Friday, June 14, 2019

Blessing of the Sea Ep 6 Part 2

Sebelumnya <<<


Young In kembali ke kantornya. Pil Doo menyuruh Young In pulang dan beristirahat. Young In tanya, soal seleksi murid penerima beasiswa. Pil Doo bilang, akan meminta siswa yang lolos tes mengirimkan portfolio mereka.

Young In : Manusia sangatlah penting. Sediakan semua yang mereka butuhkan.

Pil Doo : Baik, Bu.

Young In : Bukankah kau seperti ini karena program beasiswa kami?


Young In lalu melihat lukisan potret kecantikan yang dipajang di dinding ruangannya.

Young In : Andaikan kau tidak ada, kami tidak akan bisa mendapatkan kembali potret itu.

Pil Doo : Anda sangat merindukan Direktur Ma, ya?

Young In : Bawakan beberapa portofolio yang terbaik.

Pil Doo : Baik, Bu.


Chung Yi mencari Ji Na ke salon. Tapi pihak salon malah memarahinya karena mencari Ji Na ke tempat mereka. Pihak salon minta

Chung Yi mengatakan pada Ji Na, agar jangan hidup seperti itu, jika Chung Yi menemukan Ji Na.

Chung Yi tambah frustasi.

"Kak Ji Na, sebenarnya Kakak di mana!"

Chung Yi lalu merogoh saku jaketnya. Ia kaget karena tidak menemukan ponselnya disana.

Chung Yi : Astaga.


Sekarang, Chung Yi sudah tiba di depan rumahnya.

Chung Yi : Aku bahkan belum melunasinya. Semua ini karena si sampah mesum itu.


Hak Kyu keluar dari dalam.

Hak Kyu : Chung Yi, kau darimana? Kau pergi demi mendapatkan uangnya, tapi ayah tidak bisa menghubungimu.

Chung Yi : Masalahnya, ternyata berbeda rekening.

Hak Kyu : Kenapa bisa kau salah?

Chung Yi : Aku tahu. Maaf, Ayah. Aku membuat keributan tanpa alasan.

Hak Kyu : Tidak apa-apa jika uangnya masih ada. Ayah khawatir sekali semua uang yang kau tabung hilang. Kini sudah baik-baik saja.

Hak Kyu tertawa.

Beberapa saat kemudian, Hak Kyu tanya, apa Chung Yi senggang?


Deok Hee menghubungi Ji Na, tapi ponsel Ji Na tidak aktif.

Deok Hee bingung sendiri, haruskah ia melapor polisi tapi ia juga takut kalau polisi tahu uang Chung Yi hilang.

Tapi kemudian ia mengatakan, Ji Na bukan pelakunya dan tidak ada bukti Ji Na yang mengambil uang Chung Yi.


Lalu seorang wanita datang mencarinya, minta dibuatkan jimat seperti yang ia beli dari Deok Hee tempo hari.

"Tapi kudengar kau sedang ada masalah. Kau baik-baik saja?" tanya wanita itu.

"Apa maksudmu? Masalah apa?" tanya Deok Hee balik.

"Putri sulungmu mengambil uang Chung Yi. Ibu-ibu penjual kue beras mendengarnya dari Pak Lee di bank. Itu tidak benar?" jawab wanita itu.

Deok Hee langsung menghela napas mendengarnya.


Hak Kyu membawa Chung Yi ke toko cat.

Wajah Chung Yi langsung sumringah melihat cat yang berjejer di rak.

Hak Kyung mendekati Chung Yi.

Chung Yi : Appa, kenapa kita kesini?

Hak Kyu : Ayah membutuhkan sesuatu untuk pekerjaan. Cat apa yang biasa digunakan oleh orang-orang sekarang? Bisakah kau memilihkannya?

Chung Yi : Penglihatanku memang bagus.

Chung Yi tersenyum.


Chung Yi dan ayahnya keluar dari toko cat sambil menenteng beberapa paper bag berisi cat dan perlengkapan lukis. Chung Yi mengaku senang ada di dalam sana dan menyukai bau cat. Tapi kemudian ia ingat kalau tidak seharusnya ia membuang2 waktu.


Hak Kyu memberikan paper bag yang ditentengnya ke Chung Yi.

Hak Kyu : Ayah tahu kau sedang bersiap menghadapi kontes. Ayah melihat lukisanmu. Kau cukup mahir.

Chung Yi terkejut, appa...

Hak Kyu : Appa bahkan tidak pernah membelikan cat. Gunakan itu untuk menyelesaikannya. Peralatan juga penting dalam seni.

Chung Yi terharu dan mengatakan kalau ia baik-baik saja.


Hak Kyu : Ayah harus bekerja. Kau pulanglah lebih dahulu.

Chung Yi : Baik, Ayah. Terima kasih. Aku akan bekerja keras.

Hak Kyu tertawa. Setelah itu, ia beranjak pergi.


Ryan berlari menuju mobilnya. Di mobil, Poong Do sudah menunggu. Poong Do : Kau sudah menemukannya?

Ryan : Bahkan tidak berhasil dengan siaran. Kau tahu nomor ponselnya?

Poong Do pun menunjukkan ponsel Chung Yi.

Poong Do : Ponselnya ada di sini.

Ryan sewot, ada apa denganmu? Pencurian itu kejahatan.

Poong Do : Berhenti beromong kosong. Isi dayanya. Ponselnya mati.

Ryan pun langsung men-cas ponsel Chung Yi.

Ryan lalu tanya alasan Poong Do mengikuti Chung Yi.


Hak Kyu yang masih di jalan, kepikiran soal lukisan Chung Yi. Ia takut Deok Hee melihat lukisan Chung Yi dan merusaknya.

Hak Kyu pun berpikir, menyuruh Chung Yi menyembunyikan lukisan itu.

Hak Kyu menghubungi Chung Yi.


Poong Do dan Ryan masih berdebat soal Chung Yi. Ryan memarahi Poong Do yang sudah menguntit anak dibawah umur seperti Chung Yi.

Ponsel Chung Yi berdering. Poong Do dan Ryan kaget membaca nama yang muncul di layar ponsel Chung Yi. Di layar tertulis, Cintaku.

Poong Do sewot, apa ini dari kekasihnya? Seharusnya dia belajar. Dia punya pacar lagi selain Shi Joon?


Ryan menjawab ponsel Chung Yi.

Hak Kyu : Bukankah ini ponselnya Chung Yi?

Ryan : Chung Yi?


Poong Do merebut ponsel Chung Yi.

Poong Do : Ini ponselnya. Kau siapa?

Hak Kyu sewot, aku ayahnya! Kau siapa! Kenapa kau menjawab ponselnya!

Tahu itu ayahnya Chung Yi, Poong Do pun langsung memberikan ponsel Chung Yi ke Ryan. Ryan yang juga takut, mematikan ponsel Chung Yi.

*Ngakak scene ini...


Chung Yi sampai di rumah saat Deok Hee sedang membakar lukisannya.

Chung Yi terkejut melihat lukisannya dibakar dan langsung berusaha menghentikan sang ibu.

Deok Hee marah dan menampar Chung Yi.

Deok Hee : Beraninya kau membuat Ji Na menjadi pencuri. Dasar berandal tidak tahu diri. Aku menerimamu, memberimu makan dan pakaian. Apa? Siapa yang mencuri uangmu?

Chung Yi : Ibu, bukan begitu. Akan kujelaskan. Bukan begitu. Ada kesalahpahaman.

Deok Hee : Kesalahpahaman? Kau membuat Ji Na tampak seperti pencuri dan ada kesalahpahaman? Beraninya kau bilang begitu.


Deok Hee mendorong Chung Yi, hingga Chung Yi jatuh.

Setelah itu, Deok Hee melemparkan barang2 yang dibawa Chung Yi saat Chung Yi datang pertama kali ke tempat mereka. Teropong dari Poong Do jatuh ke kakinya.

Deok Hee : Ambil yang kau bawa saat datang kemari dan pergi. Enyahlah!


Chung Yi berdiri dan memegangi Deok Hee.

Chung Yi : Kenapa Ibu seperti ini? Aku putri Ibu. Ibu tidak mengandungku, tapi bukankah aku putri Ibu?

Deok Hee : Jangan panggil aku Ibu! Kau membuatku merinding. Raja Naga sekalipun tidak akan kumaafkan jika mengganggu Ji Na. Jangan hanya berdiri! Pergi!


Hak Kyu pulang dan kaget melihat pemandangan itu.

Chung Yi memungut sisa2 lukisannya dan berlari keluar.


Hak Kyu memarahi Deok Hee.

Chung Yi ke dermaga.

Ia menangis keras di sana sambil melihat lukisannya.


Poong Do berkeliaran sendiri di Yongwang-ri, desanya Chung Yi.

Ia mencari Chung Yi dan terus menghubungi ponsel Hak Kyu.

Poong Do : Kenapa ayahnya tidak menjawab?


Poong Do menoleh dan menemukan Chung Yi di dermaga.

Chung Yi masih menangis.


Poong Do menghampiri Chung Yi.

Sontak, Chung Yi langsung mengira Poong Do menguntitnya.

Poong Do : Kenapa kau menangis?

Poong Do lalu menjelaskan kalau ia datang untuk mengembalikan ponsel Chung Yi.

Poong Do : Ayahmu tidak mengatakan apa pun? Aku tidak sengaja melihat, tapi tampaknya kau menang semacam kontes seni. Kau mempelajari seni?


Chung Yi berterima kasih Poong Do mengembalikan ponselnya dan pamit. Tapi Poong Do menahannya.

Poong Do : Hanya itu? Aku menunggu di depan rumah sakit dan kemari untuk memberikan itu. Aku menghabiskan seharian demi dirimu.

Chung Yi : Aku harus bagaimana? Kau mau kuberi hadiah? Berapa yang kau inginkan?

Poong Do : Kau tidak boleh bicara seperti itu. Aku tahu ini terdengar aneh. Kau  tampak berbeda di mataku. Tapi aku tidak tahu alasannya. Jadi, aku datang untuk menemuimu karena ingin tahu alasannya.

Chung Yi : Apa hubungannya denganku? Kenapa aku harus tahu soal itu? Kenapa? Jika kau sakit, pergilah ke dokter. Jangan muncul di hadapanku lagi.

Chung Yi pergi.


Poong Do menatap kepergian Chung Yi.

Poong Do : Tidak akan ada yang berubah hanya karena kau tampak berbeda. Lagi pula, kau tampak gelap di balik kegelapan.

Poong Do lalu menghubungi Ryan, mengatakan kalau dia akan pergi keluar negeri besok dan meminta Ryan bersiap.


Bersambung ke part 3...

No comments:

Post a Comment