Friday, July 27, 2018

Live Up To Your Name Ep 7 Part 1

Sebelumnya...


-Malam hari, sebelum upacara pembukaan bangsal VIP RS Pengobatan Oriental Shinhae-

Im yang sudah merubah penampilannya, berdiri di depan jendela apartemen dan mengingat percakapannya dengan Direktur Ma.

Flashback...


"Bagaimana kau tahu aku dari Joseon?" tanya Im.

"Itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah kau berada dalam situasi yang sulit. Aku menyediakan segalanya untuk mendukungmu, sehingga kau bisa menjadi dokter di sini." jawab Direktur Ma.

"Kenapa kau mau melakukan semua itu?" tanya Im.

"Kau sendiri yang bilang padaku. Mengakui bakat seseorang dan menempatkan mereka di posisi yang layak adakan kebajikan seseorang yang ada di posisi tinggi. Biasanya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan saat itu ada di depan mata." jawab Direktur Ma.


Setelah bicara dengan Direktur Ma, Im pun kembali ke Haeminseo. Tapi ia hanya berdiri di luar dan menatap bangunan Haeminseo dengan lirih.

"Aku menghargai bantuanmu. Aku tidak akan melupakan semuanya. Ada tujuan yang harus aku raih. Aku akan melangkah di jalan yang tidak bisa aku raih. Saat aku ada di sana, aku akan menjadi dokter yang bahagia saat menyelamatkan orang dan senang saat mengobati mereka." ucap Im.


Keesokan harinya, beberapa jam sebelum acara dimulai, Direktur Ma mengubah penampilan Im.

Flashback end...


Di depan seluruh hadirin, Direktur Ma memperkenalkan Im sebagai lulusan terbaik dari Universitas Pengobatan Oriental Myeongin yang sudah memiliki banyak pengalaman.

Kemudian, Direktur Ma memperkenalkan Im secara pribadi pada Direktur Cho.

"Saat itu, saat kau datang ke rumahs akit dan pingsan, Dokter Heo disana untuk menemuimu. Kebetulan dia melihat kondisi wajahmu dan tahu soal penyakitmu." ucap Direktur Ma.

"Keadaannya darurat dan setiap menit sangat penting jadi aku menggunakan akupuntur tanpa seizin anda. Maafkan aku." jawab Im.

"Sebalum Dokter Kardiotorak memberimu CPR, dia melakukan tindakan darurat dengan akupuntur." ucap Direktur Ma.


Sontak, Direktur Shin makin kesal dengan ucapan itu. Tapi meskipun kesal, ia tetap tersenyum dan memberikan ucapan selamat pada Direktur Ma karena memiliki dokter yang hebat seperti Im.

Direktur Cho pun langsung menyalami Im dan mengucapkan terima kasih karena Im sudah menolongnya.

"Bersama Dokter Yoo, Aku akan memberikan pengobatan akupunktur untuk bangsal VIP." ucap Im lagi yang membuat Jae Ha tambah bingung.


Setelah upacara selesai, Im dan Yeon Kyung bicara di taman rumah sakit.

"Aku tidak akan mengenalimu jika bertemu denganmu di luar." ucap Yeon Kyung.

"Ini hari pertamaku jadi aku harus kelihatan spesial." jawab Im.

"Kelihatan spesial?" tanya Yeon Kyung.

"Apa kedengarannya aneh padahal aku sudah banyak berlatih." jawab Im.

"Kau tidak perlu akting di depanku. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi denganmu selama ini?" tanya Yeon Kyung.

"Seperti yang kau lihat, aku sudah sangat sibuk." jawab Im.

"Bagaimana kau bisa bekerja disini?" tanya Yeon Kyung.


"Mereka bilang, takdir bisa melalui segalanya. Mungkin takdirku memang seperti itu PresDir Ma memberiku kesempatan." jawab Im.

"Dia tahu kau dari Joseon?" tanya Yeon Kyung.

"Dia hanya mempekerjakan orang yang berbakat." jawab Im.

"Kau menipu Presdir Ma? Apa alasanmu bekerja disini." tanya Yeon Kyung.

Im tidak menjawab dan malah menunjukkan kartu namanya. Im mengaku, Presdir Ma lah yang memberikannya kartu nama itu. Ia juga heran, kenapa keahlian dokter ditentukan oleh kartu nama itu.

Yeon Kyung pun heran kenapa Presdir Ma bisa memberikan itu pada Im. Dia lalu memberitahu Im, jika tindakan Presdir Ma itu ilegal.

"Aku dengar ini di berikan oleh pemerintah." ucap Im.

Yeon Kyung pun menghela napas.

"Apa menurutmu aku tidak layak?" tanya Im.

"Bukan itu maksudku." jawab Yeon Kyung.

"Kau masih ingin aku kembali ke Joseon?  Aku memutuskan untuk tinggal disini sebagai dokter. Untuk meraih tujuanku. Ini satu-satunya cara bagiku. Jika kau merasa terganggu, aku pastikan aku tidak akan mengganggumu." ucap Im.

Tak tahu harus bicara apa lagi, Yeon Kyung pun beranjak pergi meninggalkan Im.

"Aku ingin tahu apa dia masih merasakan gejalanya. Wajahnya terlihat pucat." ucap Im sembari menatap kepergian Yeon Kyung.


Jae Ha minta penjelasan kakeknya. Direktur Ma beralasan, ia mempekerjakan Im karena kemampuan Im.

"Dia sangat mencurigakan dalam setiap hal. Kakek tidak ingat apa yang terjadi di RS Shinhae?" ucap Jae Ha.

"Kau juga melihat rekaman CCTVnya? Kau pasti tahu kehebatannya." jawab Direktur Ma.

"Itu hanya kebetulan." ucap Im.

"Tidak mungkin kebetulan bisa menyelamatkan nyawa orang. Kita lihat saja. Dia akan sangat membantu dalam membangun bangsal VIP." jawab Direktur Ma.

"Apa aku saja tidak cukup?" tanya Jae Ha.

"Dia orang yang kau butuhkan. Jika dia tidak mampu, kita bisa mengusirnya kapan saja." jawab dokter.


Jae Ha lalu keluar dari ruangan sang kakek sambil menahan rasa kecewa. Ia yakin, kakeknya juga akan menendangnya jika ia tidak kompeten, sama seperti ayahnya yang juga ditendang sang kakek karena tidak kompeten.


Jae Ha lantas meraih ponselnya dan menyuruh seseorang menyelidiki Im.


Im ke kafe, dia bingung mau memesan apa. Tak lama kemudian, Jae Ha datang  dan terus menatap Im dengan curiga. Im yang yang kemudian menyadari kehadiran Jae Ha pun bergegas memesan kopinya. Setelah mendapatkan kopinya, ia melengos pergi begitu saja melewati Jae Ha, tapi Jae Ha memanggilnya.

"Heo Im-ssi." panggil Jae Ha.

"Dokter Yoo, Aku Heo Bong Tak." jawab Im.

"Kau sudah jadi orang yang beda dalam beberapa hari Waktu itu kau Heo Im dan sekarang jadi Heo Bong Tak. Selanjutnya akan jadi siapa dirimu?" tanya Jae Ha.

"Apa itu penting?" tanya Im.

"Apa kau bilang?"

"Aku disini sebagai dokter pengobatan oriental. Dan akan mengobati pasien. Siapa aku ini, akan terungkap secara alami selama proses berjalan."

"Kau bisa memalsukan posisimu, tapi kau tidak bisa memalsukan kemampuanmu." ucap Jae Ha.

"Tidak peduli seberapa tinggi posisi seseorang, orang itu akan dipandang sesuai kemampuannya." jawab Im.

"Apa kau seyakin itu?" tanya Jae Ha.

"Kau tidak yakin?" Im bertanya balik.

"Apa?" tanya Jae Ha.

"Aku tanya padamu karena kau selalu bertanya padaku Jika seorang dokter tidak percaya pada dirinya sendiri, bagaimana  pasien bisa percaya pada dokter yang akan mengobati mereka?" jawab Im.

Jae Ha tambah kesal.

"Kopi ini rasanya enak sekali.  Saat kau putus asa, merasakan pahit di mulutmu, minum kopi yang manis dan dingin. Kopi ini rasanya sangat enak." ucap Im, lalu tertawa keras-keras dan beranjak pergi.


Di RS Oriental Shinhae, si dokter kacamata penasaran siapa Im. Rekannya berkata, bahwa Im adalah dokter berbakat yang ditunjuk sendiri oleh Direktur Ma.

"Ini antara koneksi dan bakat. Kita harus memihak Dokter Yoo atau Dokter Heo?" ucap si dokter kacamata.

"Pilih Dokter Yoo. Kemampuan tidak bisa mengalahkan koneksi." jawab rekannya.

"Kata-katamu tajam sekali." ucap si dokter kacamata.


Lalu, Im datang dan berjanji akan membagi ilmu akupunturnya dengan si dokter kacamata.


Im lalu masuk ke ruangannya. Setelah menutup pintu, ia tertawa.


Lalu, ia melihat peralatan medis di ruangannya dan mengingat penjelasan Direktur Ma.

Flashback...

"Ini adalah alat pengukur diagnostik. Alat ini mengukur energi dan denyut nadi untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien."

"Jika seorang dokter tidak mendiagnosa pasien mereka, bagaimana seorang dokter bisa menjadi dokter?" tanya Im.

"Jangan khawatir. Kau bisa menggunakan caramu sendiri." jawab Direktur Ma.

Flashback end..


Im berdiri di depan cermin dan mengingat penjelasan Direktur Ma yang lain.

Flashback...

"Ini mesin akupuntur elektronik. Saat pasien merasa takut atau saat situasi dimana kau tidak bisa melakukan akupuntur, kau bisa melakukannya dengan mesin ini." lanjut Direktur Ma.

"Ini dunia yang serba nyaman karena kau tidak perlu mensterilkan atau memanaskan jarum dengan api." jawab Im.

"Berlatihlah sampai kau terbiasa." ucap Direktur Ma.

Flashback end...


Lalu, Im melihat papan namanya yang ada di meja. "Dokter Spesialis Heo Bong Tak".


Kemudian, ia menatap lisensinya dan seragam dokternya.


Ia lantas mengenakan seragam dokternya dan duduk di kursinya, lalu meraih gagang telepon dan menekan tombol 1.

"Aku akan segera memulai pengobatan. Bawa masuk pasiennya." ucap Im.

Setelah itu, ia tertawa senang.


Man Soo penasaran dengan Yeon Kyung. Ia berkata, bahwa petugas ambulance mengatakan hal yang aneh tentang Yeon Kyung. Man Soo bilang, saat Nyonya Cho dilarikan ke rumah sakit, ada kecelakaan motor dan Yeon Kyung bersikap aneh di depan si korban kecelakaan.

"Apakah itu sebabnya dia mengunjungi departemen psikiatri?" tanya Min Jae.

"Apa? Bagian psikiater?" tanya Man Soo antusias.


"Dia kesana karena temannya." jawab Suster Jung.

"Teman yang mana?" tanya Man Soo.

"Kenapa? Mau kukenalkan dengannya? Aku dengar kau sudah dicampakkan oleh kekasihmu." sahut Yeon Kyung yang tiba-tiba nongol.

"Urus saja urusanmu sendiri. Kami hanya putus sementara. Dasar tukang selingkuh." jawab Man Soo lalu pergi.

Min Jae sontak tertawa.


"Lalu bagaimana denganmu? Tampaknya kau tidak sibuk?" ucap Yeon Kyung.

Min Jae pun langsung berhenti ketawa dan bergegas pergi dengan alasan harus mengurus pasien.


Setelah kedua rekannya pergi, Yeon Kyung berterima kasih pada Suster Jung. Lalu, Yeon Kyung menghela nafas.

"Kenapa kau menghela napas?" tanya Suster Jung.

"Aku pikir aku sudah mengenal seseorang tapi tiba-tiba dia muncul dengan sikap yang beda. Saat Aku memikirkan dia yang sebenarnya, tiba-tiba saja dia muncul sebagai orang lain. Aku jadi tidak yakin sisi dia yang sebenarnya." jawab Yeon Kyung.

"Sudah lama sekali.  Saat kau masih pegawai magang, kau sering kali bertanya pada profesor. Waktu itu, kau penasaran dengan penyakit bukan pada orangnya.  Kenapa kau tidak bertanya lagi eperti waktu itu pada orang itu?" ucap Suster Jung.

Yeon Kyung tidak menjawab. Lalu Yeon Kyung mendapatkan panggilan dari IGD.


Di IGD, ada dua korban penikaman. Tak lama setelah Yeon Kyung datang, Man Soo juga datang. Keduanya pun langsung memeriksa kondisi pasien.

"Banyak darah menggumpal di rongga toraksi. Kita tidak bisa mengesampingkan kerusakan pada jantung. Siapkan ruang operasi segera." perintah Yeon Kyung.


Saat hendak meninggalkan ruang IGD, istri dan anak pasien datang. Bocah perempuan itu menangis dan memeluk bonekanya.

Yeon Kyung terdiam melihatnya.


Im kedatangan pasien sinutis akut. Im pun mulai memberikan akupuntur. Setelah akupunturnya selesai, si pasien mengucapakan terima kasih dan mengaku bahwa kepalanya terasa enteng, serta rasa sesak di hidungnya sudah menghilang dan ia bisa melihat lebih jelas.

Tapi kemudian, ia panik karena hidungnya mimisan. Im kaget, ia berkata seharusnya itu tidak terjadi.

Im berusaha menghentikan pendarahan dengan menekan hidung pasien dengan tisu, tapi pendarahan tak berhenti.


Lalu, Jae Ha datang dan membantu Im menghentikan mimisan pasien. Im mengaku, bahwa ia melakukan hal yang sudah biasa dilakukannya. Jae Ha pun memeriksa data pasien. Ternyata, si pasien mengkonsumsi aspirin. Im yang tidak tahu aspirin obat apa pun hanya bisa terdiam.


Si dokter kacamata pun langsung sesumbar. Ia bilang, akan memihak Jae Ha karena kemampuan Im tidak bagus. Rekan si dokter kacamata tampak kecewa.


Yeon Kyung dan Min Jae ada di ruang operasi.

"Tulang rusuk ke 5 dan ke 6, retak. Aku harus membuka dadanya untuk melihat... kondisi jantung dan paru-parunya." ucap Yeon Kyung, lalu meminta pisau bedah.

Saat hendak membedah pasien, trauma Yeon Kyung kumat lagi. Tapi Yeon Kyung berhasil menahannya dan melanjutkan operasi.

"Paru-parunya sedikit terkoyak tapi arteri pulmonalnya baik-baik saja. Jantung dan perikardiumnya juga tidak apa-apa. Dia mengalami pendarahan karena arteri interkosalnya robek Dia di tusuk dengan pisau secara tegak lurus Pisaunya mengenai tulang rusuk Itu sebabnya luka tusukannya tidak terlalu dalam. Kita atasi pembuluh darahnya dan menjahit robekannya. Kita mulai dengan darah." ucap Yeon Kyung.

"Oke, berikan hemoklip." perintah Min Jae.

"Gimana dengan orang satunya?" tanya Yeon Kyung.

"Mereka bilang, pasien menikam kakinya demi melindungi dirinya sendiri." jawab Min Jae.


Yeon Kyung pun langsung mengecek pasien itu yang sedang dioperasi Man Soo. Man Soo bilang, pasiennya ditikam orang profesional.

"Dia mengarakannya ke arteri femoralis Dia juga menusukkannya ke saraf dan pembuluh darah Aku bisa menjahit pembuluh darahnya Tapi dia tidak akan bisa menggunakan kakinya." ucap Man Soo.


Yeon Kyung dan Min Jae keluar dari ruang operasi. Begitu mereka keluar, istri dan anak korban serta polisi dan para preman langsung menghampirinya.

"Kami polisi. Apa anda yang mengoperasi Cho Sang Hyuk? Bagaimana kondisinya?" tanya polisi.

"Tidak perlu di tanyakan Dia berusaha membunuh bosku dengan menikamkan pisau ke dadanya." jawab salah satu preman.

"Tidak, mereka menikam suamiku di kakinya terlebih dulu." ucap istri Cho Sang Hyuk.

Para preman pun tidak terima dengan penjelasan istri Cho Sang Hyuk. Menurut mereka, Cho Sang Hyuk lah yang mulai duluan.

"Dia sedang duduk di bar lalu bekelahi dengan pemilik bar dan saling mengacungkan pisau Seperti yang kau ketahui, pernyataan saksi sangat berlawanan." ucap polisi.

"Cho Sang Hyuk, yang aku operasi, mengalami luka di  pembuluh darah dan sekitarnya... serta jaringan paru parunya, tapi tidak ada kerusakan pada organ tubuhnya Jika kondisinya ada kemajuan, dia bisa keluar dalam beberapa hari." jawab Yeon Kyung.


"Tidak, detektif. Itu tidak benar." sangkal istri Cho Sang Hyuk. Yeon Kyung beranjak pergi, tapi saat mendengar tangisan anak Cho Sang Hyuk, Yeon Kyung pun kembali memberi penjelasannya pada polisi.


"Detektif, jika kau ingin membunuh seseorang, kau menusukkan pisaunya secara horisontal sehingga organ tubuh terluka parah tapi Cho Sang Hyuk menikamnya secara vertikal. Biasanya situasi ini..."

"Jadi maksudmu lukanya dibuat untuk melindungi diri?" tanya polisi.

"Orang ini di tikam di area femoralis, jadi dia dalam bahaya. Dokter yang mengoperasinya akan menjelaskannya secara rinci tapi arteri femoralisnya sudah terputus. Artinya, dia bisa meninggal karena syok. Kalaupun dia hidup, kemungkinan besar dia mengalami kelumpuhan pada kakinya." jawab Yeon Kyung.


Istri Tuan Cho pun syok.

"Jadi, tikaman yg disini memang di rencanakan.  Dan tikaman satunya hanya untuk melindungi diri?" tanya polisi.

"Detektif, bukan itu masalahnya." jawab si preman panik.


Preman itu pun berusaha menghajar Yeon Kyung. Ia marah dengan kesaksikan Yeon Kyung, tapi polisi langsung menghentikannya dan Min Jae pun membawa Yeon Kyung pergi.


"Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Biasanya kau tidak pernah mencampuri urusan orang lain?" tanya Min Jae.

"Aku pun heran dengan diriku akhir-akhir ini." jawab Yeon Kyung, lalu pergi.


Im minta maaf pada Direktur Ma atas kesalahan yang dilakukannya. Tapi Direktur Ma memakluminya dengan alasan siapa saja bisa membuat kesalahan di hari pertama bekerja. Im pun berjanji akan berusaha lebih keras lagi.

"Itulah Heo Im yang kukenal." ucap Direktur Ma.

Im lalu beranjak pergi. Setelah Im pergi, Direktur Ma menghubungi seseorang. Ia berkata, bahwa pertemuan di tempat Pimpinan Park harus ditunda.


Im ke ruangannya Ha Ra. Ha Ra terkejut melihat penampilan baru Im. Im pun lega, bisa melihat Ha Ra lagi.

"Paman bilang, paman dari Joseon. Paman bohong, kan?" tanya Ha Ra.

"Aku tidak bohong. Aku kan pernah bilang kalau Yeon Kyung akan.... menyelamatkanmu." jawab Im.

"Tapi, paman kesini dengan tangan kosong?" tanya Ha Ra.

"Aku tidak tahu harus membawa apa. Aku akan segera kembali." jawab Im.

Ha Ra pun langsung menahannya pergi.


Yeon Kyung hendak masuk ke ruangan Ha Ra, tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat Ha Ra bicara dengan Im. Yeon Kyung pun kembali menutup pintu ruangan Ha Ra dan bersender di dinding depan ruangan Ha Ra.


"Haruskah aku menghubungi Dokter Choi?" tanya Ha Ra.

"Jika dia menemuiku sekarang, dia akan marah atau benci padaku." jawab Im.

"Apa paman berbuat salah pada Dokter Choi?" tanya Ha Ra.

"Nyatanya, aku ini DB oleh Yeon Kyung." jawab Im.

"Apa itu DB?" tanya Ha Ra.

"Dibenci." jawab Im.

"Heol!" teriak Ha Ra.


Yeon Kyung yang berdiri di depan pintu, sontak tertawa mendengarnya.

"Kau percaya kepadanya?" tanya Im.

"Itulah alasanku menunggu." jawab Ha Ra.

"Dia beruntung karena pasien-pasiennya percaya kepadanya." ucap Im.

"Waeyo? Ada yang tidak percaya pada paman?" tanya Ha Ra.

"Bagaimana pasien bisa percaya pada dokter jika dokter tidak percaya pada dirinya sendiri. Aku melakukan akupuntur untuk menyelamatkan orang-orang. Tapi jika aku melukai orang dengan itu..."


Im pun berhenti bicara. Lalu ia tertawa dan menunjukkan ponselnya.

"Aku harus punya nomor paman." ucap Ha Ra.

"Bagaimana caranya? Aku bisa memberimu pil dan apel, tapi nomorku bagaimana caranya?" tanya Im.

"Pokoknya bisa." jawab Ha Ra.


Habis dari ruangan Ha Ra, Im pun celingak celinguk di depan mejanya Suster Jung. Tapi saat menoleh ke belakang, sontak ia terkejut melihat sosok Yeon Kyung. Im pun tidak mengaku kalau ia mencari Yeon Kyung. Im hanya bilang, kalau ia tidak tahu jalan keluar.

Yeon Kyung pun mengantarkan Im keluar.


Min Jae terkejut melihat penampilan baru Im. Suster Jung bertanya-tanya, apa Im pria yang tadi dibicarakan Yeon Kyung.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment