Monday, May 20, 2019

Different Dreams Ep 7-8 Part 2

Sebelumnya...


Won Bong mengajak Young Jin makan sup iga sapi. Ia membawa Young Jin ke restoran yang biasa ia datangi bersama Nam Ok atau Jin Soo.

Won Bong memperhatikan Young Jin yang makan dengan lahap.

"Jadi, kau dari Joseon." ucap Won Bong.

Young Jin langsung berhenti menyuap nasinya.

Ia lalu mengambil sendok Won Bong dan menyuruh Won Bong makan.

Won Bong mengambil sendoknya dari tangan Young Jin dan mulai makan.


Young Jin melihat luka di tangan Won Bong.

"Bagaimana perasaanmu? Ini berbahaya bagi kita, bukan?" tanya Young Jin.

"Ya." jawab Won Bong.

"Aku bertemu dengan Jaksa Fukuda. Aku memojokkannya, berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku bertanya apa dia mencurigaiku. Dan apa itu alasan dia datang ke Shanghai. Menurutku, dia pasti frustrasi sekarang. Karena ada kesalahpahaman." ucap Young Jin.

Young Jin lalu tanya, apa Won Bong tahu kenapa ia melakukan itu? Young Jin berkata, untuk menyembunyikan Won Bong.

"Kim Won Bong, pemimpin Korps Pahlawan. Aku ingin melindungimu dari jaksa Jepang dan Kantor Gubernur Joseon. " ucap Young Jin.

"Suatu hari nanti, aku akan berhenti." ucap jawab Won Bong.

"Kenapa tidak sekarang?" tanya Young Jin.

"Banyak orang yang harus kulindungi. Aku memberi tahu Kim Seung Jin tentang rencanamu. Dia akan menemanimu jika kau pergi. Tujuannya Manchuria." jawab Won Bong.

Young Jin berpikir sejenak, setelah itu, ia menatap Won Bong.


Hiroshi dan Hyun Ok bicara di halaman rumah. Hyun Ok membujuk Hiroshi agar mengajak Young Jin pulang. Hyun Ok mengaku takut kalau sesuatu terjadi lagi pada Young Jin.

Hyun Ok : Dia pergi terlalu jauh. Tidak bisakah dia bekerja di RSU Pemerintah Joseon?

Hiroshi : Aku sebenarnya mempertimbangkan itu. Tapi sebelum itu, aku berencana menjodohkannya.

Hyun Ok : Kau tahu pria yang cocok untuknya?

Hiroshi mengangguk. Hyun Ok tersenyum senang.

*Pria itu adalah Fukuda gaes....


Fukuda berjalan, menyusuri sepanjang jalan, dengan wajah  galau. Ia melewati bangku tempat ia dan Young Jin pernah duduk bersama.


Young Jin menemui Kim Goo. Kim Goo tanya, kau tidak dibuntuti?

Young Jin : Semuanya mengira aku di rumah.

Kim Goo : Kau menyelinap lewat jendela lagi.

"Aku sudah terbiasa sekarang." jawab Young Jin, memakai Bahasa Jepang.


Young Jin lalu membuka topinya.

"Semuanya?" tanya Kim Goo.

Young Jin duduk di meja.

Young Jin : Cheongbang, Konsulat Jepang, dan Korps Pahlawan.

Kim Goo : Ada tiga, kau pasti merasa tersanjung.

Young Jin : Jaksa itu kembali ke Gyeongseong.

Kim Goo : Bagaimana dengan Kim Won Bong?

Young Jin : Dia akan pergi ke Manchuria besok. Denganku.

Kim Goo : Kau menemukan dia?

Young Jin : Ya.


Kim Goo : Begitu rupanya. Tujuannya Manchuria. Dia mungkin bersama Lee Dong Hee (pemimpin gerakan kemerdekaan di Rusia).

Young Jin : Aku tidak mengatakan ini sebelumnya, tapi aku akan bilang sekarang. Pengelola dana dukungan Komintern bukan pemerintah sementara. Ini fakta yang tidak terbantahkan. Namun, jika uang itu digunakan untuk memperluas pengaruh Komunis, mereka harus bertanggung jawab untuk itu, dan aku akan menghentikannya.

Kim Goo : Kita sependapat soal itu.

Young Joo : Tapi kita tidak bisa membunuh mereka begitu saja seperti Kim Lip.

(Kim Lip adalah pejuang kemerdekaan yang dibunuh oleh agen rahasia KGP)

Young Jin : Aku akan meyakinkan Tae Joon Sunbae dan membawanya ke Shanghai. Berjanjilah padaku. Kesalahan yang sama tidak boleh terjadi lagi.

Kim Goo : Aku berjanji. Dan aku ingin kau berteman sedekat mungkin dengan Kim Won Bong. Buat dia memercayaimu sebagai Lee Young Jin, bukan sebagai Bluebird.


Paginya, Won Bong, Nam Ok dan Seung Jin sudah berada di stasiun. Seung Jin : Kereta akan segera berangkat. Aku akan memuat barang dahulu.

Nam Ok : Baiklah. Silakan.


Nam Ok merasa Young Jin tidak akan datang. Ia juga bilang, Young Jin hanya akan merepotkan jika ikut dengan mereka.

Won Bong tersenyum.

Nam Ok : Kakak sering tersenyum belakangan ini. Jujur saja, kau suka padanya, bukan?

Won Bong : Tidak.

Nam Ok : Sungguh? Bolehkah aku menyukainya?

Won Bong : Tidak boleh.

Nam Ok : Kenapa tidak?

Won Bong : Nam Ok,-ah, ingatlah bahwa kau harus sendirian dalam hidup ini. Jangan coba merusak kehidupan orang lain.

Nam Ok : Aku serius. Jangan terlalu dekat dengannya. Dia mungkin membahayakanmu dan Korps Pahlawan.

Nam Ok pergi duluan.


Sementara Won Bong masih menunggu Young Jin. Tak lama, Young Jin datang. Senyumnya langsung mengembang.


Won Bong mendekati Young Jin. Young Jin tersenyum padanya.

Won Bong kemudian membuka sarung tangannya dan mengajak Young Jin berjabat tangan.

Setelah itu, ia membawakan barang Young Jin dan mereka pergi menuju kereta.


Seorang pria, dari agen khusus Konsulat Jepang, mengikuti mereka. Won Bong sempat melihatnya.


Matsuura ke kantornya dengan wajah kesal. Ia duduk di mejanya dan memikirkan sesuatu. Lalu, ia melihat ada amplop di atas mejanya. Ia membukanya. Isinya, foto seorang pria konsulat bersama dua gisaeng.

Daiki datang, menawarinya teh.

Matsuura tanya, siapa yang mengantarkan foto2 itu.

Daiki tanya dengan wajah bingung, foto apa itu. Matsuura tidak menjawab.


 Fukuda minta penjelasan ke Oda, apa benar Oda mengawasi Young Jin.

Oda dari mejanya, melirik Fukuda, lalu tersenyum dan menyuruh Fukuda duduk.


Fukuda duduk.  Oda lalu duduk dan menjelaskan siapa Hiroshi sebenarnya.

Oda : Aku sudah bilang. Hiroshi dan aku telah berteman selama 30 tahun. Aku mengenal Young Jin sejak dia sekecil ini. Menurutmu, kenapa Hiroshi menyayangi anak angkatnya? Kemanusiaan? Atau karena iba? Kau tidak tahu sifat asli Hiroshi.Dia selalu membawa gadis kecil itu ke semua acara Departemen Angkatan Darat. Menurutmu, apa yang paling sering dia dengar dari atasannya saat dia memperkenalkan Young Jin? Dia malaikat yang memungut anak yatim piatu dari Joseon untuk dibesarkan. Seorang panutan yang mendidik gadis tidak beradab dari Joseon dengan mengorbankan dirinya sendiri. Bukan hanya Hiroshi yang mengadopsi anak. Kebanyakan dari mereka membesarkan anak-anak mereka seperti orang Jepang. Mereka membuat anak-anak mereka melupakan bahasa Joseon. Mereka membuat anak-anak itu bicara dan berpikir seperti orang Jepang. Mereka kebanyakan menyembunyikan bahwa anak-anak mereka berasal dari Joseon. Namun, Hiroshi melakukan hal sebaliknya. Dia menamainya dan membiarkannya berbicara dalam bahasa Joseon. Dia memanfaatkan Young Jin. Lee Young Jin tumbuh dengan kendali seperti itu. Dan dia melakukan gerakan kemerdekaan? Kenapa dia melakukan itu? Lee Young Jin, Kim Esther dan Yoo Tae Joon. Mereka bertiga cukup dekat. Yoo Tae Joon akhirnya akan mendengar tentang rencana pembunuhan dan kematian Esther. Dan bahwa Lee Young Jin dalam kesulitan. Kau pikir Yoo Tae Joon akan diam saja? Kita bisa memburu Kim Seung Jin dan Lee Young Jin secara bersamaan. Peluang kita untuk sukses lebih besar dengan dua strategi.


Oda lalu berdiri dan beranjak ke jendela.

Oda : Aku tahu Hiroshi menyukaimu. Sepertinya dia ingin menjodohkan Young Jin denganmu. Jika kau tidak ingin menjadi boneka Hiroshi, jaga jarak dari Young Jin. Atau buat rencana balasan. Kau tampak agak bengis. Ini bisa menjadi kelemahan bagimu dalam melakukan sesuatu yang hebat.


Di kereta, Won Bong, Young Jin, Nam Ok dan Seung Jin duduk terpisah.

Won Bong terus menatap Young Jin yang lagi membaca.

Young Jin yang sadar ditatap Won Bong, menoleh ke Won Bong. Ia lalu tersenyum.


Won Bong kemudian ingat kata2 Wol Sung. Won Bong sempat bicara ternyata dengan Wol Sung setelah drama penculikannya dengan Young Jin.

Wol Sung : Ada orang-orang yang pandai menyembunyikan perasaan mereka. Dan yang lebih lihai daripada mereka mengekspresikan emosi palsu. Itu sangat sempurna sampai-sampai membuat mereka percaya itu nyata. Cepat atau lambat kau harus mengambil keputusan bagaimanapun caranya. Jangan lupa. Lee Young Jin adalah bom waktu. Dia mungkin berbahaya. Setelah jam mulai berdetak, entah itu di tanganku atau di tangan musuh, kau tidak bisa mencegahnya meledak.


Won Bong lalu melihat pria yang mengikuti mereka sejak di stasiun.

Pria itu duduk tak jauh dari mereka. Ia menatap Won Bong sambil pura2 membaca koran.

Won Bong curiga.

Bersambung ke part 3....

No comments:

Post a Comment