Thursday, October 17, 2019

The Great Show Ep 3 Part 3

Sebelumnya...


 Dae Han pun langsung membelikan akuarium yang baru untuk ikan2nya.

"Apa yang terjadi? Kau sangat menyayangi mereka." ucap si pemilik toko.

"Beberapa anak pindah ke rumah dan mengungsikan ikanku." jawab Dae Han.

Terdengar narasi Dae Han.

Dae Han : Saat orang hidup bersama, konflik dan kekacauan akan terjadi. Ada sesuatu yang kau butuhkan untuk mencegah hal itu.


Dae Han kemudian menarik papan tulis ke depan anak2. Soo Hyun yang duduk di tengah anak2, tanya, apa itu.

Dae Han : Aku sudah memikirkannya dan jika kita ingin hidup harmonis di rumah yang sama tanpa masalah atau perkelahian, kita butuh beberapa hukum.

Soo Hyun : Hukum?

Dae Han : Ya.


Dae Han pun membalik papan tulisnya yang ternyata sudah ia tulisi.

Dae Han : Konstitusi Rumah.  Aturan yang semua anggota keluarga harus patuhi.

Song Yi : Apa itu konstitusi?

Dae Han : Itu hukum paling mendasar di antara hukum lainnya.

Tae Poong : Apa kita akan dipenjara jika melanggar Konstitusi Rumah?

Dae Han : Tidak juga. Maksudku, mari berusaha sebaik mungkin untuk mematuhi peraturan ini sebaik mungkin.

Da Jung : Aku setuju.

Tae Poong dan Song Yi : Aku juga.


Soo Hyun : Tunggu. Ini ide bagus, tapi kenapa kau memutuskan hukum konstitusional sendiri? Itu harus diputuskan secara demokratis.

Dae Han : Mereka masih muda. Aku membuat draf awal untuk kemudahan. Kita bisa melengkapinya selagi tinggal bersama.

Da Jung : Aku setuju.

Tae Poong dan Song Yi : Aku juga.

Dae Han : Aku juga. Baiklah. Kita akan bekerja sama sebagai keluarga untuk menciptakan keluarga bahagia.

Soo Hyun : Tidak buruk.


Dae Han : Pasal 1, Ayat 1. Demi keselamatan, kita tidak melakukan hal berbahaya di dalam atau luar rumah.

Dae Han lalu menatap Tae Poong.

Dae Han : Han Tae Poong, mengerti?

Tae Poong : Ya!


Dae Han : Ayat kedua. Kami tidak akan menyentuh barang orang lain dan tidak akan memakai ponsel saat orang lain berbicara atau saat makan.

"Dia membicarakanmu." ucap Da Jung, lalu mengambil ponsel Tak.

Tak pun pasrah.


Dae Han : Kita akan membagi tugas rumah dan memasak akan dibagi antara Wi Dae Han dan Han Da Jung. Mengerti?

Da Jung : Baiklah.


Tak : Kenapa panjang sekali?

Dae Han : Hanya ada dua pasal. Bersabarlah. Kalian lihat ayat satu, dua, dan tiga di sini? Seperti yang dikatakan, kita semua punya kekurangan dalam banyak hal. Ada anak yang mudah cemas dan anak yang sangat hiperaktif. Ada juga anak dengan sikap yang buruk. Keluarga bahagia tidak dibentuk oleh orang-orang sempurna, tapi dibentuk saat orang tidak sempurna mencoba mengisi ketidaksempurnaan yang lain. Kita semua tidak sempurna, tapi mari bekerja sama menjadi keluarga sempurna. Mengerti?

Anak2 setuju.


"Dia sudah selesai, jadi, berikan ponselku." pinta Tak pada Da Jung.

"Hei. Pasal 1, Ayat 2..."

Tak pun langsung merampas ponselnya dan beranjak pergi.


Dae Han : Begitulah demokrasi. Kacau.

Song Yi : Apa itu demokrasi?

Dae Han : Demokrasi...

Tae Poong : Aku lapar! Aku sangat lapar. Pesan ayam lagi.

Dae Han pun kesal Tae Poong lapar terus.


Di restorannya, orang tua Soo Hyun dan Soo Hyun sedang membahas Dae Han.

Bu Yang : Wi Dae Han?  Maksudmu orang yang kalah dalam pemilu itu? Bedebah yang meninggalkan ayahnya.

Soo Hyun : Dia tidak meninggalkannya. Situasi keluarganya agak rumit.

Pak Jung : Bukan agak. Itu sangat rumit. Dia punya banyak anak di rumah. Kupikir itu sekolah. Kubilang itu rumit. Pokoknya, menjauhlah dari rumah itu. Jika kau terlibat dengan orang yang hidupnya rumit, hidupmu akan hancur sebelum kau sadar. Lihat hari ini. Akuarium itu tiba-tiba pecah dan membanjiri rumah.

Soo Hyun : Ayah, kumohon. Aku akan bekerja sukarela malam ini, jadi, pulang dan istirahatlah, Bu. Pergilah ke sauna atau semacamnya. Kau harus pulang dan beristirahat.


Pak Jung pun sewot, aku harus menggoreng ayam seumur hidupku. Aku menggoreng banyak sekali sampai tidak tahu aku menggorengnya atau ayam yang menggorengku.

Soo Hyun : Ayah, kenapa bicara seperti itu?

Pak Jung : Apa yang ayah katakan? Ayah tidak bilang apa-apa. Jangan hiraukan ayah. Menggoreng ayam tidak sulit. Paling ayah akan mati...

Bu Yang yang lagi ngelapin sendok, langsung membanting sendoknya.

Bu Yang : Kenapa kau ini! Kau tidak tahan membayangkan istrimu beristirahat, bukan?


Pak Jung : Tidak, maksudku adalah kau harus pulang dan istirahat karena Soo Hyun ada di sini. Kau sangat sensitif. Istirahatlah. Aku akan bekerja.

Soo Hyun ketawa melihat tingkah orang tuanya.


Soo Hyun mulai memakai seragam restorannya. Lalu ia memakai celemek dan sang ayah memanggilnya, menyuruhnya mengantar pesanan ke meja tiga.

Soo Hyun pun bergegas kesana.

Soo Hyun : Ini ayam pedas anda. Selamat menikmati.

Dan saat melihat siapa pengunjungnya, ia terkejut.

Dia Joon Ho.


Pak Jung memperhatikan mereka.


Joon Ho : Ada apa?

Soo Hyun : Apa?

Joon Ho : Ada yang bilang aku akan dapat diskon jika datang ke sini.

Soo Hyun : Kau pasti punya koneksi yang bagus di pasar.

Joonn Ho tertawa.

Seorang wanita teriak memesan memesan dua gelas bir.

Soo Hyun : Aku segera kesana.

Lalu Soo Hyun kembali bicara pada Joon Ho.

Soo Hyun : Biar kuberi petunjuk. Ayam goreng di sini lebih enak daripada ayam pedas. Selamat menikmati.


Soo Hyun beranjak pergi. Joon Ho terus memperhatikan Soo Hyun. Teman Joon Ho curiga, Joon Ho datang bukan untuk makan ayam, tapi untuk Soo Hyun.

Joon Ho mengalihkan pembicaraan.

Joon Ho : Kau mau ayam goreng? Kau tinggal sendirian, bukan? Belilah tiga untuk dibawa pulang.


Tak tidur bareng Tae Poong di gudang.

Tae Poong : Kak Tak, di mana ayah?

Tak : Kakak tidak tahu.

Tae Poong : Ayah juga meninggal?

Tak : Kakak tidak tahu.


Sementara itu, Da Jung membetulkan selimut Song Yi. Song Yi sendiri sudah tertidur pulas sambil menggenggam saputangan ibu mereka.

Ponsel Da Jung kemudian berdering. SMS dari Dae Han yang mengajaknya bicara sebentar.


Dae Han dan Da Jung bicara di taman.

Dae Han : Apa yang lain sudah tidur?

Da Jung : Ya.

Dae Han : Kau pasti lelah.

Da Jung : Begitulah.

Dae Han : Bagaimana penampilanku hari ini?

Da Jung : Apa maksudmu?


Dae Han : Aktingku sebagai ayah.

Da Jung : Tidak terlalu buruk.

Dae Han : Ini jauh lebih sulit dari dugaanku, tapi aku tetap harus melakukannya. Karena kita membuat kontrak.

Da Jung : Tentu. Karena kita membuat kontrak.

Wajah Da Jung berubah sedih.

Da Jung lalu tanya apa yang harus ia lakukan untuk Dae Han.

Dae Han : Begini...


Bong Joo sedang membaca artikel yang ditulis Da Jung. Artikel itu berjudul, 'Ayahku bukan anak durhaka'.


Bong Joo menghubungi Dae Han.

Bong Joo : Menyenangkan punya putri jika dia menulis hal seperti ini.

Dae Han : Aku harus memanfaatkannya karena dia ada bersamaku.

Bong Joo : Kepada siapa kita harus memaparkannya?

Dae Han : Bagaimana dengan Reporter Shin? Shin Yong Hee. Pria itu akan segera memakan umpannya. Dia seperti ular berbisa. Mari singkirkan julukan itu dariku.


Paginya, Soo Hyun terbangun karena alarmnya.

Ia lalu menyikat giginya sambil membaca internet.

Soo Hyun kaget melihat Dae Han menjadi trending topic lagi.

Soo Hyun meng-klik nama Dae Han. Ia terkejut membaca artikel yang berjudu 'Wi Dae Han Menjadi Ayah!"


Joon Ho yang sedang nge-gym, juga membaca artikel itu.

"Aku putri kandung mantan anggota dewan, Wi Dae Han. Aku punya tiga saudara dari ayah yang berbeda. Kami putus kontak dengan ayah tiriku setelah dia pergi dua tahun lalu. Dan ibuku meninggal karena kecelakaan tabrak lari dua bulan lalu. Satu-satunya orang yang bisa kuandalkan adalah mantan anggota dewan, Wi Dae Han, ayah kandungku yang belum pernah kutemui."


Kyung Hoon yang lagi di jalan, membaca artikel itu.

Kyung Hoon kesal.

Kyung Hoon : Jadi, dia mau memanfaatkan keluarga untuk menuntaskan masalah keluarga? Politik tidak pernah berjalan sesuai rencana.

"Aku menyuruh Reporter Nam memeriksa fakta." jawab asistennya.


Pak Jung juga membaca artikel itu di ruangannya sambil menyantap sandwich.

"Orang-orang mungkin mencercanya, berkata dia anak durhaka, tapi Wi Dae Han yang kutemui adalah orang yang hangat yang menerimaku dan adik-adikku sebagai keluarga."


Pak Jung memanggil Bong Joo.

Pak Jung : Kau sudah membaca artikel tentang Dae Han?

Bong Joo : Sudah. Katanya kemalangan tidak datang sendiri. Kurasa itu benar.

Pak Jung : Kenapa ini kemalangan? Ini keberuntungan.

Bong Joo : Keberuntungan?

Pak Jung : Kelihatannya bagus. Ayah dari empat anak dan dia juga lajang. Ini kesempatan bagus untuk memperbaiki citranya.


Bong Joo : Kurasa begitu, tapi dia akan menghadapi lebih banyak masalah. Tidak mudah mengurus empat anak. Dia hampir tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Pak Jung : Kau dekat dengannya, bukan? Jaga dia. Dia sudah cukup kesulitan, jadi, sudah saatnya dia bangkit.

Bong Joo senang mendengarnya tapi ia berusaha menahan diri di depan Pak Jung.


Di kamarnya, Dae Han tidak henti menerima panggilan karena artikel itu yang ingin mewawancarainya.


Da Jung dan adik2nya bersantai di depan TV. Tae Poong memanggil Da Jung dan mengaku lapar.

Song Yi : Aku juga.

Da Jung : Aku juga. Mau lihat isi kulkas?

Tae Poong dan Song Yi mengangguk.

Da Jung, Tae Poong dan Song Yi bergegas ke kulkas.


Tapi tiba2 bel berbunyi. Da Jung melihat layar intercom. Soo Hyun yang datang.


Da Jung membukakan pintu. Begitu masuk, Soo Hyun langsung menanyakan Dae Han. Da Jung bilang, Dae Han di ruang kerja. Soo Hyun pun langsung kesana dengan wajah marah.

Bersambung ke part 4...

No comments:

Post a Comment