Wednesday, September 18, 2019

Graceful Family Ep 2 Part 1

Sebelumnya...


Episode ini diawali dengan cerita masa lalu Seok Hee.

Sebuah ruangan tampak dipenuhi alat2 lukis dan buku-buku.


Gelas berisi wine bertengger di atas meja.


Disamping gelas itu, tergeletak sebuah buku.


Dan dilantai, di dekat buku itu, botol wine terjatuh sehingga isinya tumpah dan cairan merahnya mengarah pada seorang wanita yang tergeletak dengan perut berlumuran darah. Di depan wanita itu, tampak seseorang yang memegang pisau.

Bersamaan dengan itu, Seok Hee pulang dan terkejut melihat ibunya dibunuh.

Pembunuhnya, seorang wanita! Pembantu rumah tangga mereka.

Seok Hee menjerit ngeri.


Malam harinya, setelah kejadian itu, seorang pria muncul. Ia terkejut melihat pintu apartemennya terbuka.

Dengan sikap waspada, pria itu masuk dan berteriak memanggil istrinya namun ia tambah terkejut melihat apartemennya sudah kosong.

Pria itu kembali memanggil istrinya tapi yang muncul adalah Je Kook.

"Siapa kau? Siapa yang mengirimmu?" tanya pria itu.

"Jaksa Joo Hyung Il. Kau tidak tinggal di sini lagi. Kini kau tinggal di Art Villa di Cheongdam." jawab Je Kook.


Je Kook lantas menunjukkan rekaman video, dimana istri dan anak Jaksa Joo sedang asyik bermain di rumah baru mereka.

Je Kook : Istrimu sepertinya sangat menyukai rumah ini. Putramu, Tae Hyung, menyukai ruangnya yang lebih luas. Apa kau akan pindah ke distrik regional karena kau gagal dipromosikan? Kau tidak ingin menjadi kepala di Kantor Jaksa Seoul Pusat lalu menjadi Jaksa Agung? Itu mungkin jika kau bekerja sama dengan kami. Kau akan ditugaskan untuk kasus pembunuhan besok pagi.


Je Kook memberi Jaksa Koo berkas kasus pembunuhan Nyonya An, ibunya Seok Hee.

Je Kook : Rahasiakan itu dari publik dan beri dakwaan secepat mungkin.

Kita lalu mendengar narasi.

Kantor Jaksa Seoul Pusat sebagai imbalan untuk menutupi kasus pembunuhan. Seorang jaksa mendapatkan sebuah rumah mewah di Gangnam dan masa depan yang cerah. Tidak akan mudah bagi siapa pun untuk menolak godaan itu.


Usai menemui Jaksa Joo, Je Kook langsung pergi. Ia melajukan mobilnya sambil bicara di telepon dengan seseorang dengan wajah sumringah.

Je Kook : Sudah selesai. Ya. Selamat malam.

Je Kook membuka jendelanya dan mengeluarkan tangannya, merasakan hembusan angin malam.

Kembali terdengar narasi.

Bukankah itu misi pertama yang ditangani tim TOP?


Usai membuat kehebohan di depan kantor MC, Seok Hee turun dari mobil yang dicurinya.

Yoon Do memarahi Seok Hee.

Yoon Do : Apa yang kau lakukan! Apa kau gila!

Tapi Seok Hee tidak peduli dengan omelan Yoon Do dan menatap Pak Kim.

Seok Hee : Kau baik-baik saja, kan? Mintalah ratusan juta won. Aku kaya. Oh ya, aku juga mabuk. Bisakah kau mengurus percobaan pembunuhan? Aku akan mengemudi pergi. Nyatakan itu tabrak lari. Pengacara ini akan mengurus kasus ini untukmu.


Seok Hee kembali naik ke mobil itu dan pergi, membuat semua orang melongo termasuk Yoon Do.


Seok Hee, Pak Kim dan Yoon Do duduk di kantor polisi.

Seok Hee mengaku, bahwa ia mabuk, berusaha membunuh orang dan melarikan diri setelahnya.

"Dia menangkapku saat aku mencoba kabur." ucap Seok Hee sambil menunjuk Yoon Do.

Seok Hee lantas menatap Pak Kim.

Seok Hee : Kim Doo Man-ssi, itu tabrak lari. Aku minum sebotol soju.

"Kadar alkoholmu memang cukup tinggi.  Itu cukup untuk menahan SIM-mu. Aku tidak pernah melihat seseorang bertekad untuk menjadi kriminal." jawab polisi heran.


Seok Hee kemudian bertanya ke Yoon Doo biaya untuk mendidik seorang anak, termasuk pendidikan keluar negeri.

Yoon Do bingung menjawabnya.

"Aku punya dua anak, dan itu sangat mahal. Seratus juta won tidak cukup untuk mengirim mereka keluar negeri." jawab polisi.


Seok Hee kembali menatap Pak Kim dengan wajah serius.

Seok Hee : Kim Doo Man-si, tambah lagi nolnya.

"Apa? Satu miliar won?" ucap si polisi kaget. Dua polisi yang lainnya juga memandangi Seok Hee dengan reaksi yang sama.

Seok Hee : Hanya itu yang bisa aku berikan kepadamu sekarang. MC Grup tidak akan memberimu lagi. Ambil uangnya, sewa firma hukum, dan lawan mereka, atau mulai dari awal lagi. Jangan pernah mengalah lagi kepada MC Grup.


Seok Hee lalu menghubungi Je Kook.

Seok Hee : Kepala Han, aku mengemudi sambil mabuk, percobaan pembunuhan, dan kabur dari TKP. Kirimkan aku satu miliar won  untuk berdamai. Ah, ada wartawan di luar. Perlukah kuberi tahu mereka  siapa aku? Aku serius mempertimbangkan itu.


Tak lama, Pak Kim dapat laporan SMS banking kalau uang 1 miliar won sudah masuk rekeningnya. Sontak ia kaget.

Seok Hee : Putramu, besarkan dia dengan baik.


Seok Hee berdiri, memakai kacamatanya dan beranjak pergi meninggalkan orang2 yang melongo melihatnya.


Yoon Do bergegas menyusul Seok Hee keluar.

Yoon Do : Itukah caramu menunjukkan ketulusanmu?

Seok Hee : Ya. Ini gayaku.

Yoon Do : Aku mengerti, tapi kau bisa membantunya dengan cara lain.

Seok Hee pun berhenti melangkah dan menatap Yoon Do datar.

Seok Hee : Bagaimana? Apakah kau pikir aku bisa mengeluarkan  sepeser pun tanpa diketahui Kepala Han?

Yoon Do : Kenapa aku?

Seok Hee : Karena kau tidak elite. Karena Han Je Kook tidak peduli dengan pengacara kelas tiga sepertimu.

Yoon Do tertawa kesal mendengarnya.

Seok Hee : Kau pengacara, jadi, kau punya otak yang cukup. Kau tampaknya bertekad dan cukup keras kepala, lalu... aku suka setelanmu yang kuno.

Yoon Do : Kapan kau minum?

Seok Hee : Mengemudi sambil mabuk... terserah. Aku tidak ingin melawan Kepala Han karenamu, jadi, kuharapkan yang terbaik untukmu. Good luck.

Seok Hee pergi.


Yoon Do : Apa yang dia katakan? Mengemudi sambil mabuk...

Ponsel Yoon Do tiba2 berdering. Telepon dari Je Kook yang memintanya datang.


Yoon Do langsung ke kantor Je Kook. Je Kook minta izin bicara bebas, seperti senior ke junior..

Yoon Do mengizinkan.

Je Kook : Nona Seok Hee tidak bisa mengendalikan amarahnya dan menghabiskan satu miliar won begitu saja. Bagaimana perasaanmu tentang itu?

Yoon Do : Menurutku itu cara yang menarik untuk memecahkan masalah. Kau tidak bisa bilang itu "membuang".

Je Kook : Kenapa tidak?

Yoon Do : Tuan Kim memiliki dendam terhadap MC Grup dan bisa mengutuknya selamanya. Jika kejadian ini mengubah pikirannya, menurutku itu pengeluaran yang bagus.

Je Kook : Bagaimana kau bisa yakin uangnya akan mengubah pikirannya? Jika kita melakukan hal seperti itu karena takut dengan orang macam itu, MC Grup tidak akan bertahan.

Yoon Do : Bukankah TOP ada karena kau peduli dengan pendapat orang?

Je Kook : Tentu saja. Tapi kami memakai taktik, tidak seperti Nona Seok Hee. TOP bukan pengecualian saat membuat keuntungan terbesar untuk setiap biayanya. Kita tidak bisa memberikan orang seperti Kim Doo Man mobil mewah. Itu salah.


Je Kook ke mejanya dan mengambil sebuah dokumen. Lalu ia kembali ke Yoon Do dan menyuruh Yoon Do membacanya.

Yoon Do : Bukankah ini terlalu berlebihan, bahkan untuk pemagang?

Yoon Do kembali membaca dokumen itu.

Yoon Do : Karena membocorkan informasi keluarga MC, hukumannya sepuluh kali upah tahunan." Itu bisa dipahami. Aku harus siaga 24 jam? Itu melanggar hukum pekerja.

Je Kook : Kau pengacara Nona Seok Hee dan sekretaris pendampingnya. Bagaimana jika dia terlibat kecelakaan pada pukul 3 dini hari? Kau akan tidur sampai saatnya untuk bekerja?


Yoon Do : Kalau begitu... mari kita ubah ini dengan mengatakan keadaan khusus menjadi pengecualian.

Yoon Do meneruskan membaca kontraknya.

Yoon Do : Kau harus memanggilnya 'Nona' dan menggunakan panggilan hormat." Bukankah ini kuno?

Je Kook : Urus itu sendiri diantara kalian, tapi gunakan itu di depan umum. Itu aturannya.

Yoon Do : Baiklah, aku bisa menerima itu.

Saat melihat gaji yang ditawarkan, Yoon Do langsung menahan napas karena terkejut.

Yoon Do : Kau akan membayarku sebanyak ini jika aku menandatangani setelah magang?

Je Kook mengangguk.

Yoon Do : Aku akan menandatanganinya.


Yoon Do pun bergegas mengambil pulpennya tapi ia tak bisa menemukan dimana pulpennya. Je Kook meminjamkan pulpennya. Melihat pulpen Je Kook, Yoon Do kaget. Je Kook menatapnya heran. Yoon Do tiba2 minta izin ke toilet.


Di toilet, Yoon Do menenangkan dirinya. Lalu, ia menatap cermin dan mengingat masa lalunya.

Flashback...


Je Kook pergi menemui seorang pria. Yoon Do kecil duduk di depan mereka.

Je Kook menawarkan surat perjanjian pelepasan hak perwakilan hukum ke pria itu.

Je Kook meminjami pria itu pulpen agar pria itu bisa menandatangani surat perjanjiannya.

Pria itu memainkan pulpen Je Kook sambil membaca surat perjanjiannya, sampai pulpen itu tak sengaja jatuh ke depan Yoon Do.


Yoon Do mengambil pulpen itu dan melihatnya.

Je Kook kemudian berdiri dan meminta pulpen itu.


"Jika kutandatangani di sini, apa yang akan kau berikan?" tanya pria itu.

Je Kook pun memberinya sebuah kotak kecil yang ternyata isinya uang.

Melihat uang itu, pria itu langsung menandatangani surat perjanjian itu. Di surat perjanjian itu, tertulis nama pria itu, Im Soo Hyuk.

Je Kook : Tanda tangani juga formulir penunjukannya. Aku akan mewakilimu.

Setelah mendapat tandatangan Pak Im, Je Kook langsung pergi.


Yoon Do langsung tanya apa yang pria itu tandatangani sampai mendapat bayaran.

Yoon Do : Paman menandatangani apa hingga dibayar?

"Anak-anak tidak perlu tahu."

"Biar kulihat. Aku ingin melihatnya!" teriak Yoon Do berusaha melihat surat per tinggal nya.

Flashback end...


Yoon Do syok setelah ingat siapa Je Kook.


Yoon Do lantas kembali ke Je Kook. Ia menutupi perasaannya sebisa mungkin agar Je Kook tidak curiga. Yoon Do berdalih, gaji yang cukup besar membuatnya agak bersemangat.

Yoon Do pun menandatangani surat kontraknya.

Je Kook : Kau pengacara Nona Seok Hee, tapi kau juga anggota tim TOP. Jangan lupa kau bekerja untukku. TOP harus tahu setiap gerakan yang dibuat setiap anggota. Kau harus mengabariku rencana Nona Seok Hee, dan kau bertugas untuk mematuhi perintahku. Kau tidak bisa membocorkan informasi TOP kepadanya.

Yoon Do : Aku mengerti.

Je Kook lantas menghubungi pegawainya dan tanya apa semua sudah siap.


Diluar, Kyung A menunjukkan 3 koper berisi uang ke Yoon Do.

Kyung A : Simpan ketiga koper ini di mobilmu dan gunakan kapan pun diperlukan. Untuk pengeluaran kecil. Saat larut malam atau di akhir pekan, saat kau mendesak membutuhkan uang, gunakan ini. Serahkan laporan tertulis untuk rinciannya.

Kyung A juga memberinya kunci mobil.

"Jika kau tidak menyukainya, ganti dengan mobil yang kau sukai. Tentu, kau harus mengembalikannya saat mengundurkan diri."

"Tidak, aku tidak akan mengganti modelnya." jawab Yoon Do.

Kyung A lalu memberi kunci kartu untuk rumah Yoon Do yang baru, serta ponsel dan kartu kredit perusahaan.

Yoon Do kaget.


Sang Won bilang, Yoon Do harus membeli baju baru.

Yoon Do : Tidak bisakah aku memakai apa yang aku inginkan?

Kyung A : Tim TOP adalah kebanggaan MC Grup. Kau tidak bisa berpakaian sembarangan. Kenakanlah yang direkomendasikan oleh orang ini.

Yoon Do : Bagaimana dengan seleraku?

Kyung A : Dia adalah ahli yang akan mendandanimu lebih baik darimu. Jangan mengeluh. Ada pertanyaan?

Yoon Do : Itu bagus. Lagipula aku memang akan membeli setelan baru. Bagaimana dengan sepatu?


Kyung A : Itu juga.

Yoon Do : Apa aku juga harus mengembalikan pakaiannya saat aku mengundurkan diri?


Yoon Do pulang ke rumahnya dengan penampilan baru. Sang ayah melongo melihatnya memakai stelan mahal serta dua paper bag yang dibawanya.

Pak Heo : Siapa ini? Perusahaan besar memang memperlakukanmu dengan baik. Kau terlihat sangat berbeda.

Yoon Do : Hanya karena wajahku cocok dengan pakaian ini. Apa aku terlihat seperti model? Untuk apa repot-repot berbicara? Kau akan membuat aktor malu. Takutnya aku mungkin membuat seseorang pensiun dini.

Pak Heo : Selamat, Nak. Kau ingin bekerja untuk perusahaan besar, dan kau mendapatkan keinginanmu. Kubilang apa?

Yoon Do : Aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

Pak Heo : Benar. Tapi tidak ada yang gratis di dunia. Jika mereka memperlakukanmu sebaik ini, pekerjaannya pasti sangat sulit.

Yoon Do : Orang kaya tidak makan empat kali sehari. Semua orang sama saja. Jangan khawatir, Ayah. Aku punya keistimewaan. Aku sangat mudah beradaptasi.


Pak Heo : Ya. Sangat mudah beradaptasi. Apa kau membelikanku sesuatu?

Yoon Do : Tidak.

Pak Heo langsung cemberut. Wkwkwkwkwkw....


Seok Hee sedang menjaga kakeknya. Bu Jung melihat Seok Hee merawat CEO Mo.


Pengacara Yoon kemudian datang, ingin melapor sesuatu. Seok Hee pun langsung menyuruh Bu Jung keluar.


Seok Hee bicara dengan Pengacara Yoon. Ia tanya, apa Bu Jung bisa dipercaya.

Seok Hee teringat setelah ibunya tewas dibunuh, ia melihat Bu Jung menemui Young Seo.

Bu Jung : Pimpinan Senior masih belum sadarkan diri. Dia tidak tahu Nyonya An dibunuh.

Young Seo : Benarkah? Awasi Pak Yoon, pengacaranya.

Bu Jung : Ya, Nyonya.

Flashback end...


Pengacara Yoon : Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi sejak insiden itu, dia merawat Pimpinan Senior dengan baik.

Seok Hee : Itu sebabnya dia bisa bekerja untuk pihak lawan?

Pengacara Yoon : Bagaimana pun, kau harus mengamankan hak untuk manajemen. Pimpinan Senior berjuang sejauh ini, hanya dengan tujuan menjadikanmu Presiden MC Grup.

Seok Hee : Anda juga berpikir begitu?

Pengacara Yoon : Aku menginginkan apa yang diinginkan Pimpinan Senior. Kau harus menjadi pemilik MC Grup.

Seok Hee : Bagaimana situasinya sekarang?

Pengacara Yoon : Selain bagian warisanmu, kau harus membeli lebih banyak saham, dan dengan aman menjadi pemegang saham mayoritas. Kau harus ekstra hati- hati di Korea.


Seok Hee pun menatap pilu sang kakek yang masih belum siuman.

Seok Hee : Aku hidup dalam ketakutan akan TOP selama 15 tahun. Betapa menakutkannya orang-orang TOP, aku lebih tahu dibandingkan siapa pun. Jadi... orang yang menghubungiku ketika aku di Amerika Serikat, apa itu anda?

Pengacara Yoon : Bukan. TOP menyembunyikanmu dengan baik. Aku bahkan tidak tahu kau di mana.

Seok Hee : Aku mengerti.

Bersambung ke part 2...

No comments:

Post a Comment