Saturday, June 15, 2019

Blessing of the Sea Ep 7 Part 1

Sebelumnya <<<


Chung Yi baru pulang dan langsung masuk kamarnya dengan wajah lesu.

Tak lama, Deok Hee datang, membawakannya ginseng (tumben?)

Chung Yi tanya, apa itu.

Deok Hee : Kau pikir ibu memberikan racun? Ibu mendapatkannya usai mengadakan  ritual untuk toko obat herbal, jadi, habiskanlah.

Chung Yi pun meminumnya.

Deok Hee : Kenapa kau selalu merengut? Itu hanya uang. Anggaplah kau  meminjamkannya kepada kakakmu. Dia akan membayar berkali-kali lipat saat sudah sukses nanti.

Chung Yi : Bukan karena itu.

Deok Hee : Lantas berhenti merengut. Kau bisa mencari uang lagi.


Hak Kyu masuk dan meminta Deok Hee berhenti membentak Chung Yi.

Deok Hee sewot Hak Kyu tidak bekerja dan datang hanya untuk meneriakinya.

Hak Kyu : Kenapa kau terus mengganggu anak malang ini?


Ponsel Chung Yi berbunyi. Chung Yi menjawabnya dan terkejut. Chung Yi lalu berterima kasih.


Deok Hee tanya siapa yang telpon sampai Chung Yi mengucapkan terima kasih.

Chung Yi : Aku lolos kontes seni. Aku diminta menghadiri wawancara.

Ha Kyu kaget, apa? Tunggu, ayah pikir kau tidak memberikan lukisanmu karena dia.

Chung Yi : Guruku memberikan salinannya. Mereka menyukai lukisanku, jadi, aku lolos.

Hak Kyu senang mendengarnya. Ia bahkan sampai berteriak, hore, membuat Deok Hee menutup telinganya dan menyuruh Hak Kyu diam.


Ji Na berkeliaran sambil menggendong bayinya.

3 orang wanita keluar dari sebuah klub dan menertawakan Ji Na. 3 wanita itu kemudian pergi.


Ji Na menatap pantulan dirinya di pintu kaca.

Ji Na menguatkan hatinya dan kembali berjalan.


Ji Na lalu melihat brosur peminjaman uang.


Chung Yi yang baru saja keluar dari rumah, dikejutkan dengan spray snow yang disemprotkan ayahnya.

Sang ayah lalu mengucapkan selamat padanya dan memberinya semangat.

Chung Yi : Jangan senang dahulu. Bagaimana jika nanti ayah kecewa?

Hak Kyu : Ayah harus senang sekarang agar makin senang nanti. Bagaimanapun, kau akan berhasil. Tidak usah khawatir.


Chung Yi tersenyum.

Tapi saat mau pergi, mereka mendengar suara Deok Hee yang sedang mendoakan Ji Na.

Hak Kyu kesal dan mau memarahi Deok Hee tapi dicegah Chung Yi.

Chung Yi pamit.

Hak Kyu : Semoga berhasil.


Di depan gang rumahnya, Chung Yi bertabrakan dengan 3 orang pria. 3 pria itu kesal, tapi mereka pergi begitu saja tanpa membalas Chung Yi. Namun Chung Yi terkejut saat ketiga pria itu menyebutkan nama ayahnya.


Di halte, Chung Yi kepikiran 3 pria tadi yang mencari ayahnya. Chung Yi lalu menghubungi ayahnya.

Bersamaan dengan itu, bus lewat. Bus pergi. Chung Yi masih membeku halte. Chung Yi berpikir sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan balik ke rumahnya.


Sampai di rumah, Chung Yi terkejut melihat ketiga pria itu mengacak2 rumahnya dan membuat orang tuanya ketakutan.

Chung Yi meraih ponselnya dan mengancam akan menghubungi polisi.

Salah satu dari pria itu memberikan sebuah surat pada Chung Yi.

Surat itu adalah surat perjanjian hutang piutang. Di surat itu tertulis, Ji Na meminjam uang 100.000 dolar dan Hak Kyu lah yang penjaminnya. Tapi sepertinya, Ji Na tidak membayar utangnya sehingga ketiga pria itu mencari Hak Kyu.


Chung Yi dan Deok Hee kaget.

Hak Kyu meminta ketiga pria itu melepaskan Chung Yi. Hak Kyu bilang, Chung Yi ada tes penting hari itu.

Deok Hee marah, tesnya tidak penting sekarang.

Chung Yi : Appa!

Hak Kyu : Tidak usah khawatir dan pergilah hadiri wawancaramu. Kau percaya kepada ayah, bukan?


Chung Yi ke Joobo tapi sayangnya ia disuruh pulang karena tes sudah berakhir. Chung Yi menghapus tangisnya.


Pil Doo menyerahkan laporan soal para kandidat yang terpilih pada Young In.

Young In : Bagaimana dengan anak itu? Dia tidak hadir?

Pil Do : Awalnya pun dia memberikan salinan.

Young In : Sungguh? Apa penilaianku tentang anak itu salah?


Deok Hee berbaring di kamarnya. Ia tidak menyangka, Ji Na tega melakukan itu.

Hak Kyu kemudian masuk dan terduduk lemas.

Hak Kyu : Tamat sudah riwayat kita.

Deok Hee : Bagaimana ini? Hidup kita hancur selamanya.

Mereka lalu mendengar suara Chung Yi pulang.


Hak Kyu dan Deok Hee keluar dan melihat Chung Yi sedang membongkar timbunan bawang.

Hak Kyu : Bagaimana wawancaranya?

Chung Yi : Aku tidak bisa membuang-buang waktu. Aku akan mengupas bawang putih dan berusaha semampuku.

Deok Hee : Kau mau kita mengupas bawang putih seumur hidup?

Chung Yi : Kita harus melakukan sesuatu. Ayah harus membayar utangnya.

Hak Kyu : Kapan ayah memintamu memikirkan itu? Bagaimana wawancaranya?

Deok Hee : Kau tidak tahu betapa sulitnya hidup ini. 100.000 dolar itu banyak. Tidak bisa dapat sebanyak itu dengan mengupas bawang putih.

Chung Yi : Aku bukan hanya akan mengupas bawang putih. Aku akan mengupas bawang putih, bawang bombai, dan kastanye Aku akan berusaha semampuku Kita bisa mendapatkan uangnya. Aku ratunya kerja paruh waktu di sini.

Chung Yi menyemangati dirinya. Hak Kyu menatap wajah Chung Yi. Ia tahu Chung Yi sedih.


Malamnya, Chung Yi menguburkan alat lukisnya.


Setelah itu, ia melihat teropong Poong Do dan dua bibit milik orang tua kandungnya.

Chung Yi membukanya dan menyerakkannya di tangan.


Lalu setelah itu, Chung Yi meniupnya dan tangisnya seketika pecah.

Hak Kyu muncul di belakang Chung Yi dan menatap Chung Yi.

Bersambung ke part 2...

No comments:

Post a Comment