Friday, November 1, 2019

The Great Show Ep 4 Part 1

Sebelumnya...


Da Jung memeluk Tae Poong dan tanya, apa Tae Poong terluka. Tae Poong menangis, ia bilang ia baik2 saja tapi Dae Han sudah meninggal. Song

Yi juga menangis dan berpikir Dae Han sudah meninggal. Tak menyahut, kalau Dae Han baik-baik saja.


Tak : Kurasa dia tidak terhantam keras.

Sementara orang2 sibuk mem-videokan Dae Han.

Dan, Tak benar. Dae Han tidak mati. Dae Han baik2 saja.

Flashback....


Dae Han langsung berlari ke arah Tae Poong saat melihat sebuah bus yang melaju kencang ke Tae Poong. Dae Han memeluk erat Tae Poong dan menutup mata Tae Poong dengan tangannya saat bus itu hendak menabrak mereka tapi.... bus itu ternyata tidak menabrak mereka. Ya, sopir bus sempat mengerem, sebelum bus yang dikemudikannya menabrak Dae Han dan Tae Poong.

Dae Han lega setengah mati bus itu tidak menabrak mereka tapi kemudian ia berfikir, kejadian itu bisa ia manfaatkan untuk menaikkan namanya.

Jadilah Dae Han membenturkan dirinya sendiri ke bus dan pura-pura tak sadarkan diri.

Flashback end...


Dae Han pun dibawa ke RS. Dokter memeriksa Dae Han sementara Tae Poong dan Song Yi berdoa untuk keselamatan Dae Han. Usai memeriksa Dae Han, dokter pun berkata, Dae Han baik2 saja dan hanya menderita luka di kepalanya.


Tak melihat kaki Dae Han bergerak. Dokter pun pergi.

Tak : Kurasa dia sudah sadar.

Da Jung : Bagaimana kau bisa membuat lelucon sekarang?

Tak : Aku tidak bercanda. Lihat. Dokter juga bilang dia baik-baik saja.


Dae Han yang masih pura2 tak sadarkan diri, berdoa dalam hatinya.

Dae Han : Aku berdoa kepada setiap dewa di sana. Tutup mulut berandal itu.


Tak pun bertanya, haruskah ia menggelitik Dae Han. Da Jung marah. Tak berjanji, akan berhenti main game jika Dae Han tidak bangun setelah ia menggelitikinya.

Da Jung : Kau serius?  Jika dia tidak bangun, kau harus berhenti bermain game.

Tak : Bagaimana jika dia bergerak?

Da Jung : Maka kau bisa menjadi ketua kami.

Tak : Maka dia juga di bawahku. Sudah jelas. Dia tidak bisa menjadi kepala rumah jika berbohong soal ini.

Da Jung setuju.


Dae Han memohon dalam hatinya, supaya Tak tidak melakukannya.

Tak pun mulai menggelitik kaki Dae Han.

Dae Han berusaha sekuat tenaga menahan rasa geli.


Karena Dae Han tak mau bangun, Tak pun menggelitik ketiak Dae Han.

Setelah beberapa saat digelitik, Dae Han tak tahan juga. Ia pun bangun dan pura2 baru siuman.

Dae Han : Dimana aku?

Sontak, Da Jung senang melihat Dae Han sadar.


Dae Han : Bagaimana keadaan Tae Poong?

Tae Poong : Aku baik-baik saja.

Dae Han pun tersenyum dan mengelus kepala Tae Poong.

Tak hanya tersenyum geli melihat kelakuan Dae Han.


Soo Hyun menemui Anggota Dewan Hwang di ruang make up. Ia minta maaf karena mengubah barangnya di hari H. Anggota Dewan Hwang pun berkata, tidak masalah. Itu pesona siaran langsung. Ia lalu menjelekkan Dae Han. Ia menuduh Dae Han sengaja memanfaatkan anak2 itu untuk terjun ke politik.

Soo Hyun : Apa maksudmu?

Anggota Dewan Hwang : Aku membaca di artikel bahwa awalnya dia mengusir mereka. Sudah jelas. Setelah mengusir mereka, dia sadar anak- anak bisa membantunya dan bukan sekadar beban.

Soo Hyun pun membela Dae Han.

Soo Hyun : Kau tidak tahu itu. Dia mungkin merasa bertanggung jawab sebagai ayah dan merasa bersalah. Mungkin itu sebabnya dia menampung mereka. Dan itulah sikap seorang politisi.

Anggota Dewan Hwang : Kau sangat naif.

Anggota Dewan Hwang lalu menanyakan pendapat Joon Ho.

Joon Ho yang sedari tadi diam mendengarkan kata2 Anggota Dewan Hwang pun tersenyum dan berkata, bahwa ia berharap kata2 Soo Hyun benar.


Perhatian mereka kemudian teralih pada berita Dae Han di TV.


Orang2 juga menyaksikan berita itu.


Hye Jin melaporkan berita Dae Han yang tertabrak bus karena berusaha menyelamatkan Tae Poong. Hye Jin bilang, setelah video Dae Han menyelamatkan Tae Poong diunggah ke internet, publik mulai tertarik pada Dae Han.


Dan benar saja. Orang2 mulai memuji Dae Han.


Anggota Dewan Hwang pun yakin, Dae Han bisa kembali ke politik karena kejadian itu.


-Episode 4, Kita Butuh Superman-


Orang2 di RS sedang menonton berita wawancara Dae Han di televisi soal kecelakaan itu.

Dae Han : Semua terjadi begitu cepat. Yang kupikirkan saat itu adalah aku harus menyelamatkannya. Aku yakin ayah mana pun akan melakukan hal yang sama.


Tak lama, Dae Han dan keempat anaknya pun muncul.

Mereka pun langsung menghentikan langkah Dae Han. Seorang nenek memuji apa yang diakukan Dae Han.

"Anda pria bermartabat." ucap nenek itu.

"Pria bermartabat? Anda membuatku malu." jawab Dae Han. *Padahal dalam hati mah seneng....

"Anda baik-baik saja?" tanya nenek itu.

"Ya...." dan mulai lah Dae Han menceritakan dirinya yang ditabrak bus. Ia bilang, bus yang menabraknya sangat besar.

Dae Han : Jadi, orang mengira aku sudah mati. Aku sempat kehilangan kesadaran karena gegar otak. Tapi untungnya, hasil pindai CT-nya sudah jelas.

*Diih, lebay... tapi ngakak berat sih pas scene ini....

"Orang-orang seperti anda harus masuk Dewan, tapi itu penuh dengan penipu." ucap nenek.


"Jika aku ikut pemilu berikutnya, anda harus memilihku." jawab Dae Han.

"Tentu saja. Aku akan terus memilih anda." ucap si nenek.

Tak pun menatap Dae Han dengan tatapan sebal. Wkwkwkwk....


Orang2 lalu mengajak Dae Han berfoto bersama.

Tae Poong dan Song Yi saling melirik melihat Paman Dae Han mereka berfoto dengan orang2.


Bong Joo kemudian datang dan melihat bagaimana Dae Han sibuk diajak foto.

Dae Han melirik Bong Joo. Bong Joo tanya apa Dae Han baik2 saja. Dae Han mengangguk dan kembali berfoto.


Scene berikutnya lebih ngakak lagi gaes.... Bong Joo dikerjain anak kecil...

Jadi ceritanya Bong Joo mengajak Dae Han dan anak2 makan. Bong Joo bilang, dia yang akan bayar. Mendengar itu, Dae Han pun memesan tambahan 4 porsi iga lagi. Sontak, Bong Joo langsung menatap kesal Dae Han.

Bong Joo : Anggota Dewan Wi, aku hanya makan daging iga di hari ulang tahunku.


Dae Han langsung berdalih, ia bilang Tae Poong suka makan daging sapi.

Tae Poong langsung berseru kalau daging sapi yang terbaik.

Bong Joo pun langsung bungkam! Omo...


Setelah dikerjai Dae Han, giliran Da Jung mengerjai Bong Joo. Da Jung memesan 3 mangkuk mi dingin.

Bong Joo langsung menatap Da Jung.

Da Jung : Berpura-puralah ini hari ulang tahun anda.


Tae Poong tiba2 tanya, apa Bong Joo anak buah Dae Han.

Bong Joo : Tidak, aku bukan anak buahnya. Aku ajudan dia. Saat ini, aku ajudan Wali Kota Inju.

Tae Poong : Apa itu ajudan?

Bong Joo : Orang yang membantu orang seperti anggota dewan baik bekerja.

Tae Poong : Itu anak buah.


Dae Han ketawa mendengarnya.


Bong Joo kemudian melirik Song Yi.

Bong Joo : Dia Song Yi, kan? Kau manis sekali. Kau tidak punya pertanyaan untukku?

Song Yi : Tebak apa perang terkecil yang pernah terjadi?

Bong Joo : Perang terkecil... Kurasa perang antar saudara?

Song Yi : Salah. Upah minimum.

Bong Joo : Astaga. Kurasa itu teka-teki. Kau tahu apa upah minimum?

Song Yi : Tidak. Tapi aku tahu itu termasuk perang.

Bong Joo : Itu memiliki dua arti berbeda. Upah dalam upah minimum, bukan untuk berperang. Itu artinya bayaran yang diterima sebagai buruh. Jadi, artinya uang. Upah minimum bukan berperang kecil, tapi standar minimum untuk upah yang ditentukan oleh pemerintah. Kau mengerti, bukan?

Song Yi menggeleng.


Tak pun mengatai aneh. Bong Joo lagi2 hanya bisa terdiam, menatap Dae Han yang menertawainya.


Da Jung : Anda tidak punya teman, bukan?

Bong Joo : Apa maksudmu? Aku punya banyak teman. Aku termasuk populer.

Da Jung pun memasukkan makanan ke mulut Bong Joo.

Da Jung : Aku mengerti. Bertahanlah. Datanglah jika anda merasa kesepian. Anda selalu diterima.

Bong Joo lalu melirik Dae Han. Ia menyuruh Dae Han keluar.


Dae Han dan Bong Joo bicara diluar. Bong Joo bilang, keempat anak itu tidak main-main.

Dae Han : Jangan memancingku. Aku sekarat. Aku hampir mati hari ini.

Bong Joo : Tetap saja, sentimen publik berubah karena kejadian hari ini. Orang-orang memanggilmu Ayah Nasional di internet.

Dae Han : Ayah Nasional? Astaga.

Dae Han tersenyum senang.

Dae Han :Aku dapat permintaan pertama dalam 3 tahun untuk tampil di acara radio.

Dae Han lalu tanya apa Bong Joo sudah menemui paman Da Jung.

Bong Joo : Sudah, tapi dia bilang dia harus bekerja di luar kota dan hanya menandatangani formulir pemindahan anak-anak.

Dae Han : Apa yang dia katakan kepada reporter itu?


Dan flashback, saat Bong Joo menemui paman Da Jung.

Paman Da Jung berkata, ia hanya mengatakan apa yang didengarnya.

"Awalnya Anggota Dewan Wi mencari panti asuhan." ucap pria itu.

Flashback end...


Dae Han : Bagaimana bisa dia memutarbalikkan separah itu?

Bong Joo : Ada alasan kenapa wartawan dapat reputasi buruk. Syukurlah apa yang terjadi dengan Tae Poong. Jika tidak, semua akan berakhir tepat setelah kau memulai.

Dae Han : Reporter itu salah satu anak buah Kang Kyung Hoon. Aku yakin itu perbuatannya.

Bong Joo : Dia ingin menyingkirkanmu sebelum kau menjadi besar. Kau punya banyak pendukung. Wali Kota juga tampak tertarik.

Dae Han : Han Soo?

Bong Joo : Dia menyuruhku mendukungmu agar kau bisa bangkit.

Dae Han : Apa rencananya? Dia tidak menelepon setelah aku kalah pemilu.


Kyung Hoon sedang bermain golf, ditemani asistennya. Asistennya bilang, Reporter Nam sudah bertemu dengan paman anak2 itu.

.... dan dia bilang tidak ada yang mencurigakan." ucap asisten Kyung Hoon..

"Mungkin bagus jika Dae Han bangkit." jawab Kyung Hoon.

"Itu bagus?" tanya asistennya bingung.

"Kita bisa memanfaatkannya untuk memotivasi Joon Ho terjun ke dunia politik." jawab Kyung Hoon.


Lalu asisten Kyung Hoon melihat kedatangan Jung Han Soo.

"Itu Walikota Jung." ucapnya.


Kyung Hoon pun bergegas menyambut Pak Jung.

Kyung Hoon : Pak Wali Kota. Aneh melihatmu di sini.

Pak Jung : Aku tahu. Ayunanmu luar biasa. Postur tubuhmu bagus.

Kyung Hoon : Aku terlalu lemah, jadi, tidak terlalu jauh.

Pak Jung : Golf dan politik sama, yang penting pengalaman, bukan kekuatan. Itu sebabnya Dewan Nasional membutuhkan orang sepertimu dengan pengalaman bertahun-tahun. Kudengar kau tidak akan ikut pemilu berikutnya.

Kyung Hoon : Aku terlalu lama di sana. Aku sudah terlalu betah. Aku harus menyingkir demi seseorang yang masih muda.


Pak Jung : Seseorang yang masih muda. Maksudmu seseorang seperti putramu?

Kyung Hoon : Dia tidak tertarik memasuki politik. Aku tidak akan memaksanya.

Pak Jung : Sayang sekali. Aku merasa dia akan menjadi politisi hebat. Kau terlalu baik.

Kyung Hoon : Politik adalah soal melayani rakyat. Kau harus memiliki rasa kewajiban.

Kyung Hoon lantas mengajak Pak Jung minum kopi.


Dae Han, Bong Joo dan anak2 sudah selesai makan. Dae Han tanya ke anak2, apa mereka sudah cukup makan. Anak2 mengangguk. Bong Joo berkata, kalau Dae Han harus sering menjadi sopir pengganti. Dae Han lantas mengajak anak2 pulang. Tapi tiba2, Dae Han tak sengaja melihat ke arah TV yang memutar siaran 'Debate' Soo Hyun. Siaran 'Debate' Soo Hyun membahas Dae Han. Petikan wawancara Dae Han pun diputar.

Dae Han : Yang kupikirkan saat itu adalah aku harus menyelamatkannya. Aku yakin ayah mana pun akan melakukan hal yang sama. Nak, ayah baik-baik saja. Tumbuhlah menjadi sehat.

Dae Han malu2.

Dae Han : Soo Hyun seharusnya memberitahuku.

Lalu Dae Han mengajak anak-anak menonton program itu dulu.


"Anggota Dewan Wi Dae Han terpilih sebagai Orang Pekan Ini. Ada yang bilang Anggota Dewan Wi menampung anak-anak untuk memperbaiki citranya dan bersentimen negatif terhadapnya." ucap si pembawa acara.

Mendengar itu, Dae Han langsung mengajak anak2 pulang dengan dalih besok anak2 sekolah tapi kata2 si pembawa acara membuat Dae Han merasa terpojok.


".... dengan menjadi sopir pengganti dan ini. Itu bukan tindakan yang tampak seperti pura-pura."

Da Jung mengajak Dae Han menonton dulu.

Si pembawa acara menanyakan pendapat Joon Ho. Joon Ho menjawab.

Joon Ho : Bahkan jika aksi duka dan menjadi sopir pengganti memang hanya pertunjukan, menurutku itu bukan hal yang buruk. Namun, berpura- pura menjadi ayah untuk agenda politik sangat berbeda. Karena itu bisa menyakiti anak-anak. Menurutku, Anggota Dewan Wi tidak akan melakukan hal semacam itu. Kuharap dia akan menjadi ayah yang baik yang pantas dijuluki Ayah Nasional.

Da Jung pun sedih mendengarnya.


Sepanjang perjalanan, Da Jung diam saja. Dae Han melirik Da Jung, tidak tahu harus mengatakan apa.


Siaran selesai. Soo Hyun dan tim nya saling memuji satu sama lain.

Lalu PD Koo datang dengan wajah sumringahnya.

PD Koo : Sudah kuduga. Firasatku tidak pernah salah. Aku merasa Wi Dae Han akan menjadi topik yang hebat. Komentarnya bermunculan di internet. Kita bisa mencetak rekor rating.

Anggota Dewan Hwang menjawab, yang benar saja...

Karena acara mereka berjalan dengan baik, Anggota Dewan Hwang mengajak mereka minum bir. PD Koo setuju.


Anggota Dewan Hwang melirik Soo Hyun. "Bu Jung?"

Soo Hyun : Maaf. Andai aku bisa, tapi leverku menolak. Aku sangat lelah belakangan ini.

Joon Ho menatap Soo Hyun. Ia kecewa Soo Hyun tak ikut.

"Pak Kang? Kau senggang, kan?" tanya Anggota Dewan Hwang.

"Aku sudah ada janji malam ini." ujar Joon Ho.

Anggota Dewan Hwang pun sewot.

"Ada apa dengan semua orang!"

"Kami akan bergabung dengan kalian lain kali." ucap Soo Hyun.

Anggota Dewan Hwang lalu mengajak PD Koo pergi.


Dalam perjalanan ke halte, Soo Hyun telponan dengan Dae Han. Soo Hyun nanyain Tae Poong. Dae Han bilang, Tae Poong hanya terkejut saja.

Sementara Tae Poong dan Song Yi asyik loncat2 di sofa.

"Lalu kau?" tanya Soo Hyun.

Dae Han : Kepalaku terbentur keras, tapi aku baik-baik saja. Aku sadar darah pahlawan super mengalir di pembuluh darahku.

Soo Hyun : Kau sangat sombong. Itu mengingatkanku pada kuliah.

Dae Han : Apa maksudmu?

Soo Hyun : Kau cukup keren saat itu.

Mereka lantas mengingat masa2 kuliah mereka dulu.


Flashback.... Soo Hyun yang melintas di taman, langsung menghentikan langkahnya saat lakban berwarna biru menggelinding ke kakinya. Dae Han yang sedang menempel tulisannya di papan pengumuman, minta Soo Hyun mengambilkan lakbannya.

Soo Hyun : Kau menulis ini sendiri?

Dae Han : Ya. Memang kenapa?

Soo Hyun : Seperti tulisan tangan terburuk yang pernah kulihat.

Dae Han : Siapa yang peduli dengan tulisan tangan? Yang penting pesannya.

Soo Hyun : Tapi harus ditulis dengan rapi agar orang mudah membacanya.

Dae Han : Itu benar, tapi tidak ada cukup orang di BEM.

Soo Hyun : Tulisan tanganku sangat indah.

Soo Hyun menawarkan diri. Dae Han terkejut.

Flashback end...


Dae Han : Bagaimana dengan sekarang?

Soo Hyun : Sekarang...

Belum sempat menjawab, Soo Hyun dikejutkan dengan suara Joon Ho yang memanggilnya. Soo Hyun pun berbalik dan langsung menyudahi pembicaraannya dengan Dae Han.


Song Yi dan Tae Poong manjat ke meja akuarium. Dae Han yang penasaran kenapa Soo Hyun mutusin percakapan mereka tiba2, gak sadar anak2 itu manjat. Tae Poong lantas berjalan di sisi meja, belakang Dae Han. Lalu tiba2 dia menjatuhkan dirinya dan menimpa kepala Dae Han. Wkwkwkwk....

Bersambung ke part 2...

No comments:

Post a Comment