Thursday, June 13, 2019

Dan, Only Love Ep 3 Part 3

Sebelumnya...


Dan berjalan keluar sembari menuntun Yeon Seo.

Dan : Maaf atas pertanyaan soal dicampakkan saat matahari terbenam.

Yeon Seo : Syukurlah kau sudah tahu.

Dan : Terima kasih. Aku mulai punya harapan dalam dirimu. Aku sadar kau juga bisa mencintai.

Yeon Seo : Cinta?

Dan : Ya. Cinta membuat jantungmu berdebar, membuatmu terus tertawa, dan ingin melompat karena merasa senang.

Yeon Seo : Kim Dan, kau keliru. Aku tidak memahami selera anehmu, tapi aku memecat orang bukan karena itu. Berhentilah menjilatku dan jangan bersikap berlebihan.


Dan dan Yeon Seo tiba diluar.

Dan : Aku akan membantumu. Kau bisa melakukannya.

Yeon Seo : Berhentilah melantur. Memangnya siapa dirimu?

Dan : Orang yang ada hanya untukmu. Aku akan bicara jujur. Tujuan hidupku adalah dirimu.


Yeon Seo langsung mendorong Dan.

Yeon Seo : Kau gila?

Tapi kemudian, mereka kembali bertatapan.

Hujan tiba2 turun. Dan kaget. Yeon Seo menyuruh Dan mengambil payung.


Dan senang berhasil mendapatkan payung. Tapi kemudian, ia sadar sayapnya bisa keluar kalau ia basah.

Dan pun panic.


Diluar, Yeon Seo masih menunggu Dan.

Yeon Seo menengadahkan tangannya, menyentuh air hujan.

Kang Woo tiba2 datang, memayung Yeon Seo.

Kang Woo bilang tadi ia menunggu di mobil, lalu ia melihat hujan mulai turun.

Kang Woo mengajak Yeon Seo pergi, tapi Yeon Seo berkeras mau menunggu Dan.

Kang Woo sedikit kecewa.

Kang Woo : Kalian pasti sangat akrab. Aku belum pernah melihat sekretaris bicara santai kepada majikannya.

Dan : Itu terjadi begitu saja. Bagaimanapun, dia cakap dalam bertugas.

Kang Woo : Kalau begitu, mari menunggu dia bersama.


Sembari menunggu Dan, Kang Woo mengajak Yeon Seo melihat sesuatu.

Kang Woo meminta Yeon Seo menunggunya sebentar. Setelah itu, ia pergi ke mobilnya.

Tak lama, Kang Woo kembali membawa infokus. Ia mengarahkan infokusnya ke dinding.

Yeon Seo : membawa alat itu ke mana pun?

Kang Woo : Tentu saja tidak. Aku menyiapkannya. Aku ingin menunjukkannya kepadamu. Kau tidak mau memberiku waktu 30 menit saja.

Kang Woo menyalakan infokusnya. Di dinding, mulai terlihat seseorang yang menarikan tarian balet.

Kang Woo : Moskow, 2006. Swanhilda dalam Coppelia. Dewa balet mencintai seorang gadis keturunan Tionghoa. Berlin, 2007. Romantic Etude. Gadis berambut hitam panjang terbang ke langit. London, 2008. The Nutcracker. Tarian Peri Permen Prem. Sang Ratu Mimpi sedang memikat. Lausanne, 2019. Don Quixote, Kitri.

Kang Woo lalu mengakui perasaannya, kalau ia menyukai Yeon Seo.


Kang Woo : Aku sangat menyukaimu dan itu membuatku menggila. Seharusnya kau tidak hanya berjalan di tanah dengan sepatu tenismu. Seharusnya kau berlatih di awan dan berlarian di surga. Izinkan aku membantumu memulai balet lagi.

Yeon Seo tertegun mendengarnya.


Sekarang, Yeon Seo, Dan dan Kang Woo sedang di perjalanan. Kang Woo mengomeli Dan yang baru kembali dari mengambil payung setelah hujan berhenti.

Dan : Setidaknya kita tidak akan berkendara saat hujan.


Kang Woo terus menyetir. Namun tiba2, ia terkejut melihat beberapa batu besar di depan mereka.

Kang Woo langsung membanting setirnya guna menghindari batu itu.

Yeon Seo pun seketika ingat pada kecelakaan yang ia dan Pak Jo alami dan membuat Pak Jo tewas di tempat.

Yeon Seo ketakutan.

Melihat Yeon Seo takut, Kang Woo pun dengan segera meraih tangan Yeon Seo.

"Tenang saja, Lee Yeon Seo-ssi. Semuanya baik-baik saja." ucap Kang Woo.

Sontak, Yeon Seo ingat seseorang yang meraih tangannya pada malam ia mengalami kecelakaan. Orang itu juga mengatakan hal yang sama.

Yeon Seo : Kau yang datang di hari kecelakaan itu?


Kang Woo pun memberikan sesuatu pada Yeon Seo.

Kang Woo : Aku akhirnya bisa memberikan ini.

Yeon Seo membukanya. Isinya sebuah kalung.

Flashback...

Kalung Yeon Seo tidak sengaja jatuh saat Yeon Seo digotong ke ambulance usai kecelakaan.

Flashback end...


Yeon Seo : Kau yang menelepon ambulans dan menggenggam tanganku? Kau orangnya?

Kang Woo : Kau akhirnya ingat?

Yeon Seo : Kenapa kau tidak bilang sejak awal?

Kang Woo : Aku tidak pantas menyombongkannya. Maaf aku mengejutkan kalian. Aku akan mengemudi lebih hati-hati.


Dan yang duduk di kursi belakang, teringat kata2 Hoo soal tulang rusuk.

Ia terkejut. Ia fikir, Yeon Seo adalah tulang rusuknya Kang Woo.


Yeon Seo akhirnya tiba di rumah. Kang Woo dan Dan bergegas turun dari mobil.

Kang Woo membukakan pintu untuk Yeon Seo.

Dan Dan memberikan lengannya pada Yeon Seo, sambil menyombongkan diri di depan Kang Woo.

Yeon Seo : Terima kasih telah mengemudi seharian.

Kang Woo : Aku lebih berterima kasih karena kau menyempatkan waktu untukku.

Yeon Seo mengajak Dan masuk tapi Kang Woo menyuruhnya menunggu sebentar.


Kang Woo membuka pintu mobil belakangnya. Tak lama ia kembali pada Yeon Seo.

Yeon Seo : Apa ini?

Kang Woo : Sogokan. Aku ingin mengenal sekretarismu. Kemarin aku membawa ini, tapi sudah basi. Aku bisa membeli ini lebih banyak kapan saja.

Kang Woo memberikan kuenya ke Dan.

"Terimalah. Seoga kita makin akrab." ucap Kang Woo.

Dan pun terheran-heran dengan sikap manis Kang Woo yang mendadak itu.


Di warung tenda, Pak Geum mengembalikan surat pengunduran diri Dokter Park.

Pak Geum : Won Il. Mari melupakannya.

Dokter Park : Bagaimana aku bisa lupa? Sudah jelas itu terjadi.

Pak Geum : Sebenarnya ada apa? Kudengar kau minum-minum setiap hari sejak Pak Jo meninggal.

Dokter Park : Aku terus melihatnya di mimpiku. Aku sangat takut.

Dokter Park mengingat pertemuan terakhirnya dengan Pak Jo. Saat itu, Pak Jo membahas donor mata untuk Yeon Seo.

Flashback...


Pak Jo : Setiap kali ada donor yang cocok, ada orang yang selalu dia telepon dahulu. Setelah panggilan itu berakhir, donasinya dibatalkan.

Dokter Park : Aku yang menelepon.

Pak Jo : Aku tahu. Direktur Umum Choi mungkin mengutusmu. Aku tidak menyangka kau seperti ini.

Pak Jo beranjak pergi. Dokter Park memegang tangan Pak Jo dan menjelaskan alasannya melakukan itu karena ia butuh uang.

Pak Jo : Meski begitu, kau hanya akan mengotori tanganmu sendiri. Sebelum dia melakukan hal yang lebih buruk, suruhlah dia segera meninggalkan Fantasia.

Pak Jo pergi.

Flashback end...


Sekarang, Pak Geum menyusuri jalanan dengan wajah syok sambil mengingat kata-kata Dokter Park..

Dokter Park : Dahulu aku tidak mementingkannya. Bahkan Korea Utara dan Selatan berdebat, tapi tidak pernah bertindak.

Dokter Park juga menceritakan kecelakaan Yeon Seo dan Pak Jo.

Dokter Park : Dia bilang remnya putus seakan seseorang sengaja memutusnya. Aku pergi untuk menghancurkan mobil itu hanya karena

Direktur Umum Choi menyuruhku.


Lalu kita melihat Dokter Park ada di tempat penghancuran mobil.


Pak Geum kembali ke kantor. Ia mau masuk ke ruangan Bu Choi tapi tak jadi karena melihat Bu Choi lagi memarahi salah satu pegawai.

Pak Geum hanya berdiri diluar.


Pegawai yang dimarahi Bu Choi adalah pegawai keamanannya Yeon Seo. Ia kesal, pegawai itu  resign dari kediaman Yeon Seo.

Bu Choi : Apa dia menelepon polisi? Bagaimana jika CCTV menangkapmu?

"Aku takut orang lain akan buka mulut jika kami tetap di sini." jawab pegawa itu.

"Jadi, bagaimana dengan dokumen yang dikumpulkan Pak Jo?" tanya Bu Choi.

"Katanya Nona Lee memiliki kunci untuk ruangan itu." jawab si pegawai.

Flashback...


Si pegawai berusaha masuk ke ruangan itu tapi ruangan itu dikunci.

Pegawai ini juga lah yang memecahkan kaca jendela dan menyabotase lampu gantung.

Si pegawai ini juga yang dilihat Dan di dapur, saat ia mengendap2 masuk ke rumah untuk menyembunyikan sayapnya.

Bu Choi kesal pegawai suruhannya gagal melakukan tugas.


Diluar, Pak Geum menghela nafas kecewa. Ia tak menyangka, istrinya sejahat itu. Pak Geum kemudian beranjak pergi.


Yeon Seo masuk ke ruangan Pak Jo yang dimaksud pegawai suruhan Bu Choi tadi.

Ia melihat puluhan dokumen tentang kompetisi balet dan latihan balet yang tersusun rapi di rak

Yeon Seo : Dia tidak pernah menurut. Aku sudah menyuruhnya membuang semua ini.

Yeon Seo lalu duduk ranjang dan melihat album tentang kompetisi balet di Moskow.

Album itu berisi beberapa artikel tentang kompetisi balet di Moskow. Ada artikel tentang Kang Woo juga di sana.

Yeon Seo sontak teringat kata2 Kang Woo tadi yang ingin membantunya belajar balet lagi.

Flashback...


Yeon Seo menolak dengan tegas.

Yeon Seo : Tidak. Aku menarikan setiap tarian yang kuinginkan sebagai balerina. Aku juga meraih kemenangan sebagai balerina. Aku tidak punya penyesalan, jadi, berhentilah bertindak semaumu dengan tubuhku.

Kang Woo : Kau bisa lebih hebat daripada ini. Kau harus jadi lebih hebat. Kali ini saja. Percayalah kepadaku.

Yeon Seo : Astaga. Dengan perkataanmu, kau menjadi orang yang tidak boleh aku percayai. Semua itu klise. Aku menjadi yatim piatu di usia 17 tahun. Aku sangat sering mendengar itu. Makin kau perhatian, hadiahnya makin besar.


Kang Woo sendiri sedang memikirkan Yeon Seo sambil menatap foto seorang wanita yang tengah menari di layar videonya.

Yeon Seo : Dia menolak. Dia kejam saat menolakku.


Kang Woo lalu membuka kotak musik baletnya dan bertanya2, apa yang harus ia lakukan untuk membuat jantung Yeon Seo berdetak lagi.


Kang Woo lantas melanjutkan video yang tengah ia tonton. Video seorang wanita tengah menari.

Kang Woo tersenyum.

Lalu terdengar suara wanita di video.

"Kau pasti bisa. Siapa bilang dunia ini dipenuhi tarian?"

"Kau, Matil." jawab Kang Woo.


Notifikasi email Kang Woo berdering. Kang Woo mematikan videonya dan memeriksa emailnya.

Email masuk, soal Dan.

Kang Woo : Kim Dan. Usia, 25 tahun. Dia tidak punya koneksi atau bantuan. Tidak punya uang atau ambisi.

Kang Woo bergumam.

Kang Woo : Mereka menjadi akrab karena dia bisa didekati?


Dan sendiri membuat tanda silang di kalender. Lalu, ia mencampakkan pulpennya ke atas meja dan bertanya2 pada Gureum apa artinya cinta.

Dan lalu menatap Gureum yang asyik makan tulang.

Dan : Kau juga punya tulang rusukmu sendiri?


Dan kemudian meraih pulpennya dan mulai menulis di buku malaikatnya.

Aku menemukan target dalam misiku, yaitu tulang rusuk Lee Yeon Seo. Sepertinya aku menemukannya, tapi mungkin aku salah.

Dan lalu bertanya2, bagaimana bisa ia yakin kalau pria itu tulang rusuknya Yeon Seo.


Gureum tiba2 menyalakinya.

Dan sewot, sikapku payah? Sikapmu terlalu kejam! Kebiasaan murahanmu mulai lagi. Kubilang duduk saja.

*Ngakak dia sewot ama Gureum.

Bersambung ke part 4...

No comments:

Post a Comment