Saturday, August 4, 2018

Ruby Ring Ep 62 Part 1

Sebelumnya...


Roo Na menerima ajakan makan siang Eun Ji, tanpa sadar kalau itu hanya jebakan.


Yeonho yang sejak tadi duduk di depan Eun Ji pun senang mengetahui Roo Na akan datang. Eun Ji pun menagih janji Yeonho. Yeonho berjanji padanya, akan memberikannya tas desainer jika ia berhasil mengajak Roo Na makan siang. Yeonho pun berkata, akan membelikan Eun Ji tas itu setelah ia mendapatkan uangnya.


Roo Na berlari ke ruang makan dan terkejut tidak mendapati ayah mertuanya di sana.

"Dia bersama Gyeong Min dan Se Ra. Itu mungkin untuk bayi yang kau kandung. Dia selalu bilang, akan memberikan cucunya saham perusahaan. Aku juga akan memberikan apa yang kupunya untuk cicitku." ucap nenek.

"Itu terlalu cepat, Bu." jawab Nyonya Park.

"Aku ini sudah tua. Lebih baik memberikannya sekarang." ucap nenek.

"Samonim, bukankah kau bilang akan mendonasikan uangmu ke badan amal?" tanya Geum Hee.

"Aku akan mendonasikan uangku sebagian saja tapi setelah aku meninggalkan cukup uang untuk cicitku." jawab nenek.

"Berapa banyak, Samonim?" tanya Geum Hee.

"Aku belum menghitungnya, jadi aku tidak yakin tapi jumlahnya lumayan besar." jawab nenek.

Roo Na jelas senang mendengarnya. Ia berkata dalam hatinya, kalau ia tidak akan membiarkan anaknya hidup susah sepertinya. Ia mengaku, akan melakukan apapun untuk anaknya. Bahkan, kalau perlu, ia akan membuat anaknya menjadi presiden.


Gilja berdiri di depan kamar Roo Bi. Tak lama kemudian, Roo Bi keluar dan pamit pada ibunya.


Setelah Roo Bi pergi, Gilja beranjak ke dapur.

"Kau sudah selesai mencuci piring?" tanya Gilja. Soyeong mengiyakan.

"Apa Chorim masih tidur? Dia harus makan sesuatu." ucap Gilja.

Tiba-tiba saja, Soyoung kepikiran sesuatu dan ia langsung berlari ke kamar.


"Eonni! Eonni!" teriak Soyoung. Gilja yang mendengar teriakan Soyoung, langsung berlari ke kamar.

Soyoung berusaha membangunkan Chorim, tapi Chorim tak bangun-bangun. Gilja pun ikut berusaha membangunkannya, tapi Chorim tetap tak bangun dan Soyoung menemukan obat-obatan di tepi kasur. Di bibir Chorim, ada noda merah.

Gilja kaget dan langsung menyuruh Soyoung menelpon ambulance.


"Komo! Komo! Bangun! Komo!"  Gilja berusaha menyadarkan Chorim. Chorim masih tak bangun. Sampai akhirnya, ia menyiram wajah Chorim dengan segelas air. Chorim pun bangun. Gilja menangis.

"Aku tahu kau kesal, tapi kau tidak boleh mati! Bagaimana aku bisa hidup tanpamu!"


Soyoung menghubungi ambulance. Pada petugas, Soyoung berkata, bahwa Chorim sudah sadar tapi Chorim muntah darah.

Mendengar itu, Chorim pun bergegas bangun.

"Apa? Muntah darah? Siapa? Siapa?" tanya Chorim.

"Tentu saja kau! Dongpal tidak pantas untukmu!" jawab Gilja sambil memukuli Chorim.

"Memangnya apa yang kulakukan? Ada apa?" tanya Chorim.

"Komo, kau tidak mencoba melakukan hal bodoh kan?" tanya Gilja.

"Apa? Kau pikir aku akan bunuh diri? Kau gila? Kenapa juga aku harus bunuh diri!" jawab Chorim.

"Tapi kau tidak sadar. Ada pil di sana dan di mulutmu ada darah." ucap Soyoung.

"Aku ketiduran saat lagi minum anggur." jawab Chorim.

"Lalu pil nya?" tanya Soyoung.

"Itu obat demam." jawab Chorim.


Gilja pun langsung memarahi Soyoung yang sudah membuat kehebohan. Soyoung pun menjelaskan, karena Chorim sangat kecewa dengan Dongpal, jadi ia pikir Chorim akan bunuh diri.

Lalu terdengar suara ambulance. Gilja, Chorim dan Soyoung pun panic.

*Astaga, sy ngakak scene ini.


Daepung keluar dari kamar mandi dan menemukan Dongpal sedang minum-minum.

"Masih terlalu pagi untuk minum-minum. Kau tidak bekerja?" tanya Daepung.

"Aku sudah keluar." jawab Dongpal.

"Jangan. Pikirkan Jihyeok. Kau tidak boleh melakukan ini." ucap Daepung.

"Aku bajingan yang sebenarnya." jawab Dongpal.

"Aku seorang penipu. Aku penipu. Aku lah yang penipu, bukan kau." ucap Daepung.

Dongpal ingin minum lagi, tapi Daepung melarangnya. Dia bahkan mengambil botol sojunya dari tangan Dongpal. Dongpal marah dan mengambil kembali soju itu dari tangan Daepung.


In Soo menghubungi Roo Bi saat Roo Bi tengah bekerja bersama tim nya. In Soo mengajak Roo Bi makan siang, tapi Roo Bi menolak dengan alasan pekerjaan. In Soo berkata, Roo Bi bisa kembali bekerja setelah selesai makan siang.

"Haruskah aku menerobos ke tempatmu?" tanya In Soo. Roo Bi pun tak punya pilihan selain menerima ajakan makan siang In Soo.


Se Ra tiba-tiba datang.

"Menorobos kemana?" tanya Se Ra.

"Ah itu..." In Soo berusaha menjelaskan.

"Kau bisa menerobos masuk ke ruanganku kapanpun kau mau." ucap Se Ra.

Se Ra lantas menyuruh Jiyeon, seketarisnya, untuk memberikan In Soo kopi meskipun dirinya tidak ada.


Roo Na sedang berbelanja untuk keperluan bayinya. Ia tak henti-hentinya menebar senyum saat melihat-lihat perlengkapan bayi.


Selesai belanja, ia mampir ke sebuah kafe dan menunggu Eun Ji. Saat menunggu Eun Ji, ponselnya berdering.

"Kau sudah selesai belanja? Nenek menyuruhku menelponmu. Dia cemas. Cepatlah pulang jika kau sudah selesai." ucap Nyonya Park. Roo Bi pun mengiyakan.


Nyonya Park memberitahu nenek kalau Roo Na sudah selesai belanja dan sedang makan siang dengan seorang teman. Nenek pun kesal. Nenek bilang, Roo Na bisa berbelanja kebutuhan bayi nanti bersama Gyeong Min.

"Dia butuh keluar ibu." bela Tuan Bae.

"Tapi dia harus ekstra hati-hati mulai sekarang." jawab nenek.


Roo Na masih menunggu Eun Ji, tapi yang datang malah Yeonho. Yeonho pun menghampiri Roo Na dengan senang hati setelah memesan kopinya. Ia bersikap, seolah-olah mereka bertemu karena kebetulan.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Roo Na.

"Aku merindukanmu, Samonim. Kudengar kau hamil. Selamat." jawab Yeonho.

"Aku pikir, kau dan Eun Ji putus." ucap Roo Na.

"Eun Ji? Benar, kami putus. Tapi aku menghubunginya tadi dan dia bilang, dia akan bertemu denganmu jadi aku datang untuk menyapamu." jawab Yeonho.


"Aku tidak punya bisnis denganmu, jadi tolong pergi." ucap Roo Na.

"Aku punya bisnis dengamu." jawab Yeonho.

"Ada apa denganmu? Urusan kita sudah selesai." ucap Roo Na.

"Aku percaya kalau kau masih berhutang padaku. Suamimu mengambil uang itu." jawab Yeonho.

"Aku tidak akan diam saja jika kau terus seperti ini." ucap Roo Na.

"Utang juga bisa diwariskan." ancam Yeonho.

"Aku tidak punya uang." jawab Roo Na.

"Suamimu kaya." ucap Yeonho.

"Aku tidak punya uang!" jawab Roo Na, lalu beranjak pergi meninggalkan belanjaannya.

Yeonho pun bergegas menyusul Roo Na sambil membawa barang belanjaan Roo Na.


Roo Na semakin mempercepat langkahnya. Namun tiba-tiba, dia jatuh. Tepat saat itu, Roo Bi dan In Soo melihat mereka. Melihat Roo Bi dan In Soo, Yeonho pun mencampakkan belanjaan Roo Na dan kabur.

"Kau bersama Goo Yeonho?" tanya Roo Bi. Roo Na pun menggeleng.

"Lalu kenapa dia mengejarmu?" tanya Roo Bi.

"Mana aku tahu." jawab Roo Na.


Mereka lalu pergi makan siang.

"Makanlah yang banyak karena kau sedang hamil. Aku penasaran, seperti apa rasanya mengandung bayi dari pria yang kita cintai." ucap Roo Bi.

"Mana aku tahu." jawab Roo Na.

"Tentu saja kau tahu. Bayi itu kan hasil dari hubunganmu dengan Gyeong Min yang kau pacari bertahun-tahun." ucap Roo Bi.


In Soo pun menatap Roo Bi dengan tatapan tidak nyaman.

"Ada teman yang memberitahuku, hamil itu rasanya seperti  ada parasit aneh yang tumbuh dalam dirinya. Jadi dia melakukan aborsi dan putus dengan pacarnya. Dia menyadari, kalau dia tidak mencintai pria itu. Itu sebabnya, ada yang bilang, mereka tidak bisa mencintai bayi mereka karena tidak mencintai ayah mereka. Cinta ibu adalah naluri, jadi jika kau tidak merasakannya, bukannya itu gawat." ucap Roo Bi.

"Benar, kau tidak mencintaiku. Kau mencintai hidupmu sendiri. Kau menganggap bayimu adalah hambatan." ucap In Soo dalam hatinya sambil menatap Roo Na.

"Maafkan aku karena banyak bicara. Kita bisa mulai makan sekarang." ucap Roo Bi lagi.


Tapi Roo Na merasakan perutnya tidak nyaman dan memutuskan ke kamar mandi.

Roo Bi yang hendak makan, terkejut melihat noda darah di alas duduk Roo Na.


Roo Na masuk ke kamar mandi sambil menahan sakit. Saat melihat darah yang mengalir di sela-sela kakinya, ia terkejut.

"Andwae, andwae." ucapnya lirih. Lalu, ia jatuh seketika dan menjerit kesakitan.


Roo Bi pun datang dan terkejut melihat keadaan Roo Na. Ia mengajak Roo Na ke rumah sakit tapi Roo Na menolak. Roo Na mengaku, bahwa dirinya akan baik-baik saja. Roo Bi juga berencana menelpon Gyeong Min, Roo Bi pun marah. Tapi Roo Na tetap kekeuh, ia melarang Roo Bi memberitahu siapa pun tentang keadaannya.

Roo Na keguguran!

Bersambung ke part 2.............

Akhirnya sampai juga di part ini, part yg saya tunggu-tunggu. Part dimana Roo Na keguguran.

Sy spoiler dikit ya, nanti Roo Na berbohong pemirsaaa. Dia pura-pura hamil, bahkan sampai makai bantalan perut. Tapi sih nanti dia ketahuan sama nenek dan benar-benar diusir oleh keluarga Gyeong Min.

No comments:

Post a Comment