Monday, November 4, 2019

The Great Show Ep 5 Part 2

Sebelumnya....


Dae Han sampai di depan rumahnya bersama Soo Hyun. Mereka pulang bersama. Soo Hyun memuji kerja Dae Han hari itu, lalu menyuruh Dae Han istirahat.

Dae Han : Soo Hyun-ah, begini... tentang masa kuliah, kenapa kau tiba-tiba berhenti menghubungiku?

Soo Hyun : Entahlah. Itu sudah lama sekali sampai aku tidak ingat.

Dae Han : Sejujurnya, aku agak kesal. Aku mengerti kau mengambil cuti, tapi kau tidak perlu berhenti bicara denganku seperti itu.

Soo Hyun : Aku tidak tahu kau menyimpan dendam. Kau masih memikirkan itu?

Dae Han : Aku tidak menyimpan dendam... Aku hanya penasaran.

Soo Hyun : Lupakan saja. Kau harus masuk. Da Jung tidak terlihat sehat. Jaga dia.


Soo Hyun lantas beranjak pergi. Dae Han menatap kepergian Soo Hyun sambil memikirkan kata-kata Soo Hyun, bahwa Soo Hyun tidak mungkin mengencani pria dengan empat anak sepertinya.

Dae Han menghela nafas. *Buat yg penasaran kenapa Soo Hyun seperti itu ke Dae Han ada hubungannya sama Soo Hyun yg takut naik lift.. Ingat kan gaes, di episode lalu, pas Soo Hyun diajak naik lift ama teman2nya, Soo Hyun menolak dan memilih naik tangga.... Soo Hyun ini punya luka masa lalu.. Seperti apa lukanya? Akan segera terjawab ya gaes.... jadi pastikan tetapstay di blog ini... ^Sy gk mau spoiler, biar seru^ Buat Tim JoonSoo (Joon Ho-Soo Hyun), termasuk sy, kapal kita sudah karam gaes.... Entah kapan laa Mamas Ju Hwan ini jd lead male... perih hati ini liat dia patah hati lagi... di drama barunya ntar (yg bareng Taecyeon), dia bakal patah hati lagi gaes.....

Lanjut....


Da Jung duduk di taman. Ia sedang bicara dengan Jung Woo via telepon. Da Jung tanya, apa Jung Woo menonton acaranya tadi. Jung Woo berkata iya. Ia bilang, itu penampilan pertama

Da Jung, jadi ia menontonnya dan merasa jatuh cinta lagi pada Da Jung.

Jung Woo : Kau tampak hebat di TV. Kukira kau bintang K-pop.

Da Jung : Bagaimana menurutmu?

Jung Woo : Sudah kubilang, kau sangat cantik.

Da Jung : Tidak, bukan itu. Tentang aborsi.

Jung Woo : Itu....

Da Jung : Jika aku hamil, apa yang akan kau lakukan?

Jung Woo : Tentu saja, kita harus menyingkirkannya! Itu yang kupikirkan sampai sekarang, tapi aku yakin dengan ayahmu. Janin juga manusia. Kurasa aborsi tidak boleh dipertimbangkan semudah itu.

Da Jung : Lalu bagaimana? Kita akan membiarkannya bayinya lahir? Kau yang akan melahirkan? Bagaimana kau akan membesarkannya?


Da Jung marah. Jung Woo pun heran mendengar Da Jung yang tiba2 marah.

Da Jung : Karena itulah kau masalahnya. Kau sangat tidak tegas, jadi, kau terus mengeluh kau tidak cocok jadi bintang pop!

Jung Woo : Da Jung, kau keterlaluan.

Tapi Da Jung sudah memutuskan panggilannya.


Da Jung kemudian mengacak-ngacak rambutnya dan berteriak kesal. Ia bingung karena saat ini tengah mengandung anak Jung Woo.


Paginya, orang-orang sedang menonton siaran debat Dae Han tadi malam.

Dae Han : Tapi UU antiaborsi saat ini memiliki pengecualian yang amat sempit untuk hukum legal. Dan ini sangat penting untuk dicatat. Ada satu hal yang selalu kita lupakan dalam debat aborsi. Itu adalah tanggung jawab pria. Hukum saat ini hanya membuat wanita bertanggung jawab. Menurutku, pertanggungjawaban seharusnya lebih ditujukan kepada pria daripada wanita.


Di rumahnya, sambil sarapan, Soo Hyun memeriksa pemirsa yang mendukung format terbaru Debate.

Ji Hyun muncul dan tanya apa Soo Hyun bertengkar dengan Dae Han.

Soo Hyun : Kenapa aku harus bertengkar dengannya?

Ji Hyun : Karena kau malah sarapan di sini.

Soo Hyun : Aku harus menjaga jarak. Agar orang tidak salah paham.


Ji Hyun : Konon katanya penolakan yang kuat adalah penerimaan yang kuat.

Soo Hyun : Jung Ji Hyun, kenapa kau terus berusaha menjodohkan kami?

Ji Hyun : Karena menuruku, itu salahku.

Soo Hyun : Apa?

Ji Hyun : Alasanmu menjauhi Dae Han.

Soo Hyun terdiam mendengarnya tapi kemudian ia berkata, bahwa itu bukan salah Ji Hyun dan meminta Ji Hyun melupakannya.

*Memang karena Ji Hyun gaes... kenapa bisa karena Ji Hyun?? Akan terjawab nanti...


Dae Han yang lagi sarapan bersama 'anak-anaknya' memeriksa respon orang-orang soal penampilanya tadi malam di Debate.

Dae Han senang membacanya.

Dae Han : Pertunjukan Debat yang bagus untuk Wi Dae Han dan oleh Wi Dae Han. Kalimat yang bagus. Kalian dengar? Seperti itulah aku. Kalian dengar? Seperti itulah aku.

Lalu Dae Han mengarahkan ponselnya ke Tae Poong dan menyuruh Tae Poong melihatnya.

Tae Poong kemudian berdiri di samping Dae Han dan mengatakan dirinya zombi.

Dae Han : Makan saja makananmu. Dan bersihkan nasi dari wajahmu.


Tae Poong : Zombi tidak menggunakan sendok.

Tae Poong pun kembali duduk dan makan nasinya pakai tangan.


Dae Han : Jika terus bersikap begini, kau akan makan sereal lagi.

Tae Poong turun lagi dan menyemburkan nasi di mulutnya ke Dae Han. LOL LOL

Tak tertawa melihatnya.


Dae Han membalas.

Dae Han : Aku juga zombi!

Dae Han mencium leher Tae Poong.

Tak menatap Dae Han.

Tak : Singkirkan nasi itu dari wajahmu.

Dae Han pun menatap Tak dengan tatapan sewot dan langsung membersihkan nasi di wajahnya.


Da Jung tidak berselera. Ia mual lagi. Song Yi yang melihat itu, tanya apa Da Jung sakit.

Da Jung : Kakak hanya tidak lapar.

Dae Han menatap Da Jung.

Dae Han : Kenapa? Kau makan ramyeon semalam?

Tapi Da Jung malah marah dan langsung pergi dari ruang makan.


Dae Han terheran-heran dan langsung tanya ke Song Yi Da Jung kenapa.

Song Yi : Aku belum pernah melihatnya seperti itu.


Ponsel Dae Han berdering. Telepon dari Walikota Jung.

Walikota Jung : Aku menonton acara itu. Kau masih pandai bicara.

Dae Han : Bukan hanya itu, aku tampak hebat di TV.

Walikota : Terserah. Biarkan aku menemuimu. Datanglah ke balai kota.


 Di lapangan kantor walikota, sekelompok orang sedang berdemo, dipimpin oleh seorang wanita.

"Apa hanya anak muda yang tidak punya rumah? Kami juga menyewa rumah!" teriak wanita itu.

"Kami juga menyewa rumah!"
"Kami juga menyewa rumah!"

Teriak orang2 itu.

"Batalkan keputusan yang dibuat di Apartemen Upah Rendah Purun tanpa persetujuan kami secepatnya!" teriak wanita itu.

"Batalkan!"
"Batalkan!"

Teriak para pendemo.

"Cara mengembangkan Jungang-gu hanya bangun sekolah internasional!" teriak wanita itu.


Dae Han datang. Ia berjalan bersama Bong Joo dan melihat para demo itu.

Dae Han : Astaga, mereka pasti bangun pagi-pagi sekali. Tanah penjara lama adalah lahan yang bagus. Aksesnya juga bagus.

Bong Joo : Mereka pikir harga rumah mereka akan bergantung pada apa yang dibangun di sana, jadi, karena itu mereka menganggapnya serius.

Dae Han : Bagaimana mereka akan membangun apartemen jika para penghuni menolak seperti ini? Aku yakin mereka merasa tertekan.


Bong Joo : Mungkin itu sebabnya Wali Kota Jung ingin bertemu denganmu.

Dae Han : Aku? Untuk apa?

Bong Joo : Kau populer belakangan ini, jadi, dia ingin kau mengubah opini publik.

Dae Han : Begitukah? Astaga. Jadi, dia mendengar aku populer? Pasti sulit bagi mereka.

Para pendemo itu beristirahat sejenak. Dae Han kemudian melihat Pak Jung ada diantara para pendemo. Dae Han terkejut.

Bong Joo : Kau kenapa?

Dae Han : Itu ayah Soo Hyun. Tunggu disini.


Dae Han pun bergegas menghampiri Pak Jung.

Dae Han : Ayah, hallo. Kau ingat aku? Wi Dae Han. Teman kuliah Soo Hyun. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan anda di sini.

Pak Jung : Aku ingat, tapi kenapa kau begitu ramah denganku?

Dae Han : Aku teman dekat Soo Hyun. Kami juga bekerja sama sekarang. Apa yang anda protes?

Pak Jung pun melihatkan papan demo nya.

Pak Jung : Kami memprotes apartemen upah rendah.

Dae Han : Begitu rupanya. Itu bagus. Aku hendak menemui wali kota.

Pak Jung : Kau kenal Wali Kota?

Dae Han : Tentu saja. Dahulu aku ajudan Wali Kota Jung. Kami sudah seperti teman.


Pak Jung mulai tertarik.

Pak Jung : Seharusnya kau bilang!

Dae Han : Lantas, kau harus ke wali kota dan bicara dengannya!

Pak Jung : Aku ketua serikat pedagang Pasar Inju, dan kita tidak bisa membiarkan Apartemen Upah Rendah Purun jadi. Itu akan merusak lingkungan. Bukan hanya kaum muda yang tidak punya rumah. Aku juga tinggal di tempat sewaan. Kau harus bilang itu kepadanya.

Dae Han : Tentu.


Pak Jung pun memberitahu teman2nya kalau Dae Han berteman baik dengan Walikota.

Teman2 Pak Jung pun langsung memberikan tepuk tangan dan mengelu-elukan nama Dae Han.

Wanita yang memimpin demo tadi, melihat Dae Han.


Dae Han dan Bong Joo lantas menuju kantor walikota.

Dae Han : Kurasa mereka tidak akan berubah pikiran.

Bong Joo : Tentu saja. Masyarakat ingin memasukkan sekolah internasional, bukan apartemen upah rendah.

Dae Han : Kang Kyung Hoon yang mengepalai itu. SMA internasional adalah janji kampanyenya, bukan?

Bong Joo : Benar.

Dae Han : Aku bingung. Aku mengerti Kang Kyung Hoon karena kelompok pendukung utamanya adalah orang yang lebih tua. Tapi kenapa Han Soo begitu obsesif dengan apartemen upah rendah?


Dae Han bicara empat mata dengan Walikota Jung.

Walikota Jung : Partai ini berfokus meraih hati para pemilih muda. Jika kami tidak mendapatkannya, pemilu akan sulit.

Dae Han : Benar. Keadaan berbeda bagi orang berusia 20-an dan 30-an.

Walikota Jung : Orang-orang muda mendapat rumah dan partai kami mendapatkan suara mereka. Ini sama-sama menguntungkan. Jika melakukan ini, kau akan dapat bantuan dari partai, jadi, itu juga menguntungkan bagimu. Itu bonus tambahan.

Dae Han : Tapi ayolah. Aku mengerti situasimu dan partai, tapi aku juga harus hidup.

Walikota Jung : Aku tidak menyuruhmu mati.

Dae Han : Kau tahu ada lebih banyak pemilih di usia 40-an dan 50-an daripada 20-an dan 30-an di Jungang-gu.

Walikota Jung : Menurutmu kenapa Kang Kyung Hoon mengatakan kita harus memasukkan SMA internasional saja? Dia sudah tahu pihak mana yang memiliki lebih banyak suara.

Dae Han : Kau dan dia berada di situasi berbeda.

Walikota Jung : Apa maksudmu? Apa bedanya? Kau tahu partai kami dipenuhi anggota dewan yang membencimu?

Dae Han : Kenapa kau harus bilang begitu?

Walikota Jung : Jika aku juga menghindarimu, kau benar-benar akan menjadi itik buruk rupa. Kau harus mencalonkan diri sebagai wakil independen.

Dae Han : Hentikan. Kau membuatku takut.

Walikota Jung : Kau memang harus takut. Aku yang memasukkanmu ke Debate.  Itu artinya aku juga bisa menarikmu.

Dae Han : Kau menempatkanku di sana untuk membuatku melakukan ini?

Walikota Jung : Aku ingin menang, itu saja. Apartemen Upah Rendah Purun akan memiliki 2.000 unit. Menurutmu siapa yang dapat 2.000 sampai 3.000 suara jika itu jadi?  Jika itu jadi, semua suara itu akan menjadi milikmu.


Sekarang, kita ke sekolahnya Da Jung. Bel tanda masuk berbunyi. Begitu mendengar bunyi bel, anak2 yang tadinya riweuh sendiri, langsung duduk manis.

Guru mereka masuk dan heran melihat Da Jung belum datang.

"Apa Da Jung masih belum datang?"

"Sudah jelas dia membolos. Membolos? Dia sudah gila. Dia tampil di TV, jadi, pikirnya dia terlalu hebat untuk sekolah." sinis Min Ji.


Da Jung sendiri menyendiri di depan Sungai Han dengan wajah murung.

Da Jung kemudian teringat kata2 ibunya tentang ayahnya dan kenapa ibunya memutuskan melahirkannya.

Flashback....


Malam itu, Da Jung dan ibunya berjalan kaki menuju rumah. Mereka habis belanja. Da Jung tanya, apa ayahnya benar-benar anggota dewan.

Sun Mi berkata, kenapa ia harus berbohong pada Da Jung tentang itu.

Da Jung tanya lagi, kalau ayahnya seorang anggota dewan, kenapa dia payah sekali di sekolah.

Sun Mi : Kau mendapatkan rapormu, bukan?

Da Jung : Ya. Aku yang ketiga kali ini. Dari bawah.

Sun Mi : Kau yang lebih dahulu membahas ayahmu karena takut ibu memarahimu.

Da Jung : Ibu mengetahuinya. Ibu cepat tanggap.

Sun Mi : Kau lebih baik daripada anggota dewan saat bersiasat.


Da Jung : Apa yang membuat ibu berani melahirkanku?

Sun Mi : Berani?

Da Jung : Pikirkanlah. Ayahku tidak ada. Aku tidak akan melahirkan jika menjadi ibu. Aku tidak bisa membesarkannya sendiri.

Sun Mi : Karena aku seorang ibu. Keputusan terbaik yang pernah ibu buat seumur hidup ibu adalah melahirkanmu, Da Jung.

Da Jung senang mendengarnya dan berterima kasih karena ibunya sudah membuat keputusan itu.

Flashback end....


Lamunan Da Jung buyar saat ponselnya berdering. SMS dari Jung Woo.

Jung Woo : Da Jung, apa terjadi sesuatu dengan ayahmu? Jika ayahmu membuatmu marah lagi, katakan saja kepadaku. Aku akan segera ke sana.

Da Jung menghela nafas.

*Nah loh, jd itu alasan Da Jung berpikir Dae Han ayahnya. Pertama, dia tahu ibunya dulu punya hubungan dengan Dae Han. Kedua, dia (cuma) tahu ayahnya seorang anggota dewan. Tapi setelah dites DNA oleh Dae Han, ternyata Da Jung bukan putrinya. Ini berarti, bisa jadi ayah kandung Da Jung adalah Joon Ho. Sy udah nonton sampai ep 13.. ^Mian, sinopsisnya telat^ tapi sampai ep 13, belum ada tanda2 siapa ayah kandung Da Jung...


Pak Jung mengantar Dae Han keluar dari restorannya, sambil menanyakan percakapan Dae Han dan Walikota Jung.

Dae Han : Ya, tapi kurasa itu tidak akan semudah dugaanku.

Pak Jung : Apa?

Dae Han : Dari yang kudengar, mereka sudah mendapatkan persetujuan pemerintah, jadi, dia tidak bisa mencegah mereka membangunnya.

Pak Jung : Kami tahu. Karena itu kami ingin mencari cara. Astaga. Kau jauh lebih memusingkan daripada penampilanmu.

Dae Han : Omong-omong, apa ada alasan khusus kenapa anda menentang apartemen upah rendah?

Pak Jung : Sejujurnya, aku tidak peduli entah ada sekolah internasional atau apartemen upah rendah.

Dae Han : Lalu kenapa anda protes? Anda pasti sibuk dengan restoran.


Pak Jung : Kau lihat wanita yang bicara berteriak-teriak di podium saat demo, bukan?

Dae Han mengangguk.

Pak Jung : Dia yang mendorong sekolah internasional. Dia sangat agresif. Satu kata darinya dan semua wanita di kota ini menjadi bersemangat.

Dae Han : Maksudnya, jika dia membenci anda, bisnis anda akan merugi.

Pak Jung : Itu sudah pasti. Jika dia mengunggah sesuatu di salah satu blog ibu, penjualan akan anjlok hari itu. Bisnisku akan mati. Bagaimana bisa aku tidak menghadiri protes itu?


Lagi asyik bicara dengan Pak Jung, Dae Han melihat ayahnya Joon Ho lagi blusukan

Ayah Joon Ho kemudian melihat Dae Han, lalu bergegas mendekati Dae Han.

Kyung Hoon : Anggota Dewan Wi. Berapa lama kita tidak bertemu? Popularitasmu meningkat belakangan ini. Kau bahkan mendapat julukan Ayah
 Nasional.

Dae Han : Aku pasti sangat populer jika anda tahu soal itu.

Kyung Hoon : Kau sangat licik. Ayah Nasional harus berhati baik dan menjadi panutan yang baik. Aku harus berhati baik kepada orang yang pantas menerimanya, untuk menjadi panutan yang baik.

Lalu Kyung Hoon bilang, Dae Han sangat sopan dan tekun saat di SMA, tapi Yeouido menghancurkan Dae Han.


Dae Han pun mengingat saat ia berlutut, memohon kepada Kyung Hoon untuk tidak menutup restoran ibunya.

Kyung Hoon : Aku rindu sup sosis pedas ibumu.

Setelah mengatakan itu, Kyung Hoon pun pergi. Dae Han kesal.


Dae Han langsung menghubungi Walikota Jung usai berbicara dengan Kyung Hoon. Ia setuju membujuk orang-orang agar menyetujui pembangunan apartemen itu. Walikota Jung pun tanya, apa yang membuat Dae Han berubah pikiran.

Dae Han : Menurutku ini salah. Anak muda tidak boleh kehilangan harapan memiliki rumah, bukan?

Walikota Jung : Tidak, jangan sampai.

Dae Han : Sunbae, bukan hanya partai yang meninggalkanku. Ayahku sendiri meninggalkanku.

Walikota Jung : Aku tahu.

Dae Han : Aku akan membantumu, jadi, mari kita bersatu dan menempati kursi Kang Kyung Hoon di Dewan.


Di sebuah kafe, ibu yang memimpin demo tadi lagi berkumpul bersama para ibu lainnya. Dia menghasut para ibu dengan mengatakan mereka butuh walikota baru. Ibu ini juga menjelek-jelekkan Walikota Jung dengan mengatakan,, bahwa Walikota Jung hanya berpikir untuk menjilat atasan saja dan tidak peduli dengan pengembangan area.

"Kita butuh sekolah internasional untuk membantu pendidikan anak-anak dan meningkatkan nilai properti. Tapi apa? Apartemen upah rendah?" sinisnya.


Dae Han tiba2 datang. Para ibu2 yang tahu siapa Dae Han, langsung heboh melihat Dae Han. Sementara ibu yang mimpin demo, menatap sinis Dae Han.

Dae Han : Aku yakin kalian yang menonton acara itu tahu, tapi ada segmen usulan UU di acara ini, jadi, aku ingin mendengar pendapat kalian. Jika tidak keberatan, boleh aku bergabung?


Para ibu2 mengizinkan. Dae Han langsung duduk dan mengeluarkan catatannya.

"Apa pendapat yang ingin anda dengar?" tanya ibu yang mimpin demo.

"Jadi, kami mengusulkan RUU baru di acara kami. Kupikir akan menyenangkan jika berkaitan dengan distrik." jawab Dae Han.

"Ada satu. Anda tahu kota memaksa kita untuk mengizinkan Apartemen Upah Rendah Purun masuk, bukan?" tanya si ibu yang mimpin demo.

"Ya. Kurasa aku pernah dengar." jawab Dae Han.

"Tolong ajukan UU yang melarang kota melakukan itu. Jangan biarkan kota ini membangun perumahan murah secara sepihak." ucapnya lagi.

"Tapi bolehkah aku bertanya detail alasanmu menentangnya?" tanya Dae Han.

"Nilai properti kami akan menurun jika hal seperti itu masuk. Ini pelanggaran hak atas aset kami." jawab ibu itu.


"Nilai properti akan jatuh. Tapi apa itu pernah terjadi?  Apa nilai properti menurun usai apartemen upah rendah masuk? Aku belum pernah mendengar." ucap Dae Han.

Sontak para ibu heboh dan mengaku juga belum pernah mendengar hal itu terjadi.

"Benarkah? Di mana?" tanya Dae Han lagi.


Ibu yang mimpin demo tidak bisa menjawab jadi dia hanya bilang itu terjadi dimana-mana.

"Jadi, di mana tepatnya?" tanya Dae Han.

Si ibu itu mulai melototin Dae Han.

Dae Han : Jangan salah paham. Cara kerja acara TV adalah mencari butuh bukti kuat. Itu sebabnya.

"Kenapa anda meminta bukti? Apa aku pegawai Balai Kota?"


"Jadi, maksudnya kau tidak punya bukti kuat untuk mendukung pernyataanmu. Benar, bukan?"

"Apa yang kau rencanakan sekarang? Kau mau bertengkar dengan kami?"

"Bertengkar? Tidak mungkin."

"Anda mungkin tidak tahu, tapi aku masuk universitas ternama. Sebelum memerintah orang lain, anda harus mendidik anak anda dengan benar."

"Maksudku adalah..."

"Ini buang-buang waktu. Kita harus pergi."

Ibu yang mimpin demo mengajak para ibu pergi.

Dae Han mengertii.

Dae Han : Tidak ada logika. Dia hanya membencinya.


Penulis Ahn menunjukkan opini positif tentang Dae Han di laptopnya.

Penulis Ahn : Bahkan dalam komunitas internet untuk wanita.

Soo Hyun membaca opini2 itu.

Soo Hyun : Memang merupakan langkah kalkulatif untuk menangkap suara konservatif dan wanita.

Penulis Ma : Dan jumlah penonton kita juga naik.

Soo Hyun : Karena sudah bekerja keras, kita harus berusaha menjaganya. Apa yang kau punya untuk ide RUU berikutnya?


Tiba2, ponsel Soo Hyun berbunyi. Pesan dari Joon Ho yang meminta cap di kartu loyalitasnya. Soo Hyun tersenyum membacanya.


Mereka pun ngedate di warnet. Soo Hyun bilang ia lebih suka warnet ketimbang kafe. Joon Ho ternganga, tak menyangka diajak ke warnet.

Soo Hyun : Kau belum pernah ke sini?

Joon Ho : Ya, untuk berbagai alasan. Tapi aku menjalani masa wajib militerku. Dan tentu saja, aku juga menembak.

Soo Hyun : Mari lihat bagaimana kau bisa menembak.


Mereka pun main PUBG.

Soo Hyun : Musuh di kirimu.

Joon Ho bingung, apa? Di mana?

Soo Hyun : Kenapa kau berdiri di sana? Kau akan terbunuh.

Joon Ho : Apa? Di mana kau?

Soo Hyun : Kau lihat rumah di belakangmu? Aku di dalam.


Joon Ho pun beneran noleh ke belakang. LOL LOL

Soo Hyun melirik Joon Ho yang noleh ke belakang. Joon Ho pun kembali menatap layarnya.

Soo Hyun : Apa yang kau lakukan?

Joon Ho : Kurasa aku tertembak.

Soo Hyun : Aku bisa lihat itu. Tunggu. Aku akan datang dan menjemputmu.

Joon Ho : Mereka menembak dari mana?


Joon Ho yang gak pernah main PUBG, langsung berdiri dan melepas headphone nya terus teriak-teriak pada orang-orang yang juga lagi memainkan permainan yang sama. Dia teriak, mengatai mereka kejam padanya yang baru kali itu memainkan game itu. Malu, Soo Hyun pun memaksa Joon Ho duduk. Wkwkwkwkw....


Dae Han yang lagi makan malam bersama anak-anak kaget saat Da Jung bilang tak mau sekolah lagi. Dae Han pun minta alasan yang jelas.

Da Jung : Jika tidak suka alasan itu, maka anda bisa berpikir sesuka anda.

Dae Han : Kau sedang pubertas? Tak sudah cukup merepotkan.

Da Jung marah, anda pikir hanya anda yang menghadapi kesulitan? Aku juga menghadapi banyak masalah!

Da Jung membanting sendoknya lalu pergi ke kamar. Dia juga membanting pintu kamarnya.


Dae Han heran sendiri dan tanya ke Tae Poong juga Song Yi apa dia melakukan kesalahan.


Tak : Keberadaanmu salah.

Mendengar itu, Dae Han pun hanya bisa mengelus dada. Benarkah?


Tiba2, terdengar bunyi bel. Dae Han langsung ke layar intercom dan muncul lah wajah Jung Woo.

Dae Han : Siapa itu?

Jung Woo : Apa ini rumah Pak Wi Dae Han?

Dae Han : Ya. Siapa ini?

Jung Woo : Aku putramu.

Dae Han kaget, apa?

Lalu dia menyemprot Jung Woo.

Dae Han : Pria gila macam apa kau! Bagaimana bisa kau anakku? Aku bukan Casanova. Aku tidak punya anak di mana-mana.

Jung Woo : Pak, tenanglah. Aku pacar Da Jung.


Si kembar tertawa melihat Jung Woo bersujud pada Dae Han. Jung Woo mengaku senang bertemu dengan Dae Han, lalu ia memperkenalkan namanya dan mengaku pacarnya Da Jung. Dae Han tanya usia Jung Woo. Jung Woo bilang, usianya 20 tahun. Dae Han tanya lagi, apa Jung Woo mahasiswa. Jung Woo mengaku tidak kuliah. Dae Han lalu bertanya pekerjaan Jung Woo. Jung Woo pun berkata, ia trainee untuk grup idol dan sedang bersiap-siap untuk debut.


Dae Han kaget, idol?

Jung Woo : Benar, Pak.

Dae Han : Aku juga mendengar tentang itu. Tidak semua orang bisa memulai debut, bukan?

Jung Woo : Anda benar, Pak. Ini tidak mudah. Tapi itu bukan mimpi jika menyerah hanya karena sulit. Dalam hal itu, aku sangat menghormati anda.

Dae Han : Menghormati?

Jung Woo : Hasrat Anda untuk impian anda. Aku mengagumi itu. Anda bahkan berjalan sambil berduka untuk menjadi anggota dewan. Bahkan bekerja sebagai sopir pengganti. Aku sangat terpesona dengan program TV Anda kemarin. Lelucon anda lucu sekali. Kini aku penggemar berat.

Dae Han, apa?

Dae Han lalu menyuruh Jung Woo pulang.

Da Jung : Dia benar. Aku akan mengantarmu.


Dae Han berdiri dan berniat masuk kamarnya tapi si si kembar menyuruh Jung Woo menginap. Tae Poong ingin bermain dengan Jung Woo dan

Song Yi ingin mendengar Jung Woo nyanyi.

Jung Woo : Aku akan menginap lain kali.

Dae Han berbalik dan menatap Jung Woo.

Dae Han : Apa? Kau akan kembali? Menginap?

Jung Woo : Tentu saja. Da Jung ada di sini.


Jung Woo kemudian mendekati Dae Han.

Jung Woo : Sampai jumpa lagi, Ayah.

Dae Han : Sudah lama aku merasa kesal. Bagaimana mungkin aku ayahmu?

Jung Woo : Kalau begitu, haruskah aku memanggil anda ayah mertua?

Dae Han : Dia gila. Benar-benar gila.

Jung Woo : Mungkin sedikit lebih ramah. Appa.....

Dae Han makin gondok. Wkwkwkwk....

Bersambung ke part 3....

No comments:

Post a Comment