The Game : Towards Zero Ep 10 Part 1

Sebelumnya...


Di episode 10 ini gaes,, kita masih disuguhkan dengan cerita masa kecil Do Kyung yang sangat menyayat hati..... Entah sy lebay atau bagaimana, tapi tangis sy pecah sih nonton episode 10 ini....

Do Kyung dan ibunya bersembunyi di dalam kedai.

Sementara diluar, masyarakat termasuk ayahnya Min Ah, menggedor-gedor pintu, menyuruh mereka keluar.

Ibu Do Kyung ketakutan.

Do Kyung yang sudah tidak tahan lagi, berniat keluar tapi dicegah ibunya.

"Jangan pergi ke sana. Jangan. Biar ibu saja. Kau tetap di sini. Jangan keluar."


Sang ibu lantas melangkah ke pintu.

Begitu ia membuka pintu, ia langsung disiram dengan seember darah oleh ayah Min Ah.

Orang2 mengutuk mereka dan menuduh mereka tahu perbuatan jahat Jo Pil Doo.

Orang2 itu tidak yakin, kalau Do Kyung dan ibunya tak tahu Jo Pil Doo membunuh para gadis muda.


Melihat ibunya diperlakukan seperti itu, Do Kyung keluar dan marah.

Do Kyung : Kami tidak tahu!

"Ada apa dengannya?
"Ayah dan anak sama saja. Kau juga tahu, bukan? Kalian berdua tahu!Kenapa kau membiarkannya? Kau sudah tahu! Dia membunuh tujuh gadis! Bagaimana kau bisa tidak tahu!"

Do Kyung dan ibunya dipukuli orang2 itu.


Dari kejauhan, Joon Hee memotret mereka yang dipukuli orang2.


Usai kejadian itu, pasangan suami istri pemilik kedai datang.

Yang suami membersihkan bekas darah di depan kedai mereka. Sementara si istri marah2.

"Astaga, apa ini! Bagaimana jika mereka masuk ke rumah kita setelah ke restoran!"

"Mereka tidak punya tempat tujuan. Apa yang bisa kulakukan?"

"Kau bangga menjadi kerabat pembunuh! Astaga. Suruh mereka pergi!  Kita juga korban!"

Ternyata pria itu adalah kerabat Jo Pil Doo.


Do Kyung yang duduk di dalam, hanya bisa tertunduk sedih. Sementara ibunya yang sedang mencuci tangan, juga hanya diam mendengar omongan saudara iparnya.


Do Kyung dan ibunya kemudian pergi.

Do Kyung duduk sendirian di terminal, hingga ibunya datang membawakannya beberapa roti dan susu.

Lalu sang ibu berkata, bahwa ia harus ke toilet dan menyuruh Do Kyung menyimpan roti dan susu itu baik2.


Ibu Do Kyung melangkah pergi,, tapi kemudian ia berbalik dan menatap sedih Do Kyung.


Setelah ibunya pergi, Do Kyung melihat roti2 dan susu yang diberikan ibunya. Tak lama, ia menemukan gulungan uang disana.


Do Kyung yang menyadari sesuatu, bergegas mencari ibunya.

Hujan lebat mulai turun.

Do Kyung melihat ibunya sudah berada di dalam bus tujuan Onyang.

Sang ibu pun melihatnya.

Do Kyung langsung mengejar bus yang membawa ibunya, tapi gagal.


Sang ibu menangis di dalam bus.

Di dalam terminal, Do Kyung melahap roti pemberian ibunya seperti orang kelaparan.


Paginya, seorang pria berseragam polisi tanya pada rekannya, apa sudah menghubungi wali Do Kyung?

"Apa dia ditelantarkan? Tidak ada yang pernah menelepon." jawab rekannya.

Mereka melihat Do Kyung yang tidur di kursi. Pria itu kemudian pergi.

Kamera menyorot tangan Do Kyung yang menggenggam erat plastik berisi roti, susu dan gulungan uang dari ibunya.


Do Kyung akhirnya dikirim ke Panti Asuhan Harapan.

Begitulah ceritanya bagaimana Do Kyung bisa berakhir di Panti Asuhan Harapan.


Do Kyung lalu bekerja, mencari uang untuk bertahan hidup.

Ia menjadi loper koran.

Salah satu koran yang diantarnya adalah Harian Hana.

Di halaman depan Harian Hana, tertulis tentang ayahnya yang dijatuhi hukuman mati dan ibunya  yang pergi meninggalkannya.


Tak itu saja, di Harian Hana berikutnya, tertulis berita tentang Joon Young yang dikirim ke panti asuhan setelah ayahnya tewas saat mengejar Jo Pil Doo.


Usai mengantar koran2 itu, Do Kyung mengepel lantai gereja.

Tak lama, suster yang membawanya pun datang, menghampirinya. Suster itu lalu terdiam melihat koran dengan judul Joon Young yang dikirm ke panti asuhan mereka yang tergeletak di bangku gereja.

"Hyun Woo-ya, kau sudah membacanya?"

Do Kyung diam saja.

"Aku tidak percaya ini terjadi. Akibat prosedur administratif, gadis itu tidak punya pilihan selain bermalam di sini. Aku tidak berusaha menyembunyikanmu, tapi seandainya reporter datang..."

"Aku akan baik-baik saja." jawab Do Kyung.


Suster lalu memberikan kunci rumahnya.

"Menginaplah di rumahku. Aku akan pergi setelah selesai."


Do Kyung lalu berkeliling panti dan berpapasan dengan Joon Young.

Joon Young tampak dituntun oleh suster lain dan berjalan bersama anak2 panti seusianya.

"Siapa namamu? Berapa usiamu?" tanya salah satu anak pada Joon Young.

Do Kyung berjalan melewati mereka.

"Namaku Joon Young. Usiaku 10 tahun."

Sontak, Do Kyung langsung berhenti melangkah dan berbalik memandangi Joon Young.


Joon Young lalu berbicara dengan suster yang membawa Do Kyung, di dalam ruangan.

Do Kyung memandangi Joon Young dari luar jendela.

"Joon Young. Itu namamu, bukan?"

"Ya."

"Baiklah. Berapa usiamu?"

"Usiaku 10 tahun."

"Sepuluh? Astaga, kau gadis pintar. Kau terlihat sangat cantik."

"Terima kasih."

"Sama-sama. Makanlah. Makanlah sebanyak yang kau mau. Astaga, kau sangat pintar."


Joon Young lalu duduk sendirian di halaman panti sementara teman2nya asyik bermain.

Joon Hee datang dan memotret Joon Young diam-diam.

Joon Young sadar dipotret dan menoleh ke Joon Hee.

Joon Hee : Hai. Apa aku mengejutkanmu? Maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Namaku Joon Hee.


Joon Hee mendekati Joon Young dan kembali memotretnya.

Do Kyung tiba2 datang. Ia merampas kamera Joon Hee dan lari.

Joon Hee : Hei, Berandal!


Joon Hee bergegas mengejar Do Kyung.

Do Kyung membanting, bahkan menendang kamera Joon Hee.


Lalu Do Kyung menatap Joon Hee.

Do Kyung : Hentikan!

Joon Hee : Hentikan apa?

Do Kyung : Biarkan aku bernapas.

Joon Hee : Kau sangat egois. Kau ingin menjalani hidup santai? Begitukah? Ayahmu membunuh delapan gadis. Salah satunya seusia denganmu. Lalu gadis di belakang sana... ayahnya tewas saat mengejar ayahmu. Tulang rusuknya patah sembilan buah. Namun, kau ingin bernapas sedikit?


Do Kyung terdiam. Joon Hee mengambil kameranya dan beranjak pergi.

Joon Young kemudian datang, mendekati Do Kyung.

Joon Young :  Kau baik-baik saja?

Do Kyung tertegun menatap Joon Young karena teringat bahwa ayahnya yang membunuh ayah Joon Young.

Do Kyung : Ya.

Joon Young : Terima kasih.

Do Kyung : Sama-sama.

Joon Young : Siapa namamu?


Do Kyung lagi2 terdiam.

Joon Young : Ada apa?

Do Kyung : Aku tidak punya.

Joon Young : Kurasa kau juga tidak memilikinya. Ibu dan ayah. Orang tuaku juga tidak ada.

Do Kyung terdiam lagi.


Joon Young lalu memberikan Do Kyung permen, setelah itu ia membuka permen untuk dirinya sendiri.

Do Kyung menatap Joon Young yang asyik makan permen.

Joon Young kemudian tersenyum, menatap Do Kyung.

Joon Young : Ini enak. Cobalah.


Tae Pyeong dan Teacher Baek datang ke panti asuhan itu. Para suster langsung menyambutnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Teacher Baek pada suster yang membawa Do Kyung dan Joon Young.

"Ini semua berkatmu. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga baik-baik saja."


Suster itu kemudian duduk di dalam ruangannya bersama Tae Pyeong.

Ia melihat Tae Pyeong tampak sedikit takut.

Suster : Kau tampak agak takut. Ada apa? Ada yang ingin kau katakan?

Tae Pyeong : Anda pasti sakit keras.

Suster itu kaget, bagaimana kau tahu?

Tae Pyeong : Aku melihat anda meninggal di rumah sakit. Dia tidak memberi tahu anda?


Suster : Tidak. Dia mulai datang kemari setelah kehilangan penglihatannya, jadi, tidak bisa melihatku. Jadi, kau juga bisa melihat kematian.

Tae Pyeong : Ya.


Tae Pyeong lalu menoleh ke jendela. Tiga anak laki2 yang lebih besar darinya, tengah mengintipnya.

Bersambung ke part 2....

0 Comments:

Post a Comment