Friday, August 24, 2018

Live Up To Your Name Ep 11 Part 2

Sebelumnya...


Im melihat Suzuki yang berusaha melindungi mereka dari serangan tentara Jepang lain.

"Kita harus cepat!" ucap Yeon Kyung.


Im pun langsung menaikkan bocah malang itu ke punggungnya. Lalu mereka bergegas pergi.


Di perjalanan, mereka bertemu dua biksu. Merasa aneh dengan penampilan Im dan Yeon Kyung, dua biksu itu langsung pergi karena takut. Im pun memohon, dia mengatakan seorang anak terluka.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya kedua biksu itu membawa Im dan Yeon Kyung ke kuil mereka.

"Nadinya dalam kondisi kritis." ucap Im. Im lalu bertanya, luka apa di tubuh bocah malang itu.

"Peluru. Benda dari logam terperangkap di tubuhnya.  Jika dibiarkan, lukanya akan membusuk, dan ia akan keracunan darah." jawab Yeon Kyung.


Tapi tiba-tiba, trauma Yeon Kyung kambuh lagi. Sontak, ia menjauhkan dirinya dari tubuh bocah yang terluka itu. Yeon Kyung takut, kalau anak itu akan meninggal setelah ia merawatnya. Im tak tinggal diam. Ia berusaha meyakinkan Yeon Kyung.

"Sadarkan dirimu, dengarkan aku.  Kau adalah dokter.  Siapapun pasiennya, kau tahu betul bagaimana cara menyelamatkannya.  Kau adalah dokter terbaik yang kukenal.  Aku tidak mengerti apa itu peluru.  Aku belum pernah mengobati luka seperti ini.  Aku tidak bisa melakukannya sendirian.  Satu-satunya yang bisa menyelamatkan anak ini... hanyalah dirimu." ucap Im.


Anak yang satunya lagi menangis. Ia takut kakaknya pergi.

Melihat tangisan anak itu, Yeon Kyung teringat saat dirinya menangisi ayahnya yang terkapar di jalanan karena kecelakaan.


"Aku tidak membawa tasku.  Aku tak punya alat steril. Aku perlu obat bius dan pembasmi kuman." jawab Yeon Kyung.

Im pun langsung memintanya pada biksu.

"Apa kalian punya asam ?" tanya Im.

"Kami tak punya asam, tapi kami punya lendir katak." jawab si biksu.


"Berikan padaku. Kami juga perlu air panas untuk membasmi kuman. Didihkan air dengan garam." ucap Im.

"Pendarahannya juga harus dihentikan dan mengatasi infeksi." jawab Yeon Kyung.

Im mengerti dan langsung meminta mahkota bunga daisy kering, kulit pohon elm dan talas pada biksu.


"Kita juga perlu kain putih bersih, jarum dan beberapa benang. " ucap Yeon Kyung.

Sontak lah, si biksu bingung. Ia tak mengerti ucapan Yeon Kyung.

"Anda punya tali rami dan kulit morus ?" tanya Im.

Biksu mengangguk dan bergegas pergi.


Setelah semua perlengkapan siap, Im pun mulai memberikan anak itu akupuntur untuk mengurangi rasa sakitnya.

Sementara Yeon Kyung, menyiapkan pisau bedahnya.


Di luar, sang adik menunggu bersama seorang biksu.


Setelah Im selesai menusukkan jarumnya, Yeon Kyung memulai operasinya. Ia berhasil mengeluarkan proyektil yang bersarang di tubuh bocah malang itu. Setelah selesai menjahit luka anak itu, Im menaburkan beberapa serbuk tanaman di atas luka bocah itu, kemudian mulai memperban lukanya.

Yeon Kyung lantas menatap Im, ia tersenyum. Begitu pula dengan Im.


Malam harinya, Im memeriksa nadi bocah yang terluka.

"Nadinya sudah stabil. Kondisinya sudah tidak berbahaya lagi. Kau sudah menyelamatkan anak ini." ucap Im.

"Anak ini lah menyelamatkan kakaknya." jawab Yeon Kyung sambil memeluk bocah satunya lagi.


Yeon Kyung duduk diluar dan memperhatikan pisau bedahnya. Tak lama kemudian, Im datang dan langsung duduk disamping Yeon Kyung.

"Aku kira aku tak bisa memegangnya lagi." ucap Yeon Kyung.

"Mungkin itu sebabnya dia masih di sini. Dia pandai persis seperti pemiliknya." jawab Im.

"Mengagumkan. Di tempat seperti ini melakukan operasi hanya dengan ini." ucap Yeon Kyung.

"Seperti katamu, anak itu berusaha melindungi adiknya.  Pasti itulah yang menyelamatkan nyawanya sendiri. Melebihi kemampuan seorang dokter, keinginan pasien untuk tetap hiduplah yang membantu.  Itu hal pertama yang kupelajari dari guruku. Kita harus mempelajari pikiran pasien terlebih dahulu untuk meningkatkan kekuatan hidup dan kekuatan penyembuhan mereka. Tapi, ada satu hal yang tidak diajarkan guruku.  Ada lebih banyak pasien yang tak bisa diselamatkan tabib dibandingkan yang bisa ia selamatkan. Itulah beban seorang tabib. Itulah takdir seorang tabib yang hidup di tanah ini. Saat aku kehilangan seorang pasien, aku menangis keras seharian. Sesudahnya aku tak lagi menangis." jawab Im.


Lantas, Im menggenggam tangan Yeon Kyung.

"Kematian memang menyedihkan, tapi hidup dan mati adalah diluar kemampuan kita. Kita hanya berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan orang dari kematian." ucap Im lagi.


Lalu, Im memberikan hadiah gelang dari Ha Ra pada Yeon Kyung.

"Ini adalah hadiah yang ia tinggalkan untukmu.  Ia ingin aku memberimu ini, dan jantung yang paling berkilau adalah miliknya. Meskipun jantungnya sudah berhenti berdetak,  jiwa yang tersimpan di jantungnya masih berkilau seperti ini." ucap Im.

Yeon Kyung pun mendekap kalung itu di dadanya.  Tak lama kemudian, Im memeluk Yeon Kyung. Dalam pelukan Im, tangis Yeon Kyung mengalir.


Di Seoul, Kakek Choi menatap foto Heo Jun yang ia satukan dengan foto anak, menantu dan cucunya.

"Kyung-ku, baik-baik saja, kan ? Aku tahu ini memalukan untuk mengatakannya, tapi jika bertemu dengannya, tolong jaga dia seperti waktu dulu." pinta Kakek Choi.


Di ruangannya, Direktur Ma berusaha meyakinkan seseorang di telepon. Ia meminta waktu beberapa hari lagi dan menjelaskan bahwa telah terjadi sesuatu pada Im. Lalu, Direktur Ma marah.

"Kenapa kau berkata begitu ?! Aku bukan anak buahmu !"Apa ini hanya demi diriku sendiri ?" Lalu Direktur Ma memutuskan panggilannya.

"Orang ini, aku baik sedikit dengannya, sekarang dia kira dirinya Presiden ?! Heo Im si brengsek itu, aku menjadikannya manusia, sekarang dia jadi seenaknya sendiri.  Sebenarnya di mana dia ? Jangan-jangan dia kembali ke Joseon ?" ucapnya.

Tiba-tiba, terdengar suara Jae Ha.

"Kemana? Barusan maksud kakek Heo Im, kan ?"

Direktur Ma sontak kaget dengan kemunculan Jae Ha yang tiba-tiba.

"Joseon? Apa maksudnya ?" tanya Jae Ha.

"Kau salah dengar! Situasinya lebih rumit, jangan ditambah lagi!" tegas Direktur Ma.


Jae Ha masuk ke ruangan Im dan mengingat pakaian yang dikenakan Im saat mereka pertama kali bertemu.


Lalu, ia ingat saat Im menemui ia dan kakeknya di toilet, agar sang kakek merekrutnya sebagai dokter.Terakhir, ia ingat saat Im berhasil mengobati salah satu pejabat yang terkena stroke ringan dan juga kata-kata kakeknya.

"Di Dinasti Joseon, kemampuan akupunturnya adalah yang terbaik di 3 negara.  Ahli Akunpuntur terbaik di zaman Joseon adalah Heo Im."


Jae Ha pun tercengang. Ia merasa itu tidak masuk akal.

"Lalu dimana noona? Apa mereka ada di Joseon?" tanyanya lagi.


Paginya di Joseon, Im menyelimuti Yeon Kyung yang masih terlelap.

Lalu, dia memeriksa nadi bocah itu dan tersenyum. Tak lama kemudian, bocah itu siuman.


"Kau dengar aku ?" tanya Im.

Mendengar suara Im, Yeon Kyung terbangun dan langsung memeriksa kondisi bocah itu.

"Bagaimana punggungmu ? Masih sakit?" tanya Yeon Kyung.


Tapi bocah itu langsung menanyakan adiknya.

"Dia tidur di belakangmu." jawab Yeon Kyung, lalu membantu bocah itu duduk.

Tangis sang adik pun pecah. Ia merasa bersalah karena sudah membuat kakaknya terluka.

"Gwenchana, Dam-ah. No ttaemune aniya. Uljima." jawab bocah itu, lalu menghapus tangis adiknya.

Tapi tetap saja Dam menangis dan merasa itu salahnya.

"Lain kali aku akan belikan sepatu yang pas untukmu. Geuronikka, uljima." jawab sang kakak.


Yeon Kyung terharu menatap kakak beradik itu. Im tersenyum dan menggenggam tangan Yeon Kyung.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, Im tak bisa berhenti menatap Yeon Kyung.

"Kenapa melihatku begitu ? Aku tidak cocok memakai ini ?" tanya Yeon Kyung.

"Kau cantik menggunakan apa saja." puji Im.

"Berjalan seperti ini, rasanya kita seperti keluarga." ucap Im lagi.

"Aku terlalu muda untuk punya anak sebesar ini. " jawab Yeon Kyung.

"Di tempat ini, orang menikah di usia 15 tahun. Orang seusia kita seharusnya sudah punya anak sebesar ini." ucap Im.

"Lalu kenapa kau belum menikah sampai sekarang?" tanya Yeon Kyung.

"Ada banyak wanita mengejarku, tapi aku sibuk mengobati orang dengan kemampuan hebatku." jawab Im.

Yeon Kyung tertawa mendengar jawaban Im. Lalu ia mengaku, kalau dirinya juga sama dengan Im.

"Kalau begitu, kita ditakdirkan..." Im mau bilang kalau dia dan Yeon Kyung itu jodoh tapi Yeon Kyung buru-buru memotong kalimatnya dengan mengajaknya istirahat.


Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.


Sampai di Hanyang, mereka tercengang melihat korban pembantaian tentara Jepang.


Mereka terus berjalan, hingga akhirnya menemukan beberapa orang yang selamat.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Im.

"Seperti yang kau lihat, tentara Jepang datang kemari.  Semua orang terluka." jawab pria itu.

Lalu pria itu melirik bocah yang terluka yang bersembunyi di belakang Im.

"Kang-ah!" ia berseru lalu memeluk bocah yang ternyata bernama Kang itu.

"Dam juga disini. Anak-anak ini masih hidup." ucap pria itu lagi.


Pria itu kemudian membawa mereka masuk. Yeon Kyung memeriksa luka Kang.

"Ini sudah kujahit kulitnya, jadi lukanya bisa lekas sembuh dan bekasnya juga akan hilang." ucap Yeon Kyung.

"Aku belum pernah melihat tabib mengobati luka seperti itu. Kau seorang tabib?" tanya pria itu.

Yeon Kyung mengangguk.


Pria itu lalu meringis kesakitan dan memegangi keningnya yang terluka.


Yeon Kyung pergi keluar dan melihat Im sedang memberikan akupuntur pada korban-korban yang selamat. Ia pun bergegas membantu Im.


Setelah itu, mereka meracik obat di dalam.

"Waktu pertama kali tiba di duniamu, aku kaget melihat ambulan.  Apalagi kau bisa mengobati kapanpun dan di manapun mereka berada." ucap Im.

"Kebanyakan seperti itu. " jawab Yeon Kyung.

"Orang-orang di luar, nyaris tidak pernah melihat tabib seumur hidup mereka.  Setidaknya di Hanyang, mereka punya Haeminseo.  Kami hanya menggunakan akupuntur dan moxa untuk mengendalikan Qi  Dengan begitu, mereka bisa melanjutkan hidup dan memakan sesuatu.  Tidak banyak, tapi kami hanya bisa sejauh itu. " ucap Im.

Yeon Kyung tertegun menatap Im. Ditatap seperti itu, membuat Im canggung. Yeon Kyung berkata, kalau ia ingin melihat sisi Im yang sebenarnya.

"Aku begitu karena ada pasien di depan mataku. Makanya kulakukan." jawab Im.

"Kalau begitu katakan padaku, kenapa kau mengobati mereka tanpa bayaran." pinta Yeon Kyung.


Tiba-tiba, mereka mendengar suara Kang yang panik.

"Dam-ah!"

Dam kejang-kejang. Im langsung memeriksa nadi Dam.

"Dia pasti terkejut." ucap Im.

Dam muntah. Sontak hal itu mengingatkan Yeon Kyung pada kecilnya. Melihat Im merawat Dam, Yeon Kyung juga ingat saat Heo Jun merawatnya.


"Apa Hanyang masih jauh disini? Aku ingin menemui seseorang. " ucap Yeon Kyung.

"Siapa itu?" tanya Im.

"Heo Jun.Aku ingin mencari tahu soal itu. Aku akan ceritakan semuanya nanti karena aku juga masih belum yakin." jawab Yeon Kyung.

"Tentara Jepang ada di dekat sini. Kau tahu kan itu sangat berbahaya." ucap Im.

"Aku tahu, tapi kalau tidak bertemu sekarang, mungkin tidak ada kesempatan lain." jawab Yeon Kyung.


Tabib Yoo bersiap meninggalkan Hanyang. Ia berharap, Yeon Kyung selamat dari perang itu agar mereka bisa bertemu lagi di masa depan.


Setibanya di Hanyang, Im dan Yeon Kyung mendengar cerita dari rakyat tentang Raja yang melarikan diri. Rakyat yang marah pun membakar istana.

Sontak, Im dan Yeon Kyung kaget.


Sekarang, mereka sudah berdiri di depan rumah Heo Jun.

"Dia tabib kerajaan. Jika Raja melarikan diri, Tuan Heo Jun mungkin mengikutinya." ucap Im.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Makgae keluar dari dalam. Melihat Im, Makgae senang dan langsung menghambur ke pelukan Im.

"Kau mengubah penampilanmu agar bisa sembunyi dari mentri pertahanan?" tanya Im.

"Setelah kita melarikan diri waktu itu, ia berusaha untuk menemukan kita." jawab Makgae.


Makgae lalu meminta penjelasan apa yang dilihatnya hari itu. Enggan menjelaskan, Im pun memarahi Makgae yang tidak meninggalkan Hanyang. Makgae membela diri. Ia mengaku, tidak bisa pergi tanpa Im.


Singkat cerita, Yeon Kyung menanyakan Heo Jun. Makgae bilang, Heo Jun pergi ke desa di gunung untuk mengobati pasien.

"Kapan dia kembali?" tanya Yeon Kyung.

"Mungkin besok atau lusa." jawab Makgae.

"Kau tahu dia dimana?" tanya Im.

Makgae pun membawa Im dan Yeon Kyung menuju suatu tempat.


Im memegang tangan Yeon Kyung supaya Yeon Kyung tidak jatuh. Melihat itu, Makgae pun bertanya apa hubungan keduanya. Sontak, Yeon Kyung langsung menarik tangannya dari pegangan Im. Im yang malas menjelaskan, pun bertanya kenapa Makgae bisa tinggal di rumah Heo Jun.

"Aku harus meninggalkan Haeminseo, jadi tidak tahu harus bagaimana. Tuan Heo Jun mengizinkan aku tinggal di sini sampai kau kembali." jawab Makgae.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan tapi di jalan, malah ketemu menteri pertahanan yang siap melarikan diri. Im berbisik pada Makgae, ia menyuruh Makgae lari. Ia yakin, menteri pertahanan tidak mengenali Makgae karena penampilan baru Makgae.

Benar saja, menteri pertahanan tidak tertarik mengejar Makgae. Dia lebih tertarik pada Im dan Yeon Kyung.


Dari kejauhan, Tabib Yoo dan para pengawalnya melihat mereka.


Im dengan sengaja menyulut emosi menteri pertahanan agar ia dan Yeon Kyung bisa kembali ke Seoul. Menteri pertahanan terpancing. Ia marah dikatai seperti anjing dan babi oleh Im.

Im dan Yeon Kyung pun berpegangan tangan. Mereka siap kembali ke Seoul.


Namun sial, anak buah menteri pertahanan malah menarik Yeon Kyung.

Tepat saat itu, menteri pertahanan menghujam dada Im dengan pedangnya.


Im seketika roboh. Sambil menahan rasa sakit, ia mengulurkan tangannya ke arah Yeon Kyung.

Yeon Kyung yang dipegangi anak buah menteri pertahanan, berusaha melepaskan diri. Singkat cerita, ia berhasil melepaskan diri tapi saat berlari ke arah Im, ia terkena sabetan pedang!


Di Seoul, hujan turun dengan deras. Im terbangun dan mendapati dirinya berada di tengah jalanan Kota Seoul.

Im panic. Sambil menahan sakit, ia menggapai-gapaikan tangannya ke tengah jalan dan memanggil Yeon Kyung.

Bersambung.....

No comments:

Post a Comment