Sunday, January 29, 2017

I Have a Lover Ep 46 Part 2

 Sebelumnya...


Hae Gang yang tidak tahu Jaksa Kim mengkhianatinya, tersenyum melihat cara Jin Eon mengecat dinding. Hae Gang kemudian berbalik, dan kembali mengecat bagiannya. Gantian Jin Eon yang tersenyum melihat Hae Gang yang kesusahan mengecat dinding bagian atas. Hae Gang lantas menoleh lagi ke belakang, namun ia terkejut karena Jin Eon sudah tidak berada di sana. Namun keterkejutannya tak berlangsung lama. Senyumnya kembali merekah begitu ia menemukan Jin Eon yang berbaring di lantai. Jin Eon merentangkan tangannya dan menyuruh Hae Gan berbaring di sampingnya.

“Saat aku memeriksa di sana sini, banyak tempat yang harus diperbaiki. Laci pakaiannya sedikit cekung. Bak mandinya juga sangat kuno sehingga kita harus menggantinya. Di kamar mandi, ada juga beberapa ubin yang pecah. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Dengan kesempatan ini, aku berniat memperbaiki semuanya.” ucap Hae Gang.

Hae Gang pun menerawang, ke langit2 ruang bacanya.

“Perbaiki semua dengan indah. Dan aku ingin mulai hidup di sini di musim semi. Kau mau hidup bersamaku? Bersama ibumu, kita bertiga?” tanya Hae Gang.


Hae Gang kemudian menatap Jin Eon, ia lalu berkata bahwa ia akan menunggu Jin Eon.

“Jangan terburu-buru kembali. Datanglah saat kau ingin. Aku tidak akan pergi ke mana-mana dan akan tetap berada di sini. Dan akan melindungi rumah kita.” ucap Hae Gang.

Jin Eon lantas memberi hadiah kecupan di kening Hae Gang sebagai jawabannya. Setelah itu, ia memeluk Hae Gang dengan erat2. Keduanya lalu mulai terpejam.


Di kamarnya, Seok tengah mendengarkan rekaman suara Tae Seok. Tak lama kemudian, Seol Ri masuk dan terkejut mendengar suara Tae Seok. Seok pun terpaksa memberitahu adiknya itu, bahwa Tae Seok masih hidup. Bahwa rekaman itu membuktikan bahwa Seok masih hidup.

“Kau merekamnya? Bagaimana? Bagaimana kau tahu?” tanya Seol Ri penasaran.

“Bukan aku, Ong Gi-ya. Dia melihat SMS Min Tae Seok di ponsel Choi Jin Ri, dan dia menghubungi telepon yang tidak terdaftar itu dan merekamnya.” Jawab Seok.

“Tapi, mengapa dia memberikan rekaman itu padamu bukan pada polisi?” tanya Seol Ri.

“Dia ingin menjadi menantu keluarga itu lagi. Dia ingin menjadi istri Choi Jin Eon lagi. Saat menerima hukumannya, dia ingin lebih dulu melamar Choi Jin Eon.” jawab Seok.

Seol Ri terdiam, lalu beberapa saat kemudian ia berkata itu bagus.

“Dan Min Tae Seok masih hidup juga bagus. Mereka akan bisa menangkapnya sekarang Semuanya bagus sekarang. Keluar. Aku akan mengantarkanmu ke kantor.” ucap Seol Ri.

Seol Ri lantas beranjak keluar. Sepeninggalan Seol Ri, Seok mulai memikirkan sesuatu.


Seol Ri terduduk di luar. Ia terluka karena Hae Gang yang sebentar lagi akan menikah kembali dengan Jin Eon. Tak lama kemudian, Tuan Baek keluar dari dapur dan duduk di depan Seol Ri. Dengan wajah sedih, ia memberitahu appa nya itu tentang pernikahan Jin Eon dan Hae Gang.

“Baguslah. Harus. Mereka harus memulainya kembali.” Jawab Tuan Baek.

“Kupikir aku sudah melupakannya. Kupikir benar-benar sudah selesai, tapi hatiku terlalu sakit. Aku merasa hampa, hancur dan seperti orang bodoh. Saat bangun, aku berharap sudah 10 tahun kemudian.” ucap Seol Ri.


“Hei, Nak, lalu bagaimana denganku? Ayahmu mungkin tidak hidup lagi saat itu.” jawab Tuan Baek.

“Tidak mungkin.” ucap Seol Ri.

“Kau mungkin bisa menyingkirkan seluruh 10 tahun, tapi bagiku yang tersisa hanyalah10 tahun. Aku bahkan tak bisa memberikanmu satu tahun, jadi demi diriku, jangan singkirkan 10 tahun seperti itu.” jawab Tuan Baek.


Seol Ri diam saja dan hanya menatap appa nya.

“Apa? Kau tidak puas pada ayah karena sesuatu?” tanya Tuan Baek.

“Aku sangat senang kau adalah ayah kami. Karena tidak menelantarkan kami dan membesarkan kami dengan baik, aku sangat berterimakasih, Ayah.” jawab Seol Ri.


Tiba2, Seok keluar dan ikut berterima kasih karena sudah membesarkannya juga.

“Aku akan melakukan yang terbaik agar besar dengan baik! Hormat!” ucap Seok sambil memberi hormat pada Tuan Baek.

Tawa Seol Ri pun pecah.

“Hei, nak, menikah sajalah. Menikah. Berhenti besar dan menikah sajalah, nak!” ucap Tuan Baek sambil memukul paha Seok.

“Aduh, sakit ayah.” rengek Seok.





Jin Eon yang tidak tahu ancaman apa yang menanti Hae Gang, sedang memilih2 cincin pernikahan di toko perhiasan. Sementara itu, di pengadilan… hukuman Hae Gang pun mulai dibacakan.

“Terdakwa, Do Hae Gang dengan keji mengancam peneliti baik dan memprovokasi pernyataan palsu, juga, demi menghancurkan perusahaan farmasi kecil yang dengan tulus berjuang mengembangkan obat baru, dia menuntutnya karena memfitnah dengan mengemukakan pernyataan bohong keji. Karena sifat kejahatan yang dilakukannya buruk bagi terdakwa, Do Hae Gang, yang bertanggungjawab atas provokasi penyataan palsu dan tuduhan palsu, jaksa ini menuntut hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan.”



Hae Gang keluar dari ruang pengadilan dengan wajah syok. Seok yang mendampingi Hae Gang pun marah2 atas tuntutan yang diberikan jaksa.

“Orang seperti itu menyalahkan dosa-dosanya padamu? Kau ditipu! Kau dikhianati oleh Presdir Choi! Demi meringankan hukumannya, diam-diam dia lemparkan padamu!” ucap Seok.

Namun Hae Gang tidak percaya. Ia yakin Presdir Choi tidak seperti itu.

“Kalau begitu, bagaimana bisa kau menjelaskan pernyataan tertulis Presdir Choi yang muncul hari ini? Kau juga melihatnya, tanda tangan Presdir Choi.” Ucap Seok.

Namun Hae Gang tetap tidak percaya Presdir Choi diam2 menusuknya.

“Itulah yang ingin kau percaya. Tanpa sepengetahuanmu, Presdir Choi memutar balik pernyataan tertulis. Dia membuatmu tenang dan merencanakannya bersama jaksa untuk menikam punggungmu!” ucap Seok.


Hae Gang tetap tidak percaya. Tepat saat itu, Jaksa Kim keluar dari ruang sidang dan Hae Gang pun langsung mengajaknya bicara empat mata.

“Entah itu dengan penjelasan atau alasan, sebaiknya kau membuatku mengerti di sini. Kalau tidak, maka aku juga tidak akan berdiam diri. Siapa dia? Yang menekan dirimu dari belakang, Jaksa Kim? Jawab. Siapa dia?” tanya Hae Gang kesal.


Tepat saat itu, Seok masuk…

“Aku juga muak dengan perselisihan keluargamu! Ayah Mertua dan Menantu, dan sekarang bahkan kakak ipar. Masing-masing berusaha saling menangkap!” jawab Jaksa Kim.

“Kalau begitu, Presiden Choi Jin Ri?” tanya Hae Gang.

“Ya. Dia memegang daftar suap, berkata jika kami melepaskanmu dengan hukuman percobaan, dia akan melaporkan semua orang dalam daftar suap pada media. Katanya dia ingin memastikan kau ditempatkan pada meja peringatan mendiang suaminya yang meninggal.” Jawab Jaksa Kim.

“Mendiang suaminya?” gumam Hae Gang kesal.


“Surat pernyataan Presdir Choi, bagaimana bisa muncul? Hari itu, ayah mertuaku pastinya pulang duluan sebelum diriku. Kau bilang dia kembali dan memutar balik surat pernyataan?” tanya Hae Gang.

“Ya, dia kembali pada malam hari. Karena usianya dan istrinya yang sakit, agar hukumannya diringankan. Maksudku, dia melakukannya supaya hukumannya ringan.” Jawab Jaksa Kim.

Hae Gang langsung pucat… Ia sama sekali tidak menyangka Presdir Choi akan melakukan itu.


Jin Eon sudah kembali ke ruangannya. Ia yang masih belum tahu apapun soal kondisi terkini Hae Gang, menghubungi seseorang dengan senyum merekah lebar. Sementara itu, Seok berupaya menenangkan Hae Gang.


Aku akan menerima hukuman penjara lebih dari setahun?” tanya Hae Gang.

“Setidaknya kau akan menerima 1 tahun.” Jawab Seok.

“Di hari hukuman dijatuhkan, aku akan segera ditangkap, di pengadilan. Aku berencana memperbaiki kamar mandi. Aku akan memperbaiki ubin di kamar mandi. Aku bilang, akan membuat rumah indah dan menunggunya.” Ucap Hae Gang.

“Aku akan langsung banding dan memastikan kau dibebaskan dalam 1 atau 2 bulan. Aku pasti akan mengeluarkanmu. Anggap saja diundur 2 bulan. Yang akan kau lakukan di bulan Maret, kau lakukan di bulan Mei. Bulan Mei juga lebih indah. Lakukan saja kemudian. Perbaiki rumah dengan indah saat itu, dan nikahi orang itu, Choi Jin Eon.” jawab Seok.

“Aku tidak akan banding.” Ucap Hae Gang.

“Mengapa?” tanya Seok.


“Rahasiakan darinya. Hal-hal terkait Presiden Choi Jin Ri juga. Bahkan surat pernyataan ayahnya. Jangan sampai dia tahu apapun, Seok. Bagaimana bisa aku memberitahukannya, ayahnya  melakukan hal itu? Tidak bisa. Takkan pernah bisa. Akhirnya dia tersenyum. Akhirnya dia mulai membuka hatinya. Dia akan putus asa lagi. Dan dia akan kabur dariku lagi. Jika kabur lagi kali ini, dia tidak akan pernah kembali. Aku tak bisa membiarkannya datang ke pengadilan di hari hukuman dijatuhkan, jadi mari rahasiakan ini di antara kita.Jangan sampai dia tahu.” jawab Hae Gang.

Seok pun merasa sedih karena tidak bisa berbuat apapun untuk Hae Gang.


Sementara itu, Jin Eon masih kesulitan menghubungi Hae Gang. Karena sulit menghubungi Hae Gang, ia pun menghubungi Seok tapi sama saja. Jin Eon kemudian menatap cincin pernikahan yang baru dibelinya.


Hae Gang sendiri tengah membaca surat pernyataan Presdir Choi. Ingatan Hae Gang seketika melayang pada Presdir Choi. Pada saat2 terakhir Presdir Choi, pada kata2 terakhir Presdir Choi. Bahwa Presdir Choi bukanlah pembunuh ayahnya. Bahwa itu semua kesalahannya. Hae Gang pun juga mengaku bersalah pada Presdir Choi saat itu.


Hae Gang terguncang. Sulit baginya mempercayai itu semua…

No comments:

Post a Comment