Sunday, March 24, 2019

Babel Ep 14 Part 2

Sebelumnya...


Soo Ho, Young Eun dan Nyonya Shin sarapan bersama. Sepanjang sarapan, Young Eun terus tersenyum menatap Soo Ho. Melihat Young Eun tersenyum, Nyonya Shin bertanya ada apa.

Young Eun : Aku berhenti minum. Hidup waras tak ada ruginya. Soo Ho berubah, aku harus berubah juga.

Nyonya Shin : Jangan berbuat bodoh. Jangan membuat masalah sampai upacara pelantikannya.

Soo Ho :  Ibu. Kalau aku jadi pemilik Geosan, dia akan jadi istri pemilik. Kuharap ibu memperlakukannya dengan pantas.

Soo Ho lantas pamit dan memanggil Seketaris Kim.


Young Eun langsung berdiri. Ia mau mengantarkan Soo Ho. Tapi Soo Ho menyuruhnya kembali makan.


Setelah Soo Ho pergi, Young Eun mulai membahas Hyeon Cheol.

Sontak, Nyonya Shin langsung menatap tajam Young Eun.

"Dia belum menghubungi? Sama sekali? Dia pasti berusaha menghubungi ibu." sindir Young Eun.

Nyonya Shin diam saja.

Young Eun : Pasti tidak. Ibu sangat khawatir. Dia adik sepupu satu-satunya.


Nyonya Shin : Setelah Soo Ho menjadi pemilik, akan kuturuti keinginanmu untuk bercerai. Jangan bicara yang tak perlu, diam sajalah.

Young Eun tersenyum mendengarnya.

Young Eun : Sepertinya aku tak dibutuhkan lagi.

Nyonya Shin : Kau tak tahu? Semua direktur mendukung kami, terlepas kami memiliki saham keluargamu atau tidak.

Young Eun : Ya, ya. Maka kini ibu tak perlu mengkhawatirkan masalah kami. Soo Ho dan aku akan menyelesaikannya sendiri.

Nyonya Shin tambah kesal.

"Kalian? Apa hak kalian?"

Young Eun : Sepertinya kami tak pernah memberi ibu hak.

Nyonya Shin, apa?

"Aku membuat sup penawar pengar. Entah cocok dengan selera ibu atau tidak. Pengarnya harus dihilangkan." jawab Young Eun.


Sekarang, Yoo Ra menerobos masuk ke rumahya, menemui ibunya yang lagi minum teh sendirian. Yoo Ra menanyakan soal kesepakatan yang dibuat ibunya dengan Jung Won.

Yoo Ra marah.

"Kenapa dia tak tahu malu padahal seharusnya memohon diselamatkan?"

"Kau menginterogasi ibu?" tanya Nyonya Shin.

"Aku perlu tahu untuk memutuskan jadi pengacaranya atau tidak." jawab Yoo Ra.

"Karena kau." ucap Nyonya Shin.

Yoo Ra, apa?

Nyonya Shin : Jung Won memiliki surat wasiat yang menyatakan Min Ho adalah pewaris Geosan. Kau tak dapat menemukan surat wasiatnya. Jung Won memilikinya.

Yoo Ra kaget.


Nyonya Shin lantas memberitahu Yoo Ra kalau Jung Won sedang mengandung anak Min Ho.

Tapi Yoo Ra malah mengatakan pada ibunya kalau itu bukan anak Min Ho. Namun saat sang ibu bertanya, siapa ayah dari bayi yang dikandung Jung Won, Yoo Ra bingung menjawabnya.

Nyonya Shin : Gadis bodoh. Jung Won mungkin mengandung anak Cha Woo Hyuk, tapi kau tergila-gila padanya hingga mohon ibu menyelamatkan pria itu.

Sontak, Yoo Ra tambah kaget. Ia tak menyangka ibunya sudah tahu hubungan Jung Won dan Woo Hyuk.

Nyonya Shin : Ibu belum memastikannya. Anak Min Ho atau anak Cha Woo Hyuk. Tapi bagaimana lagi. Saat ini tak ada cara untuk memastikannya. Ibu tak bisa menghancurkan semua yang ibu bangun untuk Soo Ho. Penuhi keinginan mereka, maka ibu dapatkan keinginan ibu.


Yoo Ra tak tahu lagi harus bicara apa. Ia mengambil tasnya dan berniat pergi tapi sang ibu menyuruhnya melepaskan kasus Jung Won.

Tapi Yoo Ra yang berambisi menghancurkan Jung Won karena merasa pria yang disukainya direbut oleh Jung Won, jelas menolak.

Nyonya Shin lantas berdiri dan menatap tajam Yoo Ra.

Nyonya Shin : Kau marah? Karena Cha Woo Hyuk direbut darimu? Sampai membalas dendam? Kau sudah bermain kotor dan murahan. Sadarlah.

Yoo Ra : Murahan atau kotor, akan kuputuskan sendiri. Tak usah pedulikan. Tak usah pedulikan!

Nyonya Shin mau menampar Yoo Ra tapi Yoo Ra menangkisnya.

Nyonya Shin : Keluar! Lakukan saja sesukamu. Ibu akan bertindak sesuka ibu.


Di kamarnya, Soo Ho bersantai di kursi pemijat.

Tak lama kemudian, Young Eun datang dengan wajah sumringah.

Soo Ho : Kenapa kau senang?

Young Eun : Mau pergi denganku?


Young Eun membawa Soo Ho ke depan kanvas.

Young Eun : Kalau suka katakan suka. Langkah pertama untuk menggambar adalah mengekspresikan perasaan. Kau mau coba? Coba gambar garis lurus.

Young Eun lantas mengambil pensil lukis dan meletakkannya di tangan Soo Ho.

Tapi Soo Ho tidak mau. Young Eun memaksa.

Soo Ho pun mulai menggoreskan pensilnya di atas kanvas.


Setelah itu, Soo Ho berhenti dan Young Eun menghapus garis lurus yang dibuat Soo Ho.

Soo Ho : Itu kesalahan menggambar.

Young Eun : Kesalahan menggambar harus dihapus bersih.

Soo Ho pun mengerti maksud Young Eun.


Mi Sun mendatangi Woo Hyuk.

Ia marah.

Mi Sun : Jung Won menaruh kepercayaan padamu. Kenapa kau di rumah? Kau bilang takkan menyerah, atau melepaskan tangannya. Kalau akan seperti ini, kenapa kau bilang cinta? Kenapa menggoyahkan orang yang terluka?

Woo Hyuk : Mi Sun-ssi...

Mi Sun : Berengsek. Anak itu akan dilahirkan di penjara? Kau tak pantas mencintai Jung Won. Tidak. Kau tak pernah mencintainya.

Puas memaki Woo Hyuk, Mi Sun pergi.


Dan Woo Hyuk, dia teringat kata-katanya pada Jung Won.

Woo Hyuk : Suatu saat kasus ini akan selesai. Pada saat itu, kita pergi bersama. Aku tak peduli walau tanpa tujuan. Di mana pun tak menjadi masalah asalkan kita bersama. Berkelana ke banyak tempat, sampai menemukan tempat yang kau suka, di sana, kita bertiga bersama akan hidup bersama selamanya.

Setelah itu, Woo Hyuk langsung membuat panggilan.


Woo Hyuk dan Jae Il bertemu di atap sebuah gedung.

Woo Hyuk : Kau tahu yang paling kubenci dalam kehidupan? Ditanya apa mimpiku. Aku tak bisa menjawabnya. Apa kau tahu... bermimpi membunuh seseorang sangat mengerikan? Hanya balas dendam. Balas dendam. Tapi aku tak bisa berhenti. Menjadi satu-satunya yang selamat membuatku merasa bersalah. Setelah bertemu Jung Won, untuk pertama kalinya aku punya mimpi lain. Mimpi ingin hidup seperti orang biasa. Aku yang membuatnya menjadi seperti itu. Bukan cinta, tapi lebih ke perasaan bersalah.

Woo Hyuk lantas menatap Jae Il dan meminta bantuan.

Jae Il : Aku mengerti tapi saat ini aku tak tahu harus berkata apa.


Kepala Jang dan Detektif Lee menunggu seorang di dalam mobil.

Detektif Lee : Menurutmu berengsek itu akan muncul?

Kepala Jang : Lee Gil, tolong DNA hyung ini. Dia akan datang.

Detektif Lee : Bicara apa kau ini?

Kelapa Jang : Kau tak tahu? Mulai kakekku selama tiga generasi, kami petugas kepolisian.

Detektif Lee : Kakekmu pasti suka bermain Go Stop, kan?

Kepala Jang : Tentu.


Tak lama kemudian, orang yang mereka tunggu datang. Seorang pria berbadan gempal dan berambut aneh.

Saat keduanya sibuk menyergap pria itu, Kepala Jang dihubungi Woo Hyuk.

Kepaa Jang sewot Woo Hyuk menghubunginya di waktu yang tidak tepat.

Woo Hyuk meminta bantuan Kepala Jang. Ia menyuruh Kepala Jang datang ke pemancingan.


Si penyusup memikirkan kata-kata Nyonya Shin.

"Kau tak punya pikiran sudah membayarku dengan yang kau lakukan selama ini, kan? Kalau kau berpikir seperti itu, kau lupa besarnya utangmu." ucap Nyonya Shin.


Seorang pria mendekati Hyeon Cheol yang lagi duduk di tepi kolam pemancingan.

Sontak, Hyeon Cheol panic dan langsung mendorong pria itu, lalu kabur.

Pria itu ternyata Jae Il.


Hyeon Cheol lari. Woo Hyuk mencegatnya.

Hyeon Cheol lega melihat Woo Hyuk.


Sekarang, Hyeon Cheol menyerahkan Flashdisk ke tangan Woo Hyuk.

Bertiga, mereka melihat isi flashdisk itu.

Flashdisk itu berisi file tentang Soo Ho.

Woo Hyuk langsung mencetak file mengenai transaksi saham Soo Ho


Nyonya Shin yang lagi duduk minum teh, dihubungi nomor tak dikenal. Awalnya ia mereject nya. Tapi karena nomor itu terus menghubunginya, akhirnya ia menjawabnya.

Nyonya Shin terkejut mendengar suara Hyeon Cheol.

Singkat cerita, Hyeon Cheol mengajak Nyonya Shin bertemu tapi ia melarang Nyonya Shin membawa Kwang Seok.

Nyonya Shin setuju.


Setelah menutup teleponnya, Jae Il langsung mengambil telepon itu dan mematikannya.

Hyeon Cheol :  Sudah kulakukan sesuai perintahmu. Sepertinya dia tak curiga, Menurutmu akan berhasil?

Woo Hyuk : Akan kuambil alih dari sini.


Besoknya, Nyonya Shin menunggu Hyeon Cheol di depan kuil.

Tapi yang datang Woo Hyuk.

Nyonya Shin melirik file yang dibawa Woo Hyuk.

"Kau yang menyembunyikan Hyeon Cheol? Di mana dia?"

"Kau tahu dia takkan datang."

"Jangan berbelit-belit."

"Pertama-tama, kita harus ke suatu tempat."


Woo Hyuk membawa Nyonya Shin ke kuil tempat ia sering berdoa untuk ayahnya.


Selesai berdoa, Woo Hyuk mengajak Nyonya Shin bicara diluar.

"Apa yang kau inginkan dariku? Perasaan malu? Rasa bersalah? Kau ingin aku mohon pengampunan?" tanya Nyonya Shin.

Woo Hyuk pun menunjukkan dokumen Soo Ho.

Nyonya Shin : Kau lebih pintar dari yang kubayangkan, melihat kau cermat mengumpulkan data. Apa yang akan kau lakukan dengan ini?

Woo Hyuk : Seharusnya kau sudah punya rencana, kan?


Nyonya Shin : Apapun yang kau lakukan, bukankah sudah terlambat?

Nyonya Shin lantas membuang dokumen2 itu.


Tak berhasil dengan dokumen itu, Woo Hyuk mengeluarkan dokumen Soo Ho yang lain.

Woo Hyuk : Hasil menunjukkan Tae Soo Ho positif menggunakan narkoba.

"Apa maksudmu? Soo Ho tak pernah ikut tes seperti itu." ucap Nyonya Shin.

"Seseorang memiliki sampel DNA-nya untuk tes tersebut." jawab Woo Hyuk.

"Apa? Kau jangan-jangan.."

"Benar. Aku mengujinya menggunakan jaringan kulit Tae Soo Ho dari jasad Tae Min Ho."


Nyonya Shin mulai marah.

Tapi ia masih berusaha bersikap sombong.

"Bila dalam rapat dewan Soo Ho ditunjuk menjadi ketua, semua orang akan tunduk padanya. Takkan ada yang peduli soal kertas-kertas ini. Kenapa? Karena itu cara kerja kekuasaan. Kau belum tahu aturan di dunia?"

Woo Hyuk : Kau pikir dia bisa memiliki kekuasaan itu? Aku tahu kau sudah dapatkan lebih dari setengah pemegang saham. Namun apa kau yakin... takkan ada perubahan suara, seandainya calon ketua Geosan pada upacara pelantikannya, ditangkap karena menggunakan narkoba?

Nyonya Shin : Sepertinya kita sama-sama terpojok. Lakukan saja sesukamu. Lagipula siapa yang mau percaya. Jaksa korup yang selingkuh
dengan istri seorang korban atau Geosan yang akan dipercaya? Kau pikir taktik murahanmu akan berhasil?

Woo Hyuk : Aku tak peduli walau gagal. Mungkin kali ini gagal. Tae Soo Ho mungkin menjadi ketua Geosan tanpa hambatan. Tapi aku akan mengawasi Geosan. Mudah saja... karena sudah kulakukan selama 30 tahun. Bila ada satu kesempatan, satu kesempatan saja, akan kuhancurkan tenggorokan putra kesayanganmu dan mengakhiri hidupnya. Kau cukup menunggu dan menyaksikan, nyonya. Karena waktu ada di pihakku.


Nyonya Shin : Kau bersikap seperti ini karena Jung Won?

Woo Hyuk : Tolong bebaskan dia.

Nyonya Shin : Dia sepadan dengan upayamu?

Woo Hyuk : Karena dia pilihanku.

Nyonya Shin : Bila ayahmu memiliki setengah saja dari jiwamu, hidupku akan berbeda. Baik. Aku akan membebaskannya. Aku akan membebaskan Jung Won.


Sekarang, Woo Hyuk dan Jae Il memperhatikan kepergian Nyonya Shin.

Jae Il : Apa Han Jung Won akan baik-baik saja?

Woo Hyuk : Kita akan tahu setelah tiba saatnya. Kita harus tetap waspada.


Sekarang, Nyonya Shin duduk di kamarnya.

Ia lantas menghubungi Kyeong Wan.

Nyonya Shin : Jangan bunuh Cha Woo Hyuk. Aku punya gagasan yang lebih baik. Jung Won akan segera dibebaskan. Saat itu bunuh dia. Tapi kau harus membunuhnya di hadapan Cha Woo Hyuk. Agar dia menderita akibat ingatan yang menyakitkan sepanjang hidupnya sampai dia mati. Tidak, bahkan setelah mati, selamanya.

Bersambung ke part 3.........

No comments:

Post a Comment