Sunday, September 1, 2019

The Great Show Ep 1 Part 2

Sebelumnya...


Dae Han berdiam diri di depan Sungai Han, bersama Hye Jin. Hye Jin tanya apa yang akan dilakukan Dae Han setelah kalah dalam pemilu.

Dae Han : Akan kusiapkan pemiliu berikutnya empat tahun lagi.

Hye Jin : Bagaimana dengan hidupmu? Kau tidak punya tempat tujuan lain.

Dae Han : Aku hanya belajar cara jadi pencuri, jadi, aku harus menjadi pencuri. Jika tampil di berbagai acara sebagai komentator, aku akan bertahan.

Hye Jin : Kau pikir acara akan merekrutmu, seorang putra durhaka?

Sontak, Dae Han terdiam dipanggil 'putra durhaka' oleh Hye Jin.

Hye Jin menghela nafas. Lalu ia berkata, bahwa mereka adalah partner strategis.

Hye Jin : Aku ingin bertemu denganmu hari ini karena ingin bicara.

Terdengar narasi Dae Han.

Dae Han : Hanya ada satu hal untuk dibicarakan. Dicampakkan oleh pacar selain kalah dalam pemilu terlalu menyedihkan.


Hye Jin mau bicara tapi Dae Han menghentikannya. Dae Han bilang, dia lah yang akan bicara dulu.

Dae Han : Aku harus bertanggung jawab karena tidak memenuhi janji kita. Kita harus mengakhirinya di sini. Aku tidak bisa mengurusmu sekarang. Maafkan aku.

Hye Jin : Kau akan menjadi politisi sukses. Kau mengatakan apa yang ingin dikatakan orang lain.

Hye Jin kemudian turun dan pergi dengan wajah kecewa.

*Oh, jd mereka pacaran toh, terus Hye Jin nyampakin Dae Han karena video kontroversial itu?? Omo... Tega bener...


Dae Han akhirnya turun dari mobilnya dan menatap gedung pemerintahan yang ada di seberang Sungai Han.

Dae Han : Ada ungkapan populer di kalangan politisi. Monyet akan tetap menjadi monyet setelah jatuh dari pohon. Tapi jika anggota dewan tidak memenangi pemilu, orang itu lebih rendah dari manusia.


Paginya, spanduk yang memasang foto Dae Han, dicopot dan dimasukkan ke tempat sampah.

Terdengar narasi Dae Han.

Dae Han : Mulai hari ini, aku lebih rendah dari manusia.

-3 tahun kemudian-


PD Koo dan timnya, serta Joon Ho, sedang makan-makan di sebuah restoran daging.

PD Koo mengajak mereka semua bersulang.

PD Koo : Semuanya, angkat gelas kalian. Untuk Debat!

PD Koo kemudian berkata, bahwa keberhasilan mereka berkat Joon Ho dan Soo Hyun. PD Koo bilang mereka mencapai rating 3.8 persen pekan lalu.


Soo Hyun menatap sengit PD Koo.

Soo Hyun : Pak Koo, bagaimana jika kau melihat orang di sampingmu?

PD Koo : Di sampingku?


PD Koo menoleh ke kirinya yang tidak ada siapa-siapa. Soo Hyun sedikit merebahkan badannya. Terlihat lah Penulis Ahn yang duduk disamping Soo Hyun, tengah menatap PD Koo dengan sengit. Soo Hyun terkekeh. PD Koo langsung diam. Ia kemudian melihat tim nya yang lain juga menatap sengit padanya. Barulah PD Koo memuji yang lainnya.

Soo Hyun : Kalau begitu, bagaimana jika kau memanggang dagingnya dengan kami?

PD Koo mencari alasan. Ia tanya, haruskah ia melakukannya. Soo Hyun mengangguk.


Joon Ho menawarkan diri. Ia bilang, biar ia yang memanggang dagingnya.

Soo Hyeon : Tidak apa-apa. Lagi pula, mereka sudah selesai.

Joon Ho : Kalau begitu, aku akan membeli sesuatu yang tidak perlu dipanggang.

Penulis Ma : Seperti apa?

Joon Ho : Kau suka sashimi?

"Sashimi?" Soo Hyun tampak berpikir. Setelah itu ia menjawab, tidak akan cukup.


Pria berkacamata yang duduk di depan Soo Hyun menyela Soo Hyun.

"Bu Jung, kau bilang kau tidak punya pacar. Kenapa mencari di tempat lain? Apa pendapatmu tentang Pak Kang?" ucapnya, berusaha menjodohkan Joon Ho dan Soo Hyun.

Sontak Joon Ho langsung menatapnya dan Soo Hyun menatap Joon Hoo.

"Pak Kang?" tanya Soo Hyun.

"Penampilannya bagus, pekerjaannya bagus, keluarganya kaya, kepribadiannya baik..." jawab pria itu sambil meletakkan isian samgyeopsal ke daunnya.

"Dia punya segalanya." tambah pria itu, lalu memakan samgyeopsalnya.


"Kenapa orang sepertinya mau berhubungan denganku?" tanya Soo Hyun.

Diluar dugaan, Joon Ho menjawab 'mau' dengan wajah antusias. Sontak Soo Hyun kaget dan yang lain heboh.

Soo Hyun : Kau makin pandai menghibur orang.

Joon Ho : Tidak, aku serius.

Yang lain pun semakin heboh dengan jawaban Joon Ho. Soo Hyun tertawa. Penulis Ma tampak kecewa mendengar jawaban Joon Ho.

Soo Hyun : Apa pun yang kau lakukan, orang sepertimu bukan tipeku.

Joon Ho : Kenapa tidak?

Soo Hyun : Kau terlalu sempurna.


Penulis Ma kemudian bertanya, kenapa Soo Hyun mengencani Dae Han.

Sontak, semua mata langsung mengarah ke Soo Hyun.

Soo Hyun : Siapa bilang aku mengencani Anggota Dewan Wi?

Penulis Ma : Temanku.

Soo Hyun : Bagaimana dia bisa tahu kehidupan cintaku?

Penulis Ma : Rekan kerja pacarnya teman sekamar Wi Dae Han saat kuliah dan dia bilang kalian berdua berkencan saat kuliah.

Soo Hyun : Benarkah? Kalau begitu, beri tahu teman rekan kerja pacarnya bahwa aku di BEM dengan Anggota Dewan Wi, tapi kami tidak pernah berkencan, dan aku akan menuntutnya jika dia menyebarkan rumor palsu!


Joon Ho tertawa mendengarnya.

Penulis Ma minta maaf.


Pria berkacamata ikut membahas Dae Han.

"Tapi dia memang tampak seperti orang hebat. Kau tahu apa yang dilakukannya belakangan ini setelah kalah dalam pemilu?"


Dae Han sendiri sedang bekerja sebagai supir pengganti. Penumpangnya, seorang pria, mengoceh soal anggota dewan dalam kondisi setengah mabuk.

"Kita harus mengganti semua anggota dewan. Mau melihat ke mana pun, tidak ada yang cukup bagus. Mereka hanya tahu cara menjilat orang selama pemilu untuk mendapatkan suara. Kau pikir membungkuk di sepanjang jalan akan membuat hidup kita lebih baik?"

Dae Han tersenyum mendengarnya.

"Omong-omong, kau yakin tidak mengemudi hanya untuk pamer?"

"Aku sudah melakukan ini lebih dari setahun. Aku bukan bagian dari sirkus, jadi, untuk apa aku berpura-pura lebih dari setahun?"

"Lalu kenapa menjadi sopir pengganti? Kau pernah menjadi anggota dewan."

"Setelah kalah dalam pemilu, aku tidak punya pekerjaan lain. Aku dahulu ajudan, jadi, aku tidak punya pekerjaan untuk kembali. Tapi sesuatu terlintas di benakku.

Pekerjaan paling mirip dengan anggota dewan adalah sopir pengganti. Keduanya berada di belakang kemudi untuk masyarakat dengan kecepatan dan arah yang diinginkan masyarakat untuk membawa mereka ke tujuan dengan aman dan nyaman."

"Aku mengerti."


Mereka tiba di tempat tujuan. Dae Han minta bayaranya 15 dollar tapi pria itu memberinya 20 dollar karena kasihan padanya. Dae Han menolak tapi pria itu memaksa.

Pria itu lalu mengajak Dae Han foto dengannya tapi saat Dae Han mengambil foto mereka dengan ponsel pria itu, pria itu tiba2 muntah di jaketnya.


Dae Han berakhir di toilet umum, mencuci jaketnya yang terkena muntahan pria tadi. Selesai mencuci jaketnya, dia mencium jaketnya, berharap baunya sudah hilang tapi baunya masih menempel. Dae Han pun kesal dan menatap wajahnya di cermin.

Terdengar narasi Dae Han.

Dae Han : Jika menjadi anggota dewan dengan lencana emas di dadamu, kau bisa menikmati pengalaman 200 fasilitas dan hak istimewa yang luar biasa.....


Dae Han membayangkan dirinya berada di atas pesawat kelas bisnis dengan lencana emas di dadanya. Ia juga membayangkan pramugari yang TP-TP dengannya.

Dae Han :  Kau bisa naik kelas bisnis untuk perjalanan dinas ke luar negeri, melewatkan imigrasi saat masuk atau ke luar negeri, dan memakai ruang dan parkiran VIP di bandara. Kau mendapatkan kantor hampir seluas 100 meter persegi dan empat pejabat serta tiga sekretaris, sampai sembilan orang, sebagai anggota timmu. Total gaji mereka 360.000 dolar dan gajimu sebesar 137.960 dolar akan dibayar setiap tahun. bahkan jika kau tidak mengajukan satu RUU legislatif selama empat tahun dengan lencana emas. Dengan pajak yang dibayar rakyat. Kukira kelebihan dan hak istimewa itu berlebihan saat aku menjadi anggota dewan....


Kyung Hoon sendiri lagi main golf di ruangan yang disebutkan Dae Han tadi.

Sementara Bong Joo kembali menjad staff biasa.


Dae Han kini mengeringkan jaketnya.

Dae Han : ... tapi sekarang, aku sangat merindukan masa-masa itu.


Dae Han kemudian makan dan minum soju di warung tenda bersama Bong Joo.

Bong Joo : Dia muntah di bajumu? Apa karena itu kau bau?

Dae Han langsung mencium jaketnya yang memang masih bau.

Bong Joo : Omong-omong, apa kau tidak merasa bersalah kepada anggota dewanmu saat dia dipermalukan seperti itu?

Dae Han : Merasa buruk?

Bong Joo : Tapi aku memikirkan ini. "Kurasa aku benar." "Jika dia berhenti mengemudi saat aku menyuruhnya, ini tidak akan terjadi kepadanya."

Dae Han kesal.

Dae Han : Bagus untukmu, Nak. Bagus untukmu.


Dae Han menenggak sojunya.

Dae Han : Aku harus mencari nafkah, bukan? Aku hanya punya utang, bukan tabungan.

Bong Joo : Tetap saja, kau harus berhenti. Itu lebih merugikan daripada menguntungkan. Orang-orang berpikir itu hanya pertunjukan.

Dae Han : Mereka benar. Ini semua hanya pertunjukan. Aku diusir dari partai. Aku harus punya pertunjukan agar tidak terlupakan, bukan?

Bong Joo : Apa yang kau cemaskan? Citramu sebagai putra durhaka sangat kuat sampai mereka tidak akan pernah melupakanmu. Seharusnya kau lebih mencemaskan bagaimana kau bisa dilupakan.

Dae Han : Jujurlah kepadaku. Kau membenciku, bukan? Itu sebabnya kau mengacau denganku.

Bong Joo : Sejujurnya aku mencemaskanmu. Kau bahkan minum obat penenang saat kalah dalam pemilu.

Dae Han : Itu sudah lama sekali. Aku berhenti meminumnya lebih dari setahun lalu.

Bong Joo : Dahulu kau sangat keren saat berada di dewan. Tapi sekarang kau menjadi sopir pengganti dan mengalami gangguan panik. Ayahmu seharusnya setidaknya menunggu sepekan lagi.


Soo Hyun sedang di jalan pulang sambil bicara di telepon dengan ayahnya.

Soo Hyun :  Ya. Aku dalam perjalanan pulang dari tamasya perusahaanku. Haruskah aku mampir?

"Tidak apa-apa. Tidak perlu. Kau pasti lelah bekerja. Pulang dan beristirahatlah."

Soo Hyun : Tetap saja, aku senang aku pindah ke dekat restoran. Aku bisa membantu saat ayah sibuk.

Soo Hyun melewati seorang pria berjaket hitam yang lagi asyik main di mesin boneka.

Pria itu teriak karena gagal mencapit boneka, membuat Soo Hyun kaget.

Soo Hyun yang tak tahu itu Dae Han, pergi begitu saja.

Soo Hyun : Ayah juga bermain mesin capit?

"Sesekali, ya. Ibumu bersikap seperti tidak tahu, tapi dia suka saat ayah memenangi boneka untuknya."

Soo Hyun : Benarkah? Aku tidak pernah mengerti kenapa orang memainkan itu. Lagi pula, kita tidak pernah menang. Lebih murah hanya membeli boneka."

Dae Han berusaha mencapit bonekanya lagi tapi lagi2 ia gagal membawa boneka itu keluar dari dalam mesin.

Bersambung ke part 3....

No comments:

Post a Comment