Tuesday, May 28, 2019

Blessing of the Sea Ep 5 Part 2

Sebelumnya...


Moo Sim ke kantor Pil Doo. Pil Doo langsung kesal melihat Moo Sim. Ia berkata, harus mendisiplinkan karyawannya karena membiarkan orang asing masuk ke perusahaan.

Moo Sim : Aku tahu ini tidak pantas, tapi aku tidak punya waktu.

Pil Doo bangkit dari kursinya dan duduk di meja tengah. Ia tanya, apa yang Moo Sim maksud adalah uang.

Moo Sim terdiam.

Pil Doo makin yakin Moo Sim datang untuk meminta uang.

Moo Sim : Ada sesuatu yang harus kukatakan sebelum kita membicarakan uang. Seharusnya aku memberitahumu 25 tahun lalu, tapi dahulu aku bodoh dan tidak bisa memberitahumu karena harga diriku.

Pil Doo : Lantas kenapa sekarang! Jika dahulu tidak memberitahuku, aku yakin kau punya alasan bagus.

Moo Sim : Karena aku butuh bantuanmu!

Pil Doo : Berapa yang kau butuhkan? Kau akan menerobos masuk tiap kali keadaannya mendesak?


Jae Ran datang. Pil Doo mengatakan, Moo Sim karyawan yang bekerja pada hari ulang tahun perusahaan dan datang untuk menyampaikan sesuatu.

Jae Ran lalu menatap Moo Sim.

Pil Doo pun berdiri dan menatap Moo Sim.

Pil Doo :Akan kuminta penanggung jawab untuk segera mengurus ini.


Ji Na pulang ke rumahnya. Ia senang rumahnya kosong dan langsung masuk ke kamar Chung Yi.

Ji Na ingat kata2 ibunya soal tabungan Chung Yi.

Ji Na pun bergegas mencari buku tabungan Chung Yi. Tak lama, ia menemukannya di laci Chung Yi.

Mata Ji Na berbinar2 melihat banyaknya nominal tabungan Chung Yi.

Tapi kemudian, ia dikejutkan dengan suara omelan sang ibu.


Diluar, Deok Hee marah2 karena Hak Kyu dan Chung Yi. Ia menyebut mereka adalah masalah besar.

Deok Hee kemudian masuk dan terus ke kamar Chung Yi tapi saat mau menekan hendel pintu, ponselnya berbunyi. Telepon dari pelanggannya yang minta diramalin.

Deok Hee pun bergegas pergi.

Setelah Deok Hee pergi, Ji Na keluar dari kamar Chung Yi dan langsung pergi.


Ji Na ke dokter kandungan. Dia mau aborsi. Tapi dokter bilang, Ji Na tak bisa aborsi karena akan membahayakan nyawa Ji Na.

Ji Na memohon, ia berlutut dan memberikan sejumlah uang pada dokter.


Ji Na keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai.

Lalu ia terduduk lemas di lorong.

Ji Na kemudian berteriak marah, membuat orang di sekelilingnya langsung menatap padanya.

Ji Na menangi dan memarahi bayinya, dalam hatinya.

Ji Na : Kau menipuku selama ini seakan-akan kau tidak ada. Kenapa kau melakukan ini! Kau melawanku untuk mengatakan bahwa kau hidup! Kau mengancamku untuk melahirkanmu!





Poong Do sedang di taksi. Lalu tiba2 saja, sebuah bus mengerem mendadak di depan taksinya. Sontak si supir taksi langsung menginjak rem, diikuti dengan mobil yang ada di belakang taksi mereka.

Poong Do teringat pada seorang pria yang ia pukul karena membekap Hong Joo.


Lalu ia teringat kecelakaan sang ayah.

Poong Do yang tak kuat lagi pun langsung keluar dari dalam taksi karena merasa mual.


Ji Na terlunta2 di pinggir jalan. Ia kemudian berhenti di jembatan yang di pegangannya ada tulisan 'semoga berakhir dengan bahagia'.

Ji Na yang merasa, hidupnya mengerikan, berniat lompat ke bawah.


Tapi Poong Do tiba2 datang.

Poong Do : Kau bukan lagi orang asing. Aku akan sibuk jika kau tenggelam dan mati. Membantu dan bersekongkol dalam bunuh diri? Aku terlalu sibuk untuk diinterogasi oleh polisi.

Ji Na marah.

"Hya! Aku ingin mati. Aku tidak peduli atau tidak takut dengan apa pun. Jadi, tidak usah ikut campur dan enyahlah! Kenapa kau berusaha menggangguku!"

"Baiklah. Tapi jangan mati di sini sekarang. Bukan hanya kau. Hidup semua orang sulit. Jadi, jangan membuat hidup orang lain menderita dan setidaknya, jangan membahayakan orang saat kau mati."


"Kau gila." jawab Ji Na, lalu pergi.

Poong Do bicara lagi.

"Kau bilang tidak peduli dan tidak takut dengan apa pun. Jangan mati. Teruslah hidup seperti itu."

Poong Do kemudian beranjak pergi.

Ji Na menangis mendengar ucapan Poong Do.


Sekarang, Ji Na duduk di sebuah kafe. Tak lama, kekasih dari pria yang dibunuhnya datang, menemuinya.

"Siapa kau sampai menyuruhku datang? Kau pikir kau siapa?"

"Hasil diagnosisku cukup buruk. Mereka bisa menangkapmu karena menganiayaku."

"Coba saja. Kau tidak tahu aku siapa?"

"Mungkin anak keluarga kaya. Jadi, begini saja. Wanita yang tidak punya apa-apa dan wanita yang punya segalanya. Siapa yang lebih putus asa? Aku tidak takut dengan apa pun. Perbuatanmu dan pacarmu mungkin bukan apa-apa bagimu, tapi itu masalah besar bagi orang biasa. Kulihat ayahmu akan mengikuti pemilu. Jika aku mati, aku akan menguak segalanya sebelum mati. Buat pilihan. Kau punya banyak uang. Akankah kau memberiku uang agar aku tutup mulut? Atau kau ingin aku membuat tajuk utama mulai besok? Aku yakin kau tidak bisa mengendalikan semua media." ancam Ji Na, membuat wanita itu ketakutan.

Bersambung ke part 3....

No comments:

Post a Comment