Saturday, August 4, 2018

Ruby Ring Ep 62 Part 2

Sebelumnya...


In Soo dan Roo Bi membawa Roo Na ke rumah sakit. Roo Bi tidak mengerti, kenapa Roo Na berusaha menipu orang lagi. Ia penasaran, apa yang Roo Na harapkan dari menipu semua orang.

Lalu, dokter datang. Dokter menjelaskan, bahwa operasi Roo Na berjalan dengan baik dan kondisi Roo Na akan pulih setelah menginap satu hari di rumah sakit.

"Jadi dia harus menginap?" tanya Roo Bi.

"Aku tidak mau. Aku tidak bisa menginap disini. Aku harus pulang." jawab Roo Na, lalu turun dari tempat tidurnya.

"Aku mengizinkannya, tapi kau harus menjaga kondisimu seperti ibu yang habis melahirkan." ucap dokter.

"Aku mengerti." jawab Roo Na, lalu keluar dari kamar rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Roo Na diam saja dengan wajah pucatnya. Roo Bi ingin memberitahu seluruh keluarga kalau Roo Na keguguran. Tapi Roo Na melarangnya. Roo Na berkata, dialah satu-satunya orang yang akan memberitahu kegugurannya. Ia meminta Roo Bi dan In Soo bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

In Soo pun melirik Roo Na dari kaca spionnya.

"Sampai kapan kau akan terus berbohong, Jeong Roo Na? Berhentilah, jebal!" ucap In Soo dalam hati.


Chorim sudah mulai masuk kerja, ia bekerja keras membantu Gilja dan Soyoung membersihkan restoran.

Soyong pun menatap Gilja yang sedang istirahat dengan tatapan prihatin.

"Ini pasti melelahkan untukmu tanpa Dongpal. Aku tidak percaya Dongpal semudah itu tidak menjawab teleponmu." ucap Soyoung.

"Itu karena dia penipu!" jawab Chorim.

"Eonni!" tegur Soyoung.

"Apa aku salah? Dia punya anak, tapi mengaku-ngaku masih bujangan. Jika aku tidak menemukannya, aku akan menikah dengan penipu." jawab Chorim.

"Aku yakin dia tidak mau berbohong dan aku berani bertaruh, dia tertekan karena harus berbohong soal ini." ucap Gilja.

Chorim pun marah Gilja membela Dongpal. Tak mau berdebat, Gilja pun mengalah dan memilih menyudahi pembicaraan mereka tentang Dongpal. Chorim juga memarahi Gilja karena meminjamkan uang pada Dongpal.

"Eonni, kau ingin aku mengatur pertemuanmu dengan Gongnam lagi? Temanku bilang, Gongnam tidak mau menikah dengan wanita lain."

"Lupakan! Aku sudah selesai dengan semua pria!" jawab Chorim, lalu kembali bekerja.

"Jangan percaya pria, jangan percaya uang, jangan percaya cinta." ucap Soyoung.


Lalu, Daepung datang. Chorim pun langsung sewot melihat Daepung. Daepung ingin bicara, tapi Chorim terus saja nyerocos memarahi Daepung. Chorim lantas mengajak Gilja pergi, tapi Daepung meminta mereka mendengarkannya dulu.

"Aku tahu aku tidak pantas menerima simpatimu. Karena kau benar. Aku penipu. Aku bahkan pernah masuk ke sekolah dua kali." ucap Daepung.

"Sekolah?" tanya Gilja bingung.

"Maksudku penjara. Aku masuk penjara dua kali dan Dongpal hanya sekali." jawab Daepung.

Terkejutlah mereka mengetahui Dongpal pernah dipenjara.


Lebih lanjut, Daepung bercerita kalau Dongpal adalah pria yang baik. Dongpal berasal dari keluarga baik-baik dan dia juga pintar. Tapi masalah Dongpal dimulai saat Dongpal pergi ke Seoul untuk mewujudkan impiannya menjadi penyanyi.

"Aku mengenalkannya dengan wanita yang sudah memiliki anak. Dan wanita itu adalah ibu kandung Jihyeok. Jihyeok bukan anak kandung Dongpal." ucap Daepung.

Chorim tidak percaya. Ia berpikir, Daepung tengah berusaha menipunya lagi. Gilja pun menyuruh Chorim diam.

"Aku pada awalnya tidak tahu karena wanita itu mengatakan sebaliknya. Lalu aku menyuruh Dongpal putus dengannya, tapi Dongpal tidak mau. Dia bilang tidak bisa mencampakkannya. Ayah Dongpal tidak menyetujuinya dan Dongpal memutuskan tinggal dengan wanita itu karena tahu tidak ada pria yang mau menikahi wanita itu." ucap Daepung.

"Lalu dimana ibu anak itu?" tanya Gilja.

"Aku tidak tahu. Dia pergi begitu saja meninggalkan Jihyeok dan Dongpal." jawab Daepung.

"Lalu kenapa dia masuk penjara?" tanya Soyoung.


"Karena dia tidak bisa melunasi pinjamannya. Dia punya anak kecil yang harus diurus dan keluarganya tidak mau membantunya. Sampai akhirnya, dia kedatangan teman yang meminta pinjaman hanya satu minggu. Dongpal akhirnya mendapatkan pinjaman dari rentenir jahat." jawab Daepung.

"Teman?" tanya Chorim.

"Temannya itu adalah aku.Chorim-ssi, aku mungkin penipu tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Dongpal sangat mencintaimu." jawab Daepung.

Tapi Chorim tidak percaya dan mengusir paksa Daepung dari restorannya.


Roo Bi dan In Soo mengantarkan Roo Na pulang ke rumah Gyeong Min. Roo Bi menatap Roo Na dengan tatapan lirih.

"Kau akan memberitahu suamimu, kan? Kau tidak berencana berbohong, kan?" tanya Roo Bi.

"Akulah yang memutuskan apa yang harus kulakukan. Pergilah sebelum ada yang melihat kalian." jawab Roo Na.


Tapi tepat saat itu, Gyeong Min pulang. Roo Na pun langsung bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Gyeong Min menanyakan mobil Roo Na. Roo Na berbohong, ia mengaku habis makan malam dengan In Soo dan Roo Bi. Ia juga bilang, kalau Roo Bi dan In Soo lah yang membelikannya belanjaan itu.


Gyeong Min pun mengajak Roo Bi minum teh, tapi Roo Bi menolak dan memilih pulang.


"Jeong Roo Na tidak berubah sedikit pun. Aku pikir dia sudah lelah berbohong dan menipu semua orang." ucap In Soo.

"Aku membayangkan dia akan menjadi seorang ibu dan aku bibi. Jadi mungkin aku bisa memaafkannya dan membuka hatiku untuk yang lain. Aku bahkan sempat kasihan padanya tadi. Tapi tidak. Karena dia Jeong Roo Na." jawab Roo Bi.

In Soo pun kembali membujuk Roo Bi untuk berhenti balas dendam. Tapi Roo Bi tidak mau.


Nenek masuk ke kamar Roo Na dan Gyeong Min. Ia membawakan air kaldu itu untuk Roo Na. Singkat cerita, setelah nenek pergi, Roo Na mengaku merasa tertekan dengan sikap nenek. Gyeong Min pun berkata, itu karena nenek mencemaskan Roo Na.

"Bukan, dia tidak pernah menyukaiku. Itu karena bayi ini." jawab Roo Na.

"Ada apa denganmu? Kau terlihat bahagia pagi tadi." tanya Gyeong Min.


Roo Na pun langsung berlari ke kamar mandi. Di kamar mandi, dia muntah.

"Roo Bi-ya, kau baik-baik saja? Kau butuh bantuanku?" tanya Gyeong Min cemas.

"Aku tidak apa-apa. Aku mau mandi." jawab Roo Na.


Roo Na lantas menyalakan shower dan mengguyur dirinya. Dibawah guyuran air, dia menangis.

"Ini pasti hanya mimpi. Aku tidak bisa kehilanganmu seperti ini. Kenapa aku? Kenapa aku tidak bisa menjadi seorang ibu?" tanyanya dalam hati.

Lalu, ia teringat saat dulu dirinya berusaha mengugurkan kandungannya, bayinya dengan In Soo.

"Apakah ini hukuman bagiku? Tapi kau satu-satunya harapanku. Kau tidak boleh pergi. Tidak boleh." ucapnya lagi.


Bersambung...........

No comments:

Post a Comment