Monday, October 14, 2019

The Great Show Ep 2 Part 4

Sebelumnya...


Di depan sebuah kampus, terpasang spanduk Dae Han sebagai dosen tamu.


Dae Han sedang memberikan kuliah sebagai dosen tamu.

Dae Han : Bagaimana burung bisa terbang? Mereka terbang seperti ini. Mereka membutuhkan kedua sayap untuk menjaga keseimbangan untuk terbang. Ini sama dengan politik. Kita butuh sayap, progresif, dan konservatif. Tapi sekarang, apa progresif dan konservatifnya? Siapa yang bisa memberiku jawaban?

Tapi tidak ada satu pun yang menjawab.

Dan yang mendengar juga bukan mahasiswa, tapi beberapa orang tua dan itu pun sikap mereka acuh tak acuh.

Ponsel salah satu pendengarnya berbunyi. Pria tua itu menjawab ponselnya.

"Aku mendengarkan kuliah. Dia anggota dewan. Entahlah, tapi mereka bilang dia anggota dewan."


Sekarang, Dae Han duduk di ruangan seorang pria, bersama seorang pria.

Dae Han : Ini membuatku gila.

Pria itu hanya tersenyum, lalu menunjukkan artikel Kyung Hoon dan Joon Ho saat menjadi sukarelawan.

Dae Han : Apa ini?

"Saat politisi berbuat begini, orang berkomentar buruk. Tapi lihat komentar di sini." jawab pria itu.


Dae Han membaca komentarnya. Semua komentar memuji Kyung Hoon dan Joon Ho.

"Semua komentar bagus. Menurutmu kenapa?" tanya pria itu.

"Kenapa?" tanya Dae Han.

"Anggota Dewan Kang Kyung Hoon mungkin tidak terlalu disukai, tapi keluarga mereka tampak luar biasa."

"Jadi, apa maksudmu?" tanya Dae Han.

"Maksudku mustahil melakukan politik dengan julukan seperti "Anak Durhaka". Aku mengatakan ini karena peduli denganmu. Kau harus berhenti dari politik."


"Ini belum berakhir sampai benar-benar berakhir."

"Keberanian dan keberanian mabuk adalah dua hal berbeda. Ini keberanian mabuk, bukan keberanian. Berhenti saat kau harus berhenti adalah keberanian."

Malas mendengarnya, Dae Han beranjak pergi tapi sampai di pintu, ia berkata lagi bahwa ia akan membuktikan dirinya di pemilihan berikutnya.

Dae Han : Sunbae, bahwa perbuatanmu hari ini melewati batas, bukan memberi nasihat. Aku pergi.


Da Jung bekerja di pom bensin. Sebuah mobil datang. Da Jung langsung mendekatinya dan bertanya mau diisi berapa. Tapi pria di dalam mobil mengacuhkannya dan terus mendengarkan putrinya.

Sang putri menunjukkan foto BTS di ponselnya.

"Jadi, maksudmu Bangtan Boys dan BTS adalah orang yang sama?" tanya pria itu.

"Tentu saja!" jawab sang putri.

Da Jung lalu bertanya lagi, mau isi berapa. Pria itu menyuruhnya mengisi sampai penuh.

Putri pria itu kemudian melihat Da Jung dan kaget.

"Han Da Jung." ucapnya. Da Jung yang malu, langsung pergi dan mulai mengisi bensin pria itu.

"Kau mengenalnya?" tanya pria itu.


"Dia teman di sekolah. Omong-omong, ayah tahu soal NCT?"

Melihat keakraban temannya dengan sang ayah, Da Jung sedih dan teringat Dae Han yang menolaknya.


Tiba2, ponselnya berdering. Telepon dari Tak yang memintanya segera pulang. Tak bilang, mereka dalam masalah.


Da Jung langsung berlari pulang. Sampai di rumah, ia melihat kedua preman sedang duduk bermain kartu di rumahnya.

Sementara ketiga adiknya berlutut sambil mengangkat tangan ke atas.

Da Jung marah dan menyuruh adik2nya bangun.


Si ketua preman marah.

"Siapa yang menyuruhmu!"

Adik2 Da Jung pun kembali mengangkat tangan mereka.


Da Jung tambah kesal dan menatap kedua preman itu.

Da Jung : Katamu kau datang untuk utang ayah kami. Jika kau mau uangnya, urus saja denganku.

"Silakan bicara. Kami siap mendengarkan."

"Kami belum dengar kabar dari ayah selama lebih dari dua tahun. Kami juga ingin tahu di mana dia!" ucap Da Jung.

"Kurasa dua tahun cukup lama untuk mulai merindukan anak-anaknya. Sulit memutuskan hubungan dengan keluarga. Kurasa kami harus tinggal di sini untuk sementara."

Kedua preman itu lalu tiduran di lantai.


Dae Han lagi makan ramen di depan mini market sambil membaca komenan orang2 soal Joon Ho dan Kyung Hoon yang bekerja sebagai sukarelawan.

Diantara semua komentar positif, ada satu komen yang menanyakan soal dirinya. Komen lain berkata, mungkin dia sedang makan siang gratis di penampungan tunawisma.

Kesal, Dae Han pun meninggalkan komentar.

"Jika kau sempat berpura-pura, kenapa tidak membuat hukum layak? Kang Kyung Hoon tidak mengusulkan undang-undang apa pun."

Tak lama, Dae Han pun mendapat panggilang menjadi supir pengganti.


Dae Han bergegas mencari orang yang memintanya menjadi supir pengganti, tapi ia malah bertemu Joon Ho di tepi jalan. Sontak keduanya kaget dan teringat masa lalu mereka.

Flashback...


Dae Han sumringah saat membaca pengumuman nilai2nya dan siswa lain di papan pengumuman. Ia mendapat peringkat pertama. Sementara Joon Ho terdiam mendapat peringkat dua.

Dae Han : Peringkat dua tidak buruk.

Dae Han menyemangati Joon Ho yang kecewa.

Flashback end...


Joon Ho : Wi Dae Han?

Dae Han : Kang Joon Ho, lama tidak bertemu.

Joon Ho : Aku tahu. Bagaimana kabarmu?

Dae Han : Aku baik-baik saja. Hanya mengurus distrik.

Joon Ho : Jadi, kau masih bekerja di ranah politik?

Dae Han : Tentu saja! Bagaimana bisa berhenti jika orang-orang menginginkanku? Benar, bukan? Omong-omong, kau harus menyuruh ayahmu bersantai sekarang. Dia harus menyerahkan politik kepada anak muda sepertiku. Air harus terus mengalir agar tetap segar.

Joon Ho : Sudah lama sekali. Mari kita minum bir kapan-kapan.

Dae Han : Kenapa tidak? Tapi aku tidak bisa. Banyak orang yang menginginkanku. Aku harus memohon untuk dapat waktu luang hari ini.


Joon Ho hanya terdiam mendengarkan Dae Han yang sesumbar. Dae Han kemudian pergi.

Joon Ho lantas menghubungi seseorang.

Dae Han menjawab ponselnya.

Dae Han : Hallo, aku hampir....

Dae Han kemudian menoleh ke belakang. Joon Ho menatap Dae Han. Dae Han terkejut mengetahui Joon Ho lah yang memintanya menjadi supir pengganti.

Joon Ho : Keadaan menjadi agak canggung. Aku yakin kau tidak nyaman. Aku akan menelepon orang lain.


Dae Han : Tidak. Aku tidak mendiskriminasi klien.

Lalu Dae Han meminta kunci mobil Joon Ho.


Hye Jin keluar dari minimarket dan terkejut melihat Dae Han. Joon Ho pun mengenalkan Dae Han sebagai teman SMA nya.

Hye Jin : Tapi apa yang dilakukan Anggota Dewan Wi di sini?

Dae Han minta kunci mobil Joon Ho. Joon Ho tersenyum dan memberikan kunci mobilnya. Dae Han pun langsung masuk ke mobil Joon Ho.


Hye Jin : Ada apa?

Joon Ho : Aku memanggil sopir, dan dia yang datang.


Hye Jin terkejut. Dari dalam mobil, Dae Han menatap kesal Hye Jin.


Dalam perjalanan, Dae Han tanya bagaimana Joon Ho bisa mengenal Hye Jin.

Joon Ho : Kami pergi ke gereja yang sama. Jangan salah paham. Kami hanya teman. Kami tidak ingin merusak peluangnya untuk menikah.

Hye Jin : Aku baik-baik saja. Kalau begitu, aku akan menikahimu saja.

Mendengar itu, Joon Ho langsung tak nyaman. Malas mendengar ocehan Hye Jin yang mengajaknya nikah, Joon Ho pun mengajak Dae Han bicara. Joon Ho tanya, apa tidak melelahkan menjadi supir pengganti.

Dae Han : Itu bergantung kepada kliennya.

Joon Ho : Kudengar sudah lebih dari setahun. Kau gigih. Ayahku bilang politik membutuhkan kegigihan.


Dae Han : Anggota Dewan Kang adalah alasanku masuk ke politik.

Joon Ho : Benarkah?

Dae Han : Kau ingat bertaruh di SMA mengenai nilai kita?

Joon Ho : Ya, aku ingat.

Dae Han : Restoran ibuku hampir diusir dari pasar karena aku mendapat nilai tertinggi di sekolah. Anggota Dewan Kang menggunakan pengaruhnya.

Joon Ho terkejut.


Hye Jin ikut bicara.

"Sopan untuk mengubur masa lalu.  Begitu memulai sesuatu, kau harus melanjutkannya."


"Lalu?" tanya Joon Ho.

"Aku menemuinya dan memohon. Kubilang aku tidak akan mengambil posisi Joon Ho di paling atas, jadi, tolong biarkan ibuku tetap berada di pasar. Aku sengaja tidak belajar giat agar ibuku tidak diusir. Tapi

itu lebih sulit daripada menjadi juara pertama." jawab Dae Han.

"Apa hubungannya dengan kau yang terjun ke dunia politik?" tanya Joon Ho.

"Saat itulah aku memutuskan bahwa aku akan menjadi anggota dewan saat dewasa dan mengusir semua anggota dewan jahat. Tapi aku malah diusir. Para anggota dewan jahat amat kuat." jawab Dae Han.

"Jika itu benar, izinkan aku meminta maaf mewakili ayahku." ucap Joon Ho.

"Tidak perlu minta maaf."


Dae Han lalu melirik Hye Jin dari kaca spion.

Dae Han : Aku harus mengubur masa lalu.


Joon Ho menatap tajam Dae Han dari spionnya.

Joon Ho : Tapi tidak benar melakukan politik karena dendam. Apa salah masyarakat?

Dae Han pun balas menatap Joon Ho dengan kesal.


Tiba2, Hye Jin teriak menyuruh Dae Han berhenti.

Dae Han pun langsung menatap ke depan dan menginjak rem tapi terlambat, mobil yang ia bawa menabrak mobil yang ada di depan.


Sementara itu, Da Jung dan kedua preman sedang bermain kartu. Da Jung terus menang membuat kedua preman frustasi.

Sementara ketiga adik Da Jung sibuk makan ayam sambil memperhatikan mereka.

Si ketua preman lalu melihat kotak ayamnya. Sudah kosong. Ia kesal dan mencubit pipi Tae Poong.

"Apa mereka punya cacing pita?" tanyanya.

"Sudah kubilang dua ayam tidak akan cukup." jawab Da Jung.

"Pesan satu lagi." ucap si ketua preman.


"Kali ini aku yang traktir." jawab Da Jung lalu meraih ponselnya.

Tapi yang ditelpon Da Jung adalah Soo Hyun.

Soo Hyun : Hai, Da Jung. Aku baru mau menelepon.

Da Jung : Tadi kami memesan dua ayam pedas. Tolong kirimi kami satu ayam goreng.

Soo Hyun bingung, apa maksudmu? Apa ada masalah?

Da Jung : Kau sibuk, jadi, akan cukup lama?

Soo Hyun : Ada yang salah, bukan? Baiklah. Aku akan segera ke sana.

Da Jung : Baik. Tolong datang secepat mungkin.

Da Jung pun kembali tertawa dan bermain dengan mereka.


Sementara itu, Joon Ho bisa minta maaf pada pemilik mobil yang ditabrak Dae Han dan memberi kartu namanya.

Dae Han menghubungi seseorang. Melihat Dae Han sudah selesai bicara di telepon, Hye Jin pun berkata, ia gugup karena Dae Han terus mengoceh.


Joon Ho lantas menghampiri mereka.

Dae Han : Aku menelepon perusahaan asuransiku, jadi, mereka akan membayar biaya perbaikannya.

Joon Ho : Itu hanya mobil. Selama tidak ada yang terluka.


Tak lama kemudian, supir pengganti yang dipanggil Joon Ho datang. Joon Ho langsung menyuruhnya masuk mobil.

Hye Jin yang enggan berlama2 dengan Dae Han, bergegas ke mobil Joon Ho.


Joon Ho juga mau masuk ke mobilnya tapi sebelum pergi, ia memberikan nasihat ke Dae Han.

Joon Ho : Kendalikan kemarahanmu. Maka kau akan menghindari kecelakaan di jalan dan politik.

Dae Han : Aku juga ingin bertanya. Kudengar kau akan mencalonkan diri menggantikan ayahmu.

Joon Ho : Aku sedang memikirkannya.

Dae Han : Aku juga akan memberimu nasihat sebagai teman. Jangan terjun ke dunia politik. Terlalu sulit bagi kutu buku sepertimu.

Joon Ho : Mungkin. Tapi aku tahu... aku tahu aku bisa melakukannya lebih baik darimu. Politik..

Joon Ho lantas beranjak pergi. Dae Han kesal.


Tak lama setelah Joon Ho pergi, Soo Hyun menghubungi Dae Han. Soo Hyun memberitahu Dae Han bahwa Da Jung dalam masalah.


Sementara itu, Da Jung dan ketiga adiknya sudah berada di kamar. Da Jung menyuruh Tae Poong dan Song Yi tidur.

Lalu terdengar suara teriakan si ketua preman yang menanyakan ayamnya.

Song Yi tanya ke Da Jung, apa orang2 itu tidak akan pergi.

Da Jung : Tidak, mereka akan segera pergi. Jangan khawatir, tidurlah. Kau juga, Tae Poong.


Tak menatap cemas Da Jung.

Tak : Mungkin dia tidak datang.

"Tidak, dia akan datang." jawab Da Jung yakin.


Si kedua preman masuk ke dalam. Rupanya mereka tidak mengunci pintu kamar.

Da Jung berdiri dan mengatakan bahwa restoran ayam yang ia telepon tadi membatalkan pesanannya.

Da Jung kembali meraih ponselnya dan pura2 menelpon resto ayam. Tapi si ketua preman merebut ponselnya dan melihat yang Da Jung hubungi adalah Soo Hyun.

"Soo Hyun? Apa ini restoran ayam?"

Da Jung : Kau pasti tidak tahu. Ini restoran ayam terpopuler.

"Kau pikir aku bodoh!"


Si ketua preman menjambak Da Jung. Melihat kakaknya dijambak, Tak tidak terima dan menendang mereka berdua. Setelah itu, Tak dan Dan Jung mengunci pintu kamar.

Ketua preman marah dan menggedor2 pintu kamar. Tak dan Da Jung menahan pintu sekuat mungkin.

Da Jung : Kau membawa ponselmu, bukan? Mari telepon polisi.

Tak : Baterainya habis. Ponselnya mati. Astaga.


Soo Hyun dan Dae Han masih di jalan. Soo Hyun cemas karena ponsel Da Jung kali ini mati.

Dae Han lantas teringat kata2 Bong Joo soal Joon Ho yang mencalonkan diri di distriknya.

Lalu ia ingat kata2 Joon Ho yang mengaku bisa lebih baik darinya soal politik.

Terakhir ia ingat kata2 sunbae nya tadi soal ia tak bisa melakukan politik dengan julukan putra durhaka.


Wajah Dae Han pun seketika berubah kesal. Dae Han kemudian bernyanyi.

Dae Han : Cap, cip, cup, kembang kuncup. Tangkap harimau jika dia memanggil.

Soo Hyun terkejut melihat Dae Han bernyanyi.


Sementara di kamar, Da Jung duduk di sudut sambil memeluk Song Yi dan Tae Poong dan Tak berjaga di depan pintu sambil memegang tongkat kasti.

Ketua preman pun berhasil masuk ke dalam. Ia menghancurkan gagang pintu dengan martil. Da Jung dan adik2nya mulai takut.


Tepat saat itu, Dae Han dan Soo Hyun tiba.

Kedua preman langsung keluar menghampiri mereka..

Siapa kau berani mengganggu percobaan penagihan utang legal?" tanya ketua preman.

"Legal dari mana? Kau tahu tidak boleh menagih utang setelah pukul 21.00? Dan penagihan utang ilegal memakai ancaman, penyerangan verbal, bisa dihukum penjara 5 tahun atau denda hingga 50.000 dolar.

Jika kau ingin dipenjara, katakan saja. Aku akan mengirimmu ke sana sepuasmu." jawab Dae Han.


Dae Han lalu menyuruh Da Jung dan adik2nya keluar. Tak lama, Da Jung dan ketiga adiknya keluar. Soo Hyun langsung memanggil mereka. Da Jung dan ketiga adiknya pun langsung berlari ke belakang Dae Han.


"Apa kau mengenal ayah mereka?"

"Sama sekali tidak."

"Lalu apa hubunganmu dengan anak-anak itu?"

"Hubunganku?"


Dae Han lantas menatap lembut Song Yi. Lalu ia berjongkok dan mengembalikan saputangan Song Yi.

Dae Han : Song Yi, Tae Poong....


Dae Han lalu berdiri dan menatap Tak serta Da Jung.

Dae Han : Tak, Da Jung....  Mulai hari ini....


Dae Han menatap kedua preman itu.

Dae Han : .... aku ayah mereka...

Sontak, Da Jung dan Soo Hyun kaget mendengarnya.


Dae Han lantas kembali menatap Da Jung. Ia tersenyum.

Bersambung.....

No comments:

Post a Comment