Wednesday, July 18, 2018

Ruby Ring Ep 55 Part 1

Sebelumnya...


Roo Na bertanya, kenapa harus Roo Bi. Roo Na juga berkata, tidak semua orang bisa menjadi host.

"Roo Na dulu pernah menjadi reporter. Se Ra terlihat putus asa. Aku pikir, lebih baik aku menanyakannya padamu dulu." ucap Gyeong Min.

Tak tahu harus menjawab apa lagi, Roo Na pun memilih tidur.


Di kamarnya, Se Ra terus kepikiran In Soo. Ia bahkan berniat mengirimi In Soo pesan, tapi kemudian ia tersadar bahwa In Soo sudah memiliki pacar.


Di apartemennya, In Soo memikirkan kata-kata Roo Bi.

"Kapanpun aku menatap cermin, aku melihat wajah lick Roo Na dan aku ingin menghancurkannya! Kau tahu perasaanku! Aku ingin merusak dan menghancurkannya!" ucap Roo Bi.

Lalu, In Soo teringat kata-kata Roo Na, bahwa dirinya adalah orang yang paling buruk.

"Dia benar. Mungkin akulah orang yang paling buruk dari semuanya." ucap In Soo.


Sementara itu, Roo Bi masih berada di kantor padahal semua orang sudah pulang. Ia masih sibuk dengan berkasnya.

Tak lama kemudian, ia teringat kata-kata Yeonho ke Roo Na di tangga darurat yang sempat ia dengar.

"Aku tidak peduli bagaimana aku mendapatkan uang sepanjang aku bisa mendapatkannya." ucap Yeonho.

Kemudian, Roo Bi ingat kata-kata Roo Na di ruang meeting tadi yang mendesak Gyeong Min menurunkan dana.

"Ada banyak perubahan dan variabel tidak terhitung di menit terakhir!" ucap Roo Na.

Terakhir, ia ingat kepanikan Roo Na saat Hyeryeon bilang tim mereka tidak berhasil mendapatkan dana.

"Apa dia mau menggunakan uang itu untuk membayar Goo Yeonho? Jeong Roo Na, besok, topengmu akan terbuka. Tunggu lah." ucap Roo Bi.


Keesokan harinya, Gilja memanggil Roo Bi. Ia masuk ke kamar Roo Bi, mengajak Roo Bi sarapan tapi tak menemukan Roo Bi di kamarnya.

Habis itu, ia kembali ke ruang makan.

"Aku sangat terkesan pada Roo Na. Dia pulang tengah malam lalu dia sudah pergi bekerja pagi-pagi sekali." ucap Soyoung.

"Mungkin itu karena tuntutan pekerjaannya." jawab Gilja.

"Dia persis seperti Roo Bi. Kau ingat bagaimana Roo Bi pergi ke sekolah pagi-pagi sekali dan pulang ke rumah larut malam?" ucap Chorim.

"Mereka kembar. Keduanya mungkin tidak mirip tapi aku yakin mereka mirip dalam satu hal." jawab Soyoung.

Tapi tak lama, Soyoung meralat ucapannya. Ia bilang, Roo Bi dan Roo Na berbeda.

"Tentu saja mereka berbeda! Mereka bukan kembar identik!" jawab Chorim.


"Ngomong-ngomong, apa sesuatu terjadi antara dirimu dan Chef No? Sepertinya kau melakukan sesuatu yang membuat dia berhenti bekerja." ucap Gilja.

"Aku meminjaminya uang. Aku menawarkannya pinjaman dengan bunga 1 % setiap bulan." jawab Chorim.

"Bagaimana bisa kau melakukan itu padanya!" protes Gilja.

"Kami memang dekat, tapi kami belum menikah. Kami bukan suami istri jadi aku tidak bisa mempercayainya." jawab Chorim.


Jihyeok terkejut melihat menu sarapan paginya. Dongpal beralasan, itu karena ujian Jihyeok dua hari lagi jadi ia ingin memberikan Jihyeok semangat.

"Appa, kau mendengar kabar dari Paman Daepung?"

"Dia bukan pamanmu. Kita tidak punya hubungan dengannya. Jangan sebut nama dia lagi."

"Dia memang salah karena sudah menipu wanita itu tapi dia melakukan itu agar bisa membantu kita membayar uang sewa. Apakah dia akan kembali ke penjara? Dia akan menikmati ayam ini jika ada di sini."


Roo Na tiba di kantor dan menemukan Roo Na tengah memasukkan sesuatu ke dalam amplop. Roo Na penasaran isi amplop itu. Ia mau membukanya tapi Roo Bi langsung mengambil amplop itu dari tangan Roo Na.

"Kenapa kau ingin tahu? Ini hal pribadi. Urus saja urusanmu sendiri." ucap Roo Bi.

"Kau bersikap aneh belakangan ini. Kau menyembunyikan sesuatu dariku? Ada apa denganmu akhir-akhir ini?" tanya Roo Na.

"Bagaimana denganmu? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?"

"Memangnya apa yang harus kusembunyikan darimu? Ada apa? Apa yang kau tahu?"

"Apa yang kutahu?" tanya Roo Bi balik.

"Apa itu? Apa? Jeong Roo Bi no, heoksi...?" Roo Na bertanya-tanya dalam hati, apakah ingatan Roo Bi sudah kembali.


Tepat saat itu, Jin Hee datang.

"Ada apa diantara kalian? Pertarungan antara kakak adik?" tanya Jin Hee.

"Tentu saja tidak. Kami sangat dekat seperti yang kau lihat. Benarkan, Roo Na-ya?"

Roo Bi hanya tersenyum membalas ucapan Roo Na.


Lalu, seseorang menghubungi Roo Na. Roo Na pun kembali ke tempat duduknya dan tambah stress.


Di ruangannya, Gyeong Min kepikirkan soal Se Ra yang ingin Roo Bi menggantikan Roo Na sebagai host. Tak lama kemudian, Gyeong Min pun memanggil In Soo ke ruangannya.

Begitu In Soo datang, Gyeong Min langsung menyuguhkan kopi. In Soo mencium wangi kopinya.

"Kopi ini... yirgacheffe?" tanya In Soo.

"Jadi kau tahu." jawab Gyeong Min.

"Kau dan Roo Na punya selera yang sama." ucap In Soo dengan wajah sedikit kesal.

"Ini hanya kopi. Tapi karena kau membicarakan Roo Na, ada yang ingin kusampaikan padamu. Se Ra ingin Roo Na menjadi host, tapi Roo Na menolaknya. Aku pikir, mungkin kau bisa membantu bicara pada Roo Na. Dengan Roo Na menjadi host, mungkin bisa membantu memulihkan ingatannya." jawab Gyeong Min.

"Tapi jika dia tidak mau melakukannya, aku rasa tidak ada seorang pun yang bisa membujuknya." ucap In Soo.

"Terakhir kali kita bertemu, kau bilang ingin mengatakan sesuatu." jawab Gyeong Min.


"Soal itu...." In Soo pun langsung teringat kata-kata Roo Bi yang melarangnya memberitahu siapapun soal ingatannya yang sudah pulih.

Teringat kata-kata Roo Bi, In Soo pun berbohong. Ia bilang, bahwa ia hanya ingin curhat saja karena merasa sudah dekat dengan Gyeong Min. Gyeong Min pun heran.


Tak lama kemudian, seketaris Gyeong Min datang memberikan amplop tebal pada Gyeong Min. Gyeong Min pun langsung membukanya, karena melihat tulisan 'penting' di atas amplop. Dan begitu ia melihat isinya, ia terkejut. Amplop itu berisi bukti penggelapan dana perusahaan yang dilakukan Roo Na.

Lalu, Gyeong Min menerima sebuah SMS yang menyuruhnya datang ke kafe sekarang.


Roo Na dan Yeonho bertemu di kafe. Roo Na meminta Yeonho berjanji, tidak akan pernah menemuinya lagi setelah ia memberikan uangnya. Tapi Yeonho menolak. Kesal, Roo Na pun berniat pergi tapi Yeonho menahannya. Yeonho mengancam akan langsung menemui Gyeong Min tapi Roo Na malah menyuruh Yeonho menemui Gyeong Min.

Yeonho mengalah, ia berjanji tidak akan mengganggu Roo Na lagi setelah mendapatkan uangnya.


Begitu Roo Na memberikan uangnya, Gyeong Min mendadak muncul. Roo Na sontak kaget. Yeonho langsung kabur, tapi ia nyaris bertabrakan dengan Se Ra yang juga ada di sana.

Se Ra menghampiri keduanya. Ia mengaku, mendapatkan pesan yang menyuruhnya datang ke kafe itu serta mendapatkan bukti tentang penggelapan yang dilakukan Roo Na.


Gyeong Min pun langsung menuntut penjelasan Roo Na. Roo Na yang tak tahu harus menjawab apa pun pura-pura pingsan.

Tak jauh dari mereka, Roo Bi duduk sambil menatap tajam Roo Na.

"Kau pura-pura pingsan lagi. Itu yang selalu kau lakukan. Akankah rencanamu berhasil kali ini? Semuanya akan kembali seperti semula. Kau harus kembali ke tempat asalmu." batin Roo Bi.


Roo Bi kembali ke kantornya dan membawakan kopi untuk semua orang. Tak lama kemudian, Seokho datang memberitahukan soal Roo Na yang pingsan di kafe samping kantor. Jin Hee terkejut. Seokho menyuruh Roo Bi melihat Roo Na.

"Di rumah sakit mana?" tanya Jin Hee.

"Bukan di rumah sakit. Dia ada di ruangan Wakil Presdir Bae." jawab Seokho.

"Kau yakin itu bukan rumor?" tanya Jin Hee.

"Aku melihatnya sendiri." jawab Seokho.

"Roo Na-ya, pergilah kesana." suruh Jin Hee.

Roo Bi pun terpaksa pergi.


Gyeong Min meminta Se Ra merahasiakan masalah itu sampai ia menemukan kebenarannya. Se Ra penasaran, kenapa Roo Na melakukan itu dan kenapa Roo Na membutuhkan banyak uang. Lalu, seseorang menghubungi Se Ra dan Se Ra langsung beranjak pergi.


Setelah Se Ra pergi, Gyeong Min langsung menyuruh Roo Na bangun. Rupanya, Gyeong Min tahu Roo Na pura-pura pingsan. Roo Na pun bangun dan langsung meminta Gyeong Min mendengarkannya. Tapi Gyeong Min dengan suara tegas, menyuruh Roo Na diam dan menjawab pertanyaannya.

"Berhenti, kau membuatku takut." jawab Roo Na.

"Apa itu benar?" tanya Gyeong Min.

"Gyeong Min-ssi, ini..." Roo Na masih mau berkilah, tapi Gyeong Min langsung memotong perkataannya.

Gyeong Min menyuruh Roo Na menjawab pertanyaannya. Roo Na pun bingung, ia tidak tahu harus mengatakan apa.

"Jadi semuanya benar." ucap Gyeong Min kecewa.

"Gyeong Min-ssi, tolong maafkan aku. Aku pasti kehilangan akal sehatku. Aku ingin mengajak ibuku makan di tempat mewah dan memastikan Roo Na mendapatkan pernikahan yang indah. Tapi aku perlu uang dan aku malu minta padamu. Aku hanya melakukannya beberapa kali. Aku bersumpah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji." jawab Roo Na.

"Jeong Roo Bi, seperti inikah dirimu yang asli? Apa Jeong Roo Bi yang aku kenal selama ini adalah kebohongan? Kau ada di depanku, tapi aku tidak tahu siapa dirimu." ucap Gyeong Min.

"Siapa lagi, aku Jeong Roo Bi. Wanita yang kau cintai lebih dari apapun di dunia ini. Jeong Roo Bi." jawab Roo Na.

Gyeong Min pun menghela nafas mendengar jawaban Roo Na. Lalu ia menunjukkan uang yang tadinya hendak diberikan Roo Na pada Yeonho.

Gyeong Min menuntut penjelasan Roo Na soal uang itu. Roo Na pun berbohong lagi. Ia berkata, pria itu adalah pacarnya Eun Ji dan ia mengaku memberikan uang itu karena Eun Ji membutuhkannya.

Roo Na lantas meminta Gyeong Min mempercayainya. Ia juga mengajari Gyeong Min soal pernikahan. Gyeong Min pun tambah kecewa.


Di ruang editing, In Soo berusaha menghubungi Roo Na. Tapi tidak diangkat. Akhirnya, In Soo pergi mencari Roo Na dan malah menemukan Roo Bi di lorong.

"Apa dia benar-benar melakukannya?" tanya In Soo.

"Aku pastikan mereka berdua akan berpisah. Aku merasa kasihan pada ibu dan bibiku tapi aku tidak punya pilihan." jawab Roo Bi.

"Jangan lakukan itu." pinta In Soo.

"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pura-pura tidak tahu. Aku akan mengambilnya kembali dari Roo Na, satu per satu. Ani, aku tidak mengambil apapun dari Roo Na. Hal itu, milikku dari awal." jawab Roo Bi.

"Jika kau ingin balas dendam, maka akui kebenarannya. Ini bukan dirimu. Dimana Jeong Roo Bi yang manis, hangat dan penuh perhatian?" ucap In Soo.

"Jeong Roo Bi yang manis? Roo Bi yang bodoh, hidupnya sudah direnggut. Dia sudah mati. Ani, dia dibunuh." jawab Roo Bi.


"Aku akan mengatakan kebenarannya." ucap In Soo.

"Andwaeyo." jawab Roo Bi.

"Waktu yang kita lalui bersama, mungkin hanya sebuah kebohongan bagimu tapi bagiku itu cinta. Aku akan menerima hukuman yang pantas. Tapi kau tidak boleh. Aku tidak bisa diam dan menonton saja melihatmu menghancurkan dirimu sendiri seperti ini. Aku akan menemui Wakil Presdir." ucap In Soo.

"Tidak boleh. Bukankah kau bilang, kau mencintaiku? Cinta itu apa? Membiarkan seseorang hidup seperti yang mereka inginkan? Bahkan meskipun aku jatuh ke dalam lubang neraka, aku akan melakukannya. Aku ingin melakukannya. Jadi kumohon, In Soo. In Soo-ssi, jebal! Jangan hentikan aku." pinta Roo Bi berkaca-kaca.


Mobil Gyeong Min tampak berhenti di depan Sungai Han. Di dalamnya, Gyeong Min duduk dengan mata berkaca-kaca sambil mengingat kenangannya dengan Roo Bi satu per satu dan mendengarkan lagu klasik, lagu favoritnya dengan Roo Bi.


Lalu ia ingat pertengkarannya dengan Roo Na dan semua masalah yang diciptakan Roo Na.

Gyeong Min pun menangis.


Bersambung ke part 2...

No comments:

Post a Comment