Thursday, October 17, 2019

The Great Show Ep 3 Part 4

Sebelumnya...


Soo Hyun masuk ke kamar Dae Han. Sementara itu, Dae Han sedang berbicara dengan Reporter Nam. Dae Han meminta Soo Hyun menunggunya sebentar. Soo Hyun pun kesal dan memelototi Dae Han.

Dae Han : Tentu. Tentu saja, aku harus mengurus mereka. Itu yang harus dilakukan pria. Ya. Tentu. Mereka manis sekali.

Dae Han melirik Soo Hyun. Sadar, Soo Hyun lagi kesal, Dae Han pun langsung menyudahi pembicaraannya dengan Reporter Nam dengan alasan anak-anaknya berteriak minta sarapan.

Dae Han : Aku akan meneleponmu lagi lain kali. Tentu. Baik, Pak.


Usai bicara dengan Reporter Nam, Dae Han pun duduk di mejanya dan memberitahu Soo Hyun dengan wajah bangga kalau semua orang berusaha menghubunginya.

Soo Hyun terus menatap Dae Han dengan muka kesal.

Dae Han : Kenapa wajahmu seperti itu?

Soo Hyun : Kau yang menyuruhnya melakukan itu, bukan?

Dae Han pura2 gak ngerti.

Dae Han : Apa? Menyuruhnya melakukan apa?

Soo Hyun : Unggahan Da Jung.

Dae Han : Kenapa aku menyuruhnya melakukan hal seperti itu?

Soo Hyun : Inikah alasanmu menampung mereka? Agar kau bisa membuat mereka.... agar julukanmu hilang? Begitu kah?

Dae Han : Bagaimana jika benar?

Soo Hyun : Apa?

Dae Han : Tidak boleh? Aku bisa menjadi wali mereka dan mereka bisa membantuku. Apa itu dosa?


Diluar, Da Jung menguping pembicaraan mereka.


Soo Hyun : Sunbae! Meski kau bukan putra yang baik, kukira kau bisa menjadi ayah yang baik. Kurasa aku salah. Jangan kembali ke politik. Akan kupastikan kau tidak bisa...

Ucapan Soo Hyun terhenti karena Da Jung menerobos masuk. Da Jung pura2 tanya, kenapa mereka lama sekali. Da Jung bilang anak2 sudah kelaparan.


Soo Hyun tanya ke Da Jung, apa Dae Han menyuruhnya melakukan itu?

Da Jung pura2 bego.

Da Jung : Menyuruhku melakukan apa?

Soo Hyun : Cerita yang kau unggah.

Da Jung : Itukah alasan kakak marah? Kakak pikir dia... Maksudku, akankah seorang ayah menyuruh putrinya melakukan itu?

Soo Hyun : Lalu kenapa kau mengunggahnya?

Da Jung menatap Dae Han.

Da Jung : Sejujurnya aku tahu dia ayah kandungku saat aku kelas delapan. Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku sangat bangga mengetahui dia ayah kandungku. Entah apa anda ingat, tapi saat anda berlutut, aku memberi anda bantalan lutut.


Dae Han mencoba mengingat. Saat ia diberikan bantalan lutut oleh gadis remaja ketika dia melakukan ritual 'pengampunan dosa' setelah videonya sebagai anak durhaka tersebar.

Sontak, Dae Han kaget saat ingat gadis itu adalah Da Jung.


Da Jung : Anda seperti idola bagiku, jadi, kira-kira bagaimana perasaanku setiap kali orang memanggil anda putra durhaka? Aku ingin melakukan sesuatu untuknya saat dia menerimaku dan adik-adikku. Karena itu aku mengunggahnya.

Soo Hyun menatap Dae Han.

Da Jung pun menatap Soo Hyun.

Soo Hyun : Kau yakin?

Dae Han : Kau tidak mendengarnya? Dia bilang aku tidak melakukannya.


Da Jung kemudian menatap Dae Han. Ia memasang wajah galak. Dae Han pun tak berkutik melihat wajah galak Da Jung.


Sekarang, Soo Hyun sudah berdiri di halte. Ia menunggu bus, bersiap berangkat kerja. Sembari menunggu bus, ia membaca komentar orang2 terhadap Dae Han di internet.

"Dia bahkan memakai putrinya untuk politik?"

"Sperma Wi Dae Han pasti hebat."

"Maukah kau bertanggung jawab untuk empat anak hanya untuk menjadi anggota dewan selama empat tahun?"

"Kurasa dia akan segera tampil di acara ragam bersama mereka."

Soo Hyun kesal membaca komentar negatif orang2.


Sampai kantor, rekan2 Soo Hyun membahas Dae Han.

Penulis Ma tidak menyangka, ayah dari keempat anak-anak yang dibicarakan Soo Hyun adalah Dae Han.

Sementara Penulis Ahn curiga. Soo Hyun tanya apa maksud Penulis Ahn.

"Fakta bahwa dia menampung mereka dan unggahan di internet. Tampaknya palsu. Agar citranya lebih baik. Aku setuju. Dia buang ayahnya, tapi bersikap baik kepada anak-anak? Tidak mungkin. Ini semua hanya pertunjukan." jawab Penulis Ahn.

"Ini akting. Benar, bukan?" tanya Penulis Ma.

"Menurutku juga begitu." jawab Penulis Ahn.

"Hei, kita yang harus punya acara hari ini. Berhenti bicara dan mari kita bahas lagi." ucap Soo Hyun.


PD Koo tiba2 datang dan ingin Dae Han menjadi tamu acara mereka hari ini.

Soo Hyun dan rekan2nya kaget, apa?


Joon Ho ada bersama ayahnya, di ruangan sang ayah. Mereka membahas Dae Han. Kyung Hoon tanya, apa Joon Ho tahu alasan politikus berfoto dengan anak2.

Joon Ho : Mungkin untuk menyamarkan citra mereka dengan anak-anak.

Kyung Hoon : Benar. Itu bukan rahasia besar. Para pemilih yang melihat foto-foto itu juga tahu. Tapi itu tetap ampuh. Karena itu mereka berfoto dengan anak-anak.

Joon Ho : Apa menurut ayah, Dae Han menampung anak-anak itu sebagai langkah politik yang diperhitungkan?

Kyung Hoon : Apa lagi alasannya?

Joon Ho : Kuharap ayah salah.

Kyung Hoon : Kenapa?

Joon Ho : Jika ayah benar, aku kasihan kepada anak-anak itu.

Kyung Hoon : Ini bukan saatnya mengkhawatirkan anak-anak itu. Jika Dae Han melawanmu di pemilu berikutnya, itu tidak akan bagus.

Joon Ho : Berhentilah membahas pemilu. Seseorang tidak bisa melakukan hal yang mereka inginkan saja.


Joon Ho kemudian pergi dan berkata, ia akan pergi sekarang.


Ponsel Joon Ho berdering. Telepon dari Soo Hyun yang memberitahu kalau mereka mengubah tamu untuk pekan ini.

Joon Ho tanya, siapa...


Dae Han mengajak anak2 belanja ke mall. Kemunculan mereka langsung menarik perhatian banyak orang. Dae Han? Dia jelas senang dengan situasi itu. Dae Han terus berjalan, bersama anak2, sambil mendorong troli mereka yang sudah terisi beberapa barang. Sesekali ia mengelus Tae Poong yang memeluk mainan.


Ponsel Dae Han berbunyi. SMS dari Bong Joo.

"Unggahan Da Jung mendatangkan banyak perhatian, tapi sentimen publik masih buruk. Kau mungkin akan kalah dan terjebak dengan empat beban."

Mood Dae Han langsung hilang.


Saat melewati steling daging, Tae Poong senang.

"Bulgogi!" serunya, lalu memasukkan daging sapi ke dalam troli.

Da Jung : Baiklah. Kau harus makan daging untuk tumbuh tinggi.

"Kita sudah membeli daging tadi." ucap Dae Han, lalu meletakkan lagi dagingnya ke steling.

"Tae Poong suka daging sapi." jawab Da Jung, lalu memasukkan lagi dagingnya ke troli.

"Lantas, keluarkan daging satunya." ucap Dae Han, lalu meletakkan daging yang sebelumnya mereka ambil ke troli.

"Tak suka daging satunya." jawab Da Jung, lalu memasukkan daging itu kembali ke dalam troli.

"Jika pemerintah membuang uang, negara akan bangkrut, dan jika kau menghabiskan lebih dari pendapatanmu, keluarga ini bangkrut. Mengerti?" ucap Dae Han.

"Aku mengerti, tapi jangan pelit soal makanan. Bahkan pemerintah menyediakan makanan bagi orang miskin." jawab Da Jung.


Dae Han lalu melirik Tae Poong yang memegang mainan.

Dae Han : Omong-omong, kita tidak bisa membeli mainan itu. Tae Poong, kembalikan itu.






Tae Poong tidak mau. Dae Han bilang, itu mainan bahaya tapi Tae Poong merengek minta dibelikan mainan itu. Dae Han menolak tegas. Ia mengambil mainan Tae Poong dan bergegas mengembalikannya tapi saat menuju rak mainan, ia melewati stan pangsit dan wanita penjual pangsit memanggilnya.


"Anggota Dewan Wi Dae Han, bukan? Astaga. Benar-benar Anda. Anda jauh lebih tampan dilihat langsung. Aku memilih anda dalam pemilu." ucap wanita itu.

Dae Han senang, terima kasih.

Wanita itu lantas melirik anak2.

"Mereka pasti anak-anak dari artikel."

"Benar." jawab Dae Han.


Wanita itu memanggil anak2 dan menyuruhnya mencicipi pangsitnya. Anak2 pun langsung menghabiskan pangsitnya, membuat wanita itu kaget tapi ia tidak bisa protes, memarahi anak2 yang mencicipi pangsitnya tanpa membeli.

Dae Han : Mereka pemakan yang baik karena masih dalam masa pertumbuhan.

"Ya, mereka punya selera makan besar."

"Aku sangat terharu saat membaca artikel itu. Bagaimana bisa menampung empat anak? Kau luar biasa."

"Aku tidak luar biasa. Ini bukan apa-apa."

"Astaga. Kau bahkan membelikan mereka mainan? Kau sudah seperti ayah sungguhan."


Dan terpaksalah Dae Han membelikan mainan itu untuk Tae Poong. Ia juga menyuruh Tae Poong mengambil apa saja yang Tae Poong mau. Sontak Tae Poong senang dan langsung berlari mengambil apapun yang dia mau. Wkwkwkwkwk....

Saat membayar di kasir, Dae Han lemas harus mengeluarkan cukup banyak uang lagi untuk membayar belanjaan anak2.


Setelah itu, Dae Han membelikan seragam untuk Da Jung dan Tak.

Dae Han memuji Da Jung yang cantik mengenakan seragam.


Sementara itu, Tae Poong asyik memainkan radio kontrolnya, sampai mobil2annya menabrak kaki pegawai toko.

Dae Han mendekati Tae Poong dan menasihati Tae Poong agar tidak memainkan mobilnya di dalam ruangan.

Tae Poong mengerti dan karena itulah ia pergi keluar ruangan.


Da Jung masih mematut dirinya di depan cermin. Da Jung tanya ke Song Yi bagaimana penampilannya.

Song Yi : Kakak terlihat cantik, tapi bukankah roknya terlalu pendek?

Da Jung : Tidak. Beginilah cara berpakaian semua orang.


Saat hendak membayar, Dae Han terkejut harga seragamnya mahal ditambah dengan seragam olahraga.

Mendengar itu, Da Jung berkata, mereka bisa memakai seragam olahraga yang lama.

Dae Han pun langsung mencari alasan. Ia bilang bukan soal uang.

Dae Han : Bagaimana anak-anak miskin bisa bersekolah? Negara kita saat ini...

Tapi ujung2nya, Dae Han minta cicilan.

"Tolong 60 bulan." pintanya.

"Hanya bisa sampai 6 bulan."

Terpaksa Dae Han setuju.


Ponsel Dae Han kemudian berdering. Telepon dari Bong Joo.

Bong Joo : Kau sudah membaca artikelnya?

Dae Han : Apa tulisannya?

Bong Joo : Paman Da Jung pasti bertemu dengan reporter dan bilang bahwa awalnya kau mengusir anak-anak.

Dae Han : Apa? Apa maksudmu?


Song Yi memanggil Dae Han.

Song Yi : Paman, aku tidak melihat Tae Poong.


Sontak, Dae Han, Da Jung dan Tak panic. Mereka pun langsung keluar mencari Tae Poong.


Tae Poong sendiri asyik main radio kontrol tapi mobil2annya terbalik di tengah jalan.

Tae Poong lantas berlari mengambil mobilnya.


Tiba2, sebuah bus datang dan melaju ke arah Tae Poong.

Dae Han yang melihat itu, langsung menjerit memanggil Tae Poong dan berlari ke Tae Poong.

Dae Han memeluk Tae Poong erat2 dan... bus pun menabrak mereka.

Da Jung dan Tak terkejut. Mereka pun langsung berlari kesana.


Tae Poong selamat tapi Dae Han kehilangan kesadarannya.


Tae Poong dan Song Yi menangis menatap Dae Han.


Da Jung teriak meminta Dae Han bangun tapi Dae Han tak kunjung bangun.


Tak menatap Dae Han dengan cemas.


Selamatkah Dae Han?

Bersambung....

No comments:

Post a Comment