Saturday, February 15, 2020

Selection : The War Between Women Ep 15 Part 2

Sebelumnya...


Kepala Cenayang menemui Wangdaebi. Kepala Cenayang menjelaskan, seperti yang dikatakan Kyung, bahwa generasi berikutnya tidak akan hancur.

Kepala Cenayang : Memang benar bahwa Kuil Saman Kerajaan menyampaikan ramalan itu 20 tahun yang lalu, tapi... terserah pada cenayang saat ini untuk menafsirkan artinya.

Wangdaebi tidak percaya.

Wangdaebi : Kau mungkin bisa berbohong padaku lagi untuk menyelamatkan hidupmu. Bagaimana aku bisa mempercayaimu?

Kepala Cenayang : Aku prihatin tentang masa depan Kuil Saman Kerajaan dan memberitahu pada anda bahwa dia Ratu yang dibangkitkan dan aku pantas mati untuk itu. Tapi kali ini aku tidak akan berbohong. Aku dapat memberitahu anda bahwa dengan menempatkan hidupku, aku telah hidup dengan sebutan sebagai Cenayang.


Di kamarnya, Eun Bo memasukkan surat yang sudah selesai ditulisnya ke dalam amplop.

Tapi Kyung tiba2 datang. Eun Bo kaget. la langsung berdiri dan meletakkan amplopnya di meja.

Eun Bo : Yang Mulia, apa yang membawamu...

Kyung : Mari kita bersama sampai malam tiba. Aku ingin menjadi seorang pria, bukan Raja, hanya untuk sehari. Aku ingin menjadi pria milikmu. Jadi jika kau akan menyuruhku padaku untuk pergi...

Eun Bo : Tidak. Aku tidak akan melakukan itu. Tolong jangan pergi. Tetaplah di sisiku.


Kyung lalu melirik surat di atas meja.

Kyung : Apa yang sedang kau lakukan?

Eun Bo melirik suratnya, ah... ini bukan apa-apa.

Eun Bo bergegas menyimpan suratnya dibalik bantal.


Kyung mendekati Eun Bo.

Kyung : Apa yang kau sembunyikan dariku?

Eun Bo gelagapan : Itu bukan apa-apa. Itu tidak penting, Yang Mulia. Nanti ...

Kyung : Nanti?


Kyung mau mengambil surat itu, tapi dia malah jatuh menindih Eun Bo. Eun Bo terkejut.

Kyung : Apakah kau akan menendangku dan berlari kali ini juga?

Eun Bo bingung, ya?

Kyung : Seperti yang kau lakukan, malam itu di istana pemakaman kerajaan?

Flashback....


Ketika Eun Bo sedang mencari peluru di sekitaran kepala Kyung, Kyung siuman. Kyung pun kaget melihat Eun Bo dan langsung menindihnya. Saat Kyung mau membuka masker Eun Bo, Eun Bo mendorongnya hingga ia jatuh. Eun Bo pun bergegas melarikan diri.

Flashback end...


Eun Bo tersenyum teringat itu.

Kyung : Aku selalu ingin tahu. Soal mengapa aku bisa dibangkitkan hari itu dan mengapa aku mulai bermimpi tentangmu. Kau menghidupkan aku kembali. Jadi aku bisa menyelamatkanmu seperti yang aku janjikan di bawah matahari, bulan, dan bintang-bintang saat masih bocah dulu.


Kyung lalu memegang pipi Eun Bo. Eun Bo bahagia.

Kyung : Kita ditakdirkan untuk bersama. Jadi ini jelas bukanlah akhir.


Kyung kemudian memegang tangan Eun Bo.

Kyung : Ketika situasi rumit diselesaikan, aku akan memastikan untuk mendapatkanmu kembali. Aku belum berani berharap akan hal itu. Aku ingin kau berharap hanya untuk kita, untuk bersama mulai sekarang.


Kyung lalu mengeluarkan pisau saku perak dari dalam kantong yang dibawanya.

Eun Bo : Apakah ini pisau saku perak?

Kyung : Aku ingin kau melindungi dirimu sampai kita bertemu lagi. Aku tidak ingin kau dalam bahaya saat kau pergi.

Kyung memberikan pisaunya ke Eun Bo.

Kyung : Juga....


Kyung mengeluarkan sepasang cincin giok dari dalam kantong itu.

Kyung : Aku ingin kita memiliki simbol untuk mengingatkan kita bahwa kita terhubung. Meskipun kita akan terpisah sebentar, itu akan terasa seperti halnya kita berbagi di setiap saat karena hal ini.

Kyung menyematkan cincin itu ke jari Eun Bo.

Setelah itu, gantian Eun Bo yang menyematkan cincin itu ke jari Kyung.


Besoknya, orang2 Jae Hwa mulai menyamar sebagai tentara Direktorat Lima.

Mereka mendatangi kediaman keluarga Kim yang dijaga ketat petugas istana.

Pengawal Jae Hwa menunjukkan lencana resmi tentara Direktorat Lima.

Pengawal Jae Hwa : Aku dari istana kerajaan. Kami disuruh pindah shift setengah jam sebelumnya.

"Apakah sudah saatnya Direktorat Lima Pengawal mengambil alih? Kami tidak punya masalah dengan hal itu. Kalau begitu berjagalah." petugas istana pun pergi.


Orang2 Jae Hwa mulai berjaga di depan kediaman Kim.

Tepat saat itu, Jae Hwa datang dan ia masuk ke dalam kediaman keluarga Kim.


Hong Sik duduk di beranda rumahnya.

Ia bertanya-tanya, apakah itu mimpi atau kenyataan.

"Ini tidak mungkin akhir, kan, tuan? Kita adalah keluarga Kim!" ucap pengawalnya.


Mendengarnya, Hong Sik berdiri dan marah.

"Itulah yang aku katakan. Itu yang harus aku katakan! Kita bukanlah sembarang orang! Bagaimana bisa keluarga hancur dalam sedetik seperti ini!" ucap Hong Sik.


Hong Sik kemudian dikejutkan dengan kedatangan Jae Hwa. Jae Hwa datang bersama pengawalnya.


Man Chan kaget mendengar dari Hyung Chan, bahwa Daebi diusir dari istana.

Hyung Chan berkata, bahwa Kyung sudah kehilangan akal sehat.

Hyung Chan : Jika tidak, bagaimana dia bisa melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan? Dia adalah ibunya sendiri! Jika itu terjadi pada ibu suri, lalu apa yang akan kita lakukan, Hyungnim?


Hong Sik masuk, sambil teriak.

Hong Sik : Ayah!

Man Chan kesal, berandal ini....!

Hong Sik masuk, bersama Jae Hwa.

Man Chan dan Hyung Chan kaget melihat Jae Hwa.


Man Chan : Pangeran.

Hyung Chan berdiri.

Jae Hwa : Kupikir kau dikejar karena pengkhianatan tingkat tinggi...

Man Chan gugup.

Jae Hwa : Jangan terlalu gugup. Aku di sini hanya untuk memberikan saran.

Hyung Chan : Sebuah saran?


Jae Hwa pun duduk dan menjelaskan alasan kedatangannya.

Hyung Chan dan Hong Sik duduk di belakang Jae Hwa, mendengarkan.

Jae Hwa : Kau bukanlah seseorang yang mundur dengan tenang seperti ini. Aku sedang memikirkan untuk memberimu pilihan lain. Kau pasti ingat kakekku. Dia dicap sebagai pengkhianat karena dia dijebak telah merencanakan konspirasi. Tapi sebagai cucunya, aku tidak akan hanya diingat sebagai pengkhianat.

Man Chan kaget, jangan bilang...

Jae Hwa : Aku sedang berpikir untuk menurunkan raja. Maukah kau bergabung denganku dalam memulai dunia baru? Kau harus tahu itu, ini adalah opsi terbaik yang kau miliki saat ini.

Man Chan berpikir sejenak, lalu berikutnya, ia tanya kapan Jae Hwa berencana melakukan itu.


Hong Sik : Ayah!

Hyung Chan : Hyungnim!

Jae Hwa tersenyum, besok malam.

Man Chan : Secepat itu?

Jae Hwa : Semakin cepat semakin baik untuk hal-hal seperti ini. Jika tertunda, lebih mungkin bagi kau untuk tertangkap.

Man Chan : Kalau begitu, apa yang anda ingin aku lakukan?


Heung Gyeon memuji ide Young Ji memanfaatkan Song Yi.

Heung Gyeon : Tunggu saja sebentar lagi. Setelah rencana ini berhasil, kehormatan kita akan dipulihkan.

Young Ji berkata, bahwa ia tak menginginkan hal-hal seperti kehormatan.

Young ji : Tolong buat wanita itu terbunuh di depanku.

Heung Gyeon diam, ia paham sakit hati putrinya.


Jae Hwa datang. Heung Gyeon langsung tanya hasilnya.

Jae Hwa : Tuan Kim Man Chan memutuskan untuk bergabung dengan kita. Selir Kim akan menerima surat malam ini dan kita akan segera pergi setelah kita mendengar bahwa mereka telah menculik wanita itu.


Young Ji : Dia akan berakhir besok.

Young Ji mengatakan itu dengan mata penuh dendam.


Man Chan memberikan surat untuk Song Yi pada pengawalnya.

Man Chan : Beri tahu Selir Kim dengan hati-hati agar Ibu Suri tidak mengetahuinya.

Pengawal Man Chan mengerti dan langsung pergi.


Hyung Chan : Hyungnim, apakah kau benar-benar berencana untuk melengserkan raja dengan sang pangeran?

Man Chan : Kenapa aku tidak bisa?


Hong Sik : Bagaimana dengan Ibu Suri?

Man Chan : Dia masih tetaplah ibunya. Dia tidak akan bergabung dengan kita untuk menyingkirkan Raja. Menjaga kerahasiaannya. Kita harus menemukan cara untuk bertahan hidup.


Salah satu pengawal istana membawa pelayan keluar.

Mereka menemui pengawal Man Chan. Pengawal Man Chan memberikan kantong uang padanya. Segera setelah mendapat uangnya, ia langsung pergi.

Pengawal Man Chan lalu memberikan surat titipan Man Chan ke si pelayan.


Si pelayan langsung memberikan surat itu pada Song Yi.

Song Yi : Paman mengirimiku ini?

Pelayan : Ya, Yang Mulia.


Song Yi membacanya. Ia kaget dan bingung.


Kyung tiduran di pangkuan Eun Bo.

Kyung lalu meletakkan tangan Eun Bo ke dadanya.

Eun Bo : Ini sudah larut malam, Yang Mulia.


Kyung pun bangun dan duduk menghadap Eun Bo.

Eun Bo : Tolong jangan melihat aku pergi besok. Aku akan pergi dengan senyum di wajahku. Karena aku akan berbagi setiap saat dalam hidupku bersamamu sekarang.


Kyung lantas memegang wajah Eun Bo. Kemudian, mereka berciuman.


Sekarang, Kyung sudah berada di depan istana Eun Bo.


Kyung teringat kata2 Eun Bo, bahwa Eun Bo hanya akan mencintainya seumur hidup.


Lalu ia ingat kata2nya saat tidur bersama Eun Bo.

Kyung : Aku mencintaimu. Selamanya.


Eun Bo menatap cincin dari Kyung.


Tangis Kyung menyeruak keluar.

Begitu juga dengan Eun Bo.


Paginya, anak buah Jae Hwa sudah bersiap.


Jae Hwa pun juga sudah siap.


Jae Hwa lalu teringat kata2 Kyung padanya.

Kyung : Karena dia adalah wanitaku. Dia adalah wanitaku sejak awal.


Lalu ia ingat kata2 Eun Bo kepadanya.

Eun Bo : Aku akan hidup sendiri atau menjadi selirnya. Sekarang, aku wanita Raja.


Terakhir, ia ingat kata2 Ja Yong kepadanya.

Ja Yong : Sejak aku bertemu denganmu sejak dulu, aku hanya punya satu Tuan.


Itu membuat Jae Hwa semakin marah.

Bersambung ke part 3.....

No comments:

Post a Comment