Skip to main content

Ruby Ring Ep 46 Part 2

Sebelumnya...


Setelah restoran tutup, Chorim pergi hangout dengan Dongpal.


Soyoung berkata, Roo Bi sangat beruntung bisa sekantor dengan Roo Na. Gillja bertanya, apa Soyoung jealous?

"Saat aku melihat wanita dengan stelan jas dan duduk dibalik meja kerja mereka, mereka terlihat mengagumkan." ucap Soyoung.

"Jika kau berpikir seperti itu, kenapa kau tidak mulai memasukkan lamaranmu?" tanya Gilja.

"Anio, siapa yang akan membantumu disini." jawab Soyeong.

"Betapa manisnya dirimu. Kau satu-satunya yang bekerja keras disini tanpa membuat masalah." puji Gilja.


Roo Na pun datang dan langsung meminta air pada Soyoung. Wajahnya tampak lelah.

"Apa kau bisa keluar?" tanya Gilja cemas.

"Aku bukan penjahat. Jangan cemas. Aku hanya butuh alasan pergi dari rumah." jawab Roo Na.

"Bagaimana perasaanmu? Kau bisa tidur dengan baik?" tanya Gilja.

"Kuharap begitu." jawab Roo Na.

"Kau tahu, Roo Na mulai bekerja hari ini di Departemen Pemasaran. Kau harus menjaganya." ucap Gilja.

"Rubah kecil itu, aku kehilangan pekerjaan dan hidupku karenanya dan sekarang dia memulai pekerjaannya?" rutuk Roo Na.

"Itu kesalahan. Kau tidak bisa memaafkannya?" tanya Gilja.

"Dia tidak pernah berubah. Dia tetap menyusahkan orang lain." jawab Roo Na.

"Lupakanlah. Dia sudah berusaha. Dia bekerja keras membuat proposalnya dan dia menang." ucap Gilja.

"Dia seharusnya pergi keluar negeri! Kenapa dia bekerja di JM!" protes Roo Na.

"Roo Bi-ya, dia satu-satunya adikmu. Kenapa kau kejam padanya?" tanya Gilja.

"Dia membuatku marah. Tahukah kau, dia sungguh membuatku sulit?" jawab Roo Na.


"Aku merasa tidak enak karena Gyeong Min harus menanggung semua beban ini. Jadi, ajaklah dia makan malam disini akhir pekan ini." ucap Gilja.

Mendengar itu, Roo Na tambah kesal.

"Eomma!"

"Ada apa?"

"Bagaimana bisa kau mengundangnya tanpa minta izin dariku?" protes Roo Na.

"Aku mengatakannya padamu sekarang." jawab Gilja.

"Rumah ini sempit, tidak ada meja makan. Kenapa kau mengundangnya! Aku akan membuat reservasi. Kita akan makan siang diluar." ucap Roo Na.

"Roo Bi-ya, kau serius? Gyeong Min keluarga kita sekarang. Dia sudah seperti anakku. Aku belum pernah memasakkan sesuatu untuknya. Dan kau sepertinya tidak peduli. Aku merasa, ini akan membantu menyelamatkan wajahmu." jawab Gilja.

"Menyelamatkan wajahku? Semua keluargaku sudah mempermalukanku!" ucap Roo Na.

"Apa salahnya mengundang menantuku makan siang?" tanya Gilja.

"Maksudku bukan begitu, Eomma!" suara Roo Na makin meninggi.

"Kau tidak perlu datang. Gyeong Min bisa datang sendiri." sewot Gilja.


Di kantor, Seokho, Hyeryeon dan Jin Hee sedang merayakan hari pertama Roo Bi bergabung dengan tim mereka. Hyeryeon penasaran, kenapa proposal Roo Bi bisa sebagus itu. Ia bertanya, apa Roo Bi pernah punya pengalaman membuat proposal.

"Aku mempelajarinya dari proposal lama kakakku." jawab Roo Bi.

"Jeong Roo Bi memiliki bakat untuk itu." puji Jin Hee.

"Tapi, kapan dia akan kembali?" tanya Seokho.

"Minggu depan. Aku harap dia tidak memperlakukan Roo Na seperti budak." jawab Jin Hee.


Lalu, Gyeong Min pun datang dan bergabung dengan mereka. Jin Hee bilang, Seokho dan Hyeryeon punya rencana besar. Seokho dan Hyeryeon pun saling menatap.

Tak lama kemudian, In Soo juga datang.


Roo Bi pun terkejut dan saling bergantian menatap Gyeong Min dan In Soo.


Mereka lalu makan diluar. Jin Hee bertanya, kapan In Soo dan Roo Bi akan menikah. In Soo berkata, dia akan segera menikahi Roo Bi.

In Soo lalu memegang tangan Roo Bi.

"Kau lelah?" tanya In Soo.

"Sedikit." jawab Roo Bi.

"Aku hanya bisa minum satu bir malam ini karena aku harus mengantarkanmu pulang dengan selamat." ucap In Soo.

"Bagaimana kalian berdua bisa bertemu?" tanya Jin Hee.

"Di Chuncheon. Aku produser, dan dia reporter." jawab In Soo.

"Oh, benar. Roo Bi mengatakannya padaku." ucap Jin Hee.

Jin Hee lalu bertanya, apa yang membuat Roo Bi tertarik pada In Soo. Roo Bi hanya bilang, tidak tahu.  Jin Hee pun menanyakan pertanyaan yang sama pada In Soo. In Soo bilang, cinta itu sulit dijelaskan." jawab In Soo.


Gyeong Min dan Roo Bi pun saling menatap. Tatapan yang penuh cinta.


Gyeong Min dan Roo Bi memapah Jin Hee yang sudah mabuk. Jin Hee meminta Gyeong Min mencarikannya taksi.


Setelah Jin Hee pergi, tinggal lah Roo Bi dan Gyeong Min berdua. Keduanya nampak canggung. Tiba-tiba, kerumunan orang lewat dan sedikit menabrak Roo Bi. Gyeong Min pun langsung memegangi Roo Bi, agar Roo Bi tak jatuh.

"Kau baik-baik saja?" tanya Gyeong Min.

"Iya." jawab Roo Bi.


Mobil In Soo datang. Begitu mobil In Soo datang, Roo Bi langsung pergi dengan In Soo.


Di mobilnya, Gyeong Min tak bisa berhenti memikirkan Roo Bi.


Mulai dari kejadian tadi, saat ia memegangi Roo Bi ketika Roo Bi hendak jatuh ditabrak orang.


Saat mereka di kafe.


Saat Roo Bi dirawat di rumah sakit, karena jatuh dari tangga. Roo Bi tak mau disentuh In Soo.


Saat mereka makan siang bersama, sebelum dilabrak Roo Na.

"Apa sebelumnya kau dan aku pernah ke sini?" tanya Roo Bi.


Saat syal Roo Bi tertinggal di ruangannya.


Saat ia dan Roo Bi terjebak di dalam pabrik.


Gyeong Min pun menghela nafasnya. Ia tidak mengerti kenapa perasaannya seperti itu.


Roo Na kembali ke rumah dan langsung menyapa keluarga Gyeong Min. Nenek menanyakan kondisi Gilja.

Roo Na pun berkata, ibunya hanya kelelahan tapi tetap mengurus restoran.

Tuan Bae lalu membahas Roo Bi.  Ia meminta Roo Na membantu Roo Bi karena mengira pemasaran adalah dunia baru Roo Bi.

Sontak, nenek dan Nyonya Park kaget. Mereka pikir, Tuan Bae akan melarang Roo Na kembali bekerja.

Roo Na berterimakasih karena diizinkan kembali bekerja.


Dongpal dan Chorim juga menikmati waktu mereka. Dongpal berkata, dengan cuaca seperti itu, jika ia memiliki motor, ia akan membelah jalan raya.

"Kenapa sepeda motor? Jika punya pilihan, aku akan memilih mobil sport." jawab Chorim.

"Chorim, aku ini pemotor." ucap Dongpal.

"Kau tidak memiliki tampilan seperti itu." jawab Chorim.

"Tidak peduli motor atau mobil, kita tidak akan bisa menaikinya." ucap Dongpal.

"Tidak bisakah kau mewujudkan mimpi wanitamu?" tanya Chorim kesal.

"Terus saja bermimpi!" jawab Dongpal.


Kesal, Chorim pun pergi meninggalkan Dongpal tapi langkahnya mendadak terhenti di depan sebuah etalase yang memajang gaun pengantin.

"Dongpal-ssi, aku menginginkan itu." ucap Chorim.


Dongpal pun menelan ludahnya dan mau pergi tapi ia langsung berbalik menatap kaca etalase karena melihat Jihyeok berjalan ke arahnya.

Mereka pun berdebat. Chorim kesal dan langsung pergi karena Dongpal bilang gaun itu tak cocok dengannya.

Setelah Jihyeok pergi, Dongpal pun menyusul Chorim.


Setelah Dongpal pergi, Jihyeok yang sejak tadi bersembunyi dibalik pintu masuk toko yang memajang gaun pengantin itu pun keluar dan menatap Dongpal dengan tatapan sedih.


Chorim pulang dan terkejut melihat keluarganya belum tidur. Roo Bi berkata, bahwa mereka ingin mendengar bagaimana kencan Chorim. Chorim pun malu2. Wajahnya bahkan memerah. Soyoung menggoda Chorim. Ia bilang, wajah Chorim memerah karena Chorim sedang mengkhayal menikah dengan Dongpal.

Chorim kesal dan hendak memukul Soyoung tapi Gilja menghentikannya.

Roo Bi lalu memberikan uang pada sang ibu. Roo Bi bilang, itu adalah hadiah karena proposalnya memenangkan hadiah utama.

Tapi Gilja tidak mau menerimanya. Roo Bi memaksa.


"Eomma, selama ini aku selalu membuatmu sedih. Aku selalu membuat masalah. Aku tidak pernah memberikan apapun padamu." ucap Roo Bi.


Tak hanya pada sang ibu, Roo Bi juga memberikan uang pada Chorim dan Soyeong.

Gilja pun terharu menatap Roo Bi.

Bersambung.......

Comments

Popular posts from this blog

I Have a Lover Ep 50

Sebelumnya.... “Aku rasa aku jatuh cinta lagi padamu.” Ucap Jin Eon begitu Hae Gang menghampirinya. “Aku sudah tahu.” jawab Hae Gang. “Berikan tasmu.” Pinta Jin Eon. “Tidak mau, tas melambangkan harga diri seorang wanita.” Jawab Hae Gang. “Berikan padaku. Tas wanitaku melambangkan harga diriku.” ucap Jin Eon. Hae Gang pun tersenyum, lalu memberikan tas alias keranjangnya yang berisi peralatan mandi pada Jin Eon. Jin Eon kemudian menyuruh Hae Gang menggandeng lengannya. Hae Gang pun menggandeng lengan Jin Eon, dan selanjutnya keduanya beranjak pergi menuju sauna dengan senyum terkembang. “Kau akan memakai itu?” tanya Hae Gang saat melihat Jin Eon sedang memilih2 baju sauna. “Aku pernah memakainya dulu.” Jawab Jin Eon. “Tak bisa kubayangkan…” dan Hae Gang pun tersenyum geli, “… tapi entah bagaimana tampaknya akan lucu.” “Awas ya kalau kau jatuh cinta padaku.” Ucap Jin Eon.   Ajumma penjaga sauna kemudian memberitahu bahwa Jin Eon...

I Have a Lover Ep 29 Part 2

Sebelumnya... Seok sedang galau di kamar yang dulu ditempati Hae Gang. Tak lama kemudian, sang ayah datang. Seok mengaku bahwa mungkin dia harus keluar dari rumah untuk sementara waktu karena ia tidak bisa mengendalikan dirinya. “Berusaha melupakan dengan putus asa akan membuatmu bertambah putus asa. Tidak bisakah putus asamu berkurang sedikit?” tanya sang ayah. “Aku punya penyesalan. Aku menyesal dan itu membuatku gila. Aku seharusnya menikahinya saat kau menyuruhku tahun lalu. Maka dengan begitu, dia akan berada di sampingku selamanya. Setidaknya, aku bisa mengatakan padanya untuk tinggal, untuk memohon padanya untuk tinggal. Aku rasa aku tidak bisa melepaskannya. Aku rasa tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku rasa aku tidak akan pernah bisa melepaskannya.” Jawab Seok. “Hanya kau menahan seseorang, hanya karena kau menyukainya, itu hanya akan membuat tanganmu sakit.   Tanpa bisa merasakan kehangatan, kau akan berteriak kesakitan. Itu sebabnya cinta bertepuk sebelah ...

I Have a Lover Ep 17 Part 2

Sebelumnya <<< Hae Gang di rumah sakit, menunggui Moon Tae Joon yang sedang di operasi. Wajahnya tampak cemas. Tak lama kemudian, Jin Eon datang. Dua staf keamanan Jin Eon yang sudah duluan tiba di sana, langsung menemui Jin Eon begitu Jin Eon datang. "Bagaimana dengan Moon Tae Joon?" tanya Jin Eon. "Dia sedang di operasi." jawab salah satu staf keamanan Jin Eon. "Lalu Do Hae... ah, maksudku Nona Dokgo Yong Gi?" tanya Jin Eon. "Dia menunggu di depan ruang operasi." jawab staf keamanan itu lagi. "Kau sudah mendapatkan nomor platnya?" tanya Jin Eon. "Sudah." Staf keamanan Jin Eon pun memberikan nomor plat kendaraan yang menabrak Tae Joon pada Jin Eon. Jin Eon menatap nomor plat itu dengan wajah cemas. Ia lalu menyusul Hae Gang ke ruang operasi. Keluarga Moon Tae Joon menyalahkan Hae Gang atas kecelakaan yang menimpa Tae Joon. Kakak Tae Joon berkata, jika saja Tae Joon mendengarkannya untuk m...