Thursday, June 13, 2019

Blessing of the Sea Ep 6 Part 1

Sebelumnya <<<


Ji Na langsung pergi begitu Ryan datang. Ryan minta maaf karena datang terlambat. Perjalanan dari bandara macet sekali, ungkap Ryan.

Sementara Poong Do terus menatap Chung Yi.


Chung Yi mengejar detektif yang menangani kasus Shi Joon.

Chung Yi : Jadi, dia tidak mengatakan apa pun soal uang penyelesaian? Serta tidak ada yang datang?

"Uang tidak akan menyelesaikan ini. Seorang putra keluarga kaya tewas. Mereka tidak akan melepaskannya hanya dengan sedikit uang. Sebaiknya kau mencari pengacara." ungkap detektif.

Detektif kemudian pergi.

Chung Yi tambah pusing karena Ji Na menghilang membawa uangnya.

Detektif balik lagi dan mengatakan soal ibu Shi Joon yang masuk RS. Detektif bilang, jika Chung Yi sungguh adiknya Shi Joon, harusnya Chung Yi ke RS sekarang.


Chung Yi berlari keluar meninggalkan kantor polisi sembari berusaha menghubungi Hun Jung yang tak bisa dihubungi.

Taksi lewat. Chung Yi langsung menyetopnya.

Tapi begitu masuk, ia mendapati Poong Do di dalam.

Chung Yi berniat turun tapi dicegah Poong Do.

Poong Do : Kau tampak sibuk. Sebaiknya kamu pergi saja. Aku akan membayar biaya taksinya.

Chung Yi : Kenapa kau membayarnya?

Poong Do : Untuk menebus bajumu. Kau mau ke mana?

Sebuah mobil mengklakson mereka.


Supir taksi tanya, mereka jadi pergi apa tidak.

Terpaksalah Chung Yi menurut.


Sepanjang perjalanan, Poong Do terus menatap Chung Yi. Ia membuka kacamatanya, lalu memakainya lagi dan bertanya-tanya, kenapa Chung Yi tampak berbeda. Poong Do : Apa ada istilah buta warna selektif?

Dipandangi seperti itu, membuat Chung Yi salah paham dan mengira Poong Do pria mesum.

Supir taksi langsung menatap Poong Do.

Poong Do sontak menjelaskan kalau ia hanya penasaran saja.

Chung Yi : Kau sungguh menguntitku? Jika dipikirkan, kau selalu muncul ke mana pun aku pergi.

Poong Do : Tadi aku ke kantor polisi untuk menemui penguntitku.


Poong Do lantas mengambil ponselnya dan mencari artikel tentang dirinya yang seorang pianis. Ia bermaksud menunjukkannya pada Chung Yi. Tapi ia salah pencet. Bukan artikel soal dirinya yang ia tunjukkan, melainkan seorang wanita yang menawarkan diri menemani pria2 kesepian.

Sontak, Chung Yi makin salah paham, mengira Poong Do adalah pria mesum.


Poong Do heran. Ia melihat layar ponselnya dan terkejut melihat wanita yang menawarkan jasa begituan.

Poong Do berusaha mematikan videonya tapi ia malah menjatuhkan ponselnya.

Poong Do mengambil ponselnya yang jatuh ke kaki Chung Yi. Chung Yi langsung menjerit, mengira Poong Do mau macam2 pada dirinya.


Taksi lalu berhenti di depan RS. Chung Yi yang ketakutan langsung turun dari taksi dan berlari ke RS.

Poong Do berteriak memanggil Chung Yi sembari melepas sabuknya. Saat itulah, matanya tak sengaja menemukan ponsel Chung Yi yang tertinggal di bangku taksi.


Deok Hee tanya ke patung naganya, bukan Ji Na yang mencuri uang Chung Yi, kan?

Lalu kemudian ia sewot karena si patung naga diam saja.

Hak Kyu masuk dan tanya Deok Hee marah sama siapa.

Deok Hee : Bagaimana dengan Chung Yi? Uangnya kembali?

Hak Kyu : Tidak sama sekali! Semua sudah hilang.


Hak Kyu kemudian duduk.

Hak Kyu : Kurasa sebaiknya kita melapor ke polisi.

Deok Hee : Melapor ke polisi? Polisi tidak gratis. Apa menurutmu Chung Yi bertindak lebih awal karena berpikir kita akan meminta uangnya? Gadis licik itu mungkin saja melakukannya.

Hak Kyu : Teganya kau berkata begitu! Dia bekerja keras agar kita tidak mencemaskannya!


Chung Yi berdiri diluar ruangan intensive, menatap Nyonya Jung yang masih belum siuman.

Chung Yi : Ajumma, ppalli ireonaseyo. Anda harus segera siuman demi Shi Joon.


Poong Do menunggu Chung Yi di koridor RS.

Tak lama, ia menerima sms dari Grup Joobo, bahwa ia lolos tes seleksi pertama kontes seni.

Poong Do tersenyum, kontes? Kau lebih berbakat daripada kelihatannya. Tapi kenapa harus Grup Joobo?

Poong Do kemudian mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Tiba2 saja, ia terbayang masa kecilnya. Ia seolah melihat dirinya di masa lalu, tengah berkeliarann di lobbi RS sambil menangis mencari ayahnya.


Poong Do yang sudah tidak tahan, akhirnya beranjak keluar dan muntah.

Saat Poong Do lagi muntah, Chung Yi melintas di belakangnya dan pergi.


Young In, Gwi Nyeo dan Pil Doo ada di rumah abu Sung Jae.

Young In terlihat kesal dan melirik jam nya.

Tak lama kemudian, Jae Ran datang dengan pakaian yang agak berlebihan untuk dipakai ke sebuah pemakaman.

Gwi Nyeo langsung berbisik pada Jae Ran.

Gwi Nyeo : Ibu, pakaian ibu agak berlebihan.

Jae Ran : Aku berpakaian rapi demi menemui Kakak. Maksudku, Ma Sung Jae, seorang genius seni. Aku harus seperti ini agar dia suka melihatku dari alam baka, bukan?

Young In tambah kesal dan melarang Jae Ran datang ke pemakaman mulai sekarang.


Jae Ran menatap ibunya dengan tatapan berani.

Jae Ran : Ibu mengeluh aku tidak berpakaian seperti Malaikat Maut juga? Baiklah, sesuka bbu saja. Memberi hormat di depan abunya tidak ada artinya. Semua berakhir saat kita mati.

Young In emosi dan membuang topi Jae Ran ke lantai.

Jae Ran : Eomma! Astaga, apa kau tahu harganya? Apa aku salah? Seharusnya ibu bersikap baik saat dia masih hidup. Bukankah ibu yang paling membuatnya tersiksa?

Pil Doo : Jae Ran-ssi...

Kesal, Young In pun memutuskan pergi.


Gwi Nyeo :  Ibu, apa-apan ini. Ada apa dengan ibu?

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment