Sunday, November 3, 2019

Graceful Family Ep 4 Part 1

Sebelumnya...

Di episode sebelumnya ~~ Seok Hee dinyatakan bebas karena terbukti bersih dari narkoba. Yoon Do bersender di pintu mobil, menunggu Seok Hee keluar. Tak lama,, Seok Hee keluar dan tersenyum melihat Yoon Do. Yoon Do lantas mendekati Seok Hee dan tanya Seok Hee mau kemana. Seok Hee pun mengajaknya ke hotel.

Seok Hee bilang hotel adalah tempat terbaik untuk saat ini.


Adegan lalu berpindah ke masa lalu, dimana Wang Pyo memberitahu Je Kook rencananya membuat Seok Hee mewarisi MC. Je Kook sontak kaget mendengarnya.

Wang Pyo lantas meminta Je Kook membantu Seok Hee memimpin MC.

Je Kook tak setuju, ia beralasan, Seok Hee masih terlalu muda untuk mewarisi MC.

Je Kook lantas meminta Wang Pyo untuk menunggu sedikit lebih lama sebelum membuat keputusan.

Wang Pyo tetap pada keputusannya. Ia berkata, Seok Hee anak yang cerdas dan dia percaya Seok Hee adalah sosok yang tepat untuk memimpin MC.

Je Kook : Saat ini, MC Grup membutuhkan stabilitas alih-alih perubahan. Harap pertimbangkan kembali keputusan anda.


Wang Pyo lantas membuka lacinya,, lalu mengambil dokumen wasiatnya dan memberikannya ke Je Kook.

Wang Pyo : Aku sudah membuat keputusan. Pengacara Yoon menuliskan wasiatku yang menyatakan  bahwa aku mewariskan sahamku kepada Seok Hee. Lihat dan periksa apa itu sudah benar dan tidak ada masalah. Inilah yang perlu kau lakukan.


Je Kook mengantarkan Wang Pyo ke mobil. Seorang staf membukakan pintu mobil untuk Wang Pyo. Je Kook dan para staff kemudian membungkuk, sebagai tanda hormat, ketika mobil Wang Pyo mulai melaju.


Sopir tanya, apa Je Kook bisa mereka percaya?

Wang Pyo : Kau tidak bisa menempatkan semua telur dalam satu wadah. Pengacara Han bukan satu-satunya yang aku andalkan.

Wang Pyo lalu meminta sopir mengantarkannya ke villa, tempat Seok Hee dan Nyonya Ahn tinggal.

Narasi terdengar.

"Pimpinan Mo mungkin berhati-hati. Tetapi ada telur busuk di antara telur-telur yang telah ia pilih.


Sebuah truk melaju kencang ke arah mobil Wang Pyo. Cahaya yang berasal dari lampu depan truk, membuat mata sopir dan Wang Pyo silau.

Truk itu terus melaju, lalu, tak lama, truk itu menabrak mobil Wang Pyo dengan sengaja dan menyeret mobil Wang Pyo ke jurang.

Truk itu kemudian pergi, meninggalkan mobil Wang Pyo di jurang.


Sopir Wang Pyo tewas di tempat dengan mata terbelalak.

Sementara Wang Pyo selamat. Ia sempat menggerakkan tangannya sebelum akhirnya hilang kesadaran.


Usai kecelakaan Wang Pyo, Je Kook menemui Cheol Hee dan memberikan surat wasiat Wang Pyo ke Cheol Hee. Cheol Hee tanya, kenapa Je Kook memberikan surat wasiat ayahnya padanya.

Je Kook : Keputusan untuk MC Grup seharusnya  tidak dipengaruhi emosi pribadi.

Cheol Hee : Untungnya, kita berpikiran sama. Kudengar pengemudinya mabuk. Apa kecelakaan itu kebetulan?

Je Kook : Berpikirlah sesuai kemauanmu.


Cheol Hee kemudian tertawa.

Cheol Hee : Kuharap kau akan lebih mencintai MC mulai sekarang daripada aku. Kau suka lantai berapa?


Je Kook : Aku akan menggunakan lantai yang sama sepertimu, Pimpinan Mo.


Di meja Wang Pyo, papan nama mulai berubah. Dari yang tadinya CEO Mo Wang Pyo menjadi CEO Mo Cheol Hee.


Besok paginya, Je Kook datang ke kantor TOP bersama Cheol Hee.

Mereka sama2 menuju ke lantai 40.


Setibanya di lantai 40, Cheol Hee membukakan pintu sebuah ruangan untuk Je Kook.

Je Kook pun masuk dan melihat-lihat ruangan itu.

Cheol Hee kemudian pergi.


Je Kook mulai duduk di depan mejanya.

Di meja, terlihat papan nama bertuliskan, "Direktur Han".

Narasi pun kembali terdengar.

"Komandan MC Grup, pencipta raja, diawali seperti itu, dengan pengkhianatan.


Kembali ke cerita Seok Hee yang mengajak Yoon Do ke hotel. Seok Hee menyetir gila-gilaan. Yoon Do yang duduk di sebelah Seok Hee, tegang.

Yoon Do : A-apa...Ada apa denganmu? Hei, hei! Ada mobil di depanmu! Itu lampu merah!  Berhenti, berhenti, berhenti!

Yoon Do terus berteriak ketakutan sepanjang Seok Hee menyetir.


Mereka kemudian tiba di 'Hotel Denhill'. Seok Hee langsung turun dari mobil sementara Yoon Do sedang menenangkan diri, masih syok karena Seok Hee ngebut tadi.

Seok Hee lantas mengetuk kaca mobil, menyuruh Yeon Doo turun.


Petugas resepsionis tersenyum menggoda sambil menatap Seok Hee dan Yoon Do. Ia salah faham, mengira Seok Hee dan Yoon Do memesan kamar untuk wik-wik.

"Selamat bersenang-senang." ucap si petugas,, lalu memberikan kunci kamar Seok Hee.


Seok Hee mengambil kuncinya dan berjalan menuju lift. Yoon Do pun meminta si petugas resepsionis tidak berpikiran macam-macam. Tapi petugas itu terus saja tersenyum dan tidak percaya omongan Yoon Do kalau mereka mesan kamar bukan untuk melakukan sesuatu seperti yang ada di dalam fikirannya.


Yoon Do mau ikut masuk ke lift, tapi dihentikan Seok Hee.

Seok Hee memberikan kartu kreditnya ke Yoon Do dan menyuruh Yoon Do membelikannya pakaian dalam untuk berganti.

Yoon Do kaget, apa?

Seok Hee : Cepat!

Yoon Do mengambil kartu kredit Seok Hee.

Seok Hee : Pintu ditutup.

Yoon Do mau protes, tapi pintu lift sudah keburu tertutup.


Terpaksa lah Yoon Do pergi ke toko yang menjual pakaian dalam wanita. Tapi si ajumma penjual malah mencecarnya dengan beberapa pertanyaan dengan wajah antusias.

"Jadi, sudah berapa lama kalian saling kenal?"

"Aku tidak yakin sudah berapa lama. Sudah sekitar satu bulan."

"Apa dia cantik? Bagaimana dengan tubuhnya?"

"Ya. Dia memang cantik, tapi temperamennya buruk. Tapi kenapa kau bertanya?"

"Aku perlu tahu gayanya untuk menyarankan sesuatu. Aku bukan orang yang hanya menjual barang! Aku seorang profesional  yang menjual pakaian dalam selama 20 tahun."


"Kami tidak seperti itu. Beri aku apa saja. Yang cocok dipakai gadis jahat dengan temperamen buruk."

"Kurasa tipe idealmu adalah gadis nakal! Kalau begitu..."

Si ajumma penjual lantas menunjukkan sebuah bra.

"Ini luar biasa, bukan?

"Kurasa kau memang profesional selama 20 tahun."


Yoon Do lantas masuk ke kamar hotel dan meletakkan pesanan Seok Hee di atas meja.


Yoon Do lalu menunggu Seok Hee di depan mobil. Tak lama, Seok Hee datang dan Yoon Do langsung membukakan pintu mobil untuknya.

Si petugas resepsionis ikut mengantarkan mereka. Dia yang masih salah faham, terus tersenyum ke arah mereka.

Gantian Yoon Do yang menyetir.

Seok Hee lalu menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum kepada si petugas resepsionis sambil melambaikan tangannya.


Yoon Do : Sudah berapa lama kau tidak mandi?

Seok Hee : Aku tidak mandi sejak masuk penjara.

Yoon Do : Kau bisa menggunakan kamar mandi bersama.

Seok Hee : Aku tidak bisa mandi bercampur dengan orang lain. Ditambah lagi, di sana hanya ada air dingin. Aku lebih memilih untuk tidak mandi.

Yoon Do : Jadi, kau lebih suka bau dan  mengganggu orang lain?

Seok Hee : Aku lah orang yang  pernah masuk penjara. Kau belum pernah ke sana, jadi, diam saja.

Seok Hee memelototi Yoon Do.

Yoon Do : Kau selalu bisa membalikkan apa pun.

Seok Hee : Melihat bagaimana aku dibebaskan, kau pasti memiliki bukti kuat  yang bahkan tidak bisa Jaksa Joo sangkal. Bagaimana kau menemukannya?

Yoon Do: Tak ada komentar.


Telepon mobil Yoon Do lantas berdering.

Telepon dari Je Kook, yang marah2 dan menyuruh Yoon Do segera ke kantor.

Seok Hee : Direktur Han pasti sangat kesal karena semua berjalan tidak sesuai rencananya.

Yoon Do : Aku mungkin kehilangan pekerjaanku.

Seok Hee : Seharusnya aku tetap di penjara, tapi kau mengeluarkanku tanpa izin darinya. Jadi TOP akan berusaha mengusirmu pergi. Maafkan aku.

Yoon Do : Aku tidak tahu kalau kau tahu caranya meminta maaf.

Seok Hee : Turunkan aku di rumah sakit.


Begitu sampai di kantor, Je Kook langsung memecat Yoon Do. Je Kook lantas tanya, apa ada yang mau Yeon Do katakan?

Yoon Do : Aku tidak bisa menerimanya.

Je Kook : Sungguh? Kenapa?

Yoon Do : Sebagai pengacara, aku percaya  bahwa siapa pun yang tidak bersalah seharusnya tidak masuk penjara,  bukan hanya berlaku pada Nona Mo Seok Hee. Dan aku hanya bertindak  berdasarkan apa yang aku yakini.

Je Kook : Begitukah? Kenapa kau menjadi pengacara?

Yoon Do terkejut dengan pertanyaan Je Kook. Tapi kemudian ia menjelaskan alasan kenapa ia menjadi pengacara. Tentu saja bukan alasan yang sebenarnya. Yoon Do bilang, itu karena ayahnya pernah ditipu pemilik toko dan agen real estate sebelumnya, sampai diusir dan kehilangan depositnya.

Yoon Do : Aku merasa sangat marah ketika itu terjadi.


Je Kook : Jadi kau menjadi pengacara untuk melawan ketidakadilan? Kau seorang idealis.

Yoon Do, apa? Kami hampir menjadi tunawisma. Setelah itu, untuk menghindari menjadi korban  ketidakadilan lagi dan hidup bahagia, maka aku ingin menjadi pengacara,  jadi, aku bukan seorang idealis.

Je Kook : Kau benar. Tapi pengacara yang idealis tidak punya tempat di dunia ini. Ada tiga cara pengacara bisa  memecahkan masalah. Cara yang baik. Cara yang buruk. Dan cara TOP. Kau pengacara atau karyawan TOP?

Yoon Do : Aku pengacara di TOP.

Je Kook : Karyawan TOP harus mengikuti aturan TOP. TOP memutuskan untuk meninggalkan Nona Mo Seok Hee.

Yoon Do : Aku mungkin seorang karyawan TOP, tapi aku tidak ingin dipecat sebagai pengacara Nona Seok Hee. Karena aku tidak idealis. Aku tidak tahu apakah aku harus setia kepada Nona Seok Hee  atau TOP terlebih dahulu. Posisiku agak tidak jelas.

Je Kook : Kau benar. Kau bekerja dengan baik untuk mengeluarkan Nona Seok Hee. Aku akan membatalkan pemecatanmu. Posisimu yang genting secara alami  akan menjadi lebih jelas seiring waktu. Sampai kau diberi perintah, tolong terus bantu Nona Seok Hee dengan baik.


Sontak, keputusan Je Kook membatalkan pemecetan Yoon Do, membuat Kyung A, Pak Yoon, Joo Young dan Pak Kwon kaget.

Kyung A : Bukankah ini pengecualian? Rencana kita mungkin terpengaruh karena Nona Seok Hee dibebaskan.

Pak Kwon : Jika kita tidak mengambil keuntungan terlebih dahulu, ini mungkin terjadi lagi.

Je Kook : Pengacara Heo membuktikan bahwa Nona Seok Hee tidak bersalah. Berkat dia,  kita bisa mengatasi Jaksa Joo. Bukankah TOP terbuka bagi orang yang cukup kompeten?

Je Kook menyuruh karyawannya kembali bekerja dan beranjak pergi.


Seok Hee bersama Pengacara Yoon dan juga Bu Jung di ruangan kakek nya. Bu Jung duduk di sofa, sedang membaca buku.

Sementara Seok Hee dan Pengacara Yoon duduk disamping Wang Pyo.

Pengacara Yoon : Nona Seok Hee, jangan pernah pergi keluar sekarang. Kita tidak tahu apa lagi yang mungkin terjadi.

Seok Hee : Jangan terlalu khawatir. Aku sudah kembali. Apa kondisi kakekku masih sama?

Bu Jung : Kondisinya telah membaik selama beberapa hari terakhir.

Seok Hee lantas menyuruh Bu Jung keluar sebentar.

Bu Jung mengerti dan langsung keluar.


Tak lama setelah Bu Jung keluar, ponsel Seok Hee berdering. Telepon dai Yoon Do.

Seok Hee : Apa yang terjadi? Bagus untukmu. Kututup teleponnya sekarang.

Seok Hee kemudian tersenyum senang setelah menutup teleponnya.


Pengacara Yoon : Siapa itu?

Seok Hee : Bukan siapa-siapa.

Pengacara Yoon : Nona Mo, sulit untuk segera menjual tanahnya. Jadi, untuk memperoleh uang tunai, aku menghubungi rentenir wanita dari Samcheong-dong. Tapi, dia seorang wanita yang pemilih.

Seok Hee : Aku akan menemuinya.

Pengacara Yoon : Kau mau menemuinya?

Seok Hee : Ya, jika perlu, aku akan menemui siapa pun.

Pengacara Yoon : Maka, aku akan mengatur pertemuan untukmu secepatnya.

Seok Hee : Baik.


Je Kook langsung pergi ke kediaman MC, menemui Cheol Hee. Cheol Hee tanya, apa tindakan Je Kook mengenai Menteri Pertahanan, Infrastruktur dan Transportasi.

Je Kook : Aku akan pastikan dia tidak terpilih kembali.

Cheol Hee : Sungguh?

Je Kook : Setelah menteri baru terpilih, akan dibutuhkan waktu untuk menunjuk Ruang Terbuka Hijau. Tapi kami sudah menyebarkan desas-desus  tentang penunjukan Ruang Terbuka Hijau di pasar real estat sehingga akan sulit bagi pihak lain  untuk menjual tanah mereka. Kita juga membeli saham dalam distribusi dengan strategi dua jalur.

Cheol Hee : Baiklah.


Young Seo kemudian datang dan marah2.

Young Seo : Direktur Han, apa kau berkencan belakangan ini? Siapa yang membebaskan Seok Hee dan kenapa!


Cheol Hee kaget, Seok Hee bebas?

Je Kook : Aku hendak melaporkannya.

Je Kook lalu tanya, darimana Young Seo tahu.

Young Seo : Menurutmu siapa lagi? Bu Jung bilang Seok Hee ada di rumah sakit sekarang!

Cheol Hee : Apa yang terjadi? Bukankah katamu kau akan membuatnya ditahan lebih lama?

Je Kook : Pengacara Heo, pengacara Nona Seok Hee, membuktikan dia tidak bersalah.

Young Seo : TOP adalah kerajaanmu! Tapi seorang pemula membuat langkah  seperti itu tanpa seizinmu? Aku bingung karena ini sangat konyol! Kau menyebut itu alasan? Pecat pemula itu sekarang!

Je Kook : Kau tidak berhak ikut campur dalam urusan personel TOP! Hanya aku yang bisa memutuskan siapa yang harus dipecat!


Cheol Hee : Direktur Han benar. Berhentilah berbicara tentang siapa yang dipecat di TOP dan diamlah!

Young Seo : Yeobo!

Cheol Hee : Kau! Jangan pernah berpikir untuk menyentuh Seok Hee! Terlepas dari segalanya, Seok Hee adalah putriku! Biarkan TOP yang berurusan dengan Seok Hee.


Kesal, Young Seo beranjak pergi tapi sampai diluar, ia memergoki seorang pelayannya sedang bermain ponsel.

Young Seo langsung mengambil ponsel pelayannya.

Young Seoo : Apa ini? Sudah kubilang, tidak boleh membawa ponsel pribadi ke rumah. Kau mau dipecat?

"Maafkan aku, Nyonya. Aku sedang menunggu panggilan mendesak dari rumah."

"Kau akan merekam dan memotret kami lalu menjualnya kepada pers? Beraninya kau melakukan hal seperti itu?"

Young Seo kemudian membanting ponsel si pelayan, lalu menginjak-injaknya.

Je Kook lalu datang dan menghentikan Young Seo. Je Kook lalu menyuruh kedua pelayan pergi.


Je Kook lalu memegang bahu Young Seo dan meminta Young Seo menarik napas dalam-dalam.

Je Kook : Kenapa menyentuh rumput liar di taman dan mengotori tanganmu? Kami akan menyingkirkan semuanya untukmu.

Je Kook beranjak pergi.


Young Seo menatap kepergian Je Kook dengan kesal.

Young Seo : Jalang sombong itu...


Boo Ki bicara di telepon dengan seseorang. Dari pembicaraanya, sepertinya dia sedang berbicara dengan Gwang Mi. Dia sedang membujuk Gwang Mi.

Boo Ki : Aku menugaskanmu untuk memotret Mo Seok Hee secara eksklusif. Meskipun orang mudah melanggar janji, tapi aku tidak sembrono begitu. Aku pria yang memegang kata-kataku.

Gwang Mi : Aku masih mengerjakannya jadi tunggu saja.

Boo Ki : Aku akan marah sekarang. Kututup teleponnya.


Boo Ki mendengus kesal, astaga, Oh Gwang Mi, kau nakal...


Sekarang,, Gwang Mi sudah kembali ke kantor. Boo Ki membelikannya makanan dan menyuruh dia makan.

Gwang Mi : Kau tidak memesan mi kacang hitam hari ini? Ada apa dengnmu?  Kurasa sesuatu yang baik  terjadi padamu hari ini.

Boo Ki : Selamat untukmu.

Gwang Mi: Apa?

Boo Ki : Menurutmu bagaimana Mo Seok Hee bisa keluar?

Gwang Mi : Dia adalah bagian dari MC Grup, jadi aku yakin mereka melakukan sesuatu.

Boo Ki : Kau menjadi reporter sejati, Gwang Mi. Kau bahkan membuat salinan investigasimu di belakangku.


Gwang Mi : Daging babi asam manis ini sangat lezat! Sangat renyah! Mungkin itu karena kau  memberikannya kepadaku sebagai hadiah?

Gwang Mi mengambil daging babinya, kemudian mencelupknya ke saos dan memakannya.

Boo Ki : Apa yang kau lakukan?

Gwang Mi : Kau harus mencelupkan dan memakannya.

Boo Ki : Beraninya kau! Kau seharusnya menuangkan saus dan memakannya!   Jangan main-main dengan ini!

Gwang Mi : Kita harus mencelupkannya.

Boo Ki : Ada kebiasaan dan tradisi untuk makanan juga! Sudah adatnya menuangkan saus dan kemudian memakannya! Sudah kubilang jangan mengacaukannya!

Gwang Mi : Apa kau pria tua? Kubilang, celupkan!

Boo Ki : Pria tua? Baiklah kalau begitu. Jangan menuangkan atau mencelupkan. Minumlah. Makan dan minum. Makan lalu minum sausnya. Enak.


Gwang Mi : Sungguh?

Boo Ki : Coba lah.

Gwang Mi : Haruskah aku minum dulu kemudian kumakan?

Boo Ki : Makan.

Gwang Mi lalu memakan daging babinya, kemudian meminum sausnya.

Gwang Mi : Tidak buruk.

Boo Ki dan Gwang Mi lalu melakukan 'high five' ala mereka lagi. Ya, mereka baikan.


Seok Hee pulang dan menghampiri Wan Soo yang lagi baca naskah sambil minum. Seok Hee menegur Wan Soo, kemudian mendekatinya dan duduk di sebelahnya.

Seok Hee : Bagaimana kau bisa membaca naskah sambil minum?

Wan Soo : Kudengar kau masuk penjara. Kapan kau keluar?

Seok Hee : Hari ini.

Wan Soo : Aku bermaksud untuk mengunjungimu, tapi kau keluar terlalu cepat.


Seok Hee : Kau sungguh akan berkunjung?

Wan Soo : Tentu saja. Aku mau membawa daging sapi Korea, kesukaanmu.

Seok Hee : Kau tidak boleh membawa makanan dari luar.

Wan Soo : Sungguh? Terakhir kali, putra bungsu  CEO Choopoongu Construction, dia dipenjara juga. Kudengar dia bisa memanggang sirloin di selnya. Hei, kau juga kaya. Kenapa kau tidak bisa?


Seok Hee : Mungkin, karena aku bukan orang penting. Omong-omong, Kak Wan Soo, apa sutradara film menggunakan dua ponsel sekaligus?

Wan Soo : Dulu aku memakai beberapa.

Seok Hee : Sekarang tidak lagi?

Wan Soo : Tidak. Kenapa? Kau butuh ponsel ekstra?

Seok Hee : Tidak. Semoga filmmu sukses. Semoga mendapatkan satu juta pemirsa!


Seok Hee beranjak pergi.

Begitu Seok Hee, wajah Wan Soo langsung berubah dingin (why?)


Yoon Do membantu ayahnya membawa meja dari luar ke dalam, lantaran mereka sudah mau tutup. Sambil membawa meja, Yoon Do sesekali memeriksa ponselnya.

Pak Heo yang melihat itu tanya, apa Yoon Do sedang menunggu telepon dari seseorang?

Yoon Do : Tidak.

Pak Heo : Kau bertingkah seperti anak anjing sembelit dan menatap ponselmu sejak tadi.


Yoon Do : Begini, Ayah. Aku mengeluarkan seseorang dari tahanan, bukankah seharusnya orang itu berterima kasih kepadaku?

Pak Heo : Tentu saja! Hei, jika itu aku, aku akan menggendongmu selama tiga hari.

Yoon Do : Benar, kan? Aku tidak berlebihan, bukan?

Pak Heo : Tentu saja! Apa ada yang mengabaikanmu?

Yoon Do : Itu hanya seseorang.

Pak Heo : Kau tidak seharusnya berteman dengan orang berengsek begitu.


Yoon Do kembali memeriksa ponselnya dan ia kesal karena Seok Hee tidak juga mengiriminya pesan ucapan terima kasih.


Seok Hee duduk di ranjangnya dan bertanaya-tanya siapa yang mengiriminya pesan teks itu.

Lalu tak lama, ia mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan ucapan terima kasih, tapi kemudian ia menghapusnya lagi dan batal mengirim ke Yoon Do.


Seok Hee lantas berbaring. Lalu ia menatap paper bag hijau yang diberikan Yoon Do padanya tadi.

Seok Hee tersenyum.

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment