Thursday, January 24, 2019

The Promise Ep 24 Part 2

Sebelumnya...


Do Hee turun ke bawah dan bersikap akrab dengan satpam gedung. Ia juga memberikan satpam gedung sebungkus vitamin. Sontak, si satpam bingung karena tidak mengenal Do Hee. Do Hee pun mengaku, dirinya akan pindah ke unit 702 minggu depan. Unit 702 adalah kamar yang dimasuki mantan istri Hwi Kyung tadi. Satpam kaget karena dia tidak mendengar akan ada penghuni baru. Do Hee beralasan, itu karena dia pindahnya seminggu lagi.

Do Hee : Ada wanita yang tinggal sendirian disana, jadi ada banyak yang harus diperhatikan.


Do Hee kembali ke mobilnya dan teringat kata satpam gedung soal mantan Hwi Kyung. Satpam bilang, ia tidak tahu pasangan itu sudah menikah atau belum tapi mereka tidak tinggal bersama. Wanita itu hanya beberapa kali datang kesana.

"Mungkin sudah 10 tahun atau lebih." ucap satpam.

Do Hee pun bingung. Ia lalu kembali menatap foto Hwi Kyung dan wanita itu.

"Dia bilang 10 tahun. Itu artinya dia sering datang menemui pria itu sebelum menikah dengan Hwi Kyung."

Sekarang, Do Hee menatap foto Hwi Kyung.

Do Hee : Seperti apa kisahmu?


Hwi Kyung masuk ke rumah dengan terburu-buru. Ia fikir, ayahnya sakit lagi. Young Sook menjelaskan, ayah Hwi Kyung baik-baik saja.

"Lalu kenapa ibu menyuruhku pulang?"

Tiba-tiba, terdengarlah suara Pimpinan Park yang sedang mengomel. Disusul kemudian dengan suara Do Hee.

"Apa yang terjadi?"

"Itulah alasanku menyuruhmu pulang. Do Hee datang kesini membawa bunga dan mengucapkan selamat atas kepulangan ayahmu. Bukankah kau tidak ingin menikah? Kau sungguh-sungguh mengencaninya?"

"Itu tidak akan pernah terjadi jadi jangan berharap."


Hwi Kyung marah. Ia masuk ke kamar sang ayah dan mengomeli Do Hee yang main datang ke rumahnya.

Pimpinan Park : Kau tidak lihat, dia mengajakku main mahjong.

Do Hee : Aku akan bicara denganmu setelah menyelesaikan permainan ini.

Hwi Kyung makin gondok.

"Sekakmat!" ucap Do Hee, membuat Pimpinan Park sewot lagi karena Do Hee sudah mengalahkannya 3 kali. Do Hee tertawa. Pimpinan Park pun menyerah.


Na Yeon kembali menemui Tae Joon. Ia memberikan semua buku tabungannya. Tae Joon bingung.

"Aku tidak bermaksud apa-apa. Itu gajimu jadi wajar aku mengembalikannya."

Tae Joon marah, "Menyelingkuhimu dan mencampakkan seorang anak tidak cukup untukmu? Kau ingin membuatku semakin terlihat jelek?"

"Uang ini adalah masa depan dan mimpi kita. Itulah kenapa aku menyimpan setiap sen dan senang melihat jumlahnya kian bertambah. Tapi mimpi dan masa depan kita sudah tidak ada lagi jadi aku tidak butuh lagi. Sudah benar aku mengembalikannya padamu."

"Apa maksudmu? Kau punya Sae Byeol."

"Aku akan membesarkannya sendiri seperti yang sudah kulakukan."

"Apa maksudmu?"

"Seperti yang kukatakan. Aku tidak akan memohon padamu lagi. Aku memaksamu menjadi ayah Sae Byeol bahkan saat kau tidak siap. Itu salahku. Aku tidak berpikir ini yang terbaik untuk Sae Byeol."


"Na Yeon-ah." suara Tae Joon melunak.

"Seperti yang kau lihat. Sekarang, kau tidak perlu bertanggung jawab atau merasa bersalah. Tapi jika Sae Byeol melihatmu setelah dia dewasa nanti, jangan hindari dia dan rangkul dia dengan hangat."

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Jangan pura-pura mencemaskanku. Aku baik-baik saja sampai sekarang dan akan tetap baik-baik saja di masa depan."

"Aku pastikan kau akan membesarkan Sae Byeol tanpa kekurangan apapun."

"Aku tidak butuh dukunganmu. Untuk yang terakhir kali, biarkan aku meminta satu hal."


Sementara itu, Se Jin sedang dalam perjalanan. Ia membawa sebuah boneka teddy bear besar. Sepertinya, ia berencana menemui Sae Byeol.


Bersambung..............

No comments:

Post a Comment