Sunday, December 8, 2019

Graceful Family Ep 9 Part 2

Sebelumnya...


Na Ri masuk ke ruang makan bersama Seo Jin. Young Seo kesal melihat pakaian Na Ri yg merah mencolok.

Young Seo : Lihat betapa vulgarnya pakaianmu. Pakaian apa yang kau kenakan? Kenapa kau tidak memakai gaun tidur seperti sebelumnya?

Na Ri : Aku memiliki panas tubuh berlebih. Aku bisa apa jika mudah kepanasan. Itu sebabnya aku tidak bisa bepergian ke Asia Tenggara, Kak.

Young Seo pun kesal dengan jawaban Na Ri dan tambah kesal saat Na Ri bilang dia iri sama tubuhnya Na Ri.


Cheol Hee akhirnya bicara, menengahi mereka.

Cheol Hee : Mulai sekarang, jangan mengenakan pakaian yang di atas lutut saat makan.

Na Ri : Baik.


Cheol Hee menatap Young Seo.

Cheol Hee : Menu sarapannya sangat enak.

Na Ri : Orang Korea harus makan nasi. Sayang, aku tahu kau menyukai makanan Korea. Kenapa kita tidak makan nasi dan sup kerang besok?

Cheol Hee : Kedengarannya bagus.


Young Seo tambah sewot.

Young Seo : Ahli gizi kami merencanakan makanan yang sangat seimbang. Jangan melangkahi batasanmu.

Na Ri : Banyak tertawa dan bahagia adalah jalan pintas untuk menjadi sehat.


Na Ri lalu menatap Cheol Hee.

Na Ri : Aku akan melakukannya untukmu mulai sekarang, Sayang. Seperti yang aku lakukan semalam.


Mendengar itu, Wan Soo yg lagi minum langsung tersedak. Ia pikir, bapaknya dan Na Ri abis macam-macam.

Cheol Hee bingung : Apa yang kau bicarakan?

Seok Hee senang.


Cheol Hee lantas menanyakan Je Kook pada Kepala Pelayan. Kepala Pelayan bilang, Je Kook akan segera tiba.

Cheol Hee pun berdiri.

Cheol Hee : Wan Joon, datanglah ke ruang kerjaku selesai kau sarapan.

Wan Joon : Baik.

Cheol Hee beranjak pergi.


Na Ri cari masalah lagi dengan Young Seo.

Na Ri : Mulai sekarang, Pimpinan tidak butuh obat-obat herbal seperti itu. Aku akan mengurusnya dan memastikan kesehatannya... Maksudku, akan kupastikan dia semakin muda. Jadi, jangan khawatir, Kak.

Young Seo yang udah gak bisa lagi menahan kekesalannya, menyiramkan segelas air dingin ke kepala Na Ri.


Seo Jin sontak kaget melihatnya dan menatap kesal Young Seo.

Wan Soo juga kaget dengan tindakan ibunya.


Seo Jin menatap marah Young Seo tapi Young Seo tak peduli.


Sementara Na Ri tampak kesal, tapi dia berusaha meredam kekesalannya.


Kini,, Na Ri sudah mengganti bajunya dan sedang bicara dgn Seok Hee di kamar Seok Hee.

Seok Hee : Wow, kau sudah melebihi harapanku.

Na Ri : Tidak peduli seberapa elegan dan berkelasnya seorang wanita, dia tidak akan tahan kehilangan suaminya. Yang aku lakukan hanyalah berdiri di depan pintunya dengan memakai gaun tidur saat dia membawa obat herbalnya. Ha Young Seo, wanita malang itu... apa yang dia bayangkan?

Seok Hee : Kau pandai berakting karena kau seorang aktris. Apa berikutnya?

Na Ri : Satu pukulan tidak cukup. Pemain yang baik harus melakukan home run.

Seok Hee : Home run?

Na Ri : Kau bisa menantikannya.


Di kamar, Wan Joon sedang Soo Jin lagi perang dingin. Soo Jin menunjukkan foto2 seorang wanita yang keluar dari studio Wan Joon.

Soo Jin : Apa karena dia? Itu sudah berlangsung lama. Bukankah ini cukup untuk menjadikanmu pihak yang bersalah, kan?

Wan Joon : Apa kau sedang berkhayal mendapat keunggulan dalam negosiasi perceraian?

Soo Jin : Aku berkhayal? Sulit dipercaya. Kau punya apartemen studio rahasia dan kau menyebutku berkhayal? Kenapa tidak bilang kau mempelajari ajaran Buddha bersama dia di sana? Kau tidak akan mendapatkan keinginanmu dengan perceraiannya.

Wan Joon : Kenapa tidak kau sebutkan saja jumlahnya? Membuang waktu untuk hal tidak penting juga membuang hidupmu.

Soo Jin : Entah aku membuang waktu atau boros, ini hidupku. Sejak kapan kau peduli? Sikapmu memuakkan!

Wan Joon : Pasti sulit menyembunyikan dirimu yang sebenarnya hingga sekarang. Kau menikahiku karena uang meskipun kau tahu aku tidak mencintaimu. Itulah dirimu.


Wan Joon lalu membuka lacinya dan mencari2 sesuatu.

Wan Joon : Di mana saputangan dengan inisialku?

Soo Jin : Kenapa menanyakan barang-barangmu kepadaku?

Wan Joon marah.

Wan Joon : Kenapa saputanganku tidak pada tempatnya?

Soo Jin : Aku tidak tahu! Aku tidak peduli.

Kesal, Wan Joon pun beranjak pergi meninggalkan Soo Jin.


Soo Jin menghela nafasnya, kesal.

Soo Jin : Dia sangat memedulikan barangnya. Seperti seorang gadis.


Di tangga, Wan Joon bertemu Wan Soo. Wan Joon menuduh Wan Soo mengambil saputangannya.

Wan Soo bingung, kenapa? Tak lama ia ingat ia memang mengambil saputangan Wan Joon.

Wan Soo : Oh, yang itu! Aku meminjamnya saat aku menghadiri premier teman sutradaraku.

Wan Joon : Di mana itu? Kembalikan padaku.

Wan Soo : Masalahnya, aku sangat mabuk hari itu dan aku tertidur di rumah. Saputangannya sudah hilang saat pagi. Aku pasti menghilangkannya.

Wan Joon marah, beraninya kau...

Wan Soo pun heran melihat Wan Joon marah2 hanya karena saputangan.

Wan Joon yang kesal, menghina Wan Soo.

Wan Joon : Itu sebabnya kau gagal. Seseorang yang tidak bisa membedakan barang-barangnya dengan milik orang lain, tidak bisa melakukan apa pun. Memalukan menjadi saudaramu.


Wan Joon beranjak pergi.

Wan Soo : Kau bertemu Direktur Han hari ini, kan?

Langkah Wan Soo langsung berhenti.

Wan Soo : Kita lihat apakah kau masih berani memperlakukanku seperti ini setelah kau berbicara dengannya.

Wan Joon pun berbalik, menatap Wan Soo.

Wan Soo : Semua orang punya rencana sempurna untuk hidup mereka. Sampai mereka memasuki ring dan dihajar habis-habisan.

Wan Soo pun beranjak pergi.


Cheol Hee sedang bicara dengan Je Kook di ruangannya. Disana juga ada Wan Joon mendengarkan. Je Kook bilang, mereka akan memberikan semua saham ke Wan Joon, kecuali sahamnya Seok Hee jadi secara teknis, suksesi Wan Joon telah selesai.

Cheol Hee memuji Je Kook, bagus.


Cheol Hee lalu melihat catatan saham yang dibawakan Je Kook.

Je Kook : Kami akan menjadwalkan pengumuman resminya tahun depan setelah pemilihan umum.

Cheol Hee : Apa ada alasan untuk itu?

Je Kook : Orang-orang akan membicarakannya jika anda mengumumkan pewaris begitu cepat di saat anda masih hidup dan sehat. Kecuali jika anda punya alasan khusus...

Cheol Hee : Tidak ada alasan khusus. Karena Wan Joon masih muda dan orang akan mencoba mengaturnya. Aku mau melihatnya memantapkan diri. Aku akan menjadwalkan pengumuman resminya untuk tahun depan.

Je Kook : Tentu. Akan membantu untuk mengawasi arena politik dan bertindak sepantasnya.


Je Kook lalu menatap Wan Joon.

Je Kook : Mulai hari ini, secara internal kau akan dipanggil Wakil Pimpinan. Dan kami akan melaporkan pekerjaan kami kepadamu terlebih dahulu. Tapi keputusan akhir tetap pada Pimpinan.

Wan Joon : Tentu saja. Tapi, apa yang akan terjadi pada perusahaan jika aku tidak terlibat dalam manajemen?


Sontak pertanyaan Wan Joon membuat Je Kook dan Cheol Hee terdiam.

Melihat mereka diam, Wan Joon tertawa.

Wan Joon : Aku hanya mau memastikan bahwa tidak ada alternatif. Selain itu, bukankah saham Wan Soo terlalu banyak?

Je Kook : Kita harus memberikan anak sulung yang cukup untuk mencegah perselisihan di masa depan.

Wan Joon : Tapi kupikir 10 persen masih terlalu banyak.


Cheol Hee : Kenapa memikirkan Wan Soo jika dia tidak peduli soal perusahaan? Direktur Han akan mengurusnya. Kau membutuhkan kepercayaan diri dan kemampuan seorang Wakil Pimpinan.

Je Kook : Benar.

Cheol Hee : Direktur Han, pastikan seluruh keluarga menyerahkan saham mereka.

Je Kook : Baik, Pak.

Je Kook lantas pamit.


Setelah Je Kook pergi, Cheol Hee pun tanya, apa Wan Joon tahu kenapa ia bergegas membuat Wan Joon menjadi pewarisnya?

Wan Joon : Karena ayah tidak memercayaiku?

Cheol Hee : Lebih tepatnya, Direktur Han membuatku resah.

Wan Joon kaget, aaksud ayah...

Cheol Hee : Menjadikanmu pewaris atau menyingkirkanmu, itu tergantung pada Direktur Han. Dia seperti pedang bermata dua bagi kita. Aku ingin melihat dan menyaksikan kau memimpin perusahaan dengan aman. Seorang profesional seharusnya tidak melakukan gerakan yang tidak perlu.

Wan Joon : Aku akan mengingatnya.

Namun wajah Wan Joon seketika berubah kesal. Entah apa yang membuatnya marah. Karena kata2 ayahnya tentang Je Kook yang bagai pedang bermata dua atau kah karena ia dijadikan pewaris dan tidak bisa melakukan apapun yang ia mau. Apapun sesuai kehendaknya.


Je Kook yang baru keluar dari ruangan Cheol Hee, bertemu Wan Soo di koridor. Wan Soo memberi Je Kook kopi..

Wan Soo : Kopi untuk orang yang paling berkuasa di MC Grup.

Je Kook : Kau sibuk sekali pagi ini.

Wan Soo : Jika aku memikirkannya, tidak pernah ada hari dalam hidupku saat aku tidak sibuk. Sayangnya, tidak ada yang tahu itu, kecuali kau.

Wan Soo lalu membahas ekspresi Wan Joon ketika melihat sahamnya. Ia yakin Wan Joon sangat kesal saat tahu dia dapat saham 30%.

Wan Soo : Aku seharusnya berada di sana untuk melihatnya! Sayang sekali.


Je Kook : Mampirlah ke kantor saat kau sempat.

Wan Soo : Baiklah!

Wan Soo kemudian bersiul.

Je Kook : Kau pintar bersiul.

Wan Soo : Itu bukan satu-satunya hal yang aku kuasai. Aku juga ahli dalam banyak hal. Jaga dirimu, Direktur Han.

Wan Soo beranjak pergi.


Wan Soo menghampiri Wan Joon yang duduk sendirian di taman.

Wan Soo menyapa Wan Joon dengan ceria, karena berpikir ia dapat saham 30%.

Wan Soo : Mo Wan Joon, tidak ada yang mau kau katakan padaku?

Wan Joon : Mengatakan apa?

Wan Soo : Kau mungkin menjadi pewarisnya, tapi kau tidak akan bisa bertindak semaumu.

Wan Joon : Kenapa?

Wan Soo : Karena aku punya cukup saham dalam perusahaan untuk menyingkirkanmu dengan mudah.

Wan Joon : Hanya dengan 10 persen? Kau akan memulai revolusi atau apa?


Sontak Wan Soo kaget ia hanya dapat 10% saham. Ia marah dan berniat pergi menemui Je Kook. Tapi Wan Joon menghinanya.

Wan Joon : Bukankah dengan mengemis, itu jumlah terbanyak yang bisa kau dapatkan? Itulah statusmu saat ini. Jangan main-main dengan hal lain dan selesaikan saja filmmu. Kau tidak akan pernah pergi ke Cannes, aku hanya berharap film itu bisa tayang di bioskop.


Wan Soo yang tadinya kesal, tertawa dan membalas hinaan Wan Joon.

Wan Soo : Tapi hidup panjang dan ada kemungkinan yang tidak terbatas. Siapa tahu? Mungkin aku bisa pergi ke Cannes dan mencapai posisi yang lebih tinggi.

Wan Joon : Kau gagal menjalankan restoran. Kau menyerah menjadi atlet triathlon dan pegolf profesional. Sekarang kau mencoba menyutradarai film. Apa yang telah kau capai? Di sanalah kau kurang berpengalaman.

Wan Soo : Kesimpulan dan prasangka gegabah berawal dari kegagalan memahami seseorang.

Wan Joon : Seseorang dengan kepercayaan diri ingin membuktikan dirinya  akan makin membuat dia dipandang rendah orang lain.

Wan Soo : Mo Wan Joon, apa itu yang kau inginkan?


Wan Joon marah.

Wan Joon : Lalu kenapa kau menginginkan bagian di perusahaan sekarang? Seharusnya kau memulai lebih awal! Sejak berumur 5 tahun, aku juga harus menanggung bebanmu. Sementara kau berkeliaran mencoba ini dan itu, tanggung jawabku dalam keluarga hanya makin bertambah. Aku tidak pernah bisa melakukan hal yang kuinginkan.

Wan Soo : Benarkah? Tapi bagi seniman berkeliaran adalah takdir tidak terhindarkan.

Wan Joon : Kau bahkan melupakan posisimu dan sekarang menginginkan perusahaan? Akhirilah dengan hanya merusak hidupmu sendiri. Jangan menyusahkanku. Kembalilah melakukan yang kau lakukan.

Wan Joon pun pergi.


Sekarang,, Wan Soo masuk ke bar di rumahnya dan tertawa kesal. Ia lalu duduk dan minta minumannya. Sontak para pelayannya langsung melayaninya.

Bersambung ke part 3....

No comments:

Post a Comment