Tuesday, October 15, 2019

The Great Show Ep 3 Part 1

Sebelumnya...


Dae Han sedang membetulkan pintu kamar anak2 yang dirusak kedua preman tadi. Sambil sesekali ia melirik Soo Hyun yang syok berat tahu Dae Han adalah ayah Da Jung.

"Sampah yang mengusir kalian usai melihat bagaimana kalian hidup adalah Wi Dae Han?" tanya Soo Hyun sekali lagi ke Da Jung.

"Aku tidak mengusirnya. Aku datang untuk mengurus mereka." jawab Dae Han.

"Aku tidak tahu dan sangat bodoh." ucap Soo Hyun.

"Maafkan aku." ucap Da Jung ke Soo Hyun.

"Kenapa kau meminta maaf? Si pembohong tidak tahu malu itu yang seharusnya meminta maaf." jawab Soo Hyun.

"Aku tidak akan berada di sini jika tidak tahu malu." ucap Dae Han.


Soo Hyun lantas mendekati Dae Han. Ia tambah panas.

Soo Hyun : Kau sebut itu alasan? Kau monster. Dia anakmu. Teganya kau...  khususnya orang yang kehilangan ibu dan mengurus adik-adiknya. Bagaimana bisa kau mengusirnya?

Dae Han : Itu sebabnya aku di sini. Menjadi manusia yang baik. Aku akan menerima dan membesarkan Da Jung dan saudara-saudaranya.


Tak : Seperti kami mau tinggal dengan anda saja.


Dae Han lalu mendekati Da Jung.

Dae Han : Bawa adik-adikmu. Mari hidup bersama mulai sekarang.

Da Jung : Kenapa anda tiba-tiba berubah pikiran? Anda sudah mendapatkan hasil tes DNA?

Dae Han : Ya.


Soo Hyun makin kaget.

Soo Hyun : Kau sudah menjalani tes DNA?


Dae Han : Cukup. Dengar. Sejujurnya, kurasa aku belum pantas dipanggil ayahmu. Aku akan mencoba menjadi wali legalmu. Aku tidak tahu sebaik apa aku nanti, tapi tetap saja.

Da Jung : Terima kasih untuk hari ini. Ini sudah larut. Sebaiknya anda pulang. Aku akan bicara dengan saudara-saudaraku apa kami akan pindah ke rumah anda.

Dae Han : Apa yang harus dibahas...

Da Jung : Anda mengusir kami sekali. Apa yang bisa menjamin anda tidak melakukannya lagi?


Sekarang, Dae Han dan Soo Hyun sudah di perjalanan pulang. Soo Hyun yang lagi panas, enggan bicara dengan Dae Han. Dae Han menatap Soo Hyun dan menyuruhnya bicara.

Dae Han : Kaubisa mengutukku.

Soo Hyun : Ini menyesakkan. Itu sebabnya aku tidak bicara. Agar kau bisa mati sesak.


Da Jung mondar mandir memikirkan tawaran Dae Han. Da Jung lantas menatap Tae Poong dan Song Yi yang sedang asyik menggambar. Da Jung kemudian duduk.

Da Jung : Siapa mau tinggal dengan Pak Wi? Angkat tangan.

Da Jung, Tae Poong dan Song Yi mengangkat tangan mereka, tapi tidak dengan Tak. Da Jung fikir, Tak takut diusir lagi. Da Jung menenangkan Tak. Ia bilang, Dae Han sudah berjanji di depan Soo Hyun.


Tak : Dia ayah kakak, bukan ayahku.

Da Jung : Bukankah kau adik kakak? Jika dia ayah kakak, dia juga ayahmu.

Tak : Tinggallah bersamanya. Aku akan hidup sendiri.


Tak kemudian berdiri. Ia mau pergi tapi Da Jung menghentikannya dan menatapnya tegas.

Da Jung : Kakak kepala keluarga ini karena ibu dan ayah sudah tiada.

Tak : Yang benar saja.

Da Jung : Mari kita pindah dengan Pak Wi. Setelah kita hidup bersama...

Tak beranjak pergi.


Da Jung berteriak kesal.


Tak main game di warnet. Tapi kemudian, jarinya berhenti memencet2 keyboard dan wajahnya berubah kesal. Ya! Ia teringat kata2 Dae Han pada Da Jung, sebelum mereka keluar dari rumah Dae Han.


Ternyata Tak sempat menguping pembicaraan Dae Han dan Da Jung.

Dae Han : Meski aku ayah kandungmu, aku sama sekali tidak berhubungan dengan adik-adikmu. Aku tidak punya kewajiban menampung mereka.

Itulah yang membuat Tak menolak tinggal dengan Dae Han.


Dae Han duduk di depan akuariumnya dan bicara sendiri.

Dae Han : Aku melakukan hal yang benar, bukan? Bagiku dan bagi mereka. Ini pilihan terbaik.

-Episode 3, Harga Sebuah Keluarga-


Joon Ho pulang ke rumah dan melihat ayahnya sedang memberi makan anjing mereka.

Joon Ho mendekat.

Joon Ho : Bukankah sudah terlalu larut untuk memberinya makan?

Kyung Hoon : Dia tidak peduli dengan waktunya. Dia makan setiap kali kau menyuapinya. Publik terkadang sama sepertinya. Mereka mengambil apa pun yang kita berikan. Itu sebabnya populisme sangat berbahaya.

Joon Ho : Bukankah lebih berbahaya menganggap orang sebagai hewan yang tidak bijaksana?

Kyung Hoon : Ya, begitulah caramu harus berbicara. Itu yang disukai rakyat.


Joon Ho : Aku selalu bertanya-tanya. Kenapa ayah terjun ke dunia politik?

Kyung Hoon : Apa inti pertanyaanmu?

Joon Ho : Orang-orang, abu, dan aku... keterlibatan ayah dalam politik tidak membuat siapa pun bahagia.

Kyung Hoon : Bahagia. Orang mengoceh soal itu karena mereka tidak kelaparan. Karena orang seperti ayah adalah politisi yang baik, negara ini menjadi kenyang dan hangat.

Joon Ho : Ibu sudah pulang?

Kyung Hoon : Belum. Entah ke mana dia selalu pergi.

Joon Ho : Karena ibu tidak ada di sini, bagaimana jika bertarung antar pria?

Kyung Hoon : Kedengarannya bagus.


Dae Han dan Bong Joo bicara di tepi Sungai Han.

Bong Joo : Apa rencanamu dengan mengasuh anak-anak?

Dae Han : Aku akan memanfaatkan media. Aku jadi ayah dengan menerima anak yang bisa dibilang yatim piatu. Media akan menyukainya.

Bong Joo : Dia bukan putri kandungmu. Dia orang asing secara legal dan biologis. Orang-orang akan berpikir itu aneh, bukannya mengharukan.

Dae Han : Itu risiko yang harus kuambil. Dan kau tahu aku tidak bisa kembali sampai kehilangan citra durhaka.

Bong Joo : Tetap saja, ini tidak benar. Nyawa anak-anak dipertaruhkan.

Dae Han : Aku tidak melakukan ini hanya untukku. Anak-anak membutuhkan wali legal.

Bong Joo : Bagaimana jika ayah mereka yang hilang kembali?

Dae Han : Bahkan lebih baik. Aku akan membersihkan citraku dan bisa menyerahkan anak-anak kepada ayah mereka.


Bong Joo : Haruskah kau bertindak sejauh ini?

Dae Han : Aku menjadi sopir pengganti hari ini dan kliennya adalah Kang Joon Ho.

Bong Joo : Apa? Sungguh?

Dae Han : Dan aku mengalami kecelakaan saat mengemudikan mobilnya.

Bong Joo : Ini jauh lebih buruk daripada saat pria itu memuntahimu.

Dae Han : Mungkin aku akan mati di tempat karena dipermalukan. Harga diriku begitu tinggi, sampai aku amat tersiksa,

Dae Han lalu teringat kata2 Joon Ho.

Joon Ho : Aku tahu aku bisa melakukannya lebih baik darimu. Politik.


Bong Joo :  Itu benar. Mungkin dia akan sukses.

Mendengar itu, Dae Han sewot.

Dae Han : Apa itu tadi? Kalau begitu, jadilah ajudannya. Berandal. Kau mau nomor teleponnya?

Bong Joo : Tidak. Kami punya pandangan politik yang berbeda.

Dae Han : Lalu?

Bong Joo : Apa maksudmu lalu?

Dae Han : Bagaimana bisa aku diam saja setelah mendengar itu? Aku akan memberinya pelajaran. Aku tidak tahu soal hal lain, tapi aku menolak membiarkannya bergabung dengan Majelis Nasional.


Joon Ho bermain mahjong dengan ayahnya.

Joon Ho : Sesuatu yang menarik terjadi hari ini. Aku memanggil sopir pengganti dan Wi Dae Han muncul.

Kyung Hoon : Benarkah?

Joon Ho : Tapi dia mengatakan hal aneh.

Kyung Hoon : Apa katanya?

Wajah Joon Ho mulai berubah serius.

Joon Ho : Saat kami SMA, toko ibunya hampir diusir karena ayah.

Kyung Hoon : Kebohongan apa yang mustahil diucap orang yang menelantarkan ayahnya? Ada banyak hal seperti itu dalam politik. Berbohong dan menyebarkannya seolah-olah itu kebenaran. Tidak bijak jika mengabaikan kebohongan seperti itu.


Joon Ho : Ayah benar, tapi aku tidak bisa mengabaikannya. Aku tidak akan mencalonkan diri.

Kyung Hoon : Apa maksudmu?


Joon Ho pun menatap sang ayah.

Joon Ho : Kurasa politik menghancurkan orang-orang.


Dae Han dan Bong Joo masih bicara di depan Sungai Han.

Bong Joo tanya bagaimana cara Dae Han membesarkan anak2.

Bong Joo : Jika kau menerima anak-anak dan memanfaatkan media, kau mungkin bisa membersihkan citramu. Tapi bagaimana kau bisa membesarkan empat anak? Kau tidak punya tabungan. Kau berutang ratusan ribu dolar. Separuh rumahmu dihipotekkan.

Dae Han : Aku akan berutang lebih banyak. Ditambah lagi, itu bukan utang. Itu investasi. Ya. Investasi.


Dae Han pergi ke bank, mengajukan pinjaman tapi pinjamannya ditolak karena ia sudah meminjam sebanyak 200 ribu dolar.

Dae Han : Kalau begitu, boleh aku minta kredit?

"Apa pekerjaan anda?"

"Kau tidak mengenalku? Anggota Dewan termuda, Wi Dae Han."

"Anda anggota dewan?"

"Aku dahulu anggota dewan."

"Bagaimana dengan sekarang?"

"Aku mantan anggota dewan."

"Anda tidak melakukan hal lain?"

"Tentu saja. Aku memberi kuliah di mana-mana dan aku sedang menulis buku. Aku juga menjadi sopir pengganti di malam hari."

"Jadi, Anda tidak punya pekerjaan tetap?"

"Aku sudah menjadi sopir pengganti secara konsisten selama setahun."

Permintaan Dae Han ditolak.


Dae Han lantas mengecek saldo ATMnya.

Hanya ada 2.487 dolar. Dae Han pun stress.

Dae Han lantas dihubungi Da Jung.

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment