporter.

Woo Hyuk kaget, apa? Jaksa Kepala! Kenapa mengundang pers?

Jaksa Kepala : Kau sudah bangun? Kenapa seperti amatir? Dapatkan sesuap nasimu sebelum diklaim orang lain.

Woo Hyuk pun menghela nafas kesal.


Di depan kantor kejaksaan, para reporter sudah berkumpul. Seorang reporter melaporkan, kejaksaan sudah mengamankan bukti bahwa Jung Won membunuh Min Ho dan barang bukti itu akan segera diungkapkan kejaksaan secara resmi.


Jae Il yang juga ada di sana, dapat telepon dari atasanya yang menyuruhnya mengiriman berita Jung Won.

Jae Il keberatan dan mencari-cari alasan untuk menghindar. Tapi atasannya marah dan menyuruhnya mencari berita Jung Won sekarang juga.


Yoo Ra menemui ibunya yang sedang sarapan bersama Soo Ho dan Young Eun.

Yoo Ra : Ibu sudah dengar, kan? Sekarang bagaimana?

Nyonya Shin : Posisi kita... Bukan, posisi Geosan harus seperti ini. Kita terkejut Jung Won membunuh Min Ho, tapi dari penyelidikan jaksa...

Soo Ho : Hubungi kantor perencanaan dan keluarkan pernyataan tanggapan. Beri tahu pers, liputan mereka harus mencerminkan posisi. Bila setengah-setengah, mulai besok tak ada iklan.


Yoo Ra : Tak sebaiknya menunggu?

Soo Ho : Omong kosong, bentuk saja tim pembela.

Yoo Ra : Kau yakin Jung Won bukan pelakunya?

Soo Ho : Apapun pendapat kita, ini adalah perspektif resmi Geosan. Han Jung Won tak membunuh Tae Min Ho.

Yoo Ra : Jaksa tak mungkin menangkapnya tanpa alasan. Masih belum terlambat untuk mengetahui alasannya.

Soo Ho : Kau tak mau menuruti permintaanku?

Yoo Ra : Kenapa hanya memandang dari satu sisi? Pelaku sebenarnya harus ditangkap, kan?


Nyonya Shin : Kau kenapa? Lakukan seperti ucapan kakakmu. Sekarang dia Geosan.

Mendengar itu, Yoo Ra makin sewot.

"Baik. Lakukan sesukamu. Aku tak mau terlibat. Orang-orang Geosan yang hebat dapat menyelesaikannya sendiri." ucap Yoo Ra, lalu beranjak pergi.


Asisten Woo yang sedang menemani Moo Wee terkejut melihat berita penangkapan Jung Woon di TV.


Di restoran, Mi Sun duduk, memikirkan masalah Jung Won. Ia yakin, Jung Won bukan pembunuh Min Ho.

Tak lama kemudian, Jae Il datang dan melihat banyak asap di dapur.

Jae Il teriak, Mi Sun-ssi! Mi Sun-ssi! Buka pintu jendela!

Mi Sun kaget dan langsung membuka jendela.


Nyonya Shin menghubungi Jaksa Agung.

"Tak apa menerima telpon sekarang? Maaf, kau pasti sibuk. Aku sanggup menahannya berkat kepedulian orang baik sepertimu, jaksa agung. Aku menelepon bukan untuk meminta itu. Bila memang bersalah, maka harus dihukum. Bila konglomerat bisa menghindari hukum, apa keadilan sosial bisa ditegakkan?"

Nyonya Shin pura-pura nangis.

"Saat ini, aku menelepon dengan hati seorang ibu. Karena telah membunuh Min Ho, sesuai hukum yang berlaku jatuhi dia hukuman yang seberat-beratnya."


Usai bicara dengan Jaksa Agung, Nyonya Shin memanggil Pak Yang.

"Tehnya sudah dingin. Ambilkan lagi." suruhnya.

Setelah Pak Yang pergi, Nyonya Shin tersenyum.


Di rumah sakit, Pimpinan Tae sedang menonton berita Jung Won.


Yoo Ra masuk ke ruangannya dengan wajah kesal.

Ia lalu minta segelas air pada seketarisnya dan meneliti catatan panggilan Min Ho.

Yoo Ra menemukan sebuah nomor dan menghubungi nomor itu yang ternyata adalah nomor agen detektif.


Staff pria menyelidiki catatan panggilan Jung Won. Ia menghela nafas menemukan nomor Woo Hyuk disana di tanggal kematian Min Ho.


Manajer Oh dan staff berkacamata menuju ruang interogasi.

Dari kejauhan, Woo Hyuk melihat mereka dan wajahnya langsung berubah cemas.


Manajer Oh dan staff berkacamata mulai menginterogasi Jung Won.

Manajer Oh bertanya, Jung Won ada di lokasi kejadian saat itu kan?

Karena Jung Won diam saja, staff pria menunjukkan senjata yang digunakan untuk membunuh Min Ho.

Manajer Oh : Ini pisau amplop yang digunakan sebagai senjata kejahatan. Kau menggunakannya untuk membunuh Tae Min Ho?

Jung Won tetap diam.


Woo Hyuk memperhatikan jalannya interogasi dari balik kaca.

Manajer Oh : Tolong dijawab.

Staff pria : Menggunakan hak diam dapat digunakan untuk melawan di pengadilan.

Jung Won tetap diam.


Staff wanita kemudian datang, memberitahu kalau Jaksa Kepala mencari Woo Hyuk.

Woo Hyuk pun menyuruh Manajer Oh dan staff pria untuk rehat sejenak.


Woo Hyuk masuk ke ruangan Jaksa Kepala tapi malah menemukan Yoo Ra di sana.

Yoo Ra memberikan sesuatu.

Woo Hyuk membukanya dan terkejut melihat foto-fotonya dengan Jung Won.

Yoo Ra : Berhenti menangani kasus itu. Sebelum meninggal, Min Ho menyuruh detektif swasta mengambil foto-foto itu. Min Ho sudah tahu hubungan kalian, bagaimana kalau ini sampai keluar?

Woo Hyuk merobek foto-foto itu.


Yoo Ra marah dan menuding Woo Hyuk sudah dibutakan perasaan pribadi.

Yoo Ra : Kau tidak pantas disebut jaksa. Kau tak berhak menangani kasus ini.

Woo Hyuk : Apa hakmu berbuat begini? Demi keadilan? Kau yang terperangkap dalam perasaan pribadimu.

Yoo Ra menampar Woo Hyuk.

Woo Hyuk : Aku lupa orang seperti apa diriku. Terima kasih sudah mengingatkanku. Kalau kau campuri kasus Jung Won sekali lagi, akan kutunjukkan aku bisa serendah apa.


Jaksa Kepala datang dan terkejut melihat ketegangan Yoo Ra dan Woo Hyuk. Yoo Ra lalu beranjak pergi.

*Naah, Woo Hyuk bener tuh. Yoo Ra lah yg kejebak sama perasaannya ke Woo Hyuk. Dia gk terima Woo Hyuk memilih Jung Won makanya nafsu bgt mau jeblosin Jung Won ke penjara.


Jung Won sedang makan. Di depannya duduk seorang. Woo Hyuk? Ani, dia staff pria berkacamata.

"Sejak awal, aku merasa dia hebat." ucap staff pria.

"Apa?" tanya Jung Won.

"Maksudku Jaksa Cha Woo Hyuk.  Karena warna kulit wajahnya seputih tepung, aku ingin tanya, apa dia bisa bekerja. Tapi kemudian aku tahu kekhawatiranku sia-sia. Dalam beberapa jam, dia memberi perintah dengan bahasa formal campur non formal, meski ingin kukatakan dia berengsek tak tahu sopan santun, tapi cara kerjanya sangat efektif. Di dunia ini banyak orang bodoh yang terbang mengikuti angin, di sini juga sama. Tak semua jaksa pantas disebut jaksa. Hanya sedikit yang seperti Jaksa Cha Woo Hyuk. Tapi belakangan ini, dia banyak berubah. Seperti katanya, mungkin pubertas yang tertunda." jawab staff pria.

"Kenapa kau ceritakan padaku?" tanya Jung Won.

"Aku khawatir. Jaksa Cha Woo Hyuk selalu menemukan solusi dalam kasus apapun. Aku yakin kali ini juga sama. Karena dia punya bakat alami. Tapi ketika jaksa melaksanakan tugasnya sebagai jaksa. Bila dia gunakan kemampuannya untuk membela tersangka, hal itu pasti akan jadi kehancurannya. Bila cinta alasannya, akan semakin fatal akibatnya." jawab staff pria.

"Itu takkan terjadi. Aku takkan membiarkannya." ucap Jung Won.


Pengacara Kwon bicara pada Yoo Ra.

"Situasi kacau karena artikel yang berspekulasi. Meski pers masalahnya, tapi opini masyarakat sudah terbentuk. Sepertinya Han Jung Won akan menanggung kesalahan orang lain."

Mendengar itu, Yoo Ra sewot.

"Apa hubunganmu dengan Jung Won? Apa dasar pendapatmu dia tak bersalah? Banyak bukti mengarah padanya. Kenapa semua membela dia?"

Pengacara Kwon heran melihat Yoo Ra sengotot itu menyalahkan Jung Won.


Direktur Go diam-diam menemui Pimpinan Tae.

Direktur Go : Ketua, aku Direktur Eksekutif Go, Geosan Group. Kau mengenaliku? Kau tahu selama dua puluh tahun aku melayanimu dari dekat? Aku tahu pikiranmu hanya dengan melihat matamu. Siapa? Siapa yang membuatmu seperti ini? Aku tahu kau pura-pura karena mereka. Jangan percaya siapapun di dunia ini kecuali aku, Direktur Eksekutif Go. Selamanya aku tangan dan kakimu. Katakan padaku siapa pelakunya.

Pimpinan Tae menyuruh Direktur Go mendekat.

Direktur Go terkejut, tapi ia mendekat.

Pimpinan Tae tampak ingin membisikkan sesuatu. Tapi dia malah menggigit telinga Direktur Go.

Direktur Go langsung teriak kesakitan. Ia terkejut saat menemukan telinga nya berdarah karena digigit Pimpinan Tae.

Pimpinan Tae menyeringai.


Nyonya Shin dapat laporan dari anak buahnya tentang Soo Ho yang memeriksa latar belakang Direktur Park.

"Entah bagaimana tapi Direktur Park bertindak kritis." jawab Nyonya Shin.

"Aku harus bagaimana?"

"Biarkan saja, terserah keinginannya saja. Hibur agar dia kuat sampai secara resmi mewarisi. Jangan katakan atau memberi kesan kau bekerja untukku." jawab Nyonya Shin.


Setelah itu, Nyonya Shin dihubungi oleh Ricky.

Ricky : Ini aku, nyonya. Kau siap?

Nyonya Shin : Siap? Untuk apa?

Ricky : Kau masih punya kebiasaan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Uang maksudku. Nilainya tak sedikit sehingga tersedia bentuk tunai.

Nyonya Shin : Sopir Kim, kau lupa bicara dengan siapa?

Ricky : Sudah kuduga, penuh kendali.

Nyonya Shin : Berhenti membual. Katakan waktu dan lokasinya.

Ricky : Ya, aku akan menghubungimu lagi.


Young Eun melihat surat perceraiannya.


Setelah itu, ia ingat saat dirinya habis ditiduri Min Ho.

Young Eun : Perbuatanmu pada Min Ho... apa gara-gara aku? Melihat perkembangannya, apa aku juga akan dituduh?


Setelah itu, Young Eun menemui Soo Ho. Ia berbasa basi dengan mengatakan soal Soo Ho yang akan memikul beban Geosan di masa depan, seperti takdir yang tak bisa dihindari.

"Kau ingin bicara apa?" tanya Soo Ho.

"Aku hanya penasaran. Kenapa kau membela Jung Won." jawab Young Eun.

"Kau khawatir?" tanya Soo Ho.

"Aku bukan bagian dari Geosan? Ini urusan keluarga." jawab Young Eun.

"Bukankah kau takut hubunganmu dengan Min Ho akan terekspos?" tanya Soo Ho.

Senyum Young Eun pun langsung hilang setelah mendengarnya.

Tapi tak lama ia tersenyum lagi dan berpura-pura tenang.

Young Eun : Dengan jadi penerus, aku takut kau akan terikat pada bisnis. Hanya khawatir. Bagaimanapun seharusnya aku mendukungmu.


Soo Ho : Kau mendukungku?

Young Eun : Bukankah kita masih suami istri?

Young Eun lantas mengajak Soo Ho berbagi informasi.

Soo Ho bertanya, apa yang Young Eun inginkan.

Young Eun : Maksudku soal paman. Polisi dan kejaksaan mencarinya tapi tak menemukan jejak. Apa dia cuma bersembunyi? Pagi pada hari dia menghilang, aku mendengar hal yang menarik. Secara tak sengaja.

Young Eun lalu memberitahu apa yang ia dengar saat itu.

Young Eun : Keduanya, meski sepupu, tapi seperti adik dan kakak.

Soo Ho : Lalu?

Young Eun : Kau juga berspekulasi.  Bila ibumu membunuh paman, seandainya saja, membunuh adikmu yang tak sedarah dengannya bukankah jauh lebih mudah?

Sontak, Soo Ho kaget mendengarnya.


Jung Won di ruang interogasi, tampak memikirkan sesuatu.


Mi Sun menemui Woo Hyuk. Ia bertanya, apa Jung Won bisa bebas. Woo Hyuk berkata, akan mengusahakannya.

Mi Sun : Benar, kan? Kau bisa mengupayakannya, kan?

Woo Hyuk : Ya.

Mi Sun : Maaf. Kau pasti sibuk. Woo Hyuk-ssi, bila dia memang berbuat, dia pasti punya alasan. Wanita selembut dia... aku tahu dia dianiaya tapi dia tak pernah menceritakannya. Bukan hanya sekali atau dua kali. Bila aku bisa, aku ingin membunuh Tae Min Ho bajingan itu. Seandainya... hanya seandainya, dia memang berbuat... kau tidak akan meninggalkannya kan?

Woo Hyuk terdiam. Tapi setelahnya, ia berkata tidak akan pernah melepaskan Jung Won meski Jung Won menyuruhnya pergi.

Mendengar itu, Mi Sun lega.


Woo Hyuk kembali ke ruangannya. Tak lama kemudian, ia terpikirkan sesuatu.

Woo Hyuk pun bergegas memeriksa catatan panggilan Jung Won.


Setelah itu, ia beranjak pergi.

Staff pria yang cemas, menyusul Woo Hyuk. Woo Hyuk meminta staff pria menunda interogasi Jung Won sampai ia kembali.


Woo Hyuk pergi ke Kantor Hukum Oh Yeong, sesuai di catatan panggilan Jung Won.


Setelah itu, ia pergi ke Rumah Sakit Deokyang dan mendapatkan catatan medis Jung Won. Disitu disebutkan, Jung Won menderita luka memar pada tanggal 14 Desember 2017, lalu pada tanggal 29 Desember ia menderita luka lecet dan memar. Dan terakhir, kaki Jung Won patah masih di tahun yang sama tapi tidak disebutkan tanggalnya.


Setelah itu, Woo Hyuk melirik jam nya dan menanyakan sesuatu pada dokter.


Ricky duduk di stasiun sambil memainkan ponselnya. Tapi sebentar2, matanya celingak celinguk menatap sekelilingnya.

Tak lama, seorang pria berseragam polisi lewat di depannya.

Ricky curiga.

Tapi polisi itu kemudian berlalu begitu saja.


Tak lama, seorang pria berbadan besar berjalan ke arahnya sambil tersenyum menyeringai.

Lalu, ia melihat beberapa pria lainnya juga berjalan ke arahnya.


Sontak, Ricky kabur. Ia masuk ke toilet, dimana pria berseragam polisi itu juga masuk kesana.

Ricky menghubungi Nyonya Shin tapi nomornya tak aktif.

"Sudah kuduga terlalu mudah. Mudah tak asyik." ucap Ricky.


Ricky beranjak keluar, mengikuti polisi itu. Tapi polisi itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.

"Jangan kecewa. Aku akan membuatnya terasa asyik bagimu." ucap si polisi, lalu menyeringai.

Polisi itu berbalik dan menunjukkan wajahnya pada Ricky. Dia si pria penyusup. Sontak Ricky kaget dan langsung mengeluarkan pisaunya.

Tapi pria itu berhasil menjatuhkan pisau di tangan Ricky dan menjatuhkan Ricky.


Woo Hyuk yang sudah di taksi dihubungi Manajer Oh.

Manajer Oh : Jaksa, kau dimana? Mereka ribut menyuruhku menyelesaikannya dan mengajukan surat perintah penangkapan.

Woo Hyuk : Aku hampir sampai, tunggu sebentar.


Begitu sampai, Manajer Oh langsung memberikan berkas2 Jung Won. Tapi saat hendak masuk ruang interogasi, Woo Hyuk dihubungi Ricky.

Ricky yang sudah babak belur, mengajak Woo Hyuk bertemu. Ia mengaku, akan mengatakan semuanya. Semuanya yang terlihat dalam kematian ayah Woo Hyuk.

Woo Hyuk : Saat ini aku tak bisa. Sebentar lagi. Kita bertemu sebentar lagi. Di mana? Aku akan menemuimu.

Ricky : Kau pikir ada kesempatan lain?

Telepon terputus.


Woo Hyuk pun bingung harus bagaimana.

Bersambung ke part 3.......

No comments:

Post a Comment