Saturday, June 15, 2019

Blessing of the Sea Ep 7 Part 2

Sebelumnya <<<


Hak Kyu menghampiri Chung Yi.

Chung Yi pun bergegas menghapus tangisnya dan berdiri.

Chung Yi : Kenapa ayah di sini dan tidak mengupas bawang?

Hak Kyu : Bagaimana jika ayah menemui mereka besok? Lalu menjelaskan keadaan mendesak kita. Jika ayah menjelaskan, mereka...

Chung Yi : Tidak, Ayah. Jangan lakukan itu.

Hak Kyu : Itu kesempatan besar.

Hak Kyu lalu meminta Chung Yi meninggalkan rumah. Chung Yi kaget.

Hak Kyu : Putuskan hubungan dengan kami dan lakukan yang kau inginkan. Jika harus bekerja sekeras ini, kau bisa melakukan apa saja. Ayah akan memberikan uang untuk menyewa tempat.

Chung Yi marah, kenapa ayah ingin aku pergi? Aku putri ayah.

Hak Kyu : Kau tidak akan menjadi apa-apa di sini. Ayah tidak bisa menghancurkan masa depanmu juga. Ayah membuatmu merelakan kontes itu.

Chung Yi : Kenapa itu salah ayah? Itu salah Kak Ji Na. Melewatkan wawancara tidak semenyakitkan ucapan ayah barusan. Teganya ayah menyuruhku pergi.

Hak Kyu : Ini semua salah ayah.

Chung Yi : Jangan bilang begitu. Mari kita berjuang bersama sampai Kak Ji Na pulang. Aku berhasil bertahan sampai hampir tenggelam di laut. Percayalah kepadaku. Aku akan bekerja lebih keras.


Nyonya Jung bekerja keras, mengepel lantai panti asuhan.

Pemilik panti datang, menyuruh Nyonya Jung istirahat. Ia takut Nyonya Jung pingsan jika bekerja sekeras itu.

Nyonya Jung : Aku sama sekali tidak lelah. Kau mengizinkanku tinggal di sini. Aku harus membalasnya.

Pemilik panti : Kau sudah berdonasi banyak sejak lama.

Nyonya Jung : Jangan bilang begitu. Aku suka kesibukan. Jangan khawatir. Kembalilah ke kantormu.


Tiba2, terdengar tangisan seorang bayi. Pemilik panti menghela nafas dan langsung masuk ke dalam. Tak lama, ia keluar sembari menggendong seorang bayi yang tidak mau berhenti menangis. Pemilik panti kebingungan caranya mendiamkan bayi itu. Ia mengatakan, bayi itu selalu menangis setiap malam.

Nyonya Jung : Boleh aku mencoba menenangkannya?

Pemilik panti langsung memberikan si bayi pada Nyonya Jung.

Nyonya Jung berdendang kecil untuk menenangkan bayi itu. Ajaibnya, si bayi langsung diam dan bahkan menunjukkan tawanya.

Pemilik panti merasa aneh. Ia merasa bayi itu seperti memiliki ikatan dengan Nyonya Jung.

Nyonya Jung berkata, lagu yang tadi dinyanyikannya adalah lagu favorit putranya.

*Curiga tu bayi anaknya Ji Na dan Shi Joon.


Chung Yi ke toko bunga Nyonya Jung dan mendapati toko bunga itu masih tutup.

Chung Yi cemas dan bertanya2 dimana Nyonya Jung sekarang.


Paginya, Hak Kyu dan Deok Hee sarapan sambil nonton TV. Tapi Deok Hee tidak menyentuh sarapannya sama sekali. Ia tampak lesu. Sementara

Hak Kyu fokus nonton TV yang menyiarkan berita tentang ujian masuk universitas.


Chung Yi yang sedang jualan pancake, juga mendengarkan berita itu di radio.


Usai berjualan pancake, Chung Yi menuntun sepedanya, kembali ke rumah. Di keranjang sepedanya, depan dan belakang, berisi tumpukan bawang.

Kaki Chung Yi tersandung. Sepeda yang dituntunnya pun terlepas dari pegangannya.

Chung Yi menghela napas melihat bawang2nya berserakan di tanah tempat ia mengubur alat lukisnya semalam.

Chung Yi bergegas memungutnya. Saat memunguti bawangnya, ia tak sengaja melihat cairan berwarna hijau di sekitaran tanah tempat ia mengubur alat lukisnya.

Chung Yi heran, tunas baru di cuaca dingin ini?


Chung Yi kemudian ingat bibit yang ditiupnya semalam.

Chung Yi : Benihnya tumbuh?


Seorang kakek memukuli kepalanya, lalu bertanya, dimana Chung Yi mendapatkan bibit aneh itu.

Chung Yi : Aku tidak tahu.

Kakek : Kau tidak tahu yang kau tanam? Bagaimana benih berharga itu bisa bertunas?

Chung Yi : Berharga? Ini?

Kakek : Rawatlah dengan baik. Ini bisa mengguncang Korea. Ini obat yang bisa memberikan apa pun yang kau minta.


Keesokan harinya, Chung Yi pun menabur bibitnya.

Tahun demi tahun, Chung Yi menunggu bibitnya tumbuh.

Tahun 2018...


Bibit yang ditanam Chung Yi tumbuh menjadi dedaunan yang rimbun.

Chung Yi kesal.

Chung Yi : Sudah delapan tahun berlalu. Aku tidak pernah melihat batangmu. Aku pun tidak mengharapkan panen besar.


Ponsel Chung Yi berdering. Telepon dari Deok Hee.

Deok Hee yang ngumpet di dalam lemari berkata, kode Jindo anjing satu.

Deok Hee : Mereka mengejarmu, jadi, kau harus kabur. Aku sudah membayar semua bunganya.

Chung Yi : Apa maksud Ibu?

Deok Hee : Ibu sendiri yang mengirimkannya. Wanita di rumah pohon kesemek ingin meminjamnya beberapa hari. Dia bilang akan membayar bunga tinggi.

Chung Yi : Bisa-bisanya Ibu meminjamkan uang untuk bunga utang Ibu.


Para rentenir yang meminjami Ji Na uang waktu itu, datang. Melihat mereka, Chung Yi langsung kabur. Mereka mengejar Chung Yi.


Di tengah pelarian, seorang pria menghampiri Chung Yi dengan membawa dua kemeja.

"Jae Deok akan ikut kencan buta. Warna mana yang lebih bagus?" tanya pria itu.

Dan Chung Yi sempat2nya menjawab.

Setelah itu, seorang wanita menanyai Chung Yi soal warna kamar yang bagus untuk putrinya. Chung Yi pun lagi2 menjawabnya.

Para rentenir mendekat. Chung Yi bergegas kabur.


Namun tiba2, seseorang menarik Chung Yi. Para rentenir kehilangan jejak Chung Yi.

Orang yang menarik Chung Yi adalah Hak Kyu. Chung Yi senang melihat ayahnya.


Chung Yi membawa ayahnya ke restoran Nyonya Jung. Disana, juga ada Hun Jung yang menjaga meja kasir.

Chung Yi melihat ayahnya yang makan dengan lahap.

Chung Yi : Kenapa ayah di sini?

Hak Kyu : Mabuk laut sungguh bisa membunuh seorang pria. Kapalnya terus bergerak bahkan ketika diparkir. Ayah berusaha menahannya, tapi...

Chung Yi : Sudahlah. Hanya orang berpengalaman yang bisa naik kapal. Aku tidak bisa tidur nyenyak setelah mengantar ayah karena cemas.

Nyonya Jung mendekati mereka dan meletakkan kimchi di meja untuk Hak Kyu.

Nyonya Jung :  Seharusnya kau bisa mendapatkan pekerjaan. Makanlah.

Hak Kyu : Ayah sungguh merindukan sup pereda pengar dengan kuah kimchi lobak.


Hun Jung : Astaga, Pak Shim. Seharusnya bilang saja anda rindu masakan di rumah. Bagaimana jika Bu Bang mendengar? Dia akan marah besar.

Chung Yi : Benar juga. Pasti akan ada masalah dengan Ibu. Dia menangis dan mengadakan pesta saat mengantar ayah pergi. Aku yakin saputangannya bahkan belum kering.


Woo Yang datang sambil marah2.

Woo Yang : Aku enggan mengantar ke Institut Pengembangan Material Mentah.

Hun Jung : Kenapa? Manajer wanita itu marah-marah lagi?

Woo Yang : Jika seleranya begitu mewah, kenapa dia memesan dari sini? Dia terus protes bubuk cabai kita terlalu kasar dan kita menggunakan wijen Tiongkok.


Woo Yang lalu melihat Hak Kyu dan heran sendiri.

Woo Yang : Pak Sim, bukankah anda seharusnya berada di tengah Samudra Pasifikdan melemparkan jaring baru? Kenapa anda makan acar udang di sini dengan Sup Pereda Pengar Yeolmae.

Pak Sim tidak menjawab.


Telepon di restoran berbunyi. Hun Jung menjawabnya dan mengerti.


Hun Jung melirik Woo Yang.

Hun Jung : Tae Yang-i Appa...

Woo Yang : Aku tidak mau.

Hun Jung pun menunjukkan aegyonya untuk membujuk Woo Yang.

Woo Yang : Bersikap manis tidak akan membantu. Kenapa dia tidak langsung memesan dua porsi? Dia selalu begini.


Tapi kemudian, Woo Yang malah aegyo ke Chung Yi, supaya Chung Yi yang mengantarkan pesanan itu.

Chung Yi : Bayar aku dua kali lipat. Bagaimana?

Woo Yang : Baiklah.

Chung Yi : Ayah, jangan pulang sendirian.aPastikan Ayah mengajak mereka, ya?

Bersambung ke part 3...

No comments:

Post a Comment