Monday, June 3, 2019

Different Dreams Ep 17-18 Part 3

Sebelumnya...


Di part sebelumnya, kita melihat Young Jin membaca surat peringatan yang ditulis Won Bong.

Ternyata Fukuda lah yang menunjukkan surat itu ke Young Jin.

Fukuda bilang, surat itu berserakan di seluruh kantor pemerintahan.

Fukuda : Ini berarti sesuatu akan terjadi di Gyeongseong. Mulai sekarang jangan mendekati kantor pemerintahan.

Young Jin : Tentu.


Fukuda lalu ingat kata2 Ishida kalau Young Jin lah yang mempermaikannya saat ia menginterogasi Ishida soal kasus kematian direktur sebelumnya.


Fukuda menatap curiga ke Young Jin.

Ditatap seperti itu, membuat Young Jin bertanya ada apa.

Fukuda : Tidak ada.

*PD-nim, jebaaal.. jgn bikin Fukuda eskete-an ama Young Jin... Gk rela sumpah kl Fukuda-Young Jin harus saling melukai satu sama lain...


Jung Im tengah mendandani Won Bong. Ia memakaikan kacamata dan topi pada Won Bong.


Sekarang, Won Bong menyendiri di ruang rahasia Hyehwa.

Jung Im turun, melihat Won Bong.

Jung Im lantas mengambil selimut dan menyelimuti Won Bong.

Won Bong menggenggam selimutnya.

Jung Im : Kapan terakhir kali kau tidur dengan benar?

Jung Im mau pergi. Tapi Won Bong tiba2 memegang tangannya.

Won Bong : Jika sesuatu terjadi kepadaku di Kantor Gubernur...

Jung Im marah. Ia bilang, tak akan terjadi apa-apa pada Won Bong.

Won Bong : Jika sesuatu terjadi kepadaku, kau harus pergi ke Shanghai bersama anggota yang lain. Bakar semua dan jangan meninggalkan barang bukti.


Jung Im pun duduk di depan Won Bong. Lalu ia memegang tangan Won Bong dan berjanji.


Paginya, Nam Ok memulai tugasnya. Ia memakai seragam petugas PLN dan memutus kabel di area kantor gubernur.


Akibatnya listik di kantor gubernur mati seketika.

Petugas di kantor gubernur pun langsung menghubungi perusahaan listrik Yoshino sambil ngedumel.


Segera setelah menerima laporan, petugas perusahaan listrik Yoshino menuju kantor gubernur. Tapi Won Bong tiba2 muncul dan membuatnya pingsan. Won Bong yang sudah mengenakan seragam Yoshino pun bergegas menuju kantor gubernur sebagai petugas listrik Yoshino.


Sekarang, Won Bong sudah tiba di kantor gubernur. Dia sok ramah pada petugas di depan yang memeriksa setiap orang yang masuk kantor gubernur.

Won Bong : Pasti tidak menyenangkan terjadi gangguan listrik di pagi hari.

"Segera atasi." suruh petugas setelah memeriksa kartu tanda petugas Won Bong.

"Semoga harimu menyenangkan." jawab Won Bong lalu beranjak pergi.


Won Bong mulai menyusup ke atas.


Di ruang rahasia, Majar menunggu dengan cemas.


Won Bong tiba di depan sebuah ruangan.

Petugas kembali menghentikannya.

Won Bong : Aku ke sini untuk memeriksa papan panel listrik.

Petugas menatap curiga Won Bong. Won Bong tersenyum. Petugas menyuruh Won Bong ke sebuah ruangan.


Jin Soo tampak menunggu di satu tempat dengan mobilnya. Ia melirik jamnya.


Won Bong membuka kotak listrik di ruangan gubernur. Ternyata, ruangan yang dimasuki Won Bong adalah ruangan gubernur.

Tapi petugas tiba2 datang menghampirinya.

Petugas menyuruh Won Bong bekerja dengan cepat karena gubernur akan segera tiba.

*Astaga, kaget sy, kirain si Won Bong ketahuan.


Gubernur menuju ruangannya bersama Oda dan Kenta.


Won Bong membuka peralatannya. Ternyata, ada satu tempat di kotak itu yang luput dari pemeriksaan petugas. Dan di tempat itulah, Won Bong menyembunyikan bom nya.

Won Bong lalu membuka lemari buku gubernur dan meletakkan bom nya disana.


Petugas tiba2 datang dan menyuruh Won Bong bekerja dengan cepat.

Won Bong berkata akan mengeceknya sekali lagi.


Gubernur bersama Kenta, Oda dan beberapa rekannya yang lain menunggu dengan cemas di ruangan lain.


Won Bong keluar. Ia bilang pada petugas mau memeriksa ke basement.

Won Bong : Sepertinya ada yang salah dengan transformatornya.

Won Bong beranjak pergi tapi dihentikan petugas.

"Lewat sana." ucap petugas. Won Bong mengangguk dan bergegas pergi.


Diluar, Nam Ok menunggu dengan cemas.


Won Bong tiba di basement. Ia duduk disana.

Di ruangannya, Young Jin cemas memikirkan Won Bong.

Won Bong heran bomnya belum meledak.

Lalu ia ingat kata2 Majar.

Majar : Bom akan meledak tanpa ada hambatan. Masalahnya ada di pengatur waktunya. Aku menambahkan pemicu manual untuk berjaga-jaga.

Won Bong mengambil pistolnya.


Jin Soo tambah cemas. Ternyata ia berada tak jauh dari kantor gubernur. Ia heran kantor gubernur belum meledak.


Jung Im juga cemas di butik.


Won Bong balik ke ruangan gubernur. Kali ini ia tidak memakai topi dan kacamatanya. Ia bilang ke petugas harus memeriksa sekali lagi. Petugas mengizinkan.

Won Bong membuka lemari dan memeriksa timer bomnya.

Petugas melihat itu, langsung menodongkan senjata pada Won Bong dan menyuruh Won Bong berdiri.


Petugas membunyikan bel. Saat petugas membunyikan bel itulah, Won Bong berhasil merebut pistolnya dan melumpuhkannya.

Gubernur, Oda, Kenta dan rekan2 mereka yang lain kaget mendengar bunyi bel. Mereka pun bergegas mengevakuasi gubernur.

Won Bong lagi baku hantam dengan petugas tadi.

Oda dan Kenta berusaha melarikan gubernur.


Para petugas yang lain datang mengepung Won Bong.

Seorang petugas memecahkan kaca jendela dan berniat membuang bom, tapi Won Bong menembakinya.

Won Bong lalu menembak bom itu.

Bom seketika meledak menghancurkan kantor gubernur.


Nam Ok yang berdiri di atap sebuah bangunan melihat itu.


Jin Soo juga melihat itu dari mobilnya.


Segera setelah bom meledak, Jin Soo melajukan mobilnya, menjemput Nam Ok. Nam Ok terkejut melihat Won Bong tak ada di mobil.

Nam Ok dan Jin Soo kembali ke Hyewa.


Jung Im mengunci butik dan menyusul mereka ke ruang rahasia.

Jung Im menanyakan Won Bong. Tapi tak ada satu pun yang menjawab.

So Min curiga, Won Bong tewas. Nam Ok marah mendengar kata2 So Min.


Majar : Bagaimana dengan bomnya?

Jin Soo : Ledakan terjadi lebih lambat dari waktu yang diatur. Won Bong tidak datang ke tempat yang ditentukan.

Majar : Apa itu berarti dia menggunakan pemicu manual?


Nam Ok mengambil senjata dan berkata, akan menemukan Won Bong, hidup atau mati.

Jin Soo : Kemana kau akan mencarinya?

Nam Ok : Pasti di Rumah Sakit Umum Pemerintah! Baik dia tewas atau terluka, bom meledak di Kantor Gubernur. Jadi, dia pasti akan dibawa ke rumah sakit.

Jin Soo melarang.

Nam Ok marah, lepas sebelum aku membunuhmu.

Jin Soo : Kau bisa mati jika sembarangan ke sana. Kita butuh rencana.

Tapi Nam Ok tidak mau mendengar.


Jung Im turun tangan. Ia membujuk Nam Ok. Ia bilang, mereka harus membuat rencana.

Nam Ok membuang senjatanya dan berteriak kesal.

Bersambung ke part 4...

No comments:

Post a Comment