Tuesday, May 21, 2019

Different Dreams Ep 9-10 Part 1

Sebelumnya...

Kita ke Different Dreams lagi ya gaes.. sy selesaikan ini dulu, abis itu sy lanjut Unknown Woman dua episode lagi, baru deh sy lanjutin sinop drama yang lain, sy post satu epi selang seling ya gaes...


Young Jin menaburkan abu dari atas bukit.

Di belakang Young Jin, berdiri Won Bong.


-Episode 9, Dua Jalan, Satu Tujuan-


Fukuda menemui Hiroshi. Ia minta maaf dengan wajah menunduk karena tidak menemui Hiroshi dulu sekembalinya dari Shanghai. Ia juga mengaku, tidak akan membuat penjelasan dan bersalah karena tidak hati-hati saat di Shanghai.

Hiroshi : Kita lupakan saja. Oda adalah inti pengkhianatan. Kau juga tidak mengetahui kalau Young Jin diawasi.

Hiroshi lantas menatap Fukuda dengan serius.

Hiroshi : Fukuda. Bisakah aku memercayaimu? Bisakah aku memercayai kalau kau  bukan salah satu orang Oda?

Fukuda : Tentu saja, Pak.

Hiroshi : Bisakah kau menjanjikannya?

Fukuda : Ya, Pak.

Hiroshi : Bagus. Hanya itu yang perlu kutahu. Suatu hari nanti, kau harus melakukan sesuatu untukku dan Young Jin. Saat itulah jangan lupakan janjimu hari ini.


Beralih ke Manchuria Utara, dimana Tae Joon dan Young Jin sudah selesai operasi. Tae Joon mengaku sangat terkejut melihat Young Jin disana. Tae Joon lantas menuangkan air ke dalam baskom kecil. Ia mengatakan, dulu, tempat itu jauh lebih buruk. Mereka awalnya tidak punya air bersih, apalagi alkohol. Tae Joon menyuruh Young Jin mencuci tangan.

Tae Joon : Sudah 10 tahun kita tidak bertemu, ya? Kau tidak berubah sama sekali.

Young Jin : Setelah lulus dari sekolah medis, Tae Joon Sunbae, Esther Eonni, dan aku minum-minum sampai matahari terbit. Kau mengingatnya?

Tae Joon : Arak beras barnyard millet? Benar juga, minuman itu dan panekuk kacang hijau. Kau hanya meminum arak beras mentah itu.


Young Jin : Aku masih ingat perkataanmu di pagi itu. Tidak masalah mereka berbicara bahasa yang berbeda atau memiliki warna kulit berbeda. Di mana pun ada pasien dan siapa pun mereka, kau akan selalu menolong mereka.

Young Jin lalu melihat sekeliling tempat Tae Joon menetap.

Young Jin : Inikah tempatnya? Inikah tempat yang selama ini kau cari setelah semua jalan berkelok itu?

Tae Joon tertegun, tapi kemudian ia tersenyum dan beranjak keluar tanpa membalas kata-kata Young Jin.


 Won Bong dan Nam Ok duduk2 diluar bersama Seung Jin dan seorang pejuang wanita.

"Ayo saling memperkenalkan diri. Aku Oh Gwang Sim. Pemimpin Milisi. Aku memimpin milisi skala kecil." ucap wanita itu.

"Aku Kim Won Bong dari Korps Pahlawan." jawab Won Bong.

Gwang Sim tertawa. Ia tidak percaya pria di depannya adalah Won Bong.

Seung Jin memberitahu Gwang Sim kalau dia memang Won Bong. Gwang Sim terdiam.


Nam Ok : Omong-omong, aku terkejut. Aku tidak percaya kau memimpin satu milisi semuda itu.

Seung Jin : Kakaknya yang awalnya memimpin milisi itu. Selagi melawan Tentara Murai, dia tertembak dan...

Nam Ok : Maaf.

Gwang Sim : Sisa tentara tetap di kamp, lantas sudah sewajarnya aku menjadi pemimpin mereka. Tapi aku masih kurang dalam banyak hal.


Won Bong : Tentara Murai?

Seung Jin : Itu peleton dari Gwandong yang dikirim ke sini setahun yang lalu. Mereka menjual opium dan morfin pada

warga asli. Lalu bagi para pecandu, peleton itu menjadikan harta keluarga mereka dan keluarga mereka sebagai jaminan.


Nam Ok : Pemimpin mereka bernama Murai?

Seung Jin mengangguk.

Won Bong : Di mana si teknisi bom?

Seung Jin : Dia di maritim dan akan tiba dalam dua hari.


Won Bong lalu melirik Nam Ok.

Won Bong : Kau! Jangan lupa alasanmu di sini. Mengerti? Bersembunyilah sampai si teknisi bom tiba.

Nam Ok : Tiba-tiba begitu? Kalau dia merasa suasana sedikit terlalu serius, dia tiba-tiba menggangguku seperti itu, kemudian...

Seung Jin dan Gwang Sim tertawa.


Tae Joon dan Young Jin keluar. Ia mengajak Won Bong dan Nam Ok makan. Nam Ok senang diajak makan.

Won Bong langsung mengenalkan dirinya pada Tae Joon.

Won Bong : Aku sedang memerlukan sesuatu, karena itu aku datang tanpa pemberitahuan, tapi kami dikuntit. Meski aku sudah berhasil menyingkirkannya, mereka tahu kau di Manchuria.

Tae Joon : Ada alasan di balik setiap pertemuan. Sudah waktunya kita bertemu, karena itulah langit mengizinkanmu datang ke sini.

Won Bong : Kudengar kau memiliki seorang teknisi bom. Aku harus membawanya ke Gyeongseong.

Tae Joon : Kita bicarakan nanti saja. Sekarang makanlah dahulu.


Tae Joon menjamu Young Jin dkk. Nam Ok tidak menyangka, Gwang Sim lah yang memasak semua makanan itu.

Won Bong meneguk airnya dan menatap Young Jin sembari mengingat kata-kata Wol Sung kalau Young Jin adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Won Bong lalu tersenyum pada Young Jin.

Young Jin membalas senyuman Won Bong sambil mengingat kata2 Kim Goo yang ingin ia dekat dengan Won Bong sebagai seorang Lee Young Jin, bukan Bluebird.


 Usai makan malam, Young Jin menyendiri diluar. Tae Joon datang dan mengajak Young Jin bicara.

Young Jin : Aku masih tidak mengerti kenapa dia melakukannya. Di antara kita, dialah yang paling rasional. Keluarga yang dikorbankan... Ya, itu memang mengerikan, tapi dia mengurusnya dengan tangannya sendiri, alih-alih membiarkan dia dijatuhi hukuman. Kenapa semua orang berubah? Berapa banyak korban lagi yang harus mati karena uang yang kau kumpulkan? Kau tidak tahu bagaimana uang itu dipakai? Kau tidak peduli pada apa yang terjadi selama kau mengirim uang itu?

Tae Joon : Ini impianku. Aku berharap putriku akan selalu menyanyi dengan bahasa Korea. Aku berharap tanah tempatnya tumbuh dengan bebas nanti adalah tanah tempat ayah dan kakeknya dikuburkan. Begitu generasi ini berlalu, begitu juga dengan generasi berikutnya, Joseon bukan lagi tanah di mana rakyat bisa menyanyi dengan bahasa Korea atau membaca buku yang tertulis dengan bahasa Korea. Apa pun yang terjadi, itulah yang dipaksakan pada kita. Karena penindasan itu, kita akan kehilangan bahasa dan negara kita. Pada akhirnya, generasi selanjutnya akan dikubur di tanah ini.

Young Jin : Tapi kau sudah mengambil Sumpah Hippokrates. Sebenci apa pun kau pada Jepang, kau tidak seharusnya membantu atau mengabaikan perbuatan yang merenggut nyawa manusia.

Tae Joon : Young Jin-ah, bukan aku jawabannya. Aku bahkan tidak tahu apa jawabannya. Jika datang ke sini mencari jawaban, kau tidak akan menemukannya dariku.

Young Jin : Jangan di sini sendirian. Pergilah ke Shanghai. Temui Kim Goo.


Di dalam, Tae Joon memikirkan tawaran Young Jin ke Shanghai.

Lalu Won Bong datang.


Won Bong : Semuanya mencarimu. Karena terkait hilangnya dana itu.

Tae Joon : Karena itu kau di sini?

Won Bong : Aku sudah memutus hubungan dengan pemerintah sementara karena perselisihan antar anggota yang tidak berujung. Alasan kehancuran mereka adalah uang itu. Kalau kau tahu di mana dana itu, berikan saja kepada mereka. Akan lebih baik jika mereka yang memilikinya dibandingkan Jepang.

Tae Joon : Majar. Dia akan tiba dalam dua hari. Dia sendiri yang akan memutuskan.

Won Bong menghela nafas.


Tae Joon : Pimpinan Kim, kau dan Young Jin sudah lama saling mengenal?

Won Bong : Tidak, baru saja. Dia mengatakan sesuatu?

Tae Joon : Bukan apa-apa.


Tentara Murai melintasi bukit yang menuju ke tempat Tae Joon.

Mereka lalu berhenti sebentar di depan jasad seorang pria.


Seketaris Oda memberikan data personal agen Konsulat Shanghai yang dibunuh Won Bong di kereta pada Matsuura.

"Dia agen Konsulat Shanghai. Dia di Manchuria. Sedang mengincar Kim Seung Jin."

"Jadi, beginilah cara si bedebah Oda melakukan sesuatu." gumam Matsuura

"Ada satu lagi. Putri angkat Direktur Hiroshi, Lee Young Jin. Dia juga di Manchuria."

Mendengar itu, Matsuura pun tertawa. Tapi beberapa saat kemudian, ia menggebrak meja saking kesalnya.


Matsuura kembali ke kantornya dan memberi perintah pada anak buahnya.

"Mulai hari ini, tim ini disebut Tim Satuan Tugas Khusus. Kita akan menginvestigasi teroris dan kaki tangan mereka. Awasi rumah Kim Seung Jin dengan dua jadwal jaga. Catat semua surat yang didapatnya, kliennya, dan yang dilakukannya setiap hari. Kalau dia melakukan sesuatu yang tidak biasa, langsung laporkan padaku. Awasi Jenderal Hiroshi dan kaki tangannya, Maru, 24 jam sehari. Catat semua surat yang didapatnya dan panggilannya. Ada Michiko di perusahaan telepon Gyeongseong. Dia sudah lama bekerja sama denganku. Laporkan kepadaku secara rutin. Kita akan melindungi Gyeongseong." ucap Matsuura.


Daiki : Direktur rumah sakit Kantor Gubernur Joseon meninggal.

Matsuura kaget, apa penyebabnya?

Daiki : Dia meninggal saat tidur, tapi mereka tidak mau mengautopsinya.

Matsuura : Dia mengidap penyakit apa?

Daiki : Kudengar dia mengidap masalah jantung, tapi bukankah tetap saja aneh? Kenapa mereka tidak mau mengautopsi direktur itu?

Matsuura : Bukankah itu berarti Hiroshi menjadi direktur berikutnya?

Daiki : Mungkin itu perayaan lebih cepat, tapi mereka berdua mabuk-mabukan semalam sebelumnya.


Won Bong dan Nam Ok melihat markas milisi bersama Gwang Sim dan Seung Jin. Gwang Sim berkata, suatu saat nanti ia akan ke Shanghai.

Nam Ok : Bagaimana kalau kita pergi bersama?

Gwang Sim : Akan kupikirkan.

Seung Jin : Setidaknya di sini musuh kita terlihat. Di Shanghai, banyak yang diam-diam mengawasimu. Bukan tempat tinggal yang baik.

Gwang Sim : Di sini sama saja. Tentara Kwantung sangat mengganggu hingga beberapa warga pindah.

Won Bong : Memang apa yang mereka lakukan?

Gwang Sim : Katanya mereka memantau rel kereta dan membantu penduduk Jepang, tapi mereka diam-diam menjual opium dan membunuh pejuang kemerdekaan.

Gwang Sim lalu tanya soal orang yang menguntit Won Bong. Ia takut itu akan menimbulkan masalah ke mereka.

Nam Ok : Tentu tidak. Mungkin dia sudah mati. Dia tertembak dan jatuh.


Murai menyelamatkan pria itu.

Pria itu siuman dan terkejut. Sesaat kemudian, ia berusaha bangun. Murai yang melihat itu, menyuruh pria itu diam supaya luanya tidak terbuka lagi.

Murai lalu memperkenalkan dirinya sebagai Kapten Tentara Gwantung.


Murai : Aku tahu kau orang Konsulat Jepang di Shanghai. Kenapa kau di Manchuria?

"Aku dikirim Kantor Gubernur Joseon. Aku mencari Yoo Tae Joon. Dia yang bertanggung jawab atas dana Joseon yang diberikan Komintern."

Murai terkejut. Lalu ia tanya jumlah dana itu. Pria itu diam.


Murai lalu mengambil pistolnya dan mendekati pria itu.

Murai : Kalau bukan karena aku, kau sudah mati di luar sana.

Pria itu memberitahu jumlah dana yang dipegang Tae Joon.

"Setidaknya 1.500 dolar atau sekitar 6.000 dolar."

Murai sontak kaget.

Bersambung ke part 2...

No comments:

Post a Comment