Monday, November 4, 2019

The Great Show Ep 5 Part 3

Sebelumnya...


Da Jung mengantarkan Jung Woo ke halte. Mereka mengobrol menjelang bus datang.

Da Jung : Kau tidak perlu datang jauh-jauh ke rumahku.

Jung Woo tersenyum dan mengelus kepala Da Jung.

Jung Woo : Ini semua karenamu. Kau menutup teleponku kemarin. Dan kau mengabaikan pesanku.

Da Jung : Tidakkah kau juga khawatir? Bagaimana penampilan perdanamu?

Jung Woo : Bagus.


Jung Woo lalu memberi Da Jung albumnya. Da Jung tanya, apa itu.

Jung Woo : Album kami. Tanggal debut kami sudah ditetapkan. Dua bulan lagi.

Mendengar itu, Da Jung terhenyak dan tidak tahu harus bagaimana memberitahu Jung Woo perihal kehamilannya.

Jung Woo : Aku datang untuk memberikan ini hari ini. Aku bisa debut karenamu. Kau adalah orang yang tepat yang merekamku bernyanyi dan mengunggahnya di internet. Begitulah perusahaanku menemukanku. Jika aku gagal, kau harus mengurusku. Selamanya.

Da Jung : Bagaimana jika kau sukses?


Jung Woo : Kalau begitu, aku akan mengurusmu. Selamanya.

Da Jung kemudian membulatkan tekadnya untuk memberitahu Jung Woo soal kehamilannya. Tapi belum sempat bicara, bus Jung Woo sudah datang dan Jung Woo langsung berlari masuk ke bus.


Begitu duduk, Jung Woo membuka kaca jendela dan memberikan finger heart pada Da Jung.

Da Jung lalu mengucapkan selamat atas debut Jung Woo.

"Sampai jumpa!" ucap Jung Woo dan bus pun mulai berjalan.


Setelah Jung Woo pergi, Da Jung terduduk lemas di halte. Ponselnya kemudian berdering. Pesan masuk dari Jung Woo.

Jung Woo : Kau tidak terlihat senang hari ini. Bertahanlah. Aku akan selalu membuatmu tersenyum.

Da Jung lantas mengetik, kalau ia hamil tapi saat mengingat tanggal debut Jung Woo sudah ditetapkan, ia kembali menghapus pesannya dan batal mengirimnya.


Joon Ho dan Soo Hyun berjalan bersama, usai bermain di warnet.

Soo Hyun : Aku tidak pernah melihatmu begitu marah. Apa citramu sebagai pria sejati itu bohong?

Joon Ho : Aku menjadi kompetitif.

Soo Hyun : Kau tidak cukup baik untuk menjadi kompetitif...

Joon Ho : Mari kita lakukan lagi lain kali. Dan kau tidak bisa memohon agar aku mengalah.

Soo Hyun : Kukira kau setuju berdamai, tapi kau sangat profesional.

Joon Ho : Aku pro-perang, tapi aku juga berpikiran sempit. Sejujurnya, itu menggangguku.

Soo Hyun : Apa?


Joon Ho : Tempat tinggalmu dekat, jadi, aku khawatir kau akan sering bertemu Dae Han.

Soo Hyun : Tentu saja, tapi karena anak-anak, bukan Dae Han.

Joon Ho : Anak-anak? Maksudmu....

Soo Hyun : Ya. Keempat anak yang tinggal bersama Dae Han.

Joon Ho : Gadis di acara itu tampak cukup pintar untuk usianya.

Soo Hyun : Dia mungkin terlihat dewasa, tapi dia masih anak-anak. Mereka baru kehilangan ibu mereka selama dua bulan. Aku merasa kasihan kepadanya. Dia berpura-pura baik-baik saja dan menjaga adik-adiknya.

Joon Ho : Pikiranku sempit, tapi aku cukup pintar, jadi, aku mengerti. Bagaimana perasaanmu?


Belum sempat menjawab, ponsel Soo Hyun berdering. Telepon dari Da Jung.

Da Jung : Eonni, kau di rumah?

Soo Hyun : Tidak, aku di luar. Ada apa?

Da Jung : Aku ingin saran.

Soo Hyun : Karena Dae Han, bukan? Apa yang dia lakukan kali ini?

Da Jung : Bukan begitu. Eonni, aku harus bagaimana?

Da Jung menangis.

Mendengar tangis Da Jung, Soo Hyun langsung tanya Da Jung dimana. Sementara Joon Ho terus menatap Soo Hyun.


Soo Hyun langsung ke taman, menyusul Da Jung. Soo Hyun kaget mendengar cerita Da Jung soal kehamilan Da Jung.

Soo Hyun : Kau sudah ke rumah sakit?

Da Jung : Belum. Aku hanya menggunakan tes kehamilan.

Soo Hyun : Dengan siapa? Kapan?

Da Jung : Dia dua tahun lebih tua dariku. Sekitar satu bulan sebelum kecelakaan ibuku.

Soo Hyun : Dua tahun lebih tua? Usianya 20 tahun? Kenapa bedebah itu...

Soo Hyun marah. Dia pikir, Da Jung diperkosa.

Da Jung : Tidak, Eonni. Bukan begitu.

Soo Hyun kaget, kau juga menginginkannya?

Da Jung mengangguk.

Soo Hyun : Han Da Jung! Kau masih SMA! Kau masih di bawah umur! Meski kau menyukainya, kau harus tahu cara menahan diri! Kau terlalu muda untuk ini.

Da Jung : Kurasa itu sebabnya aku dihukum.


Soo Hyun lantas duduk di ayunan, disamping Da Jung.

Soo Hyun : Apa hanya aku yang tahu?

Da Jung : Ya.

Soo Hyun : Aku akan membawamu ke rumah sakit besok, dan pikirkan sisanya setelah itu.

Da Jung : Aku tidak mau Paman Wi tahu.


Bong Joo dan Dae Han ketemuan di tepi jembatan.

Bong Joo : Seperti yang kau pikirkan. Kang Kyung Hoon membantu ibu Jae Hoon.

Dae Han : Bagaimana caranya?

Bong Joo : Salah satu asisten Kang Kyung Hoon adalah keponakannya.

Dae Han : Sudah kuduga. Rasanya mencurigakan mereka berusaha keras.

Bong Joo : Bagaimana dengan komite promosi untuk sekolah?

Dae Han : Ada orang tua lain bersama ibu Jae Hoon, dan juga ada berbagai macam orang. Ada beberapa dari serikat pedagang juga.

Bong Joo : Begitukah?


Dae Han : Jadi, seperti itulah. Kau tahu strategi apa yang termudah untuk mengalahkan lawanmu?

Bong Joo : Apa?

Dae Han : Alienasi.

Bong Joo : Kenapa kau membuatnya terdengar sulit?

Dae Han : Bukankah maksudmu bermain di kedua belah pihak?

Bong Joo : Apa kau harus terdengar bodoh?

Dae Han : Pokoknya.. jika musuh bertarung, kau tangani tanpa campur tangan. Mengerti?


Di ruangannya, Kyung Hoon sedang bermain golf. Di belakangnya, asistennya berdiri dan memberitahunya kalau Dae Han mengurus masalah apartemen.

Kyung Hoon : Jadi, dia berusaha satu tim dengan Wali Kota Jung? Mereka yang tidak punya kesempatan selalu bersikap seperti itu. Mereka selalu memihak tim yang salah.

"Masyarakat adalah untuk sekolah internasional, jadi, menurutku anda tidak perlu khawatir." ucap asistennya.

"Kita tidak bisa memercayai masyarakat. Sewa fotografer hebat untuk membuntuti Wi Dae Han. Dia pasti menyebabkan masalah di suatu tempat." suruh Kyung Hoon.


Paginya, Dae Han membawa si kembar ke pasar. Tae Poong yang sudah lapar, tanya, kapan mereka makan ayam goreng.

Dae Han : Kita hampir sampai. Tunggulah sebentar lagi.

Dae Han lalu tanya ke Song Yi, apa Song Yi ingat latihan mereka. Song Yi mengangguk dan berkata akan melakukan yang terbaik.


Dae Han mengajak si kembar makan di restoran orang tua Soo Hyun. Ibu Soo Hyun membawakan ayam untuk mereka dan menyuruh Song Yi makan pelan-pelan sementara Pak Jung, menyuruh si kembar makan sepuasnya.


Lalu orang tua Soo Hyun duduk dan bicara dengan Dae Han. Pak Jung tanya, perkembangan kasus apartemen upah rendah gimana.

Dae Han : Tentang itu... kami melakukan penyelidikan untuk melihat keadaan, dan ternyata itu berlawanan dengan rumor.

Pak Jung : Apa maksudmu berlawanan? Mereka yang menentang adalah yang paling mengkhawatirkan harga rumah yang jatuh dan mengubah lingkungan menjadi daerah kumuh.


Dae Han : Tentu saja. Tapi ternyata ada lebih banyak tempat di mana perekonomian itu dipulihkan karena adanya influks.

Pak Jung : Begitukah?

Dae Han : Ya.


Bu Yang menatap suaminya.

Bu Yang : Kau begitu mudah tertipu lagi.

Pak Jung : Aku tidak mudah tertipu. Dia bilang itu membangkitkan perekonomian.

Pak Jung lalu tanya lagi ke Dae Han, lalu?

Dae Han : Pikirkan saja, jika ada lebih banyak orang dewasa muda di lingkungan ini, itu akan menceriakan suasana. Mana bisa membahayakan lingkungan?

Pak Jung : Kau benar. Dia salah! Sebenarnya, sekolah internasional juga tidak akan membahayakan lingkungan.

Bu Yang : Tidak. Kurasa kau punya poin yang lebih kuat.

Pak Jung : Tidak, itu tidak akan membahayakan. Namun, anggap saja mereka membangun sekolah.


Dae Han : Bagaimana kalian berdua akan diuntungkan?

Pak Jung : Begini... Sejujurnya tidak banyak yang bisa didapatkan. Soo Hyun bukan anak sekolah lagi.

Dae Han : Itu maksudku! Soo Hyun tinggal di bangunan tua dan tidak aman. Tapi jika mereka membangun apartemen upah rendah, akan bagus jika dia bisa tinggal di tempat bagus dan aman, dengan harga murah.

Bu Yang : Kurasa kau benar. Lagi pula, menyedihkan memikirkan tempat mereka tinggal dahulu.

Dae Han lantas melirik Song Yi. Song Yi menatap Dae Han. Dae Han pun mengedip2kan matanya, ngasih kode ke Song Yi. Song Yi mengerti dan langsung bicara.

Song Yi : Ada banyak sekali kecoak dan ada retakan di dinding. Aku berdoa setiap malam sebelum tidur. Bahwa rumah kami tidak akan runtuh.


Orang tua Soo Hyun langsung kasihan.


Dae Han : Kurasa alasan mereka harus tinggal di tempat seperti itu adalah kita tidak punya cukup apartemen upah rendah. Itu sebabnya aku lebih memperhatikan masalah ini.

Pak Jung : Tentu. Semua orang tua merasakan hal yang sama.

Dae Han : Kurasa orang harus berpendapat sesuai kepentingan mereka. Karenanya aku tidak berpikir negatif tentang ibu Jae Hoon.

Pak Jung : Apa?

Dae Han : Kang Kyung Hoon membantunya, jadi, sudah sewajarnya dia akan bicara dengannya.

Pak Jung : Apa maksudmu?

Dae Han : Anda tidak tahu? Keponakannya bekerja untuk Kang Kyung Hoon.

Pak Jung : Apa maksudmu? Maksudmu kami boneka Kang Kyung Hoon dan wanita itu?

Dae Han : Kukira kalian tahu. Pokoknya, teruslah mengutarakan pikiran anda.

Pak Jung : Hatiku. Jantungku! Astaga... Aku protes di tempat yang salah selama ini!


Soo Hyun membawa Da Jung ke dokter.

Dokter : Anda lihat janinnya? Anda sudah hamil 11 pekan.


Usai dari dokter, mereka bicara di taman.

Da Jung : Aku harus memberi tahu pacarku, bukan?

Soo Hyun : Harus. Aku akan ikut denganmu jika kau mau. Jika dia marah, aku bisa menghajarnya untukmu.

Da Jung : Kenapa harus marah? Kami melakukannya bersama.

Soo Hyun : Tentang tidak memberi tahu Dae Han... Aku mengerti perasaanmu, tapi menurutku tidak benar. Dia ayahmu. Apa pun pilihanmu, kurasa lebih baik memikirkannya dan memutuskan bersama.

Bersambung ke part 4...

No comments:

Post a Comment