Wednesday, October 17, 2018

Ruby Ring Ep 81 Part 1

Sebelumnya...


Roo Bi dan Roo Na sedang melakukan pemotretan.

Fotografer pun memuji Roo Na yang sudah bekerja keras di pemotretan hari itu.

"Itu karena aku melewatkan pemotretan kemarin, jadi aku bekerja cukup keras hari ini." ungkap Roo Na.

Fotografer lalu memuji ekspresi Roo Bi. Ia berkata, Roo Bi memiliki aura yang serius seperti ingin menceritakan sebuah cerita.

"Kukira itu tidak kelihatan. Sebenarnya aku punya cerita sedih. Aku akan menceritakannya lain kali." jawab Roo Bi, yang sontak membuat Roo Na kaget.


Begitu masuk ke ruang ganti, Roo Na pun memarahi Roo Bi.

"Kisah sedih? Kenapa kau tidak mengatakannya saja? Kenapa kau tidak mengatakan rahasiaku?"

"Tadinya aku berpikir begitu tapi penontonnya kurang banyak. Acara bincang-bincang langsung dengan penonton studio. Kurasa itu lebih sempurna." balas Roo Bi.

"Lakukanlah. Kau gila." ucap Roo Na.

Kesal, Roo Bi pun mencengkram tangan Roo Na.

"Gila? Aku? Kau tahu kenapa aku menahan diri? Seperti yang kau katakan, aku sudah gila. Baiklah, silahkan teruskan sandiwaramu. Akan kutunjukkan apa yang terjadi ketika aku sudah benar-benar marah. Itu menyenangkan. Sebuah cerita gila, tentang kakak adik yang gila." ucap Roo Bi.


Ponsel Roo Na tiba-tiba berdering.

Telepon dari Gyeong Min yang mengajaknya makan malam.

Roo Bi berkaca-kaca menatap Roo Na yang berbicara dengan Gyeong Min.


"Kau lihat, kan? Sekeras apapun kau berusaha, kau tidak akan mendapatkan kembali semuanya. Gyeong Min, pria yang kau inginkan, sudah menjadi milikku sekarang dan tidak akan bisa kau miliki. Itulah kenapa aku menyuruhmu menyerah. Itulah yang terbaik untukmu, Gyeong Min, ibu dan semua orang bisa bahagia."

Roo Na kemudian mendekati Roo Bi.

"Kau harus menyerah. Kau orang yang baik. Kau adalah adikku, Jeong Roo Na." jawab Roo Na yang membuat Roo Bi semakin menatapnya marah.


Roo Bi lantas meraih ponselnya dan menghubungi Gyeong Min, membuat Roo Na kaget.

Roo Bi mengajak Gyeong Min makan malam. Ia mengaku, ada yang kau ia tanyakan pada Gyeong Min.

Roo Bi tersenyum.

"Sampai ketemu." ucap Roo Bi mengakhiri pembicaraannya.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Roo Na.

"Kau bilang Gyeong Min milikmu? Seseorang mengatakan, pria ibarat kapal yang bisa oleng kapan pun. Jangan biarkan dirimu lengah. Gyeong Min-ssi, sudah tergelincir. Tapi jangan khawatir, aku bukan dirimu. Aku tidak akan merebutnya. Tapi aku harus memperbaiki yang sudah rusak." jawab Roo Bi.


Tak lama kemudian, Gyeong Min menelpon Roo Na.

Gyeong Min membatalkan janji makan malamnya merea dengan alasan harus menghadiri reuni kelasnya.


Roo Bi pun tersenyum penuh kemenangan.

"Ketika kau berpikir, kau sudah memiliki semuanya, kau justru kehilangan semuanya. Itulah hidup. Semakin keras kau mendekatinya, dia akan semakin jauh. Aku mengenal Gyeong Min. Dia bertanggung jawab dan setia. Dia punya banyak integritas. Tapi dia juga punya perasaan. Aku bisa melihat dari matanya. Dia tergelincir dan sangat kesakitan. Dia sangat membutuhkan cinta." ucap Roo Bi.

Roo Na pun syok dan tidak bisa mengatakan apapun lagi.


Roo Bi lalu beranjak pergi.

Roo Na pun jatuh terduduk dan berteriak kesal.

"Gyeong Min milikku! Beraninya kau!"


Di restoran, Chorim memijat bahu Dongpal.


Gilja sedang melihat poster Roo Bi dan Roo Na di koran.

"Benar, sekarang aku bisa melihat bedanya. Mereka berubah. Aku tidak bisa membayangkan mereka bertukar jiwa." batin Gilja.


Dongpal dan Chorim lalu duduk di depan Gilja.

Mereka ikut melihat poster Roo Na dan Roo Bi.

Chorim senang melihatnya, ia bahkan berencana menggunakan poster itu untuk menarik pelanggan.

Dongpal pun memuji dirinya sendiri. Ia berkata, keahliannya memasak lah yang menarik para pelanggan.

"Keahlianmu memang penting tapi iklan juga penting."


Chorim kemudian bangkit dan meletakkan poster itu di dinding.

Gilja marah dan menyuruh Chorim menurunkan poster itu.






Soyoung dan Jihyeok duduk di warung kopi.

Soyoung mengaku, bahwa itu kali pertamanya minum kopi di tempat seperti itu.

"Benarkah? Aku beberapa kali kesini dengan temanku." jawab Jihyeok.

"Tempat ini sangat mahal. Tidak tahu malu. Harga secangkir kopi bisa untuk membeli makanan lengkap. Jadi jangan terlalu boros." ucap Soyoung.

"Tapi karena ini hari yang spesial, nikmatilah." jawab Jihyeok.


Soyoung lalu berkata, bahwa Jihyeok membuatnya bersemangat hari itu.

Jihyeok tersenyum mendengarnya.

Mereka lalu menikmati kopi mereka.


Soyoung kemudian bertanya, apa ia boleh duduk disamping Jihyeok. Soyoung beralasan, akan lebih nikmat jika menikmati pemandangan bersama.

Jihyeok pun mengangguk dan mau pindah ke samping Soyoung tapi Soyoung melarang dan berkata, bahwa ia yang akan pindah.

Jihyeok dan Soyoung pun duduk bersama dan terlihat malu-malu.


Tak lama kemudian, Jihyeok mengajak Soyoung balik ke restoran tapi Soyoung mengaku masih ingin di tempat itu bersama Jihyeok.

Soyoung lalu menyenderkan kepalanya ke bahu Jihyeok, membuat Jihyeok tersenyum.


Tapi momen mereka rusak karena Chorim mendadak muncul.

Kesal, Chorim pun menyuruh mereka kembali ke restoran.


Balik ke restoran, Chorim pun memberitahu apa yang dia lihat di warung kopi tadi pada Dongpal dan Gilja.

Tapi Gilja tidak percaya dan meminta Chorim jangan mengambil kesimpulan sendiri.

Namun Chorim yakin dengan yang dilihatnya, bahwa Jihyeok dan Soyoung lebih dari sekedar bertaman.


Sampai di restoran, Dongpal pun langsung memukul dan memarahi Jihyeok.

Soyoung membela Jihyeok. Ia mengaku, dirinya lah yang mengajak Jihyeok minum kopi dan meminta Dongpal tidak memukul Jihyeok.

Soyoung lalu menyodorkan kepalanya dan menyuruh Gilja memukulnya.

Setelah itu, Soyoung pun memeriksa keadaan Jihyeok. Ia takut Jihyeok terluka habis dipukul Dongpal tadi.

Chorim makin sewot, Yaak! Go Soyoung!

Jihyeok tersenyum melihat Soyoung.


In Soo yang baru selesai bekerja, dihampiri Roo Na. Roo Na mengajaknya bicara.

Bersambung ke part 2......

No comments:

Post a Comment