Wednesday, September 28, 2016

Fantastic Ep 8 Part 2

Sebelumnya....


Joon Gi yang sedang melihat beberapa foto di rumah kacanya, dikejutkan dengan kehadiran Hae Sung. Hae Sung datang karena ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait penyakit So Hye. Hae Sung bahkan memanggil Joon Gi dengan sebutan Hyung. Joon Gi pura2 terkejut. Hae Sung berkata, kalau ia akan menganggap Joon Gi seperti Hyung nya.

“Kita tidak bisa jadi saudara. Kita ini masih saingan.” Jawab Joon Gi.

“Apa maksudmu? Saingan?” tanya Hae Sung.
 
“Kudengar So Hye mencampakkan dirimu. Aku membawakannya makan malam yang enak dan menyemangatinya. Aku bilang padanya bahwa dia sudah melakukan hal yang benar.” jawab Joon Gi.


“Apa yang kau belikan untukknya? Kau membeli beberapa makanan mahal? Karena kau Direktur rumah sakit, kau pasti sangat kaya.” Ucap Hae Sung.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Joon Gi

“Kudengar kemoterapi adalah pengobatan yang sangat sulit. Apa yang akan kau lakukan sebelum itu? Apa yang dia butuhkan sebelum menjalani pengobatan?” tanya Hae Sung.

“So Hye-ssi sudah menerima kemoterapi, termasuk radiasi dan semua pengobatan yang menghentikan pertumbuhan sel kanker adalah bagian dari kemoterapi.” Jawab Joon Gi.


“Lalu apa yang harus kulakukan saat dia menjalani kemoterapi?” tanya Hae Sung.

“Ini adalah informasi yang istimewa. Dan kau hanya membayarku dengan jus itu?” Jawab Joon Gi.

Hae Sung pun dengan polosnya langsung memberikan jatah jusnya pada Joon Gi.


Joon Gi mengajak Hae Sung ke rumah sakit. Mereka masuk ke sebuah ruangan, dan…. Joon Gi memeluk Hae Sung secara tiba2 dari belakang. Hae Sung pun kesal. Joon Gi lantas berkata kalau itulah yang harus dilakukan Hae Sung saat So Hye tersedak. Joon Gi terus mengeratkan pelukannya, membuat Hae Sung menjerit menahan sakit. Joon Gi tertawa puas melihat ekspresi Hae Sung.


Joon Gi lantas menyeret Hae Sung ke atas brankar. Wkwkwkwkwk…

“Jika dia tidak bernapas dalam 4 sampai 6 menit, itu bisa menyebabkan kerusakan bahkan kematian otak. Yang harus kau lakukan adalah menekan dadanya sedalam 5 sampai 6 senti.” Ucap Joon Gi sambil menekan2 dada Hae Sung.

Hae Sung yang sudah tidak tahan lagi pura2 merasakan sakit pada tulangnya. Begitu Joon Gi lengah, Hae Sung mau kabur tapi Joon Gi berhasil menariknya kembali ke atas kasur. Hahahah… Joon Gi pun kembali menekan dada Hae Sung.


Joon Gi lantas mengajari Hae Sung teknik2 CPR. Dimulai dengan melakukan kompresi dada, selanjutnya membuka saluran pernapasan dengan mendongakkan kepala, lalu meletakkan tangan di atas dahi dan mengangkat dagunya secara lembut untuk membuka saluran napas. Dan yang terakhir dengan memberikan napas buatan melalui mulut.


Hae Sung yang kelelahan sehabis mempelajari teknik CPR tiduran di atas hammock.

“Jadi So Hye bisa mengalami situasi darurat seperti yang kau bilang tadi?” tanya Hae Sung.

“Siapa saja bisa mengalaminya jadi kau tidak perlu takut.” Jawab Joon Gi.


Joon Gi lantas mengajak Hae Sung melakukan suntikan. Hae Sung yang kapok pun terkejut karena harus menerima suntikan lagi. Joon Gi berkata, kalau sistem kekebalan pasien kanker sangat buruk jadi si wali pasien harus divaksinasi dan berhati2 terhadap infeksi. Hae Sung mengangguk2, lalu bertanya berapa suntikan yang harus ia terima.

“Kau harus menerima vaksin influenza, tetanus, pertusis, pneumonia, shingles, DTaP. Ada enam.” Jawab Joon Gi.

“Kau yakin aku harus menerima semua itu?” tanya Hae Sung panik.

“Kenapa? Apa kau takut?”

“Kata siapa aku takut. Aku tidak takut.”


Joon Gi pun tertawa geli, lalu beranjak pergi. Joon Gi lalu kembali dengan sebuah buku di tangannya dan menyuruh Hae Sung membaca buku itu. Hae Sung berterima kasih karena So Hye memiliki dokter seperti Joon Gi. Joon Gi pun mengaku, bahwa So Hye sangat beruntung bisa bertemu dengan dokter yang baik dan tampan seperti dirinya. Joon Gi kemudian tersenyum lebar.


“Jangan senyum2. Itu mengancamku, terutama lesung pipimu. Jangan lakukan itu pada So Hye.” jawab Hae Sung.

Tapi si Joon Gi malah makin ketawa. Hae Sung pun protes.


Mi Sun datang membawakan So Hye buah2an. So Hye mengaku kalau dia baru saja makan siang. Mi Sun bilang kalau itu hanya camilan dan menyuapi potongan buah ke mulut So Hye. So Hye meminta maaf karena sudah merepotkan Mi Sun. Mi Sun berkata, kalau ia berterima kasih karena bisa membuatkan So Hye makanan yang sehat. So Hye lantas ditelpon seseorang bernama CEO Woo.


So Hye pergi menemui CEO Woo di sebuah kafe. CEO Woo minta maaf karena sudah membuat So Hye dalam masalah yang diciptakan CEO Choi. So Hye berkata, kalau ia yakin CEO Woo tidak punya pilihan lain saat itu. CEO Woo lantas mengaku bahwa dirinya sudah berjuang selama beberapa bulan terakhir dan akhirnya ia menemukan seorang investor yang baik.

“Apa anda yakin?” tanya So Hye.
 
“Tentu saja, dia memiliki reputasi yang baik di China. Penulis Lee, tanda tangani lah kontrak denganku.” Jawab CEO Woo.

“Aku tidak bisa melakukannya sekarang.” ucap So Hye.

“Aku tidak menyuruhmu bekerja denganku sekarang. Aku tahu ada banyak perusahaan yang ingin bekerja sama denganmu. Tanda tangani saja surat kontraknya, dan kau bisa mulai bekerja tahun depan atau tahun setelahnya.” Jawab CEO Woo.


CEO Woo lantas memberikan So Hye cek kosong. So Hye jelas terkejut. CEO Woo berkata, investor dari China itu adalah fans garis keras So Hye dan ia berjanji akan membayar So Hye sesuai keinginan So Hye. So Hye pun langsung sumringah.


So Hye menunjukan cek kosong itu ke Mi Sun. Mi Sun terpengarah dan mengaku belum pernah melihat cek kosong selama hidupnya. Mi Sun lantas bertanya, berapa jumlah yang akan So Hye tulis. So Hye berkata, 10 milliar won. Mi Sun terkejut. So Hye berkata, kalau CEO Woo tahu ia mengidap kanker, CEO Woo pasti tidak akan mau bekerja sama dengannya.

“Ambil uang ini dan terbang lah ke Hawaii.” Ucap Mi Sun.

“Haruskah kita melakukannya? Baiklah.” Jawab So Hye, lalu menuliskan angka 10 miliar won di cek itu.

“Bagaimana menurutmu?” tanya So Hye, yang langsung mendapatkan tepuk tangan dari Mi Sun.


Namun apa yang terjadi selanjutnya?? So Hye merobek cek itu. Mi Sun pun protes. So Hye lantas menghubungi CEO Woo dan berkata kalau ia tidak bisa menandatangani kontrak dengan siapa pun karena alasan pribadi.


Tak lama kemudian, terdengar suara Pil Ho. So Hye pun terkejut melihat Pil Ho datang bersama Hae Sung. Pil Ho lantas mengaku kalau Hae Sung datang untuk memetik selada. So Hye langsung menatap kesal Mi Sun. Mi Sun pun mengau kalau mereka sama sekali tidak menyuruh Hae Sung datang.

Hae Sung membenarkan ucapan Mi Sun, lalu menyuruh Mi Sun mengambilkan selimut untuknya. So Hye hanya bisa menghela napas.


So Hye termenung melihat Mi Sun yang menyiapkan kasur untuk Hae Sung. Hae Sung mengeluh karena So Hye membuatnya melakukan banyak adegan. Mi Sun lantas menawari Hae Sung jus sayuran karena Hae Sung terlihat lelah. Hae Sung mau. Mi Sun pun langsung beranjak keluar. Begitu Mi Sun keluar, Hae Sung langsung merebahkan diri di kasur dan pura2 tidur.

“Bangunlah!” suruh So Hye. Bukannya bangun, Hae Sung malah mengeraskan dengkurannya.


So Hye kesal dan memaksa Hae Sung bangun. Tapi Hae Sung malah menarik tubuh So Hye ke dalam pelukannya. So Hye marah, namun Hae Sung malah menepuk2 punggung So Hye. So Hye langsung membeku. Tak lama kemudian, So Hye pun bangun. Tapi Hae Sung menggenggam tangan So Hye erat2.


“Sebentar saja. Biarkan aku memegang tanganmu seperti ini.” ucap Hae Sung yang kembali membuat So Hye membeku.

Mi Sun datang, mau mengantarkan jus sayuran untuk Hae Sung tapi langkahnya langsung berhenti saat melihat kebersamaan So Hye dan Hae Sung. Pil Ho menyusul Mi Sun. Mi Sun pun langsung menampar pelan wajah Pil Ho dan mengajak Pil Ho pergi.


So Hye terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menarik tangannya dan beranjak pergi. Tepat setelah So Hye pergi, Hae Sung membuka matanya dan menatap ke atas dengan tatapan sedih.


Keesokan harinya, So Hye diam saja saat mereka sarapan bersama. Hae Sung memuji Mi Sun yang pandai memasak. Mi Sun berkata, orang2 berkata untuk memenangkan hati seorang pria, mereka harus pintar membuat perut pria senang. Pil Ho langsung menyahut kalau ia jatuh cinta pada Mi Sun karena hal itu. So Hye masih diam saja.


“Dalam perjalanan ke sini, aku menyadari kalau rumah kalian lebih dekat dari lokasi shooting ketimbang rumahku. Mungkin aku harus tinggal di sini juga.” ucap Hae Sung.

“Itu ide yang bagus. Kau juga bisa menyantap masakan rumahan.” Jawab Pil Ho.

“Jika So Hye setuju, aku akan senang hati menerimamu.” Ucap Mi Sun.

“Chang Suk dalam perjalanan membawa barang2 untukku. Dia membeli lampu kaca, tempat tidur dan sofa.” Jawab Hae Sung.


So Hye yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya beranjak keluar. Mi Sun pun berkata kalau So Hye sangat sensitive belakangan ini dan ia meminta Hae Sung menjaga perasaan So Hye. Hae Sung pun menyusul So Hye.


“Hentikan! Aku sudah merasa tidak enak karena menginap di rumahnya. Kenapa kau datang dan menambah masalahku!” protes So Hye.

“Kalau kau menyesal, tinggal saja di rumahku. Chang Suk dan aku berada di lokasi shooting sepanjang hari, jadi rumah besarku kosong sepanjang hari.” Ucap Hae Sung.

“Kenapa aku harus tinggal di rumah asing?” tanya So Hye.

“Apanya yang asing, aku ini pacarmu.” Jawab Hae Sung.

“Hentikan!” pinta So Hye.


“Bukankah kau bilang kau ingin diingat sebagai wanita yang manis. Aku sedikit memikirkan hal itu. Aku belum pernah melihatmu secantik ini.” jawab Hae Sung.

So Hye pun menarik napas kesal.

“Ah, kau terlihat semakin cantik.” Puji Hae Sung.

“Kenapa kau selalu bercanda?” tanya So Hye.


“Kau bilang aku orang paling bodoh di dunia. Kenapa aku harus menanggapinya dengan serius? Itu hanya akan membuatku stress.” Jawab Hae Sung.

So Hye semakin kesal dengan Hae Sung.

“Jim Carrey berkata, humor tidak bisa menyelamatkan dunia tapi bisa membuat dunia menjadi tempat yang diterima.” Ucap Hae Sung.

“Hentikan. Aku lelah menghadapimu.” Jawab So Hye.

“Bukankah kau bilang kau tidak mau membuang2 semenit dalam hidupmu? Aku juga merasakan hal yang sama. Aku datang ke sini untuk melihat lebih banyak daripada dirimu. Bahkan walau sesaat, aku tidak akan tertidur. Lihatlah ada lingkaran hitam di mataku.” Ucap Hae Sung sambil mendekatkan matanya ke wajah So Hye.

“Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau ada yang melihat kita!” protes So Hye.

“Apa? Skandal? Itulah yang aku inginkan. Aku ingin public tahu kalau aku pacaran dengan Lee So Hye.” ucap Hae Sung.

So Hye kembali menarik napas kesal.

“Apalagi sekarang? Bukankah kau ingin focus bekerja? Sebagai penulis dan aktor? Itu tidak semudah mengatakannya. Aku masih merindukanmu.” Ucap Hae Sung.

So Hye berkaca2….

“Jangan buat aku gelisah. Aku ini Foot Caprio. Belakangan ini, aku tidak bisa konsentrasi berakting. Kita perlu parade NG atau pesta NG di lokasi.” Ucap Hae Sung.


So Hye pun menangis. Hae Sung lalu mendapat panggilan dari Chang Suk. Chang Suk memberitahu kalau ia sudah datang. Usai menutup teleponnya, Hae Sung beranjak pergi. Sebelum pergi, Hae Sung berkata pada So Hye akan segera kembali. Hae Sungg juga melakukan kiss bye. So Hye diam saja dan terus menangis. Bahkan saat Hae Sung melambaikan tangan padanya, ia pun tetap diam.




Di ruang make up, Hae Sung sedang menulis sesuatu pada agendanya. Tiba2, ingatan Hae Sung melayang pada kata2 So Hye. So Hye mengajak Hae Sung membuat ending yang manis untuk Hitman. Tak lama, Chang Suk datang membawakan makan malam untuk Hae Sung.

“Kau melewatkan makan malammu lagi. Kenapa kau bekerja begitu keras?” tanya Chang Suk.

“Aku harus melakukannya. Kau tahu kan bagaimana Penulis Lee bekerja keras untuk ini.” Jawab Hae Sung.


Hari berikutnya…. Hae Sung benar2 bekerja dengan keras. Aktingnya berkembang pesat. Hal itu terlihat saat ia melakoni adegan perkelahian. Ketika Sutradara Yoon berteriak CUT, Hae Sung berkata bahwa dirinya ingin mengulangi adegan itu sekali lagi. Sutradara Yoon heran dan senang dengan perubahan drastic Hae Sung.


Hae Sung mencatat setiap detail di agendanya. Ia tak peduli meskipun matanya sudah lelah. Hae Sung benar2 bekerja dengan keras demi So Hye.


So Hye menemui seorang pria di kafe. Pria itu meminta maaf karena sang adik sudah menipunya. Pria itu lantas mengembalikan uang So Hye dan meminta So Hye mencabut laporan di kantor polisi. So Hye berkata tidak semudah itu. Pria itu menjelaskan kalau semua ini karena ayahnya. Pria itu kemudian mengaku bahwa uang itu adalah jatah warisan adiknya.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya So Hye.

“Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Ini mungkin karena aku mirip dengan adikku.” Jawab pria itu.


So Hye pun teringat dengan pria yang menipunya soal rumah. Si penipu itu sama sekali tidak ada mirip2nya dengan pria yang duduk di hadapannya. Pria itu kemudian mengaku harus menemui korban2 penipuan adiknya dan beranjak pergi.


Saat mau meninggalkan kafe, barulah So Hye ingat pernah bertemu pria itu dimana. So Hye pernah melihat pria itu di televisi sebagai seorang figuran. So Hye pun langsung menghubungi pria itu.

“Ini Lee So Hye yang bertemu denganmu beberapa menit yang lalu. Bisakah kau memberikan ponselmu pada Tuan Oh Chang Suk?” tanya So Hye.


Dan pria itu pun langsung memberi teleponnya pada Chang Suk.

“Ada apa Penulis Lee?” tanya Chang Suk.

“Chang Suk-ssi?” ucap So Hye kesal.

Chang Suk pun menyadari keteledorannya dan memarahi pria itu karena sudah menyuruhnya bicara dengan So Hye…. hahhah, dasar Chang Suk bodoh…

Bersambung ke part 3….

Aku jadikan tiga part lagi yaa…. Hae Sung ini kenapa mepetin So Hye terus ya.. udah tahu So Hye gak nyaman… aturan mah dia ngasih So Hye waktu sedikit lah…

Adegan Joon Gi ngajarin Hae Sung teknik CPR buat aku ngakak… apalagi yang pas si Joon Gi meluk Hae Sung dengan erat, terus neken2 dada Hae Sung… kocak parah…. Si Joon Gi mukanya puas banget ngajarin sekaligus ngerjain Hae Sung…


No comments:

Post a Comment