Monday, June 10, 2019

Different Dreams Ep 19-20 Part 3

Sebelumnya...


Saat sedang sendiri, Jung Im menangis memikirkan Won Bong.

Ia teringat kata2 Won Bong malam itu.

"Kalau terjadi sesuatu padaku di Kantor Gubernur, kau dan anggota lain harus pergi ke Shanghai."


Tak lama, Nam Ok keluar dari balik cermin besar yang juga berfungsi sebagai pintu menuju ruang rahasia.

Nam Ok : Kupikir, Jung Im-ssi, kupikir... kau akan menyarankan kita untuk meninggalkan Pemimpin Kim meski dia akan ditahan.

Jung Im : Dia mungkin akan dipenjara, tapi begitu lebih baik dibanding mati. Ada hal lain yang diminta Pemimpin. Kalau terjadi sesuatu dan akhirnya dia tertangkap di zona musuh, dia ingin kita membunuhnya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa membiarkannya mati atau ditangkap.

Jung Im lalu bertanya2, soal ide gilanya menukar jasad. Ia khawatir kalau idenya malah menimbulkan masalah bagi orang lain.

Nam Ok menepuk2 bahu Jung Im, berupaya menghibur Jung Im, meski dia juga mengkhawatirkan Won Bong.

*Nam Ok ini lebih pro ke Jung Im ya... agak sebel sih liat dia yg sentimen ke Young Jin... entah sentimennya itu karena dia takut Young Jin ngebahayain kelompoknya atau karena dia tahu Won Bong ada feeling ke Young Jin, jadi dia gk suka ama Young Jin karena dia pro ke Jung Im.


Adegan berikutnya membuat sy terkejut... Gimana enggak? Seung Jin menghubungi Matsuura dari ruang rahasia. Dia menawarkan kesepakatan dengan Matsuura soal bom yang meledak di kantor gubernur. Matsuura sendiri kaget tahu Seung Jin yang menelponnya. Seung Jin mengajak Matsuura ketemu, tapi hanya berdua. Ia juga mengancam akan bunuh diri jika Matsuura membawa orang lain atau membuat dirinya terancam. Matsuura puun tanya, kapan dan dimana mereka bisa bertemu.


Fukuda ke Yoshino Listrik dan bertemu dengan Nam Ok serta Majar yang menyamar sebagai karyawan.

Melihat Fukuda, Nam Ok pun berkata, partikel besi di tempatnya tidak baik bagi Fukuda.

Nam Ok : Debu terburuk yang bisa kau hirup adalah debu yang bercampur partikel besi. Meski dibersihkan tiap tiga hari, kami tidak bisa menyingkirkannya.

Nam Ok juga pura2 menegur Majar. Ia menyuruh Majar membersihkan tempat itu dengan benar.

Fukuda lantas memperkenalkan dirinya sebagai jaksa, lalu menunjukkan kartu tanda pengenal Kaito.

Nam Ok pura2 kaget melihatnya.

Nam Ok : Tunggu, ini Kaito.


Fukuda : Ini foto Kurobata Kaito?

Nam Ok : Mana mungkin aku tidak kenal rekan kerjaku? Dia asistenku. Tepatnya dia "nomor duaku". Kau ke sini untuk membuktikannya?

Fukuda : Sudah berapa lama dia bekerja di sini?

Nam Ok : Belum lama, dia baru mulai. Sayang sekali karena dia mulai berguna di sini.

Fukuda : Tetap saja kau mengirim pemula ke Kantor Gubernur Joseon. Hal seperti itu sering terjadi?

Nam Ok : Dengar, Detektif, tidak, maksudku... Kalau begitu cara berpikirmu, lantas bagaimana para pemula bisa mendapat lebih banyak pengalaman? Satu orang di Perusahaan Pengembangan Oriental dan aku di Penjara Seodaemun.

Fukuda : Maksudku, untuk tempat sepenting Kantor Gubernur Joseon...

Nam Ok : Itu dia. Maksudku... Kau pikir ada yang mau ke sana? Yang terbaik adalah mengirimkan si pemula itu.


Fukuda lantas menunjukkan foto Seung Jin dan tanya, apa Kaito pernah bertemu Seung Jin.

Nam Ok : Dia terlihat asing.

Majar melihat mereka. Fukuda melirik Majar. Nam Ok pun langsung meneriaki Majar dan menyuruhnya kembali bekerja.

Nam Ok kembali duduk dan Fukuda beranjak pergi.


Setelah Fukuda pergi, mereka ke ruangan lain, tempat mereka menyekap seluruh karyawan Yoshino.

Nam Ok mengancan para karyawan dengan pistol.

Nam Ok : Di mana kalian tinggal dan hubungan keluarga kalian, semuanya tertulis di sini. Buka mulut sedikit saja, aku akan hampiri dengan pistol ini dan menghabisi semuanya sebelum kalian menyadarinya.

Para karyawan mengangguk.


Nam Ok dan Majar bergegas pergi.

Majar :
Kalau bukan karena masker itu, dia pasti sudah mengenaliku.

Nam Ok : Dia jaksa yang datang ke butik.

Fukuda : Ya, dia Jaksa Fukuda.

Nam Ok : Dia bahkan memiliki foto Seung Jin. Dia pasti tahu siapa kita kalau kita tidak dingin begitu. Kim Seung Jin... sebaiknya kita mengusirnya.

*Baru inget sy, Fukuda pernah ketemu Majar di butik.


Fukuda ke klub, menemui Oda. Fukuda melapor, bahwa tidak ada yang bisa dijadikan tersangka.

Fukuda: Kim Seung Jin jelas terlibat. Dia terlihat di kediaman dan ini cocok dengan cara Korps Pahlawan.

Oda : Lalu di mana para anggotanya?

Fukuda : Beberapa di dekat bom itu. Dari petugas yang tewas, setidaknya satu di antara mereka pastilah memihak mereka.

Oda : Kau bilang ada korban selamat. Kalau dia menyaksikan saat-saat terakhir, dia pasti tahu siapa yang membawa bom itu dan meledakkannya.

Fukuda : Sulit mengetahui apakah dia akan bertahan hidup.

Fukuda beranjak keluar.


Nyonya Yoo mendekatinya.

Nyonya Yoo : Hari ini sepertinya ada yang janggal, ya? Kau benar-benar tidak peka, ya. Tidak ada nyanyian Miki. Keadaannya tidak baik. Kematian Pangeran Noda benar-benar mengguncangnya.


Miki yang sedang tidur, agak kesal saat mendengar bunyi bel di rumahnya. Tepatnya kediaman Pangeran Noda yang kini menjadi kediamannya.

Bersambung ke part 4...

No comments:

Post a Comment