Sunday, September 1, 2019

The Great Show Ep 1 Part 4

Sebelumnya...


Dae Han mengantarkan Da Jung ke Motel Ehwa, tempat Da Jung dan adik2nya tinggal. Ia sedikit kaget melihat lingkungan motel yang rada kumuh.

Dae Han : Aku akan menemanimu jika tidak ada janji. Aku merasa bersalah meninggalkanmu sendirian.

Da Jung : Tidak apa-apa. Terima kasih untuk semuanya.

Dae Han : Tidak perlu berterima kasih.

Dae Han lalu memberi kartu namanya.

Dae Han : Ini. Telepon aku kapan saja jika kau butuh bantuan, ya?

Da Jung : Kuharap ayah kandungku sebaik anda.

Dae Han : Kau tidak bisa menipu gen. Melihatmu saja aku yakin ayah kandungmu juga orang yang hebat.

Da Jung : Terima kasih.

Dae Han : Tentu. Sampai jumpa.


Dae Han beranjak pergi. Dari spionnya, dia menatap Da Jung yang masih memperhatikan kepergiannya.

Dae Han : Aku juga kasihan kepadanya, tapi ayah kandungnya yang malang. Banyak hidup orang yang hancur karena kerabat kandung.


Tak lama, dua bocah, satu laki-laki dan satu perempuan keluar dari dalam motel, disusul dengan remaja laki2.

Si bocah laki2 sudah jelas Tae Poong yang sebenarnya tidak hilang. Dan remaja laki2 adalah Tak. Sementara bocah perempuan adalah Song Yi.

Tae Poong bilang ke Da Jung kalau dia lapar.

Da Jung : Kakak juga lapar karena memakai setiap energi untuk berakting.

Da Jung lantas menghubungi seseorang.

Tak : Kakak menelepon siapa?

Da Jung : Orang yang akan mentraktir kita makan siang.


Orang yang dimaksud Da Jung adalah Soo Hyun. Soo Hyun mentraktir mereka makan di restoran cepat saji.

Soo Hyun : Jadi, biar kuluruskan. Kau dan Tak punya ibu yang berbeda, dan ibumu dari ayah Tak melahirkan Tae Poong dan Song Yi?

Da Jung : Luar biasa. Orang-orang menjadi bingung, tapi anda langsung paham.

Soo Hyun : Itu artinya ayah kandungmu tidak berhubungan dengan saudaramu.

Da Jung : Aku juga. Dia tidak tahu aku pernah dilahirkan.

Soo Hyun : Tapi kau akan memintanya menampung kalian semua?

Da Jung : Menurutmu dia akan menolak?

Soo Hyun : Tidak, aku yakin begitu. Kau anaknya. Dia tidak akan mengabaikan anaknya sendiri.

Da Jung : Benar, bukan? Aku juga berpikir begitu. Mereka bilang darah lebih kental daripada air karena suatu alasan.


Soo Hyun : Seperti apa ayah kandungmu?

Da Jung : Untungnya, dia lajang. Dia dipecat dari pekerjaannya, jadi, dia kini menjadi sopir pengganti.

Soo Hyun : Dia pasti tidak makmur.

Tae Poong memanggil Soo Hyun ahjumma dan minta dibelikan burger lagi.


Soo Hyun kaget dipanggil ahjumma tapi dia tidak bisa protes dan langsung mengantri dengan Da Jung, memesan burger lagi.

Soo Hyun : Jika ayah kandungmu tidak bisa menerimamu, apa yang akan kau lakukan?

Da Jung : Kalau begitu aku akan pergi. Tapi aku akan menghadapinya nanti jika itu terjadi. Tebak apa motoku.

Soo Hyun : Apa?

Da Jung : Jangan khawatir dahulu.

Soo Hyun kaget mendengarnya.

Da Jung tanya kenapa.

Soo Hyun : Itu moto yang keren. Omong-omong, semoga berhasil dengan ayahmu hari ini. Telepon aku kapan pun kau butuh bantuan, ya?

Da Jung : Omong-omong, Anda dan pria tadi berpacaran?

Soo Hyun : Berpacaran? Tidak mungkin. Kami teman kuliah. Dia kakak angkatanku.


Sementara itu, Dae Han lagi makan dengan Bong Joo.

Bong Joo : Andai aku bisa melihat tatapan ayah saat anak-anak itu datang ke rumahnya.

Dae Han : Hei. Aku yakin dia tercengang. Itu namanya malapetaka. Tapi setelah kau mengatakannya, kuharap aku bisa melihat raut wajahnya juga.

Bong Joo : Omong-omong, andaikan mungkin, kau ayah kandungnya, apa yang akan kau lakukan kepada anak-anak itu?

Dae Han : Apa kau bodoh? Kau mengenalku. Aku benci anak-anak yang tidak dewasa dan egois. Ingat saat kampanye aku harus ke panti asuhan dan mengurus anak-anak itu. Itu jauh lebih sulit daripada perjalanan duka. Aku tidak suka anak-anak.

Bong Joo : Benar. Di mana acara yang harus kamu hadiri nanti?


Sekarang,, Dae Han lagi diwawancara radio.

Dae Han : Aku pergi ke toilet umum di dekat sini dan mandi.

"Klien ingin berfoto dengan Anda dan malah memuntahkan Anda?" tanya si penyiar radio.

Dae Han : Itu baru semalam.

Kedua penyiar langsung membacakan komentar2 yang masuk terkait cerita Dae Han itu. Rata2 netizen menuding Dae Han berbohong.

Si penyiar kemudian tanya bagaimana Dae Han bisa melakukan politik seperti itu.

"Kudengar Anda dipecat dari posisi sebagai anggota distrik."

"Bukannya aku dipecat, tapi aku berhenti sebab merasa tidak enak melanjutkan."

"Ayolah, kita semua profesional. Aku tahu dari tatapan Anda. Anda dipecat. Jika Anda dipecat dari kursi distrik, artinya Anda kehilangan semua pendukung Anda. Bukankah sulit untuk dinominasikan untuk pemilu berikutnya?"


"Aku yakin era saat partai mengendalikan pemilu telah berakhir. Yang penting adalah bagaimana perasaan masyarakat."

Penyiar membacakan komentar netizen yang masuk lagi, atas permintaan Dae Han.

"Jika robot sepertimu menjadi anggota dewan, aku beremigrasi hari itu juga."

"Ini aib untuk nama keluarga kami harus tinggal di negara yang sama dengan pembohong sepertimu."

Dae Han langsung diam.


Ji Hyun menghampiri Soo Hyun yang lagi olahraga di taman.

Ji Hyun : Bagaimana bisa cinta pertamamu tinggal di dekatmu? Ini bukan sekadar kebetulan. Ini takdir.

Soo Hyun : Takdir apanya? Seharusnya aku tidak pindah ke sini.

Soo Hyun terus olahraga. Ji Hyun mengikuti Soo Hyun.

Ji Hyun : Kenapa tidak? Cinta pertama dan bintang hanya indah dari kejauhan. Karena terus membicarakan bintang, kau masih melajang.


Ji Hyun lalu melihat wajah kakaknya yang murung.

Ji Hyun : Kenapa kau murung sekali hari ini?

Soo Hyun : Aku mengkhawatirkan anak-anak itu.

Ji Hyun : Anak-anak? Gadis dengan moto yang sama denganku?

Soo Hyun : Mungkin itu alasannya, tapi dia mengingatkanku kepadamu.


Dae Han sedang melajukan mobilnya. Terdengar kembali narasinya.

Dae Han : Politik dan berkencan punya banyak kesamaan. Dalam keduanya, citra itu penting, dan kau harus tampil dengan bagus. Untuk menyingkirkan citra anak durhakaku, aku harus tampil menyentuh sehingga hati masyarakat tersentuh.


Sekarang, Dae Han sudah tiba di rumahnya. Ia membanting diri ke sofa dan memikirkan namanya muncul di koran2 kalau ia berhasil membantu Da Jung bersatu dengan sang ayah.

Dae Han lantas menghubungi Da Jung.

Da Jung berseru senang, mengaku baru saja mau menghubungi Dae Han.

Dae Han : Benarkah? Ini pasti telepati. Bagaimana? Kau sudah menemui ayahmu?

Da Jung : Belum, aku akan menemuinya sekarang. Aku takut sekali sampai jantungku hampir meledak.

Dae Han : Jangan mengkhawatirkan apa pun. Aku yakin ayahmu akan senang bertemu denganmu.

Da Jung : Anda sungguh berpikir begitu?

Dae Han : Tentu saja. Jika menjadi ayahmu, aku akan merasa seperti menerima hadiah Natal.

Da Jung : Mendengarnya membuatku merasa jauh lebih baik. Di mana Anda sekarang?

Dae Han : Aku baru pulang setelah menyelesaikan pekerjaanku.

Da Jung : Anda tidak bekerja sebagai sopir pengganti hari ini?

Dae Han : Tidak, aku libur hari ini...  Tunggu. Apa aku sudah bilang bahwa aku sopir pengganti?

Dae Jung : Belum.

Da Jung : Lalu bagaimana kau tahu?


Tiba2 bel berbunyi. Dae Han ke pintu dan kaget melihat wajah Da Jung di layar intercom.

Dae Han : Apa yang terjadi?

Da Jung : Sudah kubilang aku hendak menemui ayahku.


Dae Han kaget dan langsung membukakan pintu. Begitu pintu dibuka, ketiga adik Da Jung langsung menatapnya dengan sengit.


Da Jung : Ayah suka hadiah Natal Ayah?

Dae Han kaget dan juga bingung.

Bersambung.....

No comments:

Post a Comment