Wednesday, October 10, 2018

Ruby Ring Ep 77 Part 1

Sebelumnya...


Roo Na berusaha melindungi cincinnya. Ia menutupi cincin itu dengan tangannya.

"Semua orang tahu ini cincinku. Ini cincin pertunanganku." ucap Roo Na.


Kesal, Roo Bi pun mencengkram tangan Roo Na.

"Benar, aku bodoh. Jika aku tidak membiarkanmu merebut cincinku, dressku dan menyetir mobilku, semua ini tidak akan terjadi. Tapi menurutmu, berapa lama kau bisa memakai topengmu?" ucap Roo Bi.

"Jalanmu masih panjang. Aku sudah lama berhenti menyalahkan diriku dan menyesali keputusanku. Jika kau ingin menyalahkan seseorang, jangan salahkan aku tapi ibu! Ibu orang pertama yang memanggilku Roo Bi! Ibu yang memakaikan cincin ini padaku!" jawab Roo Na.

"Benar, aku menyalahkan ibu dan Gyeong Min karena tidak mengenaliku! Tapi pada akhirnya, kau lah yang harus bertanggung jawab! Karena ibu dan Gyeong Min tidak mencuri hidup dan wajahku! Jeong Roo Na, neonnikka." ucap Roo Bi.


Gilja pun terduduk lemas mendengarnya. Ia syok.



Di tengah pertengkaran mereka, ponsel Roo Na berdering. Telepon dari Seokho. Roo Na pun terkejut saat Seokho bilang ibunya datang.

"Aku baru sadar dia ibumu. Aku ingat pernah melihatnya di hari pernikahanmu. Dia menanyakan padaku dimana kamar mandi." ucap Seokho.

Dan kedua gadis itu langsung keluar dari kamar mandi, mencari sang ibu.Tapi tidak menemukannya.

Tak lama, Jin Hee lewat dan mereka langsung bertanya pada Jin Hee tapi Jin Hee mengaku tidak melihat siapa pun.


Gilja menangis meninggalkan kantor Gyeong Min.


Ia ingat kata-kata Roo Na tadi bahwa dirinya lah yang bersalah karena memakaikan cincin itu pada Roo Na dan memanggil Roo Na Roo Bi.


Lalu ia teringat saat dirinya menyematkan cincin itu ke jari Roo Na dan memanggil Roo Na dengan nama Roo Bi saat Roo Na siuman.


Dan terakhir, ia ingat saat Roo Bi menangis setelah mengatakan ingatannya sudah pulih.

"Roo Na-ya, apa yang sudah kau lakukan? Uri Roo Bi, Roo Bi ku yang malang." jerit Gilja dalam hatinya.


Roo Na terus berusaha menghubungi ibunya sambil mencari ibunya di setiap sudut kantor.

Ia pun heran ibunya tidak menjawab teleponnya.

Gilja terduduk lemas di taman.

"Apa yang kau lakukan, Roo Na-ya? Anak manis itu... aku bodoh. Bisa-bisanya aku tidak mengenali putriku." sesal Gilja.


Jihyeok ke restoran dan melihat Soyoung bekerja sendirian.

Ia pun langsung turun tangan membantu Soyoung melayani pelanggan.

Selesai melayani pelanggan, Jihyeok langsung ke dapur.

Pelanggan cewek yang dilayani Jihyeok tadi langsung memuji ketampanan Jihyeok dan mengaku pria seperti Jihyeok adalah tipenya.

Mendengar itu, Soyoun langsung menatap itu cewek dengan tatapan sebal.

*Wkwkwkw... Soyoung jealous...


Di dapur, Jihyeok selesai mencuci piring.


Soyoung pun memanggil Jihyeok dan mengajaknya minum cola.

Soyoung kemudian berterima kasih atas bantuan Jihyeok.

"Setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk membayarmu kembali." jawab Jihyeok.

"Berhenti mengatakan hal itu. Ini tidak seperti aku meminjamimu uang berton-ton." ucap Soyoung.

Soyoung lalu berkata, bahwa yang dilakukan Jihyeok tadi sangat mengesankan.

"Aku sudah terbiasa melakukannya. Aku mendapatkan banyak pekerjaan di belakang ayahku. Aku bisa semuanya kecuali pacaran." jawab Jihyeok.

Soyoung langsung senyum-senyum mendengarnya. Melihat Soyoung senyum, Jihyeok tertawa.


Gilja sudah lebih tenang.

Ia teringat saat Roo Na menangis dan berkata, bahwa dunia tidak adil padanya.

"Kenapa Roo Bi bisa melakukannya tapi aku tidak! Ini membuatku kesal. Apa yang harus kulakukan, Eomma!"


Lalu ia ingat cerita Roo Na tentang burung cuckoo.

"Dia seperti itu,  bahkan sejak dia kecil. Dia membenciku karena aku selalu membela kakaknya. Dia selalu mengatakan tidak bisa melakukan apapun disaat kakaknya berhasil melakukan semuanya." ucap Gilja.


Tangis Gilja kembali pecah. Ia menyesal karena tidak pernah berada di sisi Roo Na selama ini.

"Jika aku tahu akan seperti ini jadinya, aku tidak akan berada di sisi Roo Bi." ucap Gilja.

Gilja kemudian bertanya-tanya, kenapa Roo Bi tidak memberitahunya.

"Benar, mungkin dia berpikir ini sudah terlambat. Dia tidak memberitahuku karena dia sudah pasrah dan ingin menerima semuanya. Mungkin ini yang terbaik." ucap Gilja.

Gilja pun juga baru sadar alasan Roo Bi tidak menerima In Soo selama ini.

"Itu karena ingatannya sudah kembali jadi ia tidak bisa menikahi In Soo."


Gilja lalu menghubungi Chorim.

"Komo. Komo." ia menangis lagi.

"Ada apa, Eonni? Kenapa kau menangis?" tanya Chorim yang lagi berendam dengan Dongpal.

"Aku hanya... merindukanmu." jawab Gilja membuat Chorim lega.

Dongpal lalu mencipratkan air ke wajah Chorim.

Mereka kemudian tertawa.

Mendengar tawa Chorim, Gilja pun memutuskan panggilanya karena tidak mau mengganggu bulan madu Chorim.


Di kantor, Gyeong Min tak bisa berhenti memikirkan kata-kata In Soo. Ia penasaran dengan yang mau dikatakan In Soo malam itu di Jeju padanya.


Tak lama kemudian, Gyeong Min menghubungi In Soo dan mengajaknya bertemu.

Mereka pun bertemu di kafe. Gyeong Min menanyakan soal kata-kata In Soo di Jeju padanya malam itu. Ia ingat, In Soo mengatakan bahwa ia memiliki hati dua wanita.

"Maksudmu istriku dan Roo Na, kan?" tanya Gyeong Min.

In Soo pun mengaku bahwa ia jealous pada Gyeong Min.

Ia memberitahu Gyeong Min bahwa Roo Na mencintai Gyeong Min tapi Gyeong Min tidak percaya.

"Malam itu, saat aku mabuk, kau tahu apa yang kupikirkan. Menurutku, akan lebih baik jika Roo Na memiliki tunangan sepertimu." ucap In Soo.

Tak mau mendengar kata-kata In Soo lagi, Gyeong Min pun beranjak pergi.


Roo Bi duduk di tangga darurat dan memikirkan kata-kata Roo Na soal cincinnya.

"Semua orang tahu ini cincinku."

"Bagaimana itu bisa menjadi milikmu? Hanya karena itu berada di jarimu bukan berarti itu milikmu. Aku akan mengambilnya kembali. Tidak peduli apa kata orang, itu milikku. Itu cincin pertunanganku!" batinnya.

Ponselnya kemudian berdering. Telepon dari sang ibu.


"Kau sibuk? Bisakah kau pulang lebih cepat?"

"Aku akan segera pulang. Tapi kenapa ibu menelponku jam segini? Ibu tidak sibuk?"

"Aku tidak sibuk. Roo Na-ya, ini tentang Roo Bi..."

"Ada apa dengan Roo Bi?"

"Roo Bi tidak bermaksud membuat banyak masalah. Dia mengambil semuanya darimu."


"Eomma, kau mendengar pembicaraan kami?"

"Apa maksudmu? Aku bilang ini karena aku merasa kalian bertengkar dan itu menggangguku. Roo Na-ya, aku itu sulit tapi kau bukan Roo Na yang dulu. Kau baik, pintar dan hangat sekarang. Tidak bisakah kau mengerti dia? Aku ingin kau menikah dengan In Soo dan hidup bahagia seperti kakakmu."

"Eomma, menurutmu Roo Bi bahagia?"

"Tentu saja. Dia mencoba yang terbaik. Aku minta maaf karena tidak memperhatikanmu. Tapi mulai sekarang..."

"Eomma, jangan bilang begitu."

 "Kau tahu bagaimana perasaan ibu sekarang?"

"Tentu saja. Eomma, aku harus bekerja sekarang. Kututup teleponnya, ya."


Setelah menutup teleponnya, Roo Bi menangis.

Gyeong Min yang kebetulan melintas bersama karyawannya tidak sengaja melihat Roo Bi.

Ia pun menyuruh karyawannya pergi duluan.

Gyeong Min ingin menghampiri Roo Bi tapi ia ingat kata-kata In Soo tadi bahwa Roo Bi lebih bahagia jika punya tunangan seperti dirinya.

Gyeong Min pun batal menghampiri Roo Bi dan hanya melihat Roo Bi menangis dari kejauhan.

Tak lama berselang, Roo bi menghapus tangisnya dan naik ke atas.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment