Blessing Of The Sea Ep 8 Part 2

Sebelumnya...


Young In, Jae Ran, Gwi Nyeo dan Pil Doo tiba di lokasi acara.


Chung Yi berlari mencari pianis yang dia pukul tadi.

Tak lama, dia melihat sang pianis berdiri di atas sebuah panggung.

Chung Yi : Tangan pianis adalah mata pencariannya. Bagaimana jika dia menyalahkanku? Baiklah. Sebelum dia mengarang cerita, aku akan bicara dengannya.


Chung Yi naik ke panggung, menghampiri Poong Do.

Poong Do sendiri berdiri menghadap ke tirai yang masih menutupi panggung itu.

Poong Do memejamkan matanya sambil memijat tangannya yang masih sakit.

Chung Yi : Permisi?

Poong Do : Di sini tidak ada penjaga? Ini gila.

Chung Yi : Jadi, soal yang terjadi tadi... Aku menjaga lab agar tidak ada pencuri. Kau masuk diam-diam seperti pencuri dan... Aku hanya melakukan tugasku. Intinya, maaf karena telah melukai tanganmu.

Poong Do : Aku tidak peduli. Bicaralah dengan manajerku.

Chung Yi : Aku minta maaf. Bisakah kau...

Poong Do : Cukup!

Chung Yi : Biar kulihat separah apa pergelangan tanganmu. Kalau-kalau nanti kau mengubah ceritanya, aku harus memastikan.


Chung Yi ingin melihat tangan Poong Do yang tadi dia pukul. Poong Do marah dan mencengkram tangan Chung Yi.

Sontak lah keduanya sama-sama kaget melihat satu sama lain.


Chung Yi mau melepaskan cengkraman Poong Do, tapi dia malah nyaris jatuh ke bawah dan Poong Do ikut ketarik. Untunglah Poong Do berpegangan pada besi, agar tidak terjatuh.

Tirai terbuka. Sontak, semua tamu undangan heboh. Para reporter mulai menjepret mereka.

Chung Yi yang panik, langsung lari.


Young In menatap kesal pada Poong Do. Poong Do juga kesal melihat neneknya dan beranjak pergi.


Jae Ran bertanya-tanya, siapa wanita yang bersama Poong Do tadi dan kenapa Poong Do tidak jadi tampil.

Jae Ran memarahi Pil Doo.

Jae Ran : Kami datang untuk konser dan ini yang kau dapatkan?


Ji Na yang baru datang, melihat Pil Doo. Ia tersenyum dan mau menghampiri Pil Doo, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Young In pergi.


Poong Do berhasil mengejar Chung Yi.

Poong Do : Kau si bocah itu! Kau preman dari rumah kaca itu?

Poong Do mencengkram tangan Chung Yi.

Chung Yi tanya, bagaimana Poong Do mengenalnya? Lalu Chung Yi menghempaskan tangan Poong Do.

Poong Do : Kau tidak mengingatku?


Chung Yi menatap wajah Poong Do lekat2.

Chung Yi : Kau siapa..

Poong Do : Jika tidak ingat, ya sudah. Kau bisa pergi saja. Kau membuatku tampak buruk.

Chung Yi : Lalu apa? Haruskah kita tetap di sana?

Poong Do : Kau harus menjelaskan bagaimana kau mengacaukan konserku.

Chung Yi : Kau yang memegang tanganku.

Poong Do gemes si Chung Yi ngejawab dia terus.


Chung Yi : Sebaiknya kau kembali, Pak Pianis. Pergelangan tanganmu tampaknya baik-baik saja. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku sudah meminta maaf dengan jelas.

Chung Yi membelalakkan matanya dan lari.


Ryan datang nyusulin Poong Do.

Ryan : Sedang apa kau di sini? Berhenti menghilang. Apa masalahmu?

Poong Do marah.

Poong Do : Katakan yang sejujurnya. Di mana Eric dan kenapa keluarga Jubo di sini?

Ryan : Karena... Akan kujelaskan nanti. Bermainlah dahulu...

Ryan menarik tangan Poong Do.

Poong Do : Lepaskan!


Poong Do pergi.

Ryan kesal, dia akan membuatku mati.


Poong Do yang lagi jalan, melihat kerumunan wartawan. Sontak lah, Poong Do langsung ngumpet dan nyari jalan lain. Poong Do berjalan mundur sambil menutupi wajahhnya dengan jaketnya. Bersamaan dengan itu, Ji Na lewat. Poong Do menabrak Ji Na.

Ji Na : Hei, hati-hati kalau jalan!

Poong Do terus menutupi wajahnya dan meminta maaf pada Ji Na. Lalu dia buru-buru pergi.

Ji Na : Sial! Aku benci lingkungan ini.


Poong Do masuk ke kebun kaca.

Merasa sudah aman, dia duduk di bangku yang tadi diduduki Chung Yi.

Lalu Poong Do merogoh2 sakunya, nyariin ponselnya tapi ponselnya sama Ryan.

Poong Do kesal. Dan dia tambah kesal pas ingat Chung Yi lupa sama dia.


Deok Hee menempelkan kartu namanya di setiap kaca mobil yang sedang terparkir.


Deok Hee lantas tak sengaja menabrak Jae Ran yang sedang menunggu Gwi Nyeo.

Jae Ran marah, apa yang kau lakukan! Ajumma!


Deok Hee memberikan kartunya.

Jae Ran tertawa sinis membaca kartu nama Deok Hee.

Jae Ran : Bang Deok Hee, dukun raja naga. Pasti mudah menghasilkan uang. Kau menerima uang setelah melontarkan kalimat acak.

Deok Hee : Kalimat acak? Kau mengenakan pakaian mahal, tapi bicaramu seperti orang biasa.

Jae Ran : Maka, coba padaku. Siapa namaku? Berapa usiaku? Makanan apa yang kusuka?

Deok Hee : Pikirmu aku detektif swasta?

Jae Ran : Tepat sekali. Jangan bagikan ini jika kamu tidak tahu apa pun.


Jae Ran menempelkan kartu nama Deok Hee ke jidat Deok Hee.

Jae Ran mau pergi tapi langkahnya terhenti karena ocehan Deok Hee.

Deok Hee : Lalu kenapa jika kau punya baju dan mobil bagus? Hatimu penuh dengan kecemasan. Pada malam hari, hatimu terasa hampa dan angin dingin berembus di antaranya. Tiap butir nasi yang kau makan terasa bagai pasir. Saat memejamkan matamu, kau teringat wajah orang yang tidak bisa kau lupakan. Ada nama yang tidak akan pernah kau lupakan.


Jae Ran menatap kesal Deok Hee.

Gwi Nyeo datang.

Gwi Nyeo : Eomma, masuklah.

Deok Hee terus mengoceh.

Deok Hee : Apa gunanya hidup? Kau seperti perahu kecil terombang-ambing di samudra.


Gwi Nyeo mulai kesal ibunya gak masuk juga.

Gwi Nyeo : Kubilang masuk!

Jae Ran mengambil kartu nama Deok Hee di tanah dan masuk ke mobil.


Deok Hee ngoceh lagi.

Deok Hee : Apakah itu menarik perhatianmu? Aku terdengar seperti menceritakan kisah hidupmu, bukan?


Hak Kyu datang dan mengomeli Deok Hee karena menyebarkan kartu nama itu.

Hak Kyu : Kau akan membuatku tampak buruk.

Deok Hee : Kau bilang orang-orang berkuasa dan kaya akan kemari. Aku ingin memperbaiki bisnisku dengan kesempatan ini. Aku ingin mempromosikan diri, tapi kenapa sudah selesai? Ini yang dilakukan orang kaya? Kenapa berhenti di tengah acara?

Hak Kyu : Kurasa mereka tahu kau datang. Jangan lakukan hal aneh dan pulanglah.


Hak Kyu lalu ngeliat kartu nama yang udah ditempelin Deok Hee ke mobil orang.

Han Kyu sewot dan bergegas mencopoti kartu nama itu.


Di kedai Bibi Jung, Chung Yi meneguk segelas air sampai habis.

Bibi Jung : Konsernya sudah selesai? Aku baru ingin mengajak Yeol Mae untuk menontonnya.

Chung Yi : Itu... Tidak ada yang perlu dilihat.


Hun Jung dan Woo Yang tiba berlarian keluar dengan hebohnya sambil memegangi ponsel mereka.

Hun Jung mengecek badan Chung Yi.

Hun Jung : Chung Yi-ya, kau baik-baik saja? Kau terluka? Siapa bilang kau boleh dipukuli?

Woo Yang : Kau membiarkan dia hidup? Kenapa kau tidak mematahkan hidungnya?

Chung Yi bingung, apa maksud kalian?


Hun Jung menunjukkan artikel Chung Yi dan Poong Do tadi di atas panggung.

Yeol Mae dan Tae Yang berlari mendekati Chung Yi. Mereka juga mau melihat artikelnya.

Hun Jung : Ada banyak foto dirimu. Bukankah ini pria yang memukulmu?

Bibi Jung cemas mendengar itu.

Bibi Jung : Chung Yi, kau terluka?

Chung Yi : Tidak Bibi.


Chung Yi kembali menatap foto2 Poong Do.

Chung Yi : Tapi kenapa dia tampak sangat familier?


Tak lama, Chung Yi ingat Poong Do pria yang di dermaga waktu itu, yang bilang kalau dia tampak berbeda di matanya.

Chung Yi : Mustahil dia.


Chung Yi membaca judul artikelnya.

"'Mengejutkan! Sikap Kasar Ma Poong Do di Konser'"

Chung Yi : Ma Poong Do?

Chung Yi ingat kejadian di hotel tempat Shi Joon kerja dulu.

Flashback...


Saat itu, Chung Yi sedang memunguti papan nama bertuliskan 'Istri Poong Do', 'Ma Poong Do milikku'.

Chung Yi mengumpulkan papan nama itu dan meletakkannya di meja.

Setelah itu, ia duduk menunggu Shi Joon sambil menatap jaket yang ia belikan sebagai hadiah untuk Shi Joon.

Tapi tiba2 Poong Do datang merebut jaketnya dan mengakui itu jaketnya.

Poong Do dan Chung Yi rebutan jaket.

Kesal karena Poong Do tak mau melepas jaketnya, Chung Yi menghantukkan kepalanya ke hidung Poong Do sampai hidung Poong Do terluka.

Flashback end...


Chung Yi kaget, astaga! Ternyata orang gila itu!

Bersambung ke part 3...

0 Comments:

Post a Comment