Jumat, 21 Oktober 2016

Fantastic Ep 13 Part 2

Sebelumnya...


So Hye berkata pada Mi Sun, bahwa ia merasa ada yang aneh pada Joon Gi. Mi Sun pun berkata, bahwa Joon Gi tampaknya benar2 baik. Mi Sun juga bilang bahwa Joon Gi memiliki senyuman pembunuh. So Hye tersenyum dan membenarkan ucapan Mi Sun. So Hye berkata, Joon Gi adalah orang yang sangat baik.

“Memikirkan tentang itu, ia tidak bisa berada dalam kondisi yang baik sepanjang waktu. Tapi dia selalu tersenyum. Aku selalu merengek dan mengerang. Aku selalu menerima banyak darinya.” Ucap So Hye.

“Kau pasti merasa aman memiliki dokter sepertinya. Kau harus memberinya hadiah kecil.” Jawab Mi Sun.


“Haruskah? Hadiah apa yang seharusnya kuberikan?” tanya So Hye.

“Apa dia menyukai sesuatu yang khusus?” tanya Mi Sun.

“Itu benar2 menunjukkan bahwa aku hanya menerima banyak darinya. Aku bahkan tidak sekali pun bertanya padanya.” Sesal So Hye.

“Itulah kenapa dia jadi dokter dan kau pasien.” Ucap Mi Sun.

“Kami saling memanggil belasan kali tapi aku bahkan tidak tahu ulang tahunnya kapan. Aku benar2 pasien yang buruk. Aku harus menulis surat permintaan maaf.” Sesal So Hye.

“Haruskah aku membuat kue?” tanya So Hye kemudian.

“Kenapa repot2, beli saja.” Jawab Mi Sun.

“Makanan yang dijual diluar, tidak baik untuk pasien. Aku akan membuatkan kue yang sehat.” Ucap So Hye.


Hae Sung yang baru tiba di rumahnya bersama Chang Suk mendapat panggilan dari Joon Gi. Sepertinya Joon Gi mengajak Hae Sung keluar, karena Hae Sung berkata jadwalnya kosong sampai malam. Sementara itu, Chang Suk tampak mencium sesuatu yang aneh.

“Bau apa ini?” tanya Chang Suk setelah Hae Sung selesai bicara di telepon.


Tampak asap mengepul dari dapur. So Hye berteriak, sambil membanting pinggan kuenya ke meja. Hae Sung dan Chang Suk buru2 mendekati So Hye. So Hye mengaku kalau ia sedang memanggang kue, tapi suhunya tidak bisa diatur karena yang dipanggangnya gandum hitam. Hae Sung dan Chang Suk panik.

“Kue? Kau membuat kue lagi?” tanya Hae Sung panic.

“Tapi ini buat Dokter Hong.” Jawab So Hye.

“Dokter Hong?” tanya Hae Sung.

“Jangan cemburu. Ini hadiah kecil untuk Dokter Hong.” Jawab So Hye.


Hae Sung dan Chang Suk langsung tertawa lega mendengar kue itu untuk Joon Gi. Tapi mereka langsung panik saat So Hye berkata akan membuatkan satu lagi untuk mereka. Chang Suk langsung berbohong dengan mengatakan kalau Hae Sung sedang menjalani program diet. So Hye pun berkata, kalau ia membuat kue tanpa tambahan gula dan memasukkan gandum hitam sebagai gantinya.

“Kau tidak memakai gula? Kau tidak menambahkan apapun?” ucap Chang Suk panik.

“Ayo kita tambahkan sesuatu di sana. Tidak masalah ditambahkan banyak gula.” Jawab Hae Sung.

Hae Sung dan Chang Suk buru2 menambahkan gula ke dalam kue yang hangus tadi. LOL LOL

“Tapi yang ini gagal, kan?” ucap So Hye.

Hae Sung dan Chang Suk pun bergegas memasukkan minyak biji perilla ke dalam adonan kue.


Lagi seru2nya dengan adegan Hae Sung dan Chang Suk yang panik karena harus memakan kue buatan So Hye lagi, kita dialihkan pada adegan Jin Tae yang mengamuk di kantornya. Ia melemparkan botol wine ke dinding. Semua itu karena foto2 Sang Wook yang membawa Seol ke hotel, ketika wajah Seol babak belur dipukuli sang ibu.


“Apa mereka masih bersama?” tanya Jin Tae.

“Sudah tidak.” Jawab Seketaris Yang.

“Dimana si brengsek ini sekarang?” tanya Jin Tae.


Sang Wook duduk termenung di depan supermarket sembari menunggu ramennya matang. Ingatan Sang Wook lantas melayang ke saat2 ia dan Seol makan ramen bersama. Sang Wook bertanya, siapa nama Seol. Tapi karena Seol tidak mau memberitahu namanya, jadi Sang Wook memanggilnya Noona. Seol lantas mengajak Sang Wook menjadi kakak dan adik.


Di rumah sakit, Seol yang juga sedang menikmati ramen teringat kenangannya bersama Sang Wook. Saat itu, Sang Wook menanyakan golongan darah Seol. Seol berkata, golongan darahnya O. Sang Wook girang dan mengaku golongan darahnya A. Sang Wook berkata, seseorang yang bergolongan darah O dan A akan menjadi teman yang klop.


Seol tersenyum teringat kebersamaannya dengan Sang Wook. Seol lalu mengingat kebersamaannya dengan Sang Wook yang lain.

“Jangan memikirkan hal yang tidak berguna dan belajarlah dengan keras.” Ucap Seol sambil mengelus kepala Sang Wook.

“Aku bukan pelajar!” jawab Sang Wook.

“Temukan gadis yang cantik dan berkencan lah.” Ucap Seok.


Seol kembali tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Sang Wook. Namun beberapa saat kemudian, wajah Seol berubah panik. Seol pun berseru bahwa ia meninggalkan sesuatu di sana.


Di kamarnya, Jin Tae menegak soju sambil membaca surat yang ditinggalkn Sang Wook di hotel untuk Seol.

Noona-ssi, kau tidur dengan baik? Aku tidak tahu ukuranmu… aku menunggumu di kafe depan hotel.


Jin Tae marah. Ia berteriak, kemudian melemparkan botol sojunya dan merobek2 surat dari Sang Wook. Jin Sook yang mendengar keributan buru2 masuk ke kamar adiknya. Jin Tae menatap sang kakak dengan tatapan murka. Jin Sook terkejut melihat kondisi Jin Tae.


Keesokan harinya, Jin Sook yang sedang bersantai bersama ibunya tampak memikirkan sesuatu. Sang ibu penasaran apa yang membuat Jin Tae banyak minum semalam. Jin Sook berkata, bahwa beberapa hari ini Jin Tae terus saja marah2.

“Dimana penyihir itu dan apa yang dia lakukan sekarang?” tanya sang ibu.

“Ibunya di rumah perawatan dan dia tinggal di tempat yang nyaman.” Jawab Jin Sook.

“Apakah dia memiliki simpanan rahasia diam2?” tanya Nyonya Kwak.


Tak lama kemudian, pelayan yang baru datang mengepel lantai rumah dengan tangkai pel. Melihat itu, Nyonya Kwak marah dan menegur si pelayan. Nyonya Kwak bilang, seharusnya si pelayan membersihkan lantai pakai kain lap karena lantai rumahnya lantai kayu.

“Kau ingin aku mengepel lantai menggunakan kain lap dan tanganku?” tanya si pelayan.

“Tentu saja. Kau pikir kau bisa mengambil uang kami setelah kau melakukan pekerjaan yang tidak benar?” jawab Nyonya Kwak.


“Siapa yang mau membersihkan rumah berlantai dua ini dengan cara itu demi uang itu? Tidak ada mesin cuci piring atau kain bersih di rumah sebesar ini!” protes si pelayan.

“Aku tidak tahan melihat ini. Kenapa kau meminta mesin pencuci piring ketika dua tangannmu masih berfungsi dengan normal?” jawab Nyonya Kwak.

Si pelayan marah dan membanting tangkai pel. Hahahhah… SKAT MAT!!

“Kenapa kau mempekerjakan seseorang jika kau memiliki tangan yang sehat?” protes si pelayan.

“Ahjumma, kenapa kau menjawabnya setiap waktu?” tegur Jin Sook.

“Kenapa kau bicara kasar padaku! Aku ini lebih tua darimu! Kau tidak tahan melihat ini?” ucap si pelayan marah.

Si pelayan lantas melepas celemeknya dan melempar celemeknya ke arah Jin Sook lalu beranjak pergi.


“Darimana kau mendapatkan orang seperti itu!” protes Nyonya Kwak.

“Cukup, Ibu! Mereka tidak mau bekerja di rumah kita!” ucap Jin Sook kesal.

“Tidak peduli kau memberinya uang atau permen, bahwa adik iparmu pulang kemari.” Suruh Nyonya Kwak.

Nyonya Kwak lalu ngedumel gara2 Seol memecahkan botol wine nya di sana sini dan angkat kaki dari rumahnya dengan santai.


Jin Sook ditemani Seketaris Yang pergi ke panti jompo ibu Seol. Di sana, ia mendapatkan informasi bahwa Seol membayar lunas biaya panti jompo untuk satu tahun di muka. Jin Sook lantas bertanya, apa Seol yang membayarnya sendiri. Tapi petugas menolak memberitahu.


Tak lama kemudian, Seol lewat sambil berbicara dengan seseorang via telepon. Seol langsung berubah kesal melihat kakak iparnya itu.


Jin Sook mengajak Seol bicara di taman. Jin Sook berkata bahwa ia tidak menyangka Seol akan seberani itu.

“Apa kau tahu berapa harga wine yang kau pecahkan? Ibuku bilang dia akan memaafkanmu karena kau masih menantunya. Pulanglah. Mereka bilang bahwa cinta itu lebih kuat dari benci.” Ucap Jin Sook.

Jin Sook lalu memberikan Seol sejumlah uang.

“Ini untuk biaya operasi ibumu. Kudengar kau juga membayar biaya panti jompo satu tahun di muka. Aku tidak tahu kau mendapatkan uang darimana, tapi bayar kembali dengan ini.” ucap Jin Sook.

“Aku tidak membutuhkan itu.” tolak Seol.

“Kau pikir aku memberikan ini karena aku marah karena kau mencuri buku itu? Itu tidak berarti apa2. Kau mau menyerahkan buku itu ke kantor kejaksaan? Lakukanlah. Katakanlah apa yang ditulis dalam buku itu benar. Kecuali jika kau idiot, siapa yang mau menjaga barang2nya dalam buku besar. Aku sudah membuat Jin Tae mengakhiri hubungan dengan wanita itu. Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.” Ucap Jin Sook.

“Bukankah hari itu sudah kubilang aku akan bercerai.” Jawab Seol.

“Siapa yang memutuskan itu?” tanya Jin Sook yang mulai kesal.

“Aku tidak berminat mendengarkanmu.” Jawab Seol.

Seol beranjak pergi. Jin Sook menyuruh Seol berhenti, tapi tetap Seol tak peduli dan tetap pergi. Seol baru berhenti melangkah saat Jin Sook menyebut nama Sang Wook.


“Kau cukup pintar menggoda pria muda.” Ucap Jin Sook, membuat Seol kehilangan kata2.

Jin Sook lantas berjalan mendekati Seol dan mulai menunjukkan taringnya.

“Aku berpikir ada yang aneh pada hari itu. Jangan bersikap konyol dan kembalilah selagi aku masih bersikap baik.” Ucap Jin Sook.

“Aku sudah pernah melakukan hal yang bertentangan dengan nuraniku. Pergilah selagi aku masih bersikap baik.” Jawab Seol.


Seol beranjak pergi. Namun Seketaris Yang menghalangi langkahnya. Seketaris Yang memaksa Seol ikut dengan mereka. Tepat saat itu, So Hye dan Mi Sun datang. Mi Sun pun langsung berlari menerjang Seketaris Yang.


“Ahjumma, apa kau gangster? Mengapa kau memaksa seseorang yang tidak mau ikut denganmu?” tanya Mi Sun.

“Kita bertemu lagi CEO Choi.” Sapa So Hye.


Jin Sook pun terkejut melihat So Hye.

“Penulis Lee, apa2an ini? Apa maksudnya?” tanya Jin Sook.

“Kami sudah bersahabat saat masih di sekolah.” Jawab So Hye.

“Jadi ini scenario mu, Penulis Lee? Sudah kuduga. Adik Ipar ku tidak akan mampu melakukan sesuatu seperti ini.” ucap Jin Sook.

“Apa maksudmu dengan sesuatu seperti ini?” tanya So Hye.


Jin Sook kembali memperlihatkan taringnya dan beranjak mendekati So Hye. Jin Sook mengancam akan menyakiti So Hye jika So Hye masih mencampuri urusannya. Mi Sun langsung berdiri di depan kedua sahabatnya dan menyuruh Jin Sook pergi. Jin Sook marah karena Mi Sun menghadang jalannya. Ia bahkan sampai mendorong Mi Sun.

Mi Sun murka… ia balas menjambak rambut Jin Sook. Jin Sook berteriak2. So Hye dan Seol berusaha menghentikan Mi Sun. Seketaris Yang membantu Jin Sook berdiri.

“Sekali lagi kau berani menyakiti sahabatku, aku akan mencabut semua rambutmu!” teriak Mi Sun sambil memperlihatkan rambut Jin Sook yang menempel di tangannya.


Jin Sook terkejut melihat rambutnya rontok gegara dijambak Mi Sun. Jin Sook mau membalas, tapi Seketaris Yang menghentikannya. Seketaris Yang pun bergegas membawa Jin Sook pergi.


Mi Sun memutar kepalanya dan berkata, “Berani sekali dia.”

Satu kata buat Mi Sun… DAEBAAAK!!!


“Apa yang akan terjadi kalau kami tidak datang? Kita tidak bisa begini terus. Temukan pengacara. Aku akan membantumu.” Ucap So Hye.

“Terima kasih.” Jawab Seol.


Hae Sung membaca kontrak yang dibawa Sang Wook. Ia senang karena masalah hukum yang menimpa Hye Sung Entertainment sudah selesai. Sang Wook berkata, bahwa kontrak dengan perusahaan penyiaran sudah ditandatangani. Sang Wook lantas menyuruh Hae Sung melihat satu poin di berkasnya. Hae Sung tertawa lega. Ia mengaku merasa aman memiliki Sang Wook di sampingnya. Hae Sung juga berkata, seharusnya Chang Suk juga berada di depan Jin Sook tadi saat mereka menemuinya.

Hae Sung lantas menirukan kata2 Sang Wook saat mengancam Jin Sook tadi. Sang Wook terkekeh melihat gaya Hae Sung. Hae Sung mengaku saat mendengar Sang Wook berkata akan menggugat Jin Sook, gangguan pencernaan yang dirasakannya selama 10 tahun langsung hilang.

“Wow, jinjja? Ini mengagumkan.” Jawab Chang Suk.


“Rasanya seperti seorang raja yang hebat mendapatkan kuda terbang.” Ucap Hae Sung.

“Anda terlalu berlebihan.” Jawab Sang Wook merendah.

“Lalu bagaimana denganku? Apa aku hanya seekor keledai?” tanya Chang Suk.

“Kenapa kau tersinggung? Kau adalah… panah dari pemanah besar.” Jawab Hae Sung.

“Panah?” tanya Chang Suk.

Hae Sung pun langsung bertingkah seolah2 ia menembak Chang Suk dengan panah. Chang Suk pura2 kesakitan dan mencabut panah di dadanya. Ketiganya lalu tertawa….

“Ngomong2, bisakah kau mengurus kasus perceraian?” tanya Chang Suk.

“Bisa saja.” Jawab Sang Wook.

“Ah itu benar. Kami sedang mencari pengacara untuk itu.” ucap Hae Sung.

“Apa kau…?” tanya Sang Wook sambil menatap Chang Suk.

“Aku? Aku masih single.” Jawab Chang Suk.

“Dia tidak seperti orang yang sudah menikah.” Ucap Hae Sung.


Tak lama kemudian, So Hye masuk sambil membawa kardus di tangannya. Chang Suk pun langsung mengambil kardus di tangan So Hye dan menaruhnya di meja. Hae Sung memperkenalkan Sang Wook ke So Hye sebagai pengacara baru mereka. Sang Wook pun memperkenalkan dirinya.

“Oh, kau temannya Sang Hwa, kan? Tapi sepertinya aku pernah melihatmu.” Ucap So Hye.

“Aku banyak mendengar tentang anda dari Sang Hwa. Aku fans anda, Penulis Lee.”  Jawab Sang Wook.

“Benarkah?” tanya So Hye.

“Penulis Lee, dia bisa membantu perceraian Nona Seol.” Bisik Chang Suk ke So Hye.

“Oh kebetulan, kami datang bersama.” Jawab So Hye.


Tak lama kemudian, Seol pun masuk bersama Mi Sun sambil membawa kardus2. Chang Suk langsung menghampiri Seol dan mengambil kardus di tangan Seol. Sang Wook terkejut melihat Seol, begitupula dengan Seol.

“Noona-ssi…”

“Dongsaeng-ssi, apa yang kau lakukan di sini?”

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Hae Sung.


So Hye pun langsung ingat dimana ia pernah melihat Sang Wook. Sedangkan Seol dan Sang Wook sama2 bingung harus menjawab apa. Mi Sun penasaran siapa pria tampan dan baik hati di depan mereka. Chang Suk kesal saat Mi Sun memuji Sang Wook sebagai pria tampan dan baik hati.


Sang Wook dan Seol mengobrol di dalam ruangan. Sementara Hae Sung, So Hye, Mi Sun dan Chang Suk menunggu diluar. Chang Suk menempelkan wajahnya di kaca dan terlihat kesal melihat pujaan hatinya mengobrol dekat dengan pria lain. Hae Sung yang menyadari perasaan Chang Suk itu hanya bisa menghela nafas pelan.

“Jadi kita bertemu lagi dengan cara seperti ini.” ucap Seol.

“Apa kau sedang mengurus perceraianmu?” tanya Sang Wook.


“Kau selalu menemukan sisi memalukanku.” Jawab Seol.

“Perceraian bukanlah hal yang memalukan. Aku akan menolongmu. Tidak akan mudah memang melawan pemilik firma hukum.” Ucap Sang Wook.

“Aku akan tetap menghubungimu. Dia sudah curiga pada kita. Mulai sekarang, lupakan apa yang terjadi diantara kita. Jangan menghubungiku atau mengirimiku pesan. Jangan menjawab telepon darinya.” Jawab Seol.

“Aku juga bertanggung jawab atas situasi ini. Aku tidak bisa melakukannya.” Ucap Sang Wook.

“Dengarkan aku! Hanya melepaskan. Bahkan meskipun dia pemilik firma hukum, aku harus bisa mendapatkan pengacara. Aku tidak ingin kau terlibat. Pastikan kita tidak akan bertemu lagi lain kali.” Jawab Seol.

Seol bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Melihat itu, Hae Sung cs langsung kabur dari jendela. Sang Wook tampak sedih.  So Hye mengantarkan Seol dan Mi Sun ke lift.


“Dia pria yang kau ceritakan padaku?” tanya So Hye.

“Itu benar, aku akan menceritakannya lain kali.” Jawab Seol.

“Karena kau sudah di sini, seharusnya kau menyusun rencana dengan So Hye.” ucap Mi Sun.

“Aku cemas karena ibuku sendirian. Aku harus pergi.” Jawab Seol.

“Hubungi aku kalau terjadi sesuatu.” Ucap So Hye.


Jin Sook masuk ke ruangan Jin Tae dengan wajah kesal dan sambil memegangi kepalanya yang sakit. Jin Tae langsung menanyakan Seol. Jin Sook berkata bahwa mereka harus membereskan masalah itu secepatnya. Jin Sook bilang, ada gadis2 mengerikan disamping Seol.

“Ada lagi? Selain Kim Sang Wook?” tanya Jin Tae kaget.

“Penulis Lee So Hye. Tidak gampang berurusan dengannya. Sebelum masalah ini menjadi besar, kita harus bisa mengatasinya.” Jawab Jin Sook.

“Jangan cemas. Siapa aku?” tanya Jin Tae sembari menyeringai.

“Kau punya rencana?” tanya Jin Sook balik.

“Aku punya rencana, jadi jangan cemas.” Jawab Jin Tae.


Joon Gi tampak menunggu seseorang di pinggir jalan. Ia terlihat lebih sehat. Tak lama kemudian, Hae Sung yang ditunggu2nya datang bersama Chang Suk. Hae Sung menyuruh Joon Gi masuk ke mobilnya. Joon Gi tersenyum, kemudian masuk ke mobil Hae Sung.


Hae Sung mengajak Joon Gi ke butik khusus pria. Hae Sung membantu Joon Gi memilih2 beberapa jas. Tapi Hae Sung merasa ada yang kurang dengan penampilan Joon Gi. Chang Suk setuju dengan pendapat Hae Sung. Chang Suk berkata, Joon Gi harus mengenakan dasi. Selesai memilih2 jas dan dasi, mereka juga memilihkan sepatu untuk Joon Gi.


Habis dari butik, Hae Sung membantu Joon Gi memilih2 undangan. Joon Gi berencana menggelar pesta, sebuah pesta perpisahan sebelum kematian menjemputnya.

“Apa masih ada tempat yang mau kau datangi?” tanya Hae Sung.


Joon Gi pun membuka catatannya, melihat bucket list-nya. Masih ada lagi beberapa keinginan yang ingin dilakukannya. Salah satunya, menonton film dan makan popcorn bersama wanita yang dicintainya. Joon Gi sadar kalau ia tidak akan mungkin bisa mewujudkan keinginannya itu. Sementara Hae Sung terdiam membaca keinginan terakhir Joon Gi itu.


“Kau ingin bermain paralayang atau skydiving?” tanya Hae Sung.

“Aku sudah mencobanya. Semuanya sudah selesai.” Jawab Joon Gi sambil mencoret daftar keinginannya.

Joon Gi lantas beranjak pergi. Hae Sung menghela nafas sejenak teringat keinginan terakhir Joon Gi itu. Setelah itu, ia beranjak menyusul Joon Gi.


Sementara itu, So Hye tengah asyik menghias kue untuk Joon Gi. So Hye tersenyum begitu kue nya selesai. So Hye kemudian menghubungi Joon Gi. Joon Gi mengaku sedang berada di rumah sakit.

So Hye mencari Joon Gi di rumah sakit, tapi sayangnya Joon Gi tak ada di sana. Perawat bilang kalau Joon Gi sedang libur.


So Hye pun pergi ke rumah kaca, tapi Joon Gi juga tak berada di sana. Akhirnya, So Hye meninggalkan kue nya di sana bersama sebuah pesan.

Dokter Hong, kau bilang kau ada di rumah sakit tapi kau tidak ada di sana. Ini kue sehat yang aku buat sendiri. Selamat menikmati.


Malam harinya, Joon Gi baru balik ke rumah kaca bersama Hae Sung. Joon Gi tampak girang mendapat kue dari So Hye. Sementara Hae Sung panic. Hae Sung melarang Joon Gi memakan kue So Hye, tapi Joon Gi malah mengira Hae Sung cemburu. Joon Gi berkata, karena itu kue dari So Hye untuknya, maka ia akan menghabiskan kuenya sendiri. Hae Sung pun terpaksa membiarkan Joon Gi mencicipi kue So Hye.


Baru dua sendok, Joon Gi terkejut…. Hae Sung menyodorkan serbet dengan santainya. Joon Gi memuntahkan kue yang ada di mulutnya ke serbet. Hae Sung berkata, ia tidak tahu apa yang dimasukkan So Hye ke dalam kue itu. LOL LOL….


Selanjutnya, Hae Sung mengajak Joon Gi ke lokasi shootingnya. Joon Gi tampak senang dan merekam aktivitas di lokasi shooting dengan handycam nya. Hae Sung mengajak Joon Gi ikut bermain di drama nya. Joon Gi setuju, ia mengaku bisa melakukannya. Hae Sung tertawa.

“Bro, acting tidak semudah itu. Kau pikir kenapa aku bisa dipanggil si Foot Acting? Aku belajar selama 10 tahun.” Ucap Hae Sung.

“Aku tahu aku bisa melakukannya.” Jawab Joon Gi.

Hae Sung menyuruh Chang Suk memberikan naskahnya. Hae Sung dan Chang Suk dengan lebay nya memberikan pujian atas acting Joon Gi. Entah pujian itu tulus, atau sekedar untuk menyenangkan hati Joon Gi saja. Joon Gi tampak senang dan langsung mengajak Hae Sung ke studio.


Tiba2 saja… Hae Sung mengeluarkan jurus kamehameha nya dan menyerang Joon Gi..

“Bagaimana bisa kau menjadi begitu licik dan menyerangku.” Ujar Hae Sung.

Joon Gi membalas dengan melakukan serangan yang sama pada Hae Sung dan Joon Gi. Semua orang yang ada di lokasi, tertawa melihat kekonyolan mereka.


Di rumah kaca, Joon Gi tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Ia membubuhkan lem pada sebuah foto dan menempelkan foto itu di kertas. Joon Gi lalu berpikir sejenak, kemudian menuliskan sesuatu di kertas itu. Beberapa saat kemudian, Joon Gi tampak berkaca2. Joon Gi berusaha tegar.


Hae Sung panic karena So Hye lagi2 menyodorinya kue. So Hye berkata, ia sengaja membuatkan kue itu untuk Hae Sung karena Hae Sung terlihat marah saat ia membuatkan kue untuk Joon Gi. Untuk menghindari kue So Hye, Hae Sung pun berusaha mengalihkan perhatian So Hye. Ia mendesak tubuh So Hye ke dinding dan mencium So Hye.


“So Hye-ku sangat cantik. Aku tidak tertarik dengan kue seperti itu.” ucap Hae Sung membuat So Hye tersipu malu.

“Apa besok kau sibuk? Ayo kita berkencan. Pakailah sesuatu yang cantik.” Ucap Hae Sung.


Joon Gi dan So Hye duduk di counter popcorn. Tak lama kemudian, Hae Sung datang membawakan popcorn dan minuman untuk mereka. Saat menuju gedung bioskop, Hae Sung menerima panggilan yang mengharuskannya kembali ke lokasi shooting. Namun sebelum pergi, Hae Sung menyuruh Joon Gi dan So Hye belanja bahan makanan sebelum kembali ke rumah.


Hae Sung ternyata berbohong. Ia tidak ke lokasi shooting nya sama sekali, tapi malah ke rumah kaca dengan membawa gramophone dibantu Chang Suk. Hae Sung menyalakan piringan hitam. Begitu music klasik mengalun, Chang Suk langsung menggoyangkan badannya sementara Hae Sung yang duduk di depannya terlihat sedih memikirkan Joon Gi yang sedang ngedate dengan So Hye.


Tak lama kemudian, Chang Suk bertanya soal ramalan tentang kematian seseorang terdekat Hae Sung. Hae Sung marah dan berkata bahwa ramalan itu hanya omong kosong.


Habis dari bioskop, Joon Gi dan So Hye pergi berbelanja. So Hye bertanya, apa yang Joon Gi sukai. Joon Gi berkata, ia menyukai ramen. So Hye tertawa geli. So Hye kemudian pergi mengambil barang. Wajah Joon Gi langsung berubah sedih saat melihat So Hye mengambil satu barang.

“Dokter Hong, apa kau pintar memasak?” tanya So Hye.

“Aku tidak pintar dalam hal itu, tapi aku menikmatinya.” Jawab Joon Gi.


Joon Gi lalu menanyakan soal pasta yang disukai So Hye.

“Aku suka pasta berminyak dan sesuatu yang sedikit pedas.” Jawab So Hye.

“Oke, lalu…. aku harus membeli paprika pedas dan cabe jalapeno.” Ucap Joon Gi.

“Kalau begitu di sebelah sana.” Jawab So Hye.


“Aku benar2 ingin melakukan ini. Membicarakan sesuatu, memilih bahan makanan dan membuat makanan bersama2. Kehidupan biasa sehari2. Kebahagiaan yang sesungguhnya.” Ucap Joon Gi.

“Kau benar. Aku tidak berada dalam hubungan seperti itu lagi karena itu melelahkan.” Jawab So Hye.


Hae Sung masih menunggu di rumah kaca. Ia menunggu dengan muka tersiksa… LOL

Sementara Joon Gi dan So Hye masih asyik berburu bahan makanan. Joon Gi menerima panggilan dari Hae Sung. Sambil tertawa, Joon Gi bilang kalau Hae Sung hanya mengganggunya.


“Kalian tidak pergi makan, kan? Kalian berbelanja bahan makanan, kan? Isi keranjangmu dengan sesuatu yang mahal, barang terbaik.” Ucap Hae Sung.

“Waktu diskon hampir selesai! Sudah dulu, ya!” teriak Joon Gi.


So Hye tertawa saat Joon Gi berkata Hae Sung mengecek apakah mereka berdua pergi makan….


Hae Sung teringat beberapa hal yang ingin di lakukan Joon Gi.

“Menonton film dan makan popcorn bersama wanita yang kucintai, berbelanja bahan makanan sampai keranjangnya penuh, memasakkan sesuatu untuk wanita yang kucintai dan teman2ku.”

Hae Sung pun sedih….

Bersambung ke part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar