Friday, August 24, 2018

Live Up To Your Name Ep 11 Part 1

Sebelumnya...


Jae Ha syok melihat Yeon Kyung dan Im yang tiba-tiba saja menghilang setelah tertabrak truk.


Si pengemudi truk turun, mencari Yeon Kyung dan Im. Karena tidak menemukan mereka, ia pun menegaskan kalau ia tidak melakukan tabrak lari.

Sementara Jae Ha masih termenung. Ia ingat rekaman CCTV yang dilihatnya di kantor polisi, saat

Yeon Kyung dan Im menghilang setelah kepala Im dipukul oleh anggota geng.


Di Joseon, Im terbangun dan terkejut melihat wadah jarumnya sudah kembali berada di tangannya. Ia tak mengerti, bagaimana wadah jarum yang sudah dibuangnya itu bisa kembali.

Tak lama kemudian, Yeon Kyung bangun. Ia langsung sadar dimana dirinya berada.

"Kau sudah sadar? Tidak apa-apa? Tidak terluka? Aku minta maaf. Jangan khawatir. Kita tahu caranya kembali." ucap Im.

Im lantas mengajak Yeon Kyung pergi tapi Yeon Kyung tak mau.

"Harusnya kau biarkan saja aku mati. " ucap Yeon Kyung.

"Apa... apa maksudmu? Kenapa berkata begitu?" tanya Im. Im lalu kembali mengajak Yeon Kyung pergi tapi Yeon Kyung tetap menolak.

"Saat jatuh, sebaiknya istirahat sejenak. Istirahatlah di sini sebentar." ucap Im.

Yeon Kyung diam saja.


"Segalanya yang terjadi di sana begitu cepat. Sulit bagiku mengatasinya. Tapi di sini, waktu terasa berhenti.  Tidak ada suara ribut memekakkan telinga,  dan tak ada debu halus yang menyesakkan. Beginilah desa tempatku dibersarkan.  Ada sumur di tengah kota dan tiap pagi para wanita akan bertemu dengan ember dan mengobrol di sana. Di sisi mereka, anak-anak akan bermain sampai akhirnya dibentak.  Setelah kupikir, aku rindu hari-hari itu ... dimana aku bermain bersama teman-temanku, tanpa merasa cemas. Pasti ada sumur di dekat sini. Aku akan mengambil air untuk meredakan rasa hausku. " ucap Im, lalu beranjak pergi.


Yeon Kyung teringat saat Ha Ra memeluknya.

"Jantung yang dokter perbaiki bisa terasa ?" tanya Ha Ra.


Lalu, ia ingat ketika Ha Ra meninggal meja di operasi dan kecelakaan ayahnya.

Teringat semua itu, membuat dadanya kian sesak.


Im menatap wadah jarumnya. Ia bingung, harus berterima kasih pada wadah jarumnya karena sudah menyelamatkan nyawanya atau membenci wadah jarumnya karena tidak mau melepaskannya.


Dua anak perempuan mendekati Yeon Kyung. Mereka memberikan Yeon Kyung nasi kepal.

Yeon Kyung menggigit nasi kepalnya, lalu menatap kedua anak itu dengan mata berkaca-kaca.

Tak lama kemudian, Im datang dan kedua anak itu langsung pergi.


Im terkejut melihat Yeon Kyung makan nasi kepal. Ia bertanya, darimana Yeon Kyung mendapatkan nasi kepal itu. Yeon Kyung pun langsung menoleh ke arah dua bocah perempuan itu. Im tersenyum melihat dua bocah itu. Kemudian, ia menyuruh Yeon Kyung minum air yang dibawanya.

"Minum ini dulu. Kau akan merasa lebih baik. Ini yang biasanya dilakukan para lelaki disini." ucap Im.


Mereka lalu dikejutkan dengan kedatangan tentara Jepang yang langsung menghabisi seluruh rakyat.


Hari sudah pagi. Jae Ha masih menunggu Yeon Kyung di tempat itu. Ia pun ingat kata-kata Yeon Kyung kalau Im tamu Kakek Choi.


Kakek Choi berdiri diluar dan mengingat percakapannya dengan Im tadi malam.

"Saat itu, aku kira lebih jika ia kehilangan ingatan. Tapi sepertinya, ingatannya sudah kembali." ucap kakek.

"Aku akan pergi menemuinya. Jangan khawatir." jawab Im.

Flashback end...


Tak lama kemudian, Jae Ha datang dan langsung menanyakan siapa Im pada kakek.

"Orang itu bilang ia datang dari tempat jauh. Di mana itu ? Awalnya, aku kira ia cuma dokter gadungan yang tak punya izin praktek.  Sesudahnya, aku kira dia penipu yang dibantu oleh kakekku.

 Tapi setelah kupikir, ada terlalu banyak kejanggalan." ucap Jae Ha.

"Kejanggalan apa?" tanya kakek, pura-pura heran.

"Namanya, pakaiannya, dan cara bicaranya dan yang paling aneh, dia menghilang dengan nuna di depan mataku ! Bersama-sama Kyung nuna !" jawab Jae Ha. Sontak Kakek Choi terkejut, apa? Orang itu melakukannya lagi?

"Lagi ? Artinya, yang waktu itu..., kakek, tolong katakan padaku, siapa Heo Bong Tak itu. Dimana mereka berada?" pinta Jae Ha.


Kakek pun langsung jatuh dan memegangi dadanya. Tepat saat itu, Jae Sook dan Byung Ki datang. Kakek berbohong, ia bilang dadanya sesak dan perutnya sakit karena makanan yang dimakannya kemarin. Jae Sook menyuruh Byung Ki membawa kakek masuk ke dalam.


Di rumah sakit, Min Jae kesulitan menghubungi Yeon Kyung. Man Soo pun mengaku cemas karena Yeon Kyung tidak pernah seperti ini sebelumnya.

"Kalau hal yang tidak biasa terjadi pada orang yang seperti itu, biasanya mereka terpuruk." ucap Suster Jung.

Prof. Hwang datang dan Man Soo langsung menanyakan orang tua Ha Ra.

"Bagaimana lagi ? Mereka masih belum mau meninggalkannya. " jawab Prof. Hwang.


Tak lama kemudian, giliran Direktur Shin yang datang dan meminta penjelasan Prof. Hwang atas apa yang terjadi pada Ha Ra. Prof. Hwang membela Yeon Kyung. Ia berkata, Ha Ra tidak tertolong karena terlambat ditemukan.

"Kau yakin itu bukan kesalahan kita?" tanya Direktur Shin. Prof. Hwang mengangguk.

"Ketua saat ini sedang murka. Jika begini, bisa saja Direktur Ma yang mengambil alih. Kita harus gunakan kartu itu sekarang." ucap Direktur Shin.

"Kartu apa?" tanya Prof. Hwang.

"Catatan kesehatan putra Ketua Park!" jawab Direktur Shin.

"Tapi putra Ketua Park datang kembali untuk jadi pasien Dr. Choi Yeon Kyung. Aku dengar ia menyerahkan diri sebagai pengguna narkoba." ucap Prof. Hwang.

Mendengar itu, Direktur Shin pun gemas. Ia kesal karena Yeon Kyung tidak memihaknya.

"Dimana Dokter Choi sekarang?" tanya Direktur Shin.


Di Joseon, Yeon Kyung tak bisa meninggalkan anak-anak yang memberinya nasi kepal sendiri. Im pun menyuruh Yeon Kyung menunggunya sebentar dan bergegas pergi menyelamatkan anak-anak itu. Namun saat berusaha melarikan diri, tentara Jepang memergoki mereka dan langsung memergoki mereka, hingga akhirnya mereka terkepung di tengah hutan.


Tepat saat mereka akan ditembak tentara Jepang, sang komandan pun datang.

Im dan Yeon Kyung terkejut melihat sosok sang komandan. Mereka ingat, si komandan adalah orang yang dulu pernah mereka selamatkan.

"Dia dokter. Bawa dia untuk mengobati Suzuki."

"Jendral tahu itu dari mana ?"

"Saat aku terluka ... mereka mengobati aku. Apakah membunuh satu orang Joseon penting buat kita ? Atau menyelamatkan rekan kita lebih penting ?" ucap si komandan.

"Benar. Daripada mati sekarang, dibunuh setelah mengobati prajurit Jepang ...  adalah kehormatan bagi orang Joseon. "

Si komandan lalu menyuruh anak buahnya menawan Yeon Kyung dan kedua bocah itu.


Sementara Im dibawa ke sebuah tempat.

Im menyesal, ia berkata seharusnya waktu itu ia membiarkan si komandan mati.

"Saat itu kau yang membuat keputusan. Sekarang berbeda." jawab si komandan.

Si komandan lantas menyuruh Im menyelamatkan Suzuki. Im jelas menolak.

"Jika orang tak berdosa mati karena orang yang kuselamatkan, itu sama dengan aku membunuh orang tak berdosa. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama !" jawab Im.

"Wanita itu berkata begini. Bagaimana seseorang hidup setelah ia selamatkan adalah keputusan orang itu. Ia hanya ... berusaha yang terbaik sebagai seorang dokter." ucap si komandan.

"Melihat hasil dari perbuatan baiknya itu, saat ini ia pasti merasa hancur. " jawab Im.

"Jika kau tidak bisa menyelamatkan pasien ini, kau, wanita itu, serta anak-anak itu, semuanya akan mati. " ucap si komandan.


Di penjara, Yeon Kyung baru sadar kalau kata-kata Im saat itu benar.

Lutut anak yang paling kecil terluka. Yeon Kyung pun berkata, bahwa ia tidak bisa melakukan apapun karena tidak membawa tasnya. Anak yang paling besar melepaskan pita rambutnya dan membalut luka adiknya memakai pitanya.

"Orabeoni, aku takut mereka akan membunuh kita."

"Tidak akan kuizinkan."

"Ayah dan ibumu pasti khawatir. " ucap Yeon Kyung.

Anak yang paling besar pun menjelaskan, bahwa orang tua mereka sudah meninggal karena wabah penyakit tahun kemarin. Ia lalu memeluk adiknya dan berkata bahwa ia akan melindungi adiknya.

"Kau tadi dengar perkataan ahjushi itu? Jangan khawatir. Dia akan menyelamatkan kita." ucap Yeon Kyung.


Im mencoba menolong Suzuki, tapi sebelum melakukannya, ia meminta si komandan berjanji untuk melepaskan Yeon Kyung dan anak-anak itu. Si komandan pun meminta Im mempercayainya. Im lantas berkata, bahwa ia akan mempercayai janji orang yang sudah diselamatkan Yeon Kyung.


Tanpa mereka sadari, diluar tentara Jepang yang coba membunuh Im dan Yeon Kyung tadi, mendengarkan pembicaraan mereka.


Im menyentuh perut Suzuki. Kemudian, ia berkata bahwa perut Suzuki berisi banyak cairan.

"Kau bisa menyelamatkannya ?" tanya si komandan.

Im pun langsung memeriksa nadi Suzuki. Si komandan kembali mengancam akan membunuh Im jika Im membuat kesalahan.


Im lantas membuka wadah jarumnya dan mulai memberikan akupuntur. Pertama-tama, ia menusuk perut Suzuki dengan jarumnya. Saat ia menarik jarumnya keluar, cairan berwarna putih keluar dari perut Suzuki. Setelah cairan itu keluar, Im menutupi bekas tusukan jarumnya dengan serbuk obat-obatan.

"Kenapa tidak mengeluarkan semua airnya ?" tanya si komandan.

"Kalau dikeluarkan sekarang, pasien akan mati. Makanya sengaja kutinggalkan sedikit. " jawab Im.

Lalu, Im kembali mengeluarkan cairan di perut Suzuki. Setelah itu, ia memeriksa nadi Suzuki dan menusuk pergelangan tangan Suzuki dengan jarum. Ia juga memberikan akupuntur pada kaki Suzuki.

"Beri dia gerusan biji lobak, rebus Angelica gigas, biji lada Cina, dan rhubarb kebun. Dalam 3 hari Ia akan perlahan-lahan membaik." ucap Im.


Tak lama setelah diberikan pengobatan, Suzuki sadar.


Si komandan menepati janjinya. Ia membebaskan Yeon Kyung serta anak2 itu dan mempertemukan mereka dengan Im.

"Sudah menyelamatkan Suzuki ... aku ucapkan terima kasih." ucap si komandan. Lalu si komandan bertanya, apakah ada banyak tabib seperti Im di Joseon karena mereka membutuhkan banyak tabib untuk saat ini.

Si komandan lalu mengembalikan pisau bedah Yeon Kyung yang tertinggal saat Yeon Kyung menyelamatkannya waktu itu.

"Siapa namamu?" tanya Im.

"Sayaga imnida." jawab si komandan.


Mereka lalu berjalan pergi. Yeon Kyung penasaran apa yang terjadi. Im pun berkata, meskipun ia tidak bisa menyelamatkan pasien itu, Sayaga akan tetap membebaskan mereka karena Yeon Kyung sudah menyelamatkan nyawa Sayaga waktu itu.

"Orabeoni, apa kita akan pulang?" tanya bocah yang paling kecil. Sang kakak mengangguk.


Lalu sepatu adiknya terlepas. Dan si kakak pun bergegas mengambilkan sepatu adiknya. Namun tiba-tiba saja, seseorang menembak si kakak. Si kakak langsung jatuh terkapar. Im dan Yeon Kyung kaget. Mereka menoleh dan terkejut melihat sosok yang menembak anak itu.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment