Sunday, July 15, 2018

Ruby Ring Ep 52 Part 2

Sebelumnya...


Chorim menyuruh Roo Bi ke dokter untuk periksa lebih lanjut karena ingatan Roo Bi sudah kembali. Roo Bi pun meminta maaf. Roo Bi berkata, ia salah karena mengira ingatannya sudah kembali. Roo Bi juga mengaku, ingin ingatannya cepat pulih agar keluarganya berhenti mencemaskannya.

Tak ingin ditanya-tanya lagi, Roo Bi pun beranjak pergi meninggalkan ruang makan.


"Apa bedanya meskipun ingatannya kembali? Ditambah, dia lebih baik dan pintar sekarang. Dulu dia benar- benar brengsek." ucap Chorim.

"Komo, jaga bicaramu. Bagaimana bisa kau menyebutnya brengsek. Kau lupa dengan yang sudah kau lakukan?" jawab Gilja.

"Memangnya apa yang kulakukan?" tanya Chorim.

"Haruskah aku menyebutkannya? Berjudi! Meminjam uang dari lintah darat..."

Untuk menghentikan Gilja bicara, Chorim pun berniat memasukkan makanan ke mulut Gilja tapi Gilja menolak karena sudah kenyang.

"Eonni, lupakan masa laluku. Mulai sekarang, kau amnesia. Oke. Amnesia." ucap Chorim.


Roo Na dan Gyeong Min terlihat mesra di meja makan. Gyeong Min menunjukkan foto di ponselnya pada Roo Na. Roo Na pun tertawa. Melihat mereka, Se Ra pun kesal dan menyuruh mereka berhenti romantisan di meja makan.


Gyeong Min lalu meletakkan suwiran ikan ke mangkuk Roo Na.

"Gyeong Min-ah, aku juga mau." ucap Se Ra.

"Kau bisa mengambilnya sendiri. Atau mintalah suamimu mengambilkannya untukmu setelah kau menikah." jawab Gyeong Min.

"Appa, Gyeong Min sangat kejam." ucap Se Ra. Tuan Bae hanya tertawa.

"Se Ra akan berpikir mencari suami mulai sekarang." jawab nenek, bikin Se Ra tambah sebal.

"Ngomong-ngomong, dimana Auto?" tanya nenek.

"Dia kurang enak badan." jawab Nyonya Park.

"Haruskah kita membawanya ke rumah sakit?" tanya Tuan Bae.

"Aku akan membawanya ke rumah sakit." jawab Nyonya Park.


Geum Hee masih menangisi uangnya yang hilang. Tak lama kemudian, Nyonya Park datang dan membujuk

Geum Hee makan. Tapi Geum Hee menolak. Geum Hee mengaku, tidak bisa menelan makanan sekarang. Geum Hee bilang, uang sebanyak itu bisa ia pakai untuk operasi plastik dari ujung rambutnya sampai ujung kaki.

"Kenapa kau sangat gegabah! Kau juga melibatkan ibu!" marah Nyonya Park.


Mereka lantas mencari Daepung ke rumah Dongpal. Tapi tidak ada siapapun di sana. Setelah mereka pergi,

Daepung pun keluar dari kamar mandi dan berpikir, untuk kabur.


Nyonya Park marah, ia tidak habis pikir bagaimana bisa Geum Hee percaya pada orang lain begitu mudahnya.

"Kau tidak punya KTPnya dan hanya tahu alamatnya." ucap Nyonya Park.

"Dia bukan orang jahat, Gyeongsuk-ah." jawab Geum Hee.

"Tidak heran kau kena tipu. Kau kenal dengan seseorang yang mungkin tahu keberadaannya? Temannya mungkin?"

"Aku kenal temannya. Dongpal, dia teman sekelasku di kelas memasak. Dia mengenal Tuan Wang."

"Kau punya nomornya?"

"Tidak, tapi aku tahu gadis yang disukainya."


Geum Hee pun langsung menghubungi Chorim.

Sementara itu, Chorim memilih tidak menjawab telepon Geum Hee. Tapi Geum Hee terus saja menghubunginya.

Soyoung pun menyuruh Chorim menjawabnya. Soyoung bilang, Chorim bisa memberitahu Geum Hee kalau ia dan Dongpal akan segera bertunangan, jadi Geum Hee bisa berhenti mengganggu Dongpal.

"Dongpal dan aku akan segera bertunangan jadi jangan berpikir untuk menggodanya lagi. Kau akan menyesal jika masih melakukannya!" ucap Chorim lalu memutuskan panggilannya.

Geum Hee menghubungi Chorim lagi. Chorim hendak marah, tapi ia terdiam begitu mendengar tangisan Geum Hee.


Geum Hee dan Chorim bertemu di kafe.

"Kau bilang tidak bisa memberiku nomor Dongpal, kan?" tanya Geum Hee.

"Tentu saja tidak. Bagaimana kalau kau menggodanya lagi." jawab Chorim.

"Lantas apa kau tahu dimana temannya? Teman yang tinggal bersamanya?" tanya Geum Hee.

"Kau berencana menggodanya?" tanya Chorim.

"Tolong aku, kumohon padamu." pinta Geum Hee.


Setibanya di restoran, Chorim pun terus memikirkan cerita Geum Hee. Sementara Soyeong, tiduran di meja dan Gilja sibuk menghitung uangnya.

Dongpal keluar dari dapur dan duduk di depan Chorim.

"Dongpal, temanmu Daepung masih tinggal bersamaku, kan?" tanya Chorim.

"Iya, kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Dongpal lantas mengambil permennya dan menyuruh Chorim membuka mulut. Chorim pun membuka mulutnya dengan wajah merona malu, tapi begitu sudah membuka mulutnya, Dongpal malah langsung memakan permennya.

Chorim pun kesal. Dia memukuli Dongpal hingga keluar. Lalu mereka tertawa bahagia.

Gilja ikut bahagia melihat mereka.


Di kantor, Roo Bi dan timnya sedang rapat. Roo Na berusaha memikirkan, sesuatu yang baru dan menarik perhatian. Seokho tampak ragu, ia juga mengungkit soal insiden talk show Roo Na.

"Kang Seokho-ssi." tegur Jin Hee yang langsung membuat Seokho berhenti bicara.

"Baiklah, akan kutunjukkan padamu bahwa pengaruhku masih ada." jawab Roo Na.


Roo Na lalu meminta ide Roo Bi.

"Bagaimana kalau konser musim gugur?" tanya Roo Bi.

"Ah, benar. Konser Hoban di Chunchen sangat sukses." jawab Jin Hee.

"Konser Hoban?" tanya Roo Na bingung.


"Konser di tepi danau. Itu sangat indah." jawab Jin Hee.

"Aku juga ingat. Itu adalah konser yang sangat berkensan." ucap Roo Bi.


Roo Na pun kaget, kau ingat?

"Aku tidak ingat kau ada di sana." jawab Jin Hee.

"Ini agak kabur, tapi aku ingat saat berada di sana. Apa kau ingat? Kau yang mengatur konsernya. Tidak mungkin aku melewatkannya. Benarkan, eonni." ucap Roo Bi.

"A... aku tidak yakin. Itu sudah lama sekali. Aku bahkan tidak bisa mengingat hal kecil." jawab Roo Na.

Dia nampak gugup!


"Aku pikir kau ingat. Kau dan aku berbeda. Kau lebih pintar." ucap Roo Bi.

"Apa maksudmu? Lagipula, Jeong Roo Na. Aku manajer disini. Jadi perlakukan aku secara pantas." jawab Roo Na.

"Tidak perlu terlalu ketat. Hanya ada kita disini." ucap Jin Hee.

Roo Na pun kesal. Lalu, Se Ra memanggil Roo Bi.


Se Ra menyuruh Roo Bi ke ruangannya. Begitu Roo Bi datang, Se Ra langsung meminta Roo Bi menggantikan Roo Na sebagai host JM Homeshopping. Tapi Roo Bi menolak. Roo Bi berkata, ia tidak yakin bisa melakukannya dan ditambah, ia tidak tertarik.

Se Ra pun meminta Roo Bi memikirkannya lagi. Se Ra juga mengaku, sangat menyukai senyum dan wajah Roo Bi.

Roo Bi pamit. Tapi sebelum pergi, Se Ra sempat menanyakan pernikahan Roo Bi dan In Soo. Roo Bi terdiam.

Se Ra juga bilang, jika Roo Bi tidak menyukai gaun pernikahan yang ia berikan, Roo Bi boleh memberikannya pada orang lain.


Di lorong, Roo Bi berpapasan dengan In Soo. Roo Bi berkata, bahwa ia sedang mempertimbangkan tawaran Se Ra.

"Jangan lakukan itu. Ini akan memancing Roo Na." ucap In Soo.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Roo Bi.


Tepat saat itu, Roo Bi pun datang dan melihat mereka berdua. Suara Roo Na mengejutkan Roo Bi.

Bersambung.....

No comments:

Post a Comment