Friday, May 24, 2019

Different Dreams Ep 11-12 Part 3

Sebelumnya...


Paginya, Hiroshi masuk kerja seperti biasa, ditemani Maru. Namun di tangga, saat hendak menuju ruangannya, ia dicegat Ishida.

Ishida menunjukkan kendi itu. Hiroshi menatap kendi itu, lalu menatap Ishida. Ishida juga menatap Hiroshi.


Hiroshi mengajak Ishida ke ruangannya. Ishida memberitahu Hiroshi, kalau Matsuura menyuruhnya memeriksa kendi itu.

Hiroshi pun tanya, apa isinya.

Ishida : Convallamarin. Convallatoxin. Convallarin.

Hiroshi : Kalau begitu, itu bunga bakung lembah.

Ishida : Kau masih berpura-pura tidak tahu?

Hiroshi : Racun itu merangsang otot jantung. Itu telah lama digunakan sebagai obat stimulan jantung.

Ishida : Overdosis obat tersebut dapat menyebabkan aritmia jantung atau kontraksi jantung dan menyebabkan kematian mendadak. Pengidap endokarditis tidak boleh mengonsumsi obat itu.

Hiroshi : Benar sekali.

Ishida : Kenapa obat itu ada di dalam botol? Kau  minum dari botol ini dengan mantan direktur. Kau sudah lupa?


Hiroshi : Benar. Lalu? Kami minum minuman yang sama. Tapi kenapa aku hidup?

Ishida : Karena kau dapat melakukan sesuatu seperti enema. Jika dimuntahkan dalam tiga jam, nyawamu tidak akan terancam. Kau pasti tahu soal itu.

Hiroshi : Itu hanya teorimu. Bukti aku memasukkan convallatoxin ke dalam botol, bukti bahwa aku melakukan enema sebelum mulai minum, bukti bahwa aku muntah dalam waktu tiga jam setelah minum, setidaknya siapkan itu jika kau ingin menuduhku sebagai pembunuh.


Hiroshi kemudian mengambil sebuah dokumen dari lacinya dan memberikannya ke Ishida.

Ishida : Aku belum memberi tahu Inspektur Kepala Matsuura.

Hiroshi : Beri tahu dia. Dia akan menunggu.


Sontak, Hiroshi kaget mendengarnya. Hiroshi lalu menyuruh Ishida membaca dokumen itu. Ishida membacanya, dan kaget.

Hiroshi : Saat Rumah Sakit Umum Pemerintah menyeleksi pegawainya, terutama dokter, mereka meninjau asal-usul kandidat, hubungan keluarga, orientasi politik, kemungkinan penyakit keturunan, dan kondisi mental. Mereka memeriksa banyak hal. Polisi militer bertanggung jawab atas penyelidikan tersebut. Kau punya kakak yang baik. Dia pengacara hak asasi manusia, yang membela teroris anti-Jepang. Di antara orang yang dia bela, ada anggota Korps Pahlawan yang melemparkan bom ke istana. Dalam Gempa Besar Kanto, dia memprotes bahwa kerusuhan Korea itu direkayasa dan dimasukkan daftar hitam oleh pihak berwenang. Kakakmu sangat peduli tentang melindungi rakyat Joseon. Tapi ada sesuatu yang lebih menarik.

Ishida, cukup!


Hiroshi : Dengar. Untuk seseorang yang sangat membenci rakyat Joseon, bukankah mengejutkan ternyata ibu kandungmu dari Joseon?

Ishida terkejut Hiroshi tahu semuanya.

Hiroshi lalu mengambil kembali dokumen itu.

Hiroshi : Jangan khawatir. Sudah biasa bagi asisten rumah tangga Joseon melahirkan anaknya laki-laki Jepang. Aku tidak perlu sengaja membocorkan soal ini. Jika kau ingin menyembunyikan ini, aku bermaksud menghormati keinginanmu. Itu karena kau dokter yang hebat.

Ishida tak berkutik.

Ishida : Untuk botolnya, aku akan meninggalkannya di sini.

Hiroshi : Tidak. Bawa botolnya. Aku tidak pernah melihat botol ini. Sebelum atau sesudahnya.


Majar makan bersama Se Joo. Majar pun protes melihat makanannya, padahal ia sudah bilang agar nasi dan sup nya dipisahkan.

Se Joo : Kau sungguh tidak tahu cara memakan ini. Inti dari gukbap adalah menuangkan sup di atas nasi. Supnya panas dan nasinya enak.

Majar : Andai aku bisa makan semangkuk borscht panas.

Se Joo : Borscht? Nasi jelai?

Majar kesal, lupakan.

Se Joo mulai menyendok nasinya.



Majar : Omong-omong, sudah berapa lama kau mengenal Pemimpin Kim?


Se Joo : Coba kuingat. Aku kenal dia sejak SMP. Jadi, sudah sekitar 20 tahun.

Majar : Dua puluh tahun? Lama sekali. Aku baru bertemu dengannya beberapa hari, tapi aku tidak tahu jalan pikirannya. Aku memberinya 1.500 dolar. Lalu dia berikan kepada Gwang Sim dan Pemerintahan Sementara. Kami butuh uang juga...

Majar lalu celingukan, sebelum mengatakan kalau mereka bisa membuat bom atau petasan.

Se Joo : Aku sudah berteman dengannya selama 20 tahun, tapi masih tidak memahami jalan pikirannya. Entah dia akan bertindak apa. Dia juga selalu memukul sebelum berbicara.

Majar : Dengan emosi seperti itu dia mungkin tidak akan pernah punya pacar.

Se Joo : Ada gadis kecil yang membuntutinya di kampung halaman kami, Miryang. Dia datang bersamanya dari Shanghai.

Majar : Apa dia cantik?

Se Joo : Tentu saja. Dia bermata besar dan cerdas.


Naaah, Park Ha Na akhirnya muncul gaes.... dia juga anggota Korps Pahlawan... Ngeliat scene dia sama Yoo Ji Tae, hati sy dag dig dug lagi...  Sumpah, baru kali ini sy nonton drakor dan bingung mau ngedukung couple yg mana....

Oke lanjut....

Di sebuah kereta, Cha Jung Im (Park Ha Na) terbangun. Lalu, ia menyibak gorden dan sinar matahari langsung menyeruak masuk.


Nam Ok yang duduk di gerbong lain, juga terbangun. Ia menyibak gorden dan mendapati hari sudah pagi.

Nam Ok lalu membangunkan Seung Jin yang duduk disampingnya.

Nam Ok : Kita sudah sampai. Ini bagus. Pagi di Gyeongseong.


Kembali Jung Im. Ia tersenyum melihat Won Bong yang masih terlelap di depannya.

Jung Im lantas berniat memegang tangan Won Bong, tapi tak jadi gara2 Nam Ok tiba2 masuk.


Nam Ok : Hati-hati. Jika dia mengira kau musuh, dia akan meninjumu.

Won Bong terbangun. Ia tanya dimana mereka. Nam Ok menyibak gorden dan mengatakan mereka sudah sampai.

Nam Ok kemudian melirik Jung Im dan pergi meninggalkan mereka.


Jung Im : Aku sudah lama tidak datang ke Gyeongseong. Pasti banyak yang berubah.

Won Bong : Aku akan langsung ke Andong. Kau masih ingat tugas dariku, bukan?

Jung Im : Bawa Majar. Tutup butiknya.

Won Bong : Satu lagi?

Jung Im : Aku akan berhati-hati agar tidak ketahuan.

Won Bong : Jika kami menghadapi masalah, hanya kau yang bisa mengurusnya. Kau tahu, bukan?

Jung Im : Biar aku yang mengurus rumah tangga.


Seung Jin, Nam Ok dan Jung Im berjalan keluar meninggalkan stasiun. Mereka lalu pergi dengan taksi.


Won Bong mampir ke sebuah rumah dan menemui seorang pria tua (Tuan Jo di Haechi gaes... sekaligus pamannya Han Kang di 49 Days. Abis reunian ama si malaikat maut aka Jung Il Woo di Haechi, dia reunian ama Mbak Yo Won dan Nam Gyu Ri disini).

Pria itu membaca tulisan yang ada di atas pintu.

"Meninggalkan Tanah Airku. Semua tanah negaraku. Itu sangat berharga bagiku. Dia telah menjaga sopan santunnya Selama 500 tahun. Apa itu peradaban? Bahwa itu membawa musuh yang licik. Tanpa alasan, seperti mimpi. Aku membuang negara suaraku. Aku telah melihat jaring di sekitar tanah ini. Meninggalkan Tanah Airku. Bagaimana bisa seorang pria merawat tubuhnya? Tinggal di perbukitan kampung halamannya. Dan tidak sedih. Saat waktu damai tiba, aku akan kembali lagi nanti Dan menetap.  Ayahku menulis ini."


Pria itu, Lee Sang Ryeong, Perdana Menteri pertama, menyuruh Won Bong duduk.

Tuan Lee : Aku sudah dengar soal kau dari ayahku.

Won Bong : Aku dengar dia di Jilin.

Tuan Lee : Dia menyuruhku menyingkirkan tempat ini. Dia bilang kepadaku ini bukan lagi milik pribadi.

Won Bong : Menerima ajaran ayahmu, kami diizinkan menggunakan organisasi bersenjatanya.

Tuan Lee : Kau menemukan markas di Gyeongseong?

Won Bong : Kami membeli toko di Jongno. Kami mengubahnya menjadi persembunyian dan ruang kerja.

Tuan Lee : Jongno... kau pergi ke sarang harimau untuk menangkap anaknya.


Won Bong : Aku bermaksud membuat bom yang kuat. Tapi bahkan jika kami punya uang, sulit untuk menemukan bahan peledak dengan kemurnian tinggi. Aku dengar kau kenal seseorang.

Tuan Lee : Pemimpin Kim, pertempuran ini tidak akan berhenti hanya dengan satu bom. Pertimbangkan dengan baik. Juga, untuk bergerak bebas di Gyeongseong, kau harus punya identitas baru. Ada Apotek Sohwa di Hwacheonjeong. Kau akan menemukan titik kontak rahasia di sana. Aku akan meminta mereka membuka agen farmasi di sana. Jika kau memiliki apotek, kau bisa membawa bahan kimia dari luar negeri tanpa menarik banyak perhatian.


Tuan Lee lantas mengantarkan Won Bong ke depan.

Tuan Lee : Untuk bahan yang mendesak, kau bisa meminta kepada Pak Kim dari Andong di apotek. Dia akan membantumu jika kau bilang aku mengirimmu.

Won Bong : Terima kasih atas bantuannya.

Tuan Lee : Kembalilah kapan pun kau mau. Saat kau kembali, aku akan turun dan memberimu papan nama yang ditulis Guru Yi Hwang.

Won Bong : Tolong berhati-hatilah.

Bersambung ke part 4

No comments:

Post a Comment