Thursday, September 19, 2019

Graceful Family Ep 2 Part 2

Sebelumnya....


Di kamarnya, Yoon Do menatap kartu karyawannya dengan wajah serius.


Setelah itu, ia membuka lacinya dan mengeluarkan sebuah kotak dari sana.

Yoon Do membuka kotak itu, isinya sebuah surat dan selembar struk.

Yoon Do meletakkan struknya di meja dan membaca suratnya. Ternyata surat itu adalah surat pemberitahuan tanggal sidang dan struk tadi adalah struk tanda terima.


Yoon Do lantas menghubungi Detektif Oh.


Yoon Do dan Detektif Oh bertemu di sebuah warung biasa. "Biar kutuangkan." ucap Yoon Do, lalu menuangkan soju ke gelas Detektif Oh.

Detektif Oh : Aku harus membelikan makan malam hari ini.

Yoon Do : Kenapa?

Detektif Oh : Maaf. Aku tidak punya cukup pengaruh.

Yoon Do : Kau tidak bisa melihat berkas kasusnya?

Detektif Oh : Aku memakai koneksi jaksaku, tapi kasus itu ditutup. Aku tidak menegerti kenapa aku tidak bisa melihat berkas yang berusia 15 tahun. Apa seseorang memakai pengaruhnya? Pasti ada sesuatu tentang itu.

Yoon Do : Tidak apa-apa. Mungkin ada cara lain.

Detektif Oh : Apa maksudmu?

Yoon Do : Bukan apa-apa. Aku hanya asal bicara.


Detektif Oh lalu menuangkan soju untuk Yoon Do. Ia kemudian tanya, apa Yoon Do nyaman kerja di MC.

Yoon Do : Aku perlu melakukannya. Harus.


Seok Hee tak bisa tidur. Ia berulang kali merubah posisi tidurnya, sampe akhirnya ia menendang selimutnya dan bangun.

Seok Hee meraih ponselnya untuk melihat jam. Sudah jam tiga pagi.

Seok Hee : Ah, ini gila.


Alhasil, Seok Hee yang insomnia itu menelpon Yoon Do yang lagi tertidur lelap dua kali.

Yang pertama, Seok Hee menelpon Yoon Do sambil membaca buku, hanya untuk menanyakan artinya 'mencela'.

Yoon Do : Itu seperti menyalahkan seseorang tanpa alasan, membenci mereka.


Setelah mendapat jawabannya, Seok Hee matiin panggilannya begitu saja. Yoon Do pun mendengus kesal dan lanjut tidur tapi baru mau tidur lagi, Seok Hee menghubunginya lagi.

Yoon Do : Nona Mo, ini waktunya orang tidur. Itu bagus untuk kulitmu. Tidurlah.

Seok Hee : Jetlag membuatku terjaga. Kau bisa berenang?


Terpaksalah Yoon Do menemani Seok Hee berenang.

Baru satu ronde, Yoon Do sudah menyerah dan menunggu Seok Hee yang terus berenang.


Yoon Do : Apa kau atlet renang?

Seok Hee : Bukan.

Yoon Do : Lalu apa yang kau lakukan selarut ini?

Seok Hee : Ini pukul dua siang di New York. Aku melakukan ini selama 15 tahun. Aku tidak bisa berubah dalam sehari.

Yoon Do : Haruskah melakukannya selarut ini setiap hari sampai jetlag mu hilang?

Seok Hee : Tentu saja.

Yoon Do : Aku tidak bisa melakukannya. Pekerjakan seseorang. Ini bukan bidang keahlianku.

Seok Hee : Kurasa begitu. Kau tidak belajar cara berenang dengan baik.


Yoon Do : Ini cara orang miskin berenang. Untuk bertahan hidup. Lupakan saja. Aku lelah. Mari kita tidur.

Seok Hee : Tidak bisa. Hariku baru dimulai.

Yoon Do : Apa?

Seok Hee : Bukankah Dongdaemun dibuka saat fajar? Kau kekurangan energi.

Yoon Do : Ya, sangat rendah. Aku harus tidur. Ayo.

Seok Hee : Baiklah. Jika begitu, datanglah ke tempatku tepat pukul 7 pagi.

Yoon Do : Kenapa?

Seok Hee : Keluargaku sarapan lebih pagi. Kau harus memberi salam.


Seok Hee keluar duluan dari kolam renang dan beranjak pergi.

Yoon Do hanya bisa menghela nafasnya karena perintah Seok Hee.


Pak Heo memotong daun bawang sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dan menguap lebar. TV nya menyala, memutar drama nya Na Ri.

Tak lama, Yoon Do pulang. Pak Heo kaget melihat Yoon Do pulang dalam keadaan basah.

Pak Heo : Kau pergi ke mana sepagi ini? Apa yang terjadi pada rambutmu?

Yoon Do : Jangan bertanya. Aku lelah. Bangunkan aku dua jam lagi.

Yoon Do beranjak ke kamarnya. Pak Heo heran sendiri.


Paginya, seluruh pelayan di kediaman Mo, sibuk menyiapkan sarapan untuk anggota itu. Lalu Kepala Pelayan tanya, apa sarapan untuk Picasso sudah siap.

Sy pikir, apaan dah sarapan Picasso, ampe nyari di google segala.. taunya ikan.... Astaga, lawak bener...


Seok Hee keluar duluan dan melihat dua pelayan membawa sarapan untuk Picasso.

Seok Hee : Apa ini?

"Ini makanan Picasso."

"Picasso?" tanya Seok Hee heran.


Seok Hee mengikuti kedua pelayan itu. Ia bengong sendiri mengetahui picasso yang dimaksud pelayan adalah ikan piaraan emak tirinya.

Ketika pelayan mulai mengambil cacing yang ditarok di atas serbuk emas di dalam piring, Seok Hee berteriak. Ia bilang, itu menjijikkan.

"Tolong tenang. Picasso sangat sensitif." ucap pelayan, meminta Seok Hee diam.

"Ikan emas besar itu Picasso?" tanya Seok Hee dengan suara pelan.

"Ya. Ini ikan peliharaan kesayangan Nyonya Ha." jawab pelayan.

Seok Hee tersenyum heran.


Wan Joon bangun dari tidurnya. Begitu Wan Joon bangun, Soo Jin yang udah bangun sejak tadi, ikutan bangun.

Mereka tidur terpisah! Omo....

Soo Jin tanya, sampai kapan mereka harus tidur terpisah begitu.

Wan Joon meminum obatnya dan meminta Soo Jin mencari pria lain jika butuh pria.

Wan Joon : Jangan menggangguku pagi-pagi begini.

"Kau sangat kejam." balas Soo Jin sambil mendelik tajam Wan Joon.

Wan Joon : Sebagai imbalan untuk bertahan denganku, ayahmu menjadi dekan,  saudaramu belajar di luar negeri, dan keluargamu tidak akan pernah kelaparan. Kau yang memilih. Bertahanlah denganku sampai aku menjadi pewaris. Lalu aku akan menceraikanmu.


Wan Soo tiba2 masuk, membuat Soo Jin yang masih memakai gaun tidur terkejut.

Wan Soo : Maaf. Kebiasaan burukku. Wan Joon begitu sibuk sehingga hanya saat inilah aku bisa melihatnya.

Wan Joon menatap Soo Jin.

"Yeobo, bisa tinggalkan kami?"

Soo Jin mengerti dan langsung pergi.


Wan Soo : Dia sangat elegan, setiap kali aku melihatnya. Ada sesuatu yang aku selalu ingin tanyakan. Kenapa kalian tidur di kasur terpisah? Apa kalian melalui masa yang

buruk? Apakah pasangan menikah harus memiliki gaya hidup yang identik?

Wan Joon : Ini ranjang membacaku jika aku harus bekerja lembur. Kenapa?

Wan Soo : Kau harus berhenti membaca dan membuat anak. Kau akan sempurna jika punya anak.

Wan Joon : Apa yang kau inginkan?

Wan Soo : Investasi.


Wan Soo melemparkan sebuah naskah ke dada Wan Joon. Wan Soo lalu duduk di sofa Wan Joon.

Wan Soo : Skenario berikutnya luar biasa. Aku akan mengirimnya ke Cannes.

Wan Joon : Tidak. Kau tahu berapa banyak uang yang telah kau buang?

Wan Soo : Apa kau harus membahas masa laluku yang menyakitkan pagi-pagi begini?

Wan Joon : Apakah itu menyakitkan?

Wan Soo : Begitu aku, si anak sulung, mengeluh, hidup kita akan berubah menjadi drama gila. Aku tidak peduli dengan kekuasaan hanya karena aku seorang seniman.

Wan Joon : Jadilah pewarisnya jika kau cukup mampu.


Wan Joon melempar naskah Wan Soo ke kasur, lalu pergi.

Wan Soo kesal dan menatap Wan Joon tajam.


Yoon Do tiba di kediaman Mo. Sampai di gerbang, ia dihentikan petugas keamanan.

"Apa kepentinganmu kesini?"

Yoon Do pun menunjukkan kartu karyawannya, hingga ia diizinkan masuk.


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Seok Hee gak suka sarapannya. Young Seo menghela nafas kesal melihat tingkah Seok Hee yang makin menjadi.


Sementara Wan Soo menatap kesal Wan Joon dan Wan Joon membalas dengan menyuruhnya makan.


Tak lama, Cheol Hee datang. Semua berdiri, kecuali Seok Hee yang tetap duduk sambil menguap lebar.

Seok Hee lantas minta steik ke pelayan. Pelayan terkejut dan langsung menukar sarapan Seok Hee.

Yang lain memandangi Seok Hee.


Seok Hee : Kenapa kalian begitu terkejut? Sekarang, ini waktu untuk steik di New York. Aku tidak bisa makan Picasso mentah untuk sarapan.

Mendengar itu, Young Seo langsung menatap kesal Seok Hee.

Wan Joon menegur Seok Hee.

Seok Hee : Aku tidak memakannya karena itu peliharaannya.


Wan Soo : Seok Hee-ya, bukankah kau perlu membiasakan diri dengan Seoul? Apa perlu kau kuajak berkeliling?

Seok Hee : Tidak.

Wan Soo : Kenapa tidak? Apa kau sudah punya pacar?


Pelayan berbisik, memberitahukan kedatangan Yoon Do. Seok Hee senang dan langsung menyuruh pelayan membawa Yoon Doo masuk.

Yoon Do masuk. Semua mata langsung tertuju padanya.

Seok Hee : Orang yang di sana itu adalah pengacara pendampingku.

Yoon Do : Halo. Namaku Heo Yoon-do.


Seo Jin : Selera yang bagus.

Seok Hee : Awas kau.  Dia bukan tipeku.

Wan Soo : Bagaimana kau bisa berakhir mengurus  anggota keluarga yang paling rewel? Kau pasti hebat.

Young Seo : Selamat datang di keluarga MC. Jaga Seok Hee dengan baik.


Cheol Hee : Kau yang disana, dapatkah ka menanganinya? Entah kau bertahan atau tidak, itu semua tergantung bayaran. Uang.

Yoon Do : Menurutku uang tidak menentukan segalanya.

Cheol Hee : Tapi uang yang menentukan jika kau tidak bahagia.


Seok Hee membanting sendoknya untuk menghentikan pembicaraan itu. Ia lalu berdiri dan meminta Yoon Do mengikutinya dengan alasan ada barang Yoon Do yang tertinggal.


Seok Hee membawa Yoon Do ke kamarnya.

Seok Hee membuka laci kecilnya yang berisi pulpen. Dan Yoon Do menunggunya di depan sofa.

Tak lama, Seok Hee kembali dan memasukkan pulpen ke saku jas Yoon Do.

Seok Hee : Jauh lebih baik.

Yoon Do : Kau tidak perlu bersikap begitu baik.

Seok Hee : Jangan salah paham. Aku tidak tahan dengan mode yang buruk.


Yoon Do : Apa rencana hari ini?

"Aku akan beristirahat. Pergilah ke TOP." jawab Seok Hee sambil membanting dirinya ke sofa.

Bersambung ke part 3....

No comments:

Post a Comment