Thursday, January 24, 2019

Blessing of the Sea Ep 1 Part 1


Adegan dibuka dengan Sim Chung Yi yang berusaha melarikan diri dari kejaran dua pria. Chung Yi bersembunyi di dalam sebuah gudang. Ia tersenyum melihat dua pria yang mengejarnya berlalu begitu saja, melewati gudang tempat ia bersembunyi.


Chung Yi lantas duduk di tepi dermaga. Lagi asyik menyendiri, sebuah mobil tiba-tiba datang.

Chung Yi terkejut melihat dua pria yang mengejarnya tadi dan seorang pria yang terlihat seperti bos turun dari dalam mobil.

"Kau putri Raja Naga, kan? Kenapa selalu ke sini?" tanya pria yang terlihat seperti bos itu.

"Sudah delapan tahun kau mengejarku. Bisakah kau merelakannya demi aku? Aku akan membayar tepat waktu mulai bulan depan." ucap Chung Yi.

"Lupakan. Kapan kau akan membayar utang dan menjadikanku pimpinan? Mulailah bekerja." ucap pria yang seperti bos itu, lalu melirik jam tangannya.

"... Para gadis akan bersiap saat ini. Kau bisa minum?" tanyanya lagi.

Chung Yi kaget, apa?

"Mulai hari ini." jawab pria itu dan menyuruh dua anak buahnya menangkap Chung Yi.

"Tunggu sebentar." ucap Chung Yi lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ada yang jatuh dari dermaga Yongwangri. Cepatlah kemari. Namanya Sim Chung Yi." ucap Chung Yi, lalu melompat ke dalam air.

Sontak tiga pria itu kaget. Pria yang seperti bos langsung menyuruh anak buahnya menyusul Chung Yi. Tapi dua anak buahnya menolak. Yang satu takut air karena pernah tenggelam. Satunya lagi alergi garam. Si bos marah. Ia mendengus kesal karena gagal menangkap Chung Yi. Si bos lalu mengajak dua anak buahnya pergi.


Chung Yi tersenyum lantaran berhasil lolos sekali lagi.

"Mati untuk hidup dan hidup untuk mati. Itu motoku." ucap Chung Yi.


Namun saat akan berenang ke tepi, kakinya tiba-tiba saja kram dan Chung Yi pun tenggelam.

-Tahun 1998-


Di sebuah rumah yang terletak di tengah hutan, seorang gadis kecil tengah menatap sebuah lukisan yang tergantung di dinding rumahnya dengan penuh antusias.

Lalu ada bayangan pintu yang dibuka. Sinar matahari langsung menyinari lukisan itu.

"Jo Hong Joo." terdengar suara wanita.

Gadis kecil, si pemilik nama Jo Hong Joo, itu pun menoleh dan langsung berlari keluar.


Hong Joo berlari di taman, menghindari kejaran sang ibu yang mengomel karena dirinya mendekati lukisan itu. Hong Joo membela diri. Ia mengaku, hanya melihatnya saja, bukan menyentuhnya.

Tuan Jo kemudian datang. Hong Joo pun langsung memeluk appa nya.

"Dia menyentuh lukisan itu lagi!"

"Biar aku saja yang memarahinya." jawab Tuan Jo.

Tuan Jo lalu menatap Hong Joo dan mengedip padanya. Hong Jo tersenyum melihat kedipan appa nya tapi melihat eomma nya, ia pura-pura seolah akan dimarahi.

Tuan Jo lantas pergi bersama Hong Joo.


"Dasar penipu." ucap wanita itu, sambil tersenyum geli menatap suami dan putrinya.


Hong Joo dibawa ayahnya ke rumah kaca. Hong Joo tidak percaya melihat tanaman yang memenuhi rumah kaca itu sudah membesar.

Sang ayah mendekatinya.

"Benar, kan? Tanamannya tumbuh sepertimu."

Tuan Jo lalu memetik sehelai daun

"Appa membuat cat dengan ini. Akan ayah tunjukkan nanti."

"Catnya berwarna sama dengan lukisannya?" tanya Hong Joo.

Tuan Jo mengangguk.

"Waah, aku juga ingin membuatnya."

"Tentu saja. Kita akan membuat lebih banyak cat bersama." jawab sang ayah.

Hong Joo tertawa. 


Hong Joo kemudian mengedarkan pandangannya dan melihat beberapa helai daun yang berwarna kecokletan.

"Appa, daun yang ini pasti sakit. Ini, ini dan ini warnanya lebih gelap." ucap Hong Joo.

Tuan Jo pun bingung karena di matanya, semua daun-daun itu berwarna hijau.

"Pasti hanya kau yang melihatnya. Karena matamu istimewa." ucap Tuan Jo.


"Mataku seistimewa itu?" tanya Hong Joo.

"Ayah menemukan permata di matamu." jawab Tuan Jo, lalu pura-pura mengambil permata dari mata sang anak.

Hong Joo tertawa girang. Tuan Jo menggelitiki Hong Joo, lalu memeluknya.


Di rumah yang lain, yang sangat kontras dengan rumah Tuan Jo, terlihat dentingan piano.

Di dinding, tergantung foto sebuah keluarga.


"Ma Poong Do!" teriak Ma Jae Ran sembari menghampiri bocah laki-laki yang tengah bermain piano.

"Kau sudah bermain selama empat jam! Tidak bisakah kau berhenti!"

Tapi bocah laki-laki bernama Poong Do itu terus saja bermain.

"Kau tidak mendengarku! Gwi Nyeo menangis terus karena kau!" ucap Jae Ran lagi.

Tapi Poong Dae tetap mengabaikannya.

"HYA!!" teriak Jae Ran.


Seorang pria pun muncul dan membujuk Poong Do agar berhenti bermain piano.

"Kakak darimana saja! Kita mungkin harus memasukkannya ke rumah sakit jiwa!" ucap Jae Ran. Jae Ran berteriak gemas, lalu pergi.

"Kau tidak mendengar ayah?" ucap pria itu yang rupanya ayah Poong Do.


Ma Young In muncul dan menghentikan Poong Do dengan mencengkram tangan Poong Do. Ia juga menyuruh Poong Do berbicara selayaknya manusia. Poong Do menarik tangannya dan bergegas pergi.


"Berhenti lah! Dia hanya anak kecil." bela Tuan Ma.

"Sampai kapan kau akan membiarkan anak manja itu?" jawab Young In.

"Ibu pikir dia seperti itu karena siapa? Apa ibu mendengarnya menangis karena merindukan ibunya!" jawab Tuan Ma.

"Apa ibu yang menyuruh istrimu selingkuh? Apa ibu menyuruhnya meninggalkan putranya?"

"Akan akan membawa Poong Do dan kembali padanya. Akan kudapatkan ibunya kembali dan mengubah keadaan menjadi normal lagi."

"Bagaimana dengan proyek Goryeo? Kau akan melepaskan itu selamanya?"

"Kita sudah melepaskannya delapan tahun lalu. Ibu tahu itu." jawab Tuan Ma.


Tepat saat itu, Seo Pil Doo muncul dan mendengarkan pembicaraan mereka tentang proyek Goryeo.


Tuan Ma langsung masuk ke ruangannya. Ia memindahkan buku-bukunya dari rak ke dalam kardus. Saat tengah memasukkan bukunya ke dalam kardus, ia menjatuhkan sebuah foto.

Tuan Ma melihat foto itu. Foto itu adalah foto dirinya bersama Pil Doo dan Tuan Jo.

Tuan Ma lalu teringat kata-kata sang ibu.

"Kalian bertiga sudah bekerja keras, terutama Ji Hwan."

Tuan Ma lantas mengingat masa lalunya.

Flashback...


Tuan Ma duduk di ruang makan bersama Ji Hwan dan Pil Doo. Tuan Ma tidak menyangka, Ji Hwan akan melakukan perjalanan jauh. Tuan Ma juga memuji Ji Hwan sebagai ahli sejarah.

Ji Hwan tertawa dan menatap Young In. Ji Hwan berkata, bahwa perjalanan mereka masih panjang dan mereka harus memproduksi ulang warna untuk 'Potret Kecantikan'.

Pil Doo nampak tidak senang mendengarnya.

Young In : Masa depan Grup Joobo ada di tangan kalian dan aku membelikan hadiah untuk kalian.


Tuan Ma melihat hadiahnya.

"MJS?" ucapnya bingung sambil melihat tulisan 'MJS' yang ada di hadiah jam tangannya.

Tak lama kemudian, Tuan Ma pun sadar itu singkatan nama dirinya (Ma Sung Jae), Ji Hwan dan Pil Doo.

Flashback end...


Tak lama kemudian, Pil Doo masuk menghampiri Sung Jae. Sung Jae meminta Pil Doo berhenti jika ibunya mengirim Pil Doo. Sung Jae berkata, Pil Doo sudah cukup lama bekerja keras.

"Bukankah kita sudah seperti saudara, Pak." jawab Pil Doo.

"Entahlah. Siapa yang menyebut 'Pak' pada adiknya?"

Sung Jae lantas menyuruh Pil Doo keluar.


Turun ke bawah, Pil Doo melihat pembantunya memegang sebuah amplop. Si pembantu pun berkata, amplop itu untuk Young In. Tiba-tiba terdengar tangisan Gwi Nyeo. Pil Doo pun mengatakan, akan memberikan amplop itu pada Young In. Setelah si pembantu pergi, Pil Doo membuka amplop itu dan melihat foto-foto Ji Hwan yang tengah bermain dengan Hong Joo.

"Jo Ji Hwan?" ucapnya, lalu teringat masa lalunya.

Flashback...


Pil Doo mengendap-ngendap keluar dari laboratorium penelitian Grup Joobo. Saat menutup pintu, ia tak sengaja menjatuhkan sebuah botol kecil.

Ji Hwan memergokinya dan melihat botol kecil itu.

Pil Doo pun langsung memungut botol kecil itu dan melarikan diri.

Ji Hwan tak tinggal diam. Ia berlari mengejar Pil Doo.

Flashback end...


Pil Doo tegang. Ia lantas meremuk foto Ji Hwan dan Hong Joo.


Tak lama kemudian, Jae Ran muncul. Pil Doo terkejut dan langsung menyembunyikan foto itu di belakangnya.

"Kenapa kau terkejut?" tanya Jae Ran sambil melirik Pil Doo yang menyembunyikan sesuatu.

"Bagaimana Pimpinan?" tanya Pil Doo.

"Dia tidak bisa mengendalikan kemarahannya. Tapi kenapa kakakku berulah? Kau tahu sesuatu?"

"Entahlah. Aku harus mencari tahu." ucapnya, lalu mencengkram foto Ji Hwan dan Hong Joo.


Bersambung ke part 2..........

No comments:

Post a Comment