Friday, August 24, 2018

Ruby Ring ep 64 Part 1

Sebelumnya...


"Apa? Geumdong? Dari sekian banyak nama kenapa harus Geumdong?" tanya Chorim.

Ya! Chorim, Gilja dan Soyoung sedang membahas nama panggilan yang diberikan nenek untuk bayi Roo Na.

"Apa yang salah dengan nama Geumdong? Namanya cukup sederhana dan memiliki arti." jawab Gilja.

"Apa yang salah, Eonni? Bukankah Geumdong mengingatkanmu pada Dongpal?" tanya Soyoung.

"Soyoung-ah, jangan pernah menyebut Dongpal lagi di depannya. Dia akan melupakan Dongpal." jawab Gilja.

"Benar, Eonni." ucap Chorim.


"Kami sudah tumbuh dekat dengannya selama bertahun-tahun, jadi tidak mudah memutuskan hubungan dengannya tapi itu akan berhasil seiring berjalannya waktu." jawab Gilja.

"Aku akan menjodohkanmu dengan seseorang." ucap Soyoung.

Chorim setuju. Soyoung pun kaget, kau serius?

"Tapi dengan satu syarat. Pastikan pria itu belum pernah menikah." ucap Chorim.

Soyoung pun tak yakin bisa mendapatkan pria bujangan yang mau menikahi Chorim.


Dongpal benar-benar patah hati. Ia bahkan tidak sanggup menelan makanannya. Daepung bertanya, mana yang lebih buruk dari

Chorim meninggalkan Dongpal atau Jihyeok ditinggalkan ibunya. Mendengar pertanyaan Daepung, Dongpal pun kesal dan langsung memelototi Daepung.

"Ngomong-ngomong, dimana Jihyeok? Pasti berat baginya melihat ayahnya menderita seperti ini." ucap Daepung. Lagi-lagi,

Dongpal memelototinya.


In Soo yang berjalan di lorong, tanpa sengaja melihat Gyeong Min dan Roo Na.

"Es krim stroberi? Geumdong ingin es krim stroberi?" tanya Gyeong Min.

Roo Na pun mengiyakan.

"Tapi tidakkah es krim terlalu dingin?" tanya Gyeong min.

"Jangan cemas. Bahkan meskipun aku kedinginan, itu akan menjadi hangat di dalam perutku." jawab Roo Na.

In Soo tersenyum tidak percaya.


Lantas, In Soo membahas hal itu dengan Roo Bi. In Soo tidak percaya Roo Na memilih berbohong, daripada berkata jujur.

"Dia tidak akan melepaskan harapan terakhirnya yang akan menjaganya agar tidak jatuh dari tebing." jawab Roo bi.

"Tapi Gyeong Min akan tahu cepat atau lambat." ucap In Soo.

"Kau mencemaskannya?" tanya Roo Bi.

"Aku frustasi dan marah. Berapa lama lagi dia menjadikan kebohongan sebagai jalan keluar? Dia harus tahu, kalau dia menghancurkan hidupnya sendiri." jawab In Soo.

"Dia mungkin tidak tahu atau dia memang tidak ingin mengakui kebenarannya. Baginya, kepuasan langsung, kekayaan, ketenaran adalah sumber kebahagiaan. Aku iri padanya untuk beberapa hal." ucap Roo Bi.


"Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membiarkannya terus bersandiwara?" tanya In Soo.

"Untuk sekarang, iya. Aku ingin melihat betapa hebatnya kinerja yang bisa dilakukannya. Dia mungkin khawatir kita akan mengeksposnya. Jika kita melakukannya pada waktu yang tepat, kita akan melihat kehancuran Jeong Roo Na." jawab Roo Bi.

In Soo terdiam, ia menatap lirih Roo Bi.

"Jangan seperti itu. Kau Jeong Roo Bi." ucap In Soo dalam hati.

"Jangan menatapku seperti itu. Sudah kubilang padamu kan, aku akan hidup seperti Jeong Roo Na yang asli." jawab Roo Bi.


Ponsel Roo Bi berdering. Roo Bi menjawabnya. Telepon dari sang ibu.


Gyeong Min terkejut melihat Roo Na yang makan seporsi besar es krim dengan lahap.

"Ini luar biasa. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, tapi lihat sekarang." ucap Gyeong Min.

"Ini bukan aku yang makan. Geumdong yang menginginkannya." jawab Roo Na.

"Katakan padaku jika kau ingin makan yang lain. Aku akan mendapatkannya untukmu tidak peduli apapun yang kau minta." ucap Gyeong Min.

"Gomawo, yeobo." jawab Roo Na.


Lantas, ponsel Roo Na berdering. Telepon dari sang ibu yang memberitahunya kalau Roo Bi sedang menuju ke sana.


Roo Bi tiba di kediaman Gyeong Min. Ia turun dan taksi dan membawa sesuatu. Setibanya disana, ingatan Roo Bi langsung melayang ke masa lalu, saat Gyeong Min pertama kali mengajaknya ke sana.

Roo Bi pun menghela nafas. Sorot matanya nampak sedih.


Tak lama kemudian, Roo Na keluar dan menyuruhnya pulang setelah mengambil makanan yang dibawa Roo Bi. Roo Na beralasan, kalau mertuanya sedang makan malam jadi ia tak bisa mengajak Roo Bi masuk.

"Tentu saja tidak." jawab Roo Bi dingin.


Tapi tepat saat itu, Se Ra pulang dan mengajak Roo Bi masuk. Roo Na pun berusaha mencari alasan agar Roo Bi tak jadi masuk. Ia berkata, tidak akan sopan jika mengajak Roo Bi masuk tanpa memberitahu anggota keluarga yang lain. Roo Na juga bilang, Roo Bi akan merasa tidak nyaman.

"Kau merasa tidak nyaman, Roo Na-ssi?" tanya Se Ra.

Roo Bi pun bingung menjawabnya. Tapi tak lama, ia memutuskan untuk menyapa keluarga Gyeong Min sebentar.

"Makan malam dan minumlah teh dulu." ajak Se Ra.

Se Ra lantas menggandeng Roo Bi dan mengajaknya masuk ke dalam. Roo Bi pun mengambil makanan yang dibawanya dari

tangan Roo Na dan masuk ke dalam dengan wajah senang.


Gyeong Min turun ke bawah dan menyapa Roo Bi yang baru masuk dengan Se Ra.

Se Ra memanggil ayah dan ibunya. Tak lama kemudian, Tuan Bae, Nyonya Park serta nenek keluar dari kamar.

"Bagaimana kabarmu, Nek. Maafkan aku karena datang tiba-tiba seperti ini. Aku kesini hanya untuk mengantarkan makanan." ucap Roo Bi.

"Aku tidak membiarkannya pergi jadi aku membawanya masuk." ucap Se Ra.

"Kau melakukan hal yang benar, Se Ra-ya." jawab Nyonya Park, lalu mengajak Roo Bi ikut makan malam dengan mereka.

"Buatlah dirimu nyaman disini." ucap nenek pada Roo Bi.

Tuan Bae, Nyonya Park, nenek dan Se Ra beranjak ke ruang makan.


Tepat saat itu, Roo Na masuk dan melihat Roo Bi pergi ke ruang makan bersama Gyeong Min.


Roo Na masuk ke kamarnya. Dia kesal karena Roo Bi masuk ke rumahnya. Roo Na lalu curiga kalau Roo Bi berusaha membuka kedoknya.

Tak lama kemudian, Gyeong Min masuk ke kamar dan mengajak Roo Na turun kebawah.


Nenek memuji masakan Gilja. Nenek bilang, bumbunya pas. Nyonya Park pun menyuruh Roo Na mengucapkan terima kasih pada Gilja.

Nenek lalu menyuruh Roo Bi makan dengan lahap. Roo Bi pun memuji semua makanannya.

"Tentu saja. Belum pernah ada yang mengatakan rasa masakanku buruk." jawab Geum Hee.

"Kudengar, wanita hamil akan merindukan masakan ibunya." ucap Tuan Bae.

"Ne, abeonim. Aku mungkin akan makan banyak malam ini." jawab Roo Na.

"Apa yang harus kulakukan? Roo Bi mungkin merindukan masakan ibunya ketika dia hamil. Kalau aku hamil, aku mungkin akan merindukan masakan Bibi Geum Hee." ucap Se Ra.

"Se Ra-ya!" protes Nyonya Park.

"Dia benar. Gyeong Suk adalah gadis yang manis tapi dia tidak bisa memasak untuk menyelamatkan hidupnya." ucap nenek.

Semua pun tertawa, tapi tidak dengan Roo Na yang merasa tidak nyaman ada Roo Bi disampingnya.


In Soo sendiri makan dengan lahap di restoran Gilja. Gilja dan Chorim senang melihatnya. Chorim menyuruh Gilja menghubungi

Roo Bi. Gilja berkata, ia sudah menghubungi Roo Bi tapi tidak dijawab.

"Mungkin keluarga Gyeong Min mengajaknya minum teh dulu." ucap In Soo.


Roo Bi minum teh bersama keluarga Gyeong Min.

"Kudengar kau adalah aset berharga perusahaan." ucap nenek.

"Seperti yang kubilang, tonic herbal gagasan Roo Na akan segera dirilis." jawab Se Ra.

"Bagaimana kalian berdua bisa begitu pintar? Ibu kalian pasti sangat bangga pada kalian." ucap nenek.

"Nenek terlalu baik." jawab Roo Bi.


Lalu, Roo Bi menggenggam tangan nenek.

"Nenek, bagaimana kesehatan nenek?" tanya Roo Bi.

"Betapa tulusnya dirimu. Kau memperhatikan seorang wanita tua yang tidak ada hubungannya denganmu." jawab nenek.

"Nenek harus menjaga kesehatan nenek supaya nenek bisa bermain dengan cicit nenek." ucap Roo Bi.

Sontak, Roo Na terbakar melihat apa yang dilakukan Roo Bi.

"Kau dengar apa yang dikatakan Roo Na kan, Bu?" tanya Tuan Bae.

"Baiklah. Aku akan memperhatikan diriku sampai Geumdong lahir." jawab nenek.


"Ngomong-ngomong, kapan bayinya lahir?" tanya Roo Bi pada Roo Na.

Sontak, Roo Na terkejut mendengar pertanyaan Roo Bi.

"Benar, apa yang dokter katakan?" tanya Gyeong Min.

"February tanggal 13." jawab Roo Na.

"Itu artinya dong dalam Geumdong artinya musim dingin." ucap Tuan Bae.

"Lihatlah, aku memberikan nama yang bagus." jawab nenek.


"Roo Na-ya, kau sebaiknya pulang. Ini sudah malam." ucap Roo Na.

"Ini masih sore." jawab Se Ra.

"Benar, dia harus disini beberapa jam lagi. Aku bisa mengantarnya nanti." ucap Gyeong Min.


"Hyeong-bu, bolehkah aku melihat kamar tidurmu dan kakakku?" tanya Roo Bi.

"Benarkah? Kau ingin melihatnya?" tanya Gyeong Min.


Gyeong Min mengajak Roo Bi ke atas. Roo Na yang juuga ikut ke atas pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sesampainya di atas, Roo Bi

pun ingin menebak dimana kamar Gyeong Min.


Roo Bi lantas maju ke depan. Ia tersenyum evil, lalu menatap ke arah kamar Gyeong Min.

Melihat itu, Roo Na pun curiga ingatan Roo Bi sudah kembali.


Roo Bi lantas masuk ke kamar Se Ra. Gyeong Min pun minta maaf dan memberitahu Roo Bi kalau itu kamar Se Ra.

Roo Bi lalu keluar dan masuk ke kamar Gyeong Min.


Di bawah, nenek tak hentinya memuji Roo Bi. Nenek bahkan berkata, akan menikahkan Roo Bi dengan cucunya jika ia masih punya cucu laki-laki.

Mendengar itu, Se Ra pun mencibir neneknya.

"Nenek kepincut dengan Tuan Na dan ingin aku menikah dengannya dan sekarang nenek ingin menjodohkan Roo Na dengan cucu nenek yang tidak pernah ada."

"Aku hanya menyukainya. Dia 100 kali lebih baik daripada gadis kerjaannya hanya berpesta dan bertemu teman-teman." balas nenek.

"Aku selalu memikirkanmu, Nek. Ketika aku bertemu seorang pria tampan, aku selalu berpikir untuk menjodohkannya dengan nenek sebelum nenek bertambah tua." ucap Se Ra.

"Tapi setidaknya aku pernah menikah sekali dan kau tidak pernah menikah." jawab nenek.


Roo Bi menatap foto pernikahan Roo Na dan Gyeong Min dengan tatapan nanar.

"Seharusnya aku lah pengantin wanitanya. Kebahagiaan ini seharusnya menjadi milikku. Aku membencimu! Aku benci!" ucap Roo Bi dalam hati.


Roo Bi yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya menjatuhkan foto itu.

"Omo." Roo Bi pura-pura terkejut.

"Tidak apa-apa. Biar kubereskan. Menjauhlah. Kakimu bisa terluka jika kau tetap disini." ucap Gyeong Min.

"Mianhae, eonni." ucap Roo Bi lalu berjalan ke sisi lain.

"Kau sengaja melakukannya. Apa yang kau pikirkan? Apa ingatanmu sudah kembali?" tanya Roo Na dalam hatinya sembari menatap Roo Bi.


Roo Bi lalu mengomentari kasur Gyeong Min. Roo Bi berkata, kasur Gyeong Min seperti menyimpan sebuah cerita.

"Cerita?" tanya Gyeong Min.

"Apa yang ingin kau lakukan, Jeong Roo Bi?" tanya Roo Na lagi.

"Semuanya memiliki kisah masing-masing. Benarkan, Hyeong-bu?" ucap Roo Bi.


"Yeobo, aku haus. Bisakah kau mengambilkan ku air." pinta Roo Na.

Gyeong Min pun langsung keluar.


Begitu Gyeong Min keluar, Roo Na pun bicara dengan Roo Bi.

"Apa kau sudah gila?" tanya Roo Na.

"Memangnya apa yang kulakukan?" jawab Roo Bi.

"Jangan berlebihan! Kenapa kau masih disini? Apa kau mencoba membuka kedokku atau apa!" tanya Roo Na.

"Haruskah aku melakukannya?" tanya Roo Bi.

"Jeong Roo Na!"

"Kau satu-satunya orang yang mengatakan aku serakah. Sekarang aku melihat tempat tidurmu dan Gyeong Min. Aku iri. Kapan aku menemukan pria sempurna seperti suamimu? Kapan aku akan hidup mewah sepertimu?"

"Kalau begitu menikahlah dengan Na PD. Setelah kalian menikah, aku akan meminta Gyeong Min membelikan apartemen untuk kalian berdua."

"Bagaimana kalau aku menginginkan rumah yang luas sebagai uang tutup mulut?" tanya Roo Bi.


Roo Bi lalu menghela nafas dan beranjak ke ruang baca Gyeong Min.

"Keserakahan manusia tidak mengenal batas. Jika kau sudah mendapatkan satu, kau akan menginginkan dua. Itulah kenapa kau menjaga rahasia keguguranmu dan berusaha bersandiwara." ucap Roo Bi.

"Jaga bicaramu! Sandiwara?" jawab Roo Na.

"Aku tahu apa yang kukatakan. Kau lihat, aku benar-benar mencintai Gyeong Min. Kekasihku... melihat saudara yang kusayangi dalam penderitaan adalah sesuatu yang tidak aku inginkan. Itulah kenapa aku menutup mulutku. Tapi kau tahu, ini tidak akan berlangsung lama. " ucap Roo Bi.

"Apa kau sedang berusaha memeras kakakmu?" tanya Roo Na.

"Uang? Berapa yang bisa kau berikan?" tanya Roo Bi.

Roo Na makin kesal.

"Kau tahu dengan baik siapa yang membuatku seperti ini! Jika kau tidak menyuruhku datang ke Seoul, jika kau tidak memberiku tumpangan.. tidak. Jika bukan karena kecelakaan itu, aku tidak akan menjadi seperti ini. Kau mengambil satu tahun hidupku, bagaimana kau akan membayarnya?" tanya Roo Bi.

"Jadi beginilah sifat aslimu? Kau berpura-pura baik. Semua yang kau lakukan demi uang dan balas dendam?" tanya Roo Na.

"Uang? Balas dendam? Apa yang pernah kulakukan padamu?" ucap Roo Bi.


Gyeong Min tiba-tiba datang dan terkejut melihat ketegangan diantara Roo Bi dan Roo Na.

"Dia sedang hamil dan mudah marah. Aku harus pergi sekarang." ucap Roo Bi.

Gyeong Min pun menyusul Roo Bi.


Gyeong Min dan Se Ra mengantar Roo Bi keluar. Gyeong Min ingin mengantar Roo Bi tapi Roo Bi menolak dan memilih pulang sendiri.

Sambil menatap kepergian Roo Bi, Se Ra pun berkata kalau seharusnya Gyeong Min pacaran dengan Roo Bi.

"Noona." protes Gyeong Min.

"Aku hanya bercanda." jawab Se Ra, lalu masuk ke rumah.


Gyeong Min pun kembali menatap kepergian Roo Bi.

Bersambung ke part 2......

No comments:

Post a Comment